Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayangan di Lantai Warnet
Aroma khas campuran kopi saset yang terlalu manis, debu yang menempel di kabel-kabel kusut, serta udara dingin dari pendingin ruangan yang mulai berisik menyambut Reno saat ia melangkah masuk ke "Cyber Zone". Warnet ini adalah saksi bisu setiap tetes keringat dan kerja kerasnya. Di Jakarta, udara terasa jauh lebih berat dan menyesakkan dibandingkan Singapura yang bersih, namun bagi Reno, tempat ini memiliki jiwa yang tidak dimiliki oleh hotel bintang lima mana pun: bunyi klik *mouse* yang beradu cepat bagaikan rentetan peluru dan teriakan semangat anak-anak warnet yang sedang beradu mekanik di layar monitor masing-masing.
Reno sengaja mengenakan *hoodie* hitam kebesaran dan masker medis, mencoba tetap berada di bawah radar. Namun, popularitasnya setelah insiden internasional di Singapura tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Saat ia melewati deretan komputer, ia melihat sekumpulan remaja sedang mengerumuni sebuah monitor yang menampilkan tayangan ulang pertandingannya melawan Northern Stars.
"Lihat itu! Phantom benar-benar melakukan *flick shot* tanpa melihat! Dia bukan manusia, dia adalah dewa!" teriak salah satu remaja dengan mata berbinar-binar, seolah baru saja melihat keajaiban dunia.
Reno hanya tersenyum tipis di balik maskernya. Ia terus berjalan menuju bilik nomor 12, bilik keberuntungannya yang terletak di pojok ruangan yang agak gelap. Saat ia menyalakan komputer dan mendengar bunyi mesin yang menderu pelan, ia teringat bahwa meskipun ia telah menjatuhkan raksasa di panggung dunia, tantangan sebenarnya justru baru dimulai di tanah airnya sendiri. Di sini, ia tidak hanya melawan pemain profesional, tapi ia melawan sistem yang sudah lama berakar.
"Reno?" sebuah suara pelan dan berat memanggilnya dari belakang.
Reno menoleh dan melihat Ardi, pelatihnya, berdiri di sana. Wajah Ardi tampak kusam, matanya merah menunjukkan ia kurang tidur sejak mereka mendarat di Jakarta. Ardi memberikan isyarat agar Reno mengikutinya ke area parkir yang lebih sepi di belakang gedung warnet, jauh dari telinga-telinga penasaran para pengunjung.
"Ada apa, Coach? Kita baru sampai kemarin, bukankah seharusnya kita istirahat dan menikmati kemenangan singkat ini?" tanya Reno setelah mereka berada di area terbuka yang hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang.
"Victor tidak berhenti, Reno," Ardi menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah forum diskusi populer. "Setelah investigasi di Singapura dimulai, beberapa pihak di Jakarta mulai merasa terancam. Black Viper sekarang dianggap sebagai pengacau pasar taruhan. Ada beberapa akun anonim yang mulai menyebarkan rumor jahat bahwa kamu menggunakan program ilegal atau *cheat* saat mengalahkan Apex. Mereka memanipulasi video pertandinganmu agar terlihat seolah-olah bidikanmu dibantu oleh mesin."
Reno menghela napas panjang, menatap asap kendaraan yang berlalu-lalang di kejauhan. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Kejujuran selalu memiliki harga yang sangat mahal, terutama jika kejujuran itu merusak kantong orang-orang yang berkuasa. Di dunia yang sudah terbiasa dengan manipulasi dan pengaturan skor, seseorang yang bermain murni dan bersih justru seringkali dianggap sebagai anomali yang harus segera disingkirkan sebelum menular ke yang lain.
"Biarkan saja mereka bicara, Coach. Kita punya rekaman pertandingan asli dan data server panitia Singapura yang sudah diverifikasi internasional," sahut Reno dengan nada yang berusaha tetap tenang.
"Bukan itu masalah utamanya sekarang," potong Ardi, suaranya sedikit gemetar. "Ada orang-orang asing yang mulai mendatangi lingkungan rumah Marco dan Bimo. Mereka tidak melakukan kekerasan fisik yang mencolok, tapi mereka berdiri di depan gerbang rumah, memperhatikan keluarga mereka selama berjam-jam. Mereka memberikan 'peringatan' tanpa suara. Mereka ingin kita menarik kembali semua pernyataan tentang konspirasi di Singapura atau kita akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar di sini, di rumah kita sendiri."
Darah Reno seolah mendidih seketika. Jika mereka menyerangnya secara pribadi atau mencoba merusak karirnya, ia bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Namun, jika mereka mulai melibatkan keluarga rekan setimnya yang tidak tahu apa-apa, itu sudah melewati batas kemanusiaannya. Ia teringat kembali peringatan dari sosok misterius [S] yang mengatakan bahwa sistem yang korup akan bersembunyi lebih dalam dan menyerang dengan cara yang lebih kotor saat mereka merasa terpojok.
