Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Sang Penguasa Italia
Bau amis darah biasanya adalah aroma favorit Vittorio Genovese. Baginya, itu adalah aroma kemenangan, aroma kekuasaan, dan wangi dari takdir yang ia tulis sendiri di jalanan batu Sisilia. Namun kali ini, aromanya berbeda. Bukan amis besi yang tajam dan prestisius, melainkan bau debu apek, kaus kaki basah yang tidak kering dijemur, dan sisa uap mi instan murah yang sudah mendingin.
Vittorio mencoba membuka matanya. Kelopak matanya terasa seberat beton. Ada rasa nyeri yang berdenyut di sekujur tubuhnya, jenis rasa sakit yang tumpul dan memalukan—bukan luka tembak atau sabetan pisau yang biasa ia terima dengan bangga, melainkan rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubi di area perut dan wajah.
Saat matanya akhirnya terbuka, hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit mansion klasiknya yang berlapis emas di Italia. Tidak ada lukisan Renaissance atau lampu gantung kristal yang menyambutnya. Sebaliknya, ia menatap langit-langit kamar yang penuh dengan noda rembesan air hujan yang membentuk pola abstrak kecokelatan. Di sudut ruangan, sebuah poster pudar bergambar karakter anime dengan mata besar dan senyum konyol seolah sedang menertawakan nasibnya.
"Di mana aku?" suara itu keluar dari tenggorokannya.
Vittorio tersentak. Itu bukan suara baritonnya yang berat, suara yang sanggup membuat para menteri di Roma berkeringat dingin hanya dengan satu kata 'Ya' atau 'Tidak'. Suara yang baru saja ia dengar adalah suara yang cempreng, pecah, dan terdengar sangat... rapuh. Seperti suara seorang pemuda yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk meminta maaf kepada dunia.
Ia mencoba duduk. Kepalanya berputar hebat, seolah otaknya sedang dikocok di dalam blender. Tiba-tiba, gelombang memori yang bukan miliknya menghantam kesadarannya. Itu bukan memori tentang transaksi narkoba di pelabuhan Mediterania atau perang antar keluarga di Milan.
Ini adalah memori tentang Arjuna.
Seorang mahasiswa yatim piatu yang hidup dari belas kasihan beasiswa. Memori tentang bagaimana rasanya menjadi orang yang tak terlihat. Memori tentang rasa takut yang mencekik setiap kali melewati gang menuju kampus. Memori tentang bagaimana rasanya menjadi samsak tinju bagi sekelompok pemuda kaya yang bosan dengan hidup mereka. Tadi malam, memori itu berakhir di sebuah gang gelap di belakang kantin. Arjuna dihajar habis-habisan oleh Rico, ketua geng 'The Vultures', hanya karena Arjuna secara tidak sengaja menumpahkan kopi ke sepatu bermerek milik Rico. Arjuna pingsan dalam kehinaan, berharap ia tidak perlu bangun lagi.
"Jadi... pemuda malang ini menyerah pada hidupnya, dan jiwaku mengisi kekosongan itu?" Vittorio berbisik pada dirinya sendiri.
Ia menyeret tubuhnya menuju cermin kecil yang retak di sudut kamar kost seluas dua kali tiga meter itu. Saat ia melihat bayangannya, Vittorio ingin sekali menembak cermin itu jika saja ia punya Glock-17 di tangannya.
Wajah di cermin itu memakai kacamata tebal yang salah satu tangkainya disambung dengan selotip bening. Matanya sayu, rambutnya lepek dan tidak beraturan menutupi dahi yang lebam. Tubuhnya kurus, tulang selangkanya menonjol, dan ada bekas jejak sepatu di kaus putihnya yang sudah menguning.
"Ini penghinaan," desis Vittorio. Tangannya mengepal, dan meski tangan itu gemetar karena lemah, kilat mata di balik kacamata retak itu perlahan berubah. Kilat mata seorang predator yang telah membunuh ratusan orang mulai menggantikan tatapan penuh ketakutan milik Arjuna. "Vittorio Genovese tidak mati untuk menjadi seekor tikus got di negeri yang asing ini."
Ia mulai memeriksa tubuh barunya. Meskipun lemah, ia menyadari bahwa Arjuna memiliki potensi. Otot-ototnya kaku karena stres, tapi struktur tulangnya cukup proporsional jika diberi nutrisi yang benar. Namun, fokusnya terganggu oleh rasa lapar yang melilit perutnya. Sang Raja Mafia, yang biasanya makan malam dengan truffle dan anggur berumur lima puluh tahun, kini merasa perutnya berteriak meminta seporsi karbohidrat murah.
Tiba-tiba, pintu kamarnya yang reyot ditendang dari luar. BRAK!
Vittorio secara refleks merunduk dan meraih sebuah pulpen di atas meja—instingnya mencari senjata, apa pun itu. Namun, yang muncul bukanlah pembunuh bayaran dengan peredam suara.
Seorang gadis dengan rambut dikuncir asal-asalan layaknya ekor kuda yang stres masuk ke kamar tanpa izin. Ia memakai daster motif bunga matahari yang mencolok mata, dipadukan dengan celana training olahraga dan sandal jepit beda warna. Di tangannya, ia membawa sebuah mangkuk plastik berisi cairan berwarna hijau pekat yang mengeluarkan aroma jamu yang sangat tajam.
"Woi, Cupu! Lu masih idup, kan? Gue ketok-ketok dari tadi nggak nyaut, gue kira lu udah check-out ke akhirat!" teriak gadis itu dengan nada suara yang bisa memecahkan kaca.
