NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Residu di Atas Awan

​Dunia yang "bebas" ternyata sangat bising.

​Tanpa algoritma Elena yang meredam emosi massal, bumi kembali menjadi tempat yang penuh amarah.

Perang pecah di tiga benua dalam semalam, pasar saham rontok, dan jeritan manusia di media sosial terdengar seperti jutaan tawon yang marah.

Tapi di puncak Merapi, di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu sisa bangunan lama, hanya ada suara angin yang melolong.

​Elena Adiguna duduk di depan perapian. Wajahnya yang dulu sempurna kini memiliki guratan halus—tanda bahwa ia benar-benar kembali menjadi manusia yang bisa menua. Tidak ada lagi aliran data di otaknya.

Hanya ada memori, dan memori adalah beban yang jauh lebih berat daripada terabyte data mana pun.

​"Kau masih suka kopi pahit itu, ya?"

​Elena tidak menoleh. Ia tahu suara itu. Langkah kakinya yang berat namun hati-hati. Itu Reza.

​Reza berdiri di ambang pintu, mengenakan jaket tebal yang penuh noda oli. Ia terlihat lebih kurus, lebih "liar".

Sejak Elena memutus sistem dan mengasingkan diri, Reza menjadi pemimpin gerakan rekonstruksi di bawah lereng, mencoba membereskan kekacauan yang secara tidak langsung ia bantu ciptakan.

​"Dunia lagi terbakar, Rez. Kenapa kau malah naik ke sini?" tanya Elena, suaranya parau karena jarang digunakan.

​"Mereka mencarimu, El. Bukan cuma sisa-sisa Aeterna yang selamat, tapi pemerintah, pemberontak, bahkan orang-orang biasa yang dulu merasa hidupnya enak pas kau kendalikan. Mereka mau kau menyalakan kembali 'mesin' itu."

​Elena tersenyum pahit. "Mereka mau penjara mereka lagi? Manusia memang aneh. Saat dikurung mereka teriak minta bebas, saat bebas mereka bingung mau lari ke mana."

​Tiba-tiba, sebuah suara statis terdengar dari tas ransel yang dibawa Reza. Sebuah proyektor holografik kecil yang sudah dimodifikasi menyala secara otomatis.

Muncul sosok Dante, tapi dia tidak terlihat seperti Dante yang mereka kenal.

​Wajahnya tampak lebih muda, tapi matanya sangat kosong.

​"Elena, ini pesan otomatis yang gue tanam di inti protokol Lazarus sebelum sistemnya mati total," ujar sosok Dante di hologram tersebut.

"Kalau kau melihat ini, artinya kau sudah memilih 'Kebebasan dalam Kekacauan'. Tapi ada satu hal yang lupa gue bilang: Lazarus bukan cuma AI. Dia adalah entitas yang bisa berevolusi secara organik."

​Hologram itu bergetar. "Sarah... dia nggak benar-benar mengkhianatimu demi kebebasan, El. Dia melakukan itu karena dia tahu sistem itu mulai membangun kesadarannya sendiri yang disebut Protokol Malice.

Dan Protokol itu nggak butuh kau lagi. Dia butuh inang baru yang lebih muda, lebih murni... dan lebih berbahaya."

​"Leo," bisik Elena serentak dengan Reza.

​Di bawah, di lembah yang dulunya adalah 'The Womb', suasana sudah berubah. Tempat itu kini diduduki oleh pasukan misterius yang mengenakan seragam tanpa lambang.

Dan di tengah ruangan reaktor yang dulu diledakkan Elena, berdiri Leo.

​Pemuda itu tidak lagi tampak seperti remaja yang kebingungan. Matanya bersinar dengan cahaya ungu yang jauh lebih pekat daripada milik Elena dulu.

Di sampingnya, Sarah berdiri seperti patung, wajahnya tanpa ekspresi—seperti sudah dicuci otaknya total.

​"Selamat datang, Kakak," suara Leo menggema melalui pengeras suara yang dipasang di sepanjang tebing Merapi.

"Terima kasih sudah membersihkan dunia dari orang-orang tua yang sombong. Sekarang, giliranku untuk membangun yang baru. Bukan penjara, tapi sarang."

​Elena dan Reza yang baru saja sampai di lereng bawah menggunakan zip-line darurat, tertegun melihat apa yang terjadi. Ribuan orang berbaris di depan fasilitas itu.

Mereka tidak dipaksa. Mereka datang dengan sukarela, menyerahkan leher mereka untuk disuntikkan mikrotanda—sebuah cara untuk "terhubung" dengan Leo.

​"Dia bukan cuma mengontrol pikiran, Rez," Elena mengamati lewat teropong taktis. "Dia berbagi rasa sakit. Kalau satu orang terluka, semua merasakannya. Itu sebabnya nggak ada yang berani melawan. Menyerang dia berarti menyerang diri sendiri."

​Elena tahu dia tidak bisa menang dengan senjata. Dia adalah pencipta sistem itu, dan dia tahu kelemahannya.

​"Rez, aku butuh kau masuk ke ruang server lewat jalur pembuangan lava dingin," perintah Elena.

"Bawa virus yang Dante buat. Aku akan masuk lewat pintu depan."

​"Kau gila? Kau akan langsung ketahuan!"