"Lalu apa rencana mereka selanjutnya? Mereka tidak mungkin hanya berdiri di depan pagar selamanya," tanya Reno dengan tatapan mata yang menajam.
"Mereka menantang kita untuk sebuah pertandingan eksibisi tertutup di Jakarta. 'The Underground Showdown'. Aturannya berbeda, tidak ada panitia resmi dari federasi, dan taruhannya adalah kredibilitas tim Black Viper secara keseluruhan. Mereka sudah mengatur narasinya di media sosial: jika kita kalah, kita harus mengakui bahwa semua tuduhan kita di Singapura adalah karangan semata untuk mencari sensasi dan menutupi kecurangan kita sendiri," jelas Ardi dengan nada berat, seolah membawa beban seluruh tim di pundaknya.
Reno mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah jebakan klasik yang sangat licin. Di pertandingan tanpa pengawasan resmi, mereka bisa melakukan sabotase apa pun—mulai dari memutus koneksi internet secara mendadak hingga menggunakan program pengganggu frekuensi. Namun, jika Black Viper menolak tantangan itu, opini publik yang sudah diprovokasi oleh akun-akun bot akan langsung menganggap mereka ketakutan karena memang benar-benar curang.
"Kita terima tantangannya," ucap Reno tegas, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan sedikit pun. "Tapi dengan satu syarat mutlak. Pertandingan itu harus disiarkan secara langsung di semua platform streaming besar, tanpa *delay* sedikit pun. Aku ingin seluruh dunia melihat apa yang terjadi di monitor kami secara *real-time*. Aku ingin mereka melihat setiap gerakan *mouse*-ku tanpa ada yang bisa diedit oleh mereka."
Malam itu, Reno kembali ke mejanya di bilik nomor 12. Ia tidak lagi memikirkan kemewahan Singapura atau sorotan lampu panggung yang megah. Ia mulai menyusun rencana cadangan yang jauh lebih rumit di dalam kepalanya. Ia merasa seperti karakternya di dalam game, terjepit di sudut peta yang gelap dengan jumlah peluru yang hampir habis, dikepung oleh musuh yang tak terlihat yang hanya menunggu dirinya melakukan satu kesalahan kecil.
Saat ia sedang fokus menyusun strategi, ia melirik ke arah pintu masuk warnet yang terbuka. Di sana, seorang pria berpakaian hitam serba tertutup dengan topi rendah tampak memperhatikannya dari kejauhan di balik bayangan pohon. Pria itu memegang sebuah amplop cokelat tebal. Begitu Reno menatapnya dengan tajam, pria itu meletakkan amplop tersebut di atas meja kasir yang sedang kosong, lalu berbalik dan pergi menghilang dengan cepat di kegelapan gang sempit di samping warnet.
Reno menghampiri meja kasir dengan waspada dan mengambil amplop tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang sudah agak kusam—foto tim Black Viper saat pertama kali memenangkan turnamen tingkat kelurahan beberapa tahun lalu. Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang berantakan dan terasa penuh ancaman:
"Mahkota One Tap God tidak akan menyelamatkan teman-temanmu di Jakarta. Tarik kembali kata-katamu dan tutup mulutmu soal Singapura, atau saksikan timmu hancur dari dalam sebelum kalian sempat menyentuh komputer."
Reno meremas foto itu hingga hancur di telapak tangannya. Amarah yang tadinya meluap-luap kini berubah menjadi fokus yang sangat dingin dan mematikan. Mereka mengira bisa menakutinya dengan ancaman fisik dan teror psikologis, namun mereka lupa satu hal mendasar: Reno adalah pemain yang paling berbahaya justru saat nyawanya tinggal satu poin dan posisinya terdesak.
Ia kembali ke komputernya dan mulai mengetikkan baris-baris kode strategi baru. Ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah peluru bagi mereka yang mencoba membungkam kebenaran. Pertempuran di Singapura mungkin sudah selesai di atas kertas, namun perang yang sesungguhnya untuk mempertahankan harga diri di Jakarta baru saja dimulai.
"Jika kalian ingin menghancurkanku, pastikan kalian tidak meleset," gumam Reno dengan tatapan mata yang sangat tajam ke arah layar monitor yang memantulkan wajahnya yang penuh tekad. "Karena begitu giliranku tiba, aku hanya butuh satu ketukan untuk mengakhiri sandiwara kalian semua."
Malam itu, di bawah temaram lampu warnet yang berkedip, sang legenda baru tidak sedang bermain game. Ia sedang menyiapkan sebuah serangan balasan yang akan meruntuhkan seluruh jaringan gelap yang mencoba mengusiknya. Dan kali ini, dunia akan melihat bahwa "One Tap God" bukan sekadar gelar di dalam game, melainkan sebuah prinsip hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang atau digoyahkan dengan ancaman.