Vittorio berdiri tegak, meski tubuhnya goyah. Ia menatap gadis itu dengan tatapan paling mematikan yang ia miliki—tatapan yang biasanya membuat lawan bicaranya berlutut memohon ampun. "Siapa kau, wanita rendahan? Beraninya kau masuk ke kediamanku tanpa izin."
Gadis itu, Karin, terdiam sejenak. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap. Bukannya takut, ia justru meledak dalam tawa yang sangat keras. "Hahahaha! Juna! Lu habis ketiban pot bunga ya semalem? 'Kediaman'? Lu nyebut kamar kost bau kaos kaki ini 'kediaman'? Terus apa tadi? 'Wanita rendahan'?"
Karin berjalan mendekat, sama sekali tidak terintimidasi oleh aura Vittorio. Ia meletakkan mangkuk hijau itu di meja, lalu dengan lancang menempelkan telapak tangannya ke dahi Vittorio.
"Nggak panas, tapi kok miring ya otaknya?" gumam Karin. "Nih, minum. Jamu 'Macan Galak' buatan nyokap gue. Bau sih emang kayak comberan, tapi khasiatnya oke buat bikin badan lu nggak kayak jeli lagi. Cepetan minum!"
Vittorio menepis tangan Karin dengan gerakan tangkas. Meskipun tubuh ini lambat, tekniknya masih ada. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Aku adalah Vittorio G—" Ia terhenti. Ia tidak bisa mengatakan identitas aslinya. "Aku tidak butuh ramuan anehmu."
Karin berkacak pinggang. "Eh, denger ya Arjuna si ahli drama. Lu itu udah gue tolongin dari mampus semalem. Gue yang nyeret lu dari gang ke sini sampai pinggang gue mau copot. Kalau lu mau mati, jangan di kost-an ini! Nanti harga sewanya turun kalau ada hantu cupu kayak lu gentayangan!"
Vittorio menatap mangkuk itu, lalu menatap Karin. Gadis ini unik. Di dunia lamanya, wanita seperti ini biasanya akan langsung dipotong lidahnya atau dijadikan pemuas nafsu sebelum dibuang ke laut. Tapi ada sesuatu yang berbeda di sini. Gadis ini tidak memiliki rasa takut. Ketidaktahuannya adalah tameng yang paling menyebalkan.
"Siapa namamu?" tanya Vittorio dingin.
"Lah, beneran amnesia lu? Gue Karin! Tetangga kamar sebelah lu yang sering lu pinjemin kompornya buat masak mi instan!" Karin memutar bola matanya. "Minum jamunya, Juna. Habis itu cuci muka. Tuh, ada belek gede banget di ujung mata lu. Hilangkan dulu kotoran matanya baru lu pasang muka sok sangar lagi. Sumpah, lu malah kelihatan kayak kucing kecemplung got yang mau marah tapi laper."
Vittorio tertegun. Seorang raja mafia, penguasa perdagangan gelap Italia, baru saja dihina karena kotoran mata oleh seorang gadis berdaster bunga matahari.
Karin keluar dari kamar sambil menggerutu tentang "mahasiswa stres kebanyakan tugas", meninggalkan Vittorio dalam keheningan yang menyesakkan. Vittorio melihat ke cermin lagi. Benar saja, ada kotoran mata di sana. Kehormatannya hancur berkeping-keping.
Ia kemudian memaksakan diri meminum jamu hijau pemberian Karin. Rasanya benar-benar mengerikan—seperti menelan tanah basah yang dicampur empedu ular—tapi anehnya, ada aliran hangat yang mulai menjalar ke ujung-ujung sarafnya. Tenaganya sedikit pulih.
Vittorio duduk di lantai, melakukan meditasi singkat untuk menyelaraskan kesadarannya dengan memori Arjuna. Ia melihat kilasan-kilasan penghinaan yang diterima pemuda ini. Ia melihat wajah Rico, wajah para dosen yang korup, dan wajah dunia yang memalingkan muka saat Arjuna menderita.
"Arjuna," bisik Vittorio, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun jauh lebih berbahaya. "Kau memberikan tubuh ini padaku. Sebagai gantinya, aku akan memberikan dunia ini padamu. Tapi pertama-tama..."
Ia berdiri, melepas kacamata selotipnya, dan mematahkan pulpen di tangannya menjadi dua dengan satu sentakan kecil.
"Aku harus mengajari orang-orang di sini bagaimana cara merangkak di depan seorang raja."
Vittorio berjalan menuju jendela kecil kamarnya. Di luar sana, kampus Universitas Global berdiri dengan megah. Di sanalah para pembully-nya berada. Di sanalah mangsa-mangsanya sedang tertawa di atas penderitaan Arjuna.
"Permainan dimulai," gumamnya.
Namun, perutnya kembali berbunyi dengan nyaring.
"Tapi setelah aku menemukan sesuatu yang lebih layak dimakan daripada cairan hijau wanita gila tadi."
Vittorio Genovese telah bangkit. Italia mungkin telah kehilangan rajanya, tapi kampus ini baru saja mendapatkan mimpi buruk paling nyata dalam sejarah mereka. Dan di tengah dendam yang membara itu, bayangan gadis semprul bernama Karin terus melintas, menjadi satu-satunya variabel yang tidak bisa dihitung oleh otak jenius sang mafia.
Dendam harus dibayar dengan darah, tapi Vittorio baru saja menyadari bahwa berurusan dengan Karin mungkin akan menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar nyawa: Kesabarannya.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