NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Yang Chen tidak menulis dengan gaya tulisan standar kerajaan saat ini. Dia menggunakan gaya Kaligrafi Kuno Era Ming, gaya tulisan yang penuh dengan sudut tajam dan tarikan garis yang agresif namun elegan. Tulisan ini sendiri sudah memancarkan aura "barang antik".

Judul di bagian atas: [Resep Rahasia: Cairan Tempering Kulit Tembaga - Versi Murni]

Dia menuliskan daftar bahan. Lalu cara pengolahan.

Di sinilah letak seninya. Dia tidak menulis instruksi seperti buku masak ("Rebus air, masukkan bahan"). Dia menulisnya dengan bahasa puitis namun teknis yang hanya dipahami oleh Alkemis sejati.

"Saat air mendidih membentuk mata kepiting, masukkan Akar Rumput Besi. Tunggu hingga uap berubah warna menjadi biru tipis, lalu masukkan tiga tetes darah..."

Tangan Yang Chen menari di atas kertas. Tidak ada keraguan. Tidak ada coretan salah. Setiap huruf adalah karya seni. Tinta hitam itu meresap ke dalam pori-pori kulit domba, mengikat diri secara permanen.

Sepuluh menit berlalu.

Yang Chen mengangkat kuasnya. Kertas itu kini penuh dengan tulisan yang padat dan indah.

Dia meniupnya perlahan agar tintanya kering.

"Sempurna," bisiknya. "Ini bernilai setidaknya 500 keping emas bagi siapa saja yang tahu bisnis."

Dia menggulung kertas kulit domba itu dengan hati-hati. Dia tidak punya pita pengikat, jadi dia menggunakan benang merah sisa dari toko itu untuk mengikatnya.

Dia berdiri, mengembalikan kuas ke tempatnya, dan mengangguk pada penjaga toko yang menatapnya dengan mulut sedikit terbuka (terkagum melihat kecepatan dan keindahan tulisan Yang Chen dari kejauhan).

"Terima kasih atas mejanya," kata Yang Chen.

Dia keluar dari toko.

Sekarang, dia memiliki "barang dagangan".

Matahari sudah naik sepenggalah. Jalanan sudah sangat ramai.

Yang Chen berjalan menuju pusat kota. Gedung-gedung di sekitarnya mulai berubah. Dari kayu lapuk menjadi batu bata, lalu menjadi batu marmer putih. Orang-orang di jalanan juga berubah. Tidak ada lagi kuli panggul bertelanjang dada. Kini yang lewat adalah orang-orang berjubah sutra, prajurit bayaran dengan senjata lengkap, dan kereta-kereta kuda mewah.

Di tengah distrik elit ini, berdiri sebuah bangunan yang mendominasi segalanya.

Rumah Lelang Naga Emas (Golden Dragon Auction House).

Bangunan itu berbentuk pagoda lima tingkat, atapnya dilapisi genteng yang dicat emas (atau mungkin emas asli). Dua patung naga batu raksasa menjaga pintu masuknya. Pintu utamanya terbuat dari kayu Ironwood setinggi empat meter, diukir dengan relief peperangan.

Di depan pintu itu, berdiri empat orang penjaga.

Mereka bukan penjaga gerbang biasa. Mereka adalah kultivator. Yang Chen bisa merasakannya. Keempatnya berada di ranah Body Tempering tingkat 7 atau 8. Otot mereka padat, mata mereka tajam. Mereka mengenakan seragam biru dengan bordir naga emas di dada kiri.

Tugas mereka sederhana: Menyaring sampah. Memastikan hanya orang kaya atau orang kuat yang boleh masuk.

Yang Chen, dengan jubah hitam murahannya yang kedodoran dan sepatu yang masih ada sisa lumpur, jelas masuk kategori "sampah".

Dia berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tidak dipercepat, tidak diperlambat.

Saat dia berjarak lima langkah dari tangga masuk, dua penjaga di tengah menyilangkan tombak mereka.

Clang!

Suara benturan logam tombak itu nyaring, membuat beberapa orang yang lewat menoleh.

"Berhenti!" bentak penjaga di sebelah kiri. Pria itu memiliki wajah kotak dan bekas luka di dagu. "Ini Rumah Lelang Naga Emas, bukan tempat penampungan tunawisma. Pergi mengemis di jalan belakang."

Yang Chen berhenti. Dia tidak mundur. Dia tidak menunduk.

Dari balik tudung hitamnya, dia menatap penjaga itu.

"Aku tidak datang untuk meminta," suara Yang Chen tenang, namun volume suaranya diatur sedemikian rupa sehingga terdengar jelas di telinga para penjaga. "Aku datang untuk memberi kekayaan pada tuanmu."

Penjaga itu tertawa meremehkan. "Hah! Memberi kekayaan? Kau? Lihat dirimu. Jubahmu bahkan lebih murah dari kain lap sepatuku."

"Penampilan bisa menipu," balas Yang Chen. "Dan arogansi bisa merugikan bisnis."