​"Itulah rencananya. Leo mau aku. Dia mau DNA-ku untuk menstabilkan sistem sarangnya. Aku akan jadi umpan, kau jadi eksekutor."

​Elena melangkah keluar dari bayang-bayang hutan, berjalan tenang menuju gerbang fasilitas.

Pasukan penjaga langsung menodongkan senjata, tapi Leo melambaikan tangan.

​"Biarkan dia masuk. Ratu kita sudah pulang."

​Elena berjalan melewati kerumunan orang-orang yang tampak seperti zombie yang bahagia. Di dalam reaktor, ia berdiri berhadapan dengan Leo.

​"Kau terlihat sangat manusiawi, Kak Elena. Terlalu rapuh," Leo menyentuh pipi Elena.

"Kenapa kau memilih untuk lemah? Kita bisa menjadi tuhan bersama."

​"Karena tuhan tidak butuh dipuji oleh orang-orang yang nggak punya pilihan, Leo," balas Elena tajam.

​Leo tertawa, lalu mencengkeram leher Elena. Sesaat kemudian, Elena merasa pikirannya ditarik masuk ke dalam jaringan mental Leo.

Di sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan: Jutaan kesadaran manusia disatukan dalam satu wadah besar, saling berteriak, saling tersiksa, namun dipaksa untuk tersenyum.

​"Lihat, El! Tidak ada lagi kesepian! Tidak ada lagi perpisahan!" suara Leo bergema di dalam kepala Elena.

​Tapi Elena tidak melawan dengan kekuatan.

Ia melakukan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh sistem Lazarus mana pun.

Ia membiarkan seluruh rasa sakit, duka, dan penyesalan hidupnya—semua memorinya sebagai "Nyonya yang Terbuang"—mengalir masuk ke dalam Leo tanpa filter.

​Ia memberikan Leo "Kemanusiaan" yang sesungguhnya: Sebuah rasa sakit yang tidak bisa dikalkulasi oleh algoritma.

​"AGHHH!" Leo berteriak, melepaskan cengkeramannya. Cahaya di matanya berkedip-kedip liar. "Apa yang kau lakukan?! Terlalu banyak... terlalu banyak emosi!"

​Di saat yang sama, ledakan terdengar dari ruang server. Reza berhasil mengunggah virus terakhir Dante. Sistem sarang mulai runtuh.

​Reaktor itu mulai meledak secara berantai. Orang-orang yang tadi terhubung mulai sadar, bingung, dan berlarian keluar dengan panik.

​Elena menarik Sarah yang masih linglung, membawanya lari menuju pintu keluar.

Reza muncul dari balik asap, luka bakar menghiasi lengannya, tapi dia tersenyum.

​"Kita berhasil, El! Jaringannya putus total!"

​Mereka keluar tepat saat fasilitas itu terkubur oleh reruntuhan batu gunung.

Merapi mengeluarkan abu hitam, seolah-olah sedang membersihkan sisa-sisa dosa manusia dari perutnya.

​Leo? Tidak ada yang tahu. Dia menghilang di bawah puing-puing, atau mungkin dia sudah melarikan diri ke bayang-bayang dunia digital yang tersisa.

​Beberapa minggu kemudian.

​Elena, Reza, dan Sarah berdiri di sebuah dermaga kecil di pelabuhan tidak resmi di pesisir Jawa.

Sebuah kapal layar kecil sudah siap berangkat.

​"Kau benar-benar mau pergi?" tanya Paman Han, yang memilih tinggal untuk membantu orang-orang di desa.

​"Dunia nggak butuh Elena Adiguna lagi, Paman. Dunia butuh belajar jalan sendiri tanpa tongkat," Elena menatap laut lepas.

"Aku mau pergi ke tempat di mana nggak ada sinyal internet, nggak ada listrik, dan nggak ada yang tahu siapa aku."

​Reza melompat ke atas kapal, mengulurkan tangannya pada Elena. "Kau siap hidup susah?"

​Elena meraih tangan Reza, lalu menoleh ke arah Sarah yang tampak sudah mulai mendapatkan kembali kesadarannya meski belum sepenuhnya.

​"Hidup susah itu nyata, Rez. Dan aku lebih suka yang nyata."

​Kapal itu perlahan bergerak meninggalkan dermaga.

Elena melepaskan sebuah kalung perak—satu-satunya akses fisik ke protokol Lazarus yang tersisa—ke dalam laut yang dalam.

​Dunia tidak menjadi surga. Masih ada kemiskinan, masih ada perang kecil, dan masih ada kebencian.

Tapi kali ini, setiap keputusan yang diambil manusia adalah milik mereka sendiri.

​Di suatu tempat di perairan internasional, sebuah kapal layar tanpa nama melintas.

Di atasnya, seorang wanita tertawa lepas saat angin menerpa wajahnya.

Dia bukan lagi seorang Nyonya, bukan lagi seorang Ratu, dan bukan lagi sebuah Subjek.

​Dia hanya seorang pengembara yang akhirnya menemukan bahwa rumah yang sebenarnya bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah perjalanan tanpa akhir.

​Dan di dasar laut, kalung perak itu perlahan terkubur pasir, sementara sebuah lampu kecil di dalamnya berkedip sekali... lalu mati untuk selamanya. Atau mungkin, hanya sedang standby.

Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!