Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Seorang pria tinggi dengan rahang tegas turun dari mobil. Kacamata hitam menutupi matanya, tapi Laura mengenal postur itu. Mengenal langkah itu. Mengenal aura sombong yang selama bertahun-tahun mengekangnya.
Kevin.
Tangannya gemetar. Selang air terlepas dari genggamannya, air mengalir tanpa arah, membasahi tanah dan sendal nya.
Kevin menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Wajah Kevin berubah. Terkejut. Lalu… tersenyum tipis. Awalnya ia berniat mengunjungi Gita tapi lihat..siapa yang berhasil dia temukan.
“Sayang?” suaranya terdengar seolah memanggil kenangan lama. “Akhirnya ketemu juga.”
Laura mundur selangkah. Otaknya berteriak untuk lari, tapi tubuhnya seolah terpaku. Semua kenangan yang selama ini ia kubur, malam-malam penuh teriakan, kata-kata manipulatif, kebohongan yang ia telan demi cinta kembali menyeruak.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Laura dingin, berusaha menegakkan suaranya.
Kevin tertawa kecil. “Harusnya aku yang tanya itu. Kamu menghilang begitu saja. Ganti nomor. Pindah kota. Seolah aku tidak pernah ada.”
Laura mengepalkan tangan. “Pergi, Kevin.”
Namun Kevin justru melangkah mendekat. Terlalu dekat.
“Aku cari kamu ke mana-mana,” katanya. “Dan ternyata kamu bersembunyi di sini? Jadi pembantu?”
Nada merendahkannya membuat perut Laura mual.
“Sebaiknya kamu pergi sebelum aku teriak,” ucap Laura tajam.
Kevin tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
“Jangan sok berani,” katanya sambil menarik Laura ke arahnya. “Kamu pikir kamu bisa meninggalkanku begitu saja tanpa penjelasan?”
Laura membeku sesaat bukan karena takut, tapi karena jijik. Wajah Kevin begitu dekat, aroma parfumnya membuat dadanya sesak.
Dengan satu gerakan cepat, Laura menarik tangannya dan menepis keras tangan Kevin.
“Jangan sentuh aku,” katanya pelan, tapi beracun. “Kamu tidak punya hak.”
Kevin terdiam. Sorot matanya berubah. Bukan marah—melainkan tersinggung.
“Kamu berubah,” katanya. “Dulu kamu yang selalu minta aku buat sentuh kamu. Dulu kamu tidak berani menatapku seperti itu.”
Laura tersenyum dingin. “Karena dulu aku bodoh.”
Kevin tertawa sinis. “Atau karena sekarang kamu punya pelindung? Majikan kaya ya?”
Laura menatapnya tajam. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku sekarang.”
Kevin mendengus. “Oh, aku tahu satu hal.” Ia menyeringai. “Aku tahu siapa pemilik rumah ini.”
Laura menegang.
“Haikal Pratama,” lanjut Kevin. “Suami sepupuku.”
Jeddeerrrr.....
Dunia Laura runtuh sejenak.
“Sepupu… siapa?” suaranya nyaris tak terdengar.
Kevin tersenyum puas. “Sagita, dia adik sepupu ku.”
Jantung Laura berdentum keras. Jadi inilah benang merahnya. Takdir yang kejam. Lingkaran yang tertutup rapat.
“Kecil sekali dunia ini,” lanjut Kevin. “Jadi kamu sekarang hidup di rumah sepupu ku?”
Laura menelan ludah. “Ini tidak ada hubungannya denganmu.”
Kevin mendekat lagi, kali ini lebih hati-hati. “Justru ini ada hubungannya denganku. Kamu meninggalkanku tanpa kata. Dan sekarang aku menemukan mu… di sini.”
“Aku pergi karena kamu berselingkuh dengan Mita, orang yang aku anggap sahabat ternyata tengah olah raga malam dengan kekasihku, dan aku juga tau kalau kamu juga memiliki hubungan dengan tante girang.” ucap Laura tegas.
"Kata siapa?." Tanya Kevin kaget Laura tau fakta itu.
“Aku melihatnya sendiri di Grand Hotel.”