Tangan Yang Chen bergerak perlahan ke balik jubahnya.

Para penjaga tegang. Tangan mereka mencengkeram tombak lebih erat. "Jangan bergerak mencurigakan! Keluarkan tanganmu perlahan!"

Yang Chen mengeluarkan gulungan kulit domba itu.

Hanya gulungan kecil berwarna krem yang diikat benang merah. Tidak terlihat istimewa. Tidak ada aura emas yang memancar, tidak ada permata yang menghiasinya.

"Ini tiket masukku," kata Yang Chen.

Penjaga itu meludah ke samping. "Kertas bekas? Kau mau jual kertas bekas? Kau gila ya? Pergi sebelum aku patahkan kakimu!"

Penjaga itu mengangkat tombaknya, siap mendorong Yang Chen mundur—atau memukulnya jatuh dari tangga.

Situasi memanas. Orang-orang kaya yang antri masuk mulai menonton dengan jijik. "Usir saja gembel itu, dia menghalangi jalan," celetuk seorang wanita gemuk dengan banyak perhiasan.

Yang Chen tidak bergeming menghadapi ujung tombak yang mengarah ke dadanya.

Dia tahu dia tidak bisa melawan empat kultivator tingkat 7 secara fisik. Dia akan mati dalam satu detik.

Ini adalah pertarungan psikologis.

"Namanya..." Yang Chen berkata tiba-tiba, menatap lurus ke mata penjaga itu. "...adalah Cairan Tempering Kulit Tembaga. Tapi bukan sampah yang biasa kau minum, yang membuatmu diare tiga hari dan kulitmu gatal seperti terbakar."

Mata penjaga itu berkedut. Dia memang menggunakan cairan tempering murah yang efek sampingnya gatal luar biasa. Bagaimana bocah ini tahu?

"Resep di tanganku ini," lanjut Yang Chen, mengangkat gulungan itu sedikit lebih tinggi, "bisa meningkatkan efisiensi penyerapan dua kali lipat, tanpa rasa sakit. Kau, sebagai kultivator tingkat 7 yang terjebak di bottleneck (kemacetan) selama dua tahun terakhir... kau pasti tahu betapa berharganya itu, bukan?"

Penjaga itu terdiam. Tombaknya tidak jadi dipukul.

Dia memang macet di tingkat 7. Itu rahasia umum di antara rekan-rekannya, tapi orang asing ini... menebaknya dengan tepat? Atau dia bisa melihatnya?

Keraguan mulai muncul di mata penjaga itu.

"Dua kali lipat efisiensi?" gumam penjaga lain di sebelahnya, tertarik.

"Omong kosong," bantah penjaga pertama, tapi suaranya tidak seyakin tadi. "Mana ada obat dewa seperti itu dijual oleh orang sepertimu."

"Bawa ini ke Penilai (Appraiser) utamamu," tantang Yang Chen. Dia menyodorkan gulungan itu ke depan. "Katakan padanya, seorang 'Teman Lama' datang membawa solusi untuk masalah stagnasi pasar obat."

"Kalau aku berbohong, kau boleh memenggal kepalaku di sini, di depan semua orang ini. Aku tidak akan lari."

Taruhan nyawa lagi.

Itu adalah tanda kepercayaan diri mutlak. Penipu biasanya mencari jalan kabur. Orang yang menyerahkan lehernya sebagai jaminan biasanya membawa emas asli.

Penjaga itu menatap gulungan kulit domba itu, lalu menatap leher Yang Chen yang tertutup bayangan tudung.

Dia menurunkan tombaknya perlahan.

"Tunggu di sini," geram penjaga itu. Dia menyambar gulungan itu dari tangan Yang Chen dengan kasar. "Hei, Zhou, jaga dia. Kalau dia bergerak satu inci saja, tusuk dia."

Penjaga itu berbalik dan berlari masuk ke dalam pintu besar Rumah Lelang.

Yang Chen berdiri diam di anak tangga terbawah. Dia dikelilingi tiga penjaga yang menodongkan tombak, dan ditonton puluhan orang kaya yang mencemooh.

Tapi di balik tudungnya, dia tersenyum.

Umpan telah dimakan. Kail telah tertancap.

Sekarang, dia hanya perlu menunggu ikan besar menarik talinya. Di dalam gedung itu, ada seseorang yang cukup pintar untuk mengenali tulisan tangan seorang Grandmaster, atau cukup tamak untuk mencium bau keuntungan 500%.

Yang Chen menghitung dalam hati.

Satu menit untuk berjalan ke ruang penilai.Dua menit untuk membaca dan kaget. Satu menit untuk lari kembali ke sini.

"Empat menit," gumam Yang Chen. "Aku akan diundang masuk sebagai tamu kehormatan dalam empat menit."

Dia melipat tangannya di dada, menutup mata, dan menunggu di tengah keramaian yang memusuhinya, tenang seperti batu karang di tengah badai.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!