Kevin terdiam sesaat. Lalu tertawa ringan. “Ah, itu?”
Tawa itu menghancurkan sisa harapan yang dulu pernah Laura miliki.
“Kamu pikir aku tidak tahu?” lanjut Kevin. “Kamu terlalu sensitif.”
Laura tersenyum pahit. “Kamu benar. Aku sensitif. Dan karena itu aku memilih menyelamatkan diriku.”
Kevin mendecakkan lidah. “Kamu selalu dramatis.”
Laura menatapnya lurus.
“Dan kamu selalu beracun.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Kevin akhirnya mundur selangkah. “Kita belum selesai,” katanya pelan. “Aku tidak percaya kebetulan. Dan aku ingin tahu… seberapa jauh kamu bermain di rumah ini.”
Laura menjawab tanpa ragu, “Jauh lebih jauh dari yang kamu kira. Dan aku senang bisa terlepas dari pria toxic seperti kamu.”
"Benarkah?, tapi jangan lupa kalau kamu dulu sering mend esah dan menggeliat kenikmatan di bawah Kungkungan laki-laki toxic ini." Bisik Kevin.
Kevin tersenyum tipis sebelum berbalik dan pergi. Namun sebelum masuk ke mobil, ia menoleh.
“Hati-hati, Laura,” katanya. “Keluarga ini… tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”
Mobil itu pergi, meninggalkan debu dan keguncangan di hati Laura.
Laura sama sekali tidak menyadari bahwa sejak Kevin pergi, sepasang mata lain belum berpaling darinya.
Dari balik tirai tipis di jendela dapur samping, Ratnasari berdiri kaku. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat. Napasnya tertahan sejak tadi, bukan karena lelah—melainkan karena kepuasan yang bercampur amarah.
“Jadi ini wajah aslimu,” gumam Ratna pelan, nyaris berbisik. “Pantas saja Tuan Haikal berubah.”
Ia menyaksikan semuanya,
cara Kevin menarik lengan Laura, ekspresi Laura yang tegang, jarak mereka yang terlalu dekat untuk sekadar tamu biasa.
Ratna tidak mendengar percakapan mereka dengan jelas. Tapi ia tidak butuh kebenaran yang ia perlukan hanyalah bukti visual.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa foto berhasil ia ambil dari sudut yang sengaja ia pilih, Kevin terlihat mencengkeram lengan Laura, Laura berdiri terlalu dekat, wajah mereka seolah terlibat percakapan intim.
Ratna tersenyum tipis. Senyum yang dingin, penuh perhitungan.
“Sekarang kamu habis Laura,” gumamnya.
Tanpa menunggu lama, ia membuka aplikasi pesan dan mengirimkan foto-foto itu kepada satu nama yang sejak awal menjadi sekutunya.
NYONYA AMARA
Pesan suara menyusul, sengaja dibuat dengan nada terguncang dan penuh kepanikan.
“Nyonya… saya benar-benar tidak menyangka. Pembantu baru itu ternyata gadis murahan. Ia membawa laki-laki ke rumah saat Tuan Haikal tidak ada. Saya takut rumah tangga Nyonya Sagita benar-benar hancur kalau perempuan itu dibiarkan.”
Pesan terkirim.
Ratna menghela napas panjang. Di dadanya, ada rasa puas yang mengembang.
Bukan karena kebenaran melainkan karena ia akhirnya punya senjata.
***
Reza menatap layar laptopnya. Beberapa dokumen terbuka. Foto-foto lama. Nama yang sama muncul berulang kali.
Kevin Pradipta.
Ia menyipitkan mata.
“Jadi ini dia, cantik dan Sexy, pantas saja Haikal tergoda.” gumam Reza.
Ia bersandar di kursi, menyilangkan tangan. Jika Laura terhubung dengan Kevin dan Kevin adalah sepupu Sagita, maka ini bukan lagi sekadar perselingkuhan atau ketertarikan.Ini adalah bom waktu keluarga.
Dan Reza tahu satu hal pasti bahwa permainan ini akan segera berubah menjadi jauh lebih menarik.