NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.

Baik Vania dan juga pria bertubuh gempal tersebut serta petugas housekeeping yang tadi menemani Vania, kompak memandang ke sumber suara.

"Tuan Sandi." Lirih Vania. Kalau sudah begini, tidak menutup kemungkinan dirinya akan dipersalahkan oleh pimpinan hotel, mengingat pimpinan hotel terdahulu kerap kali menyalahkan dirinya setiap kali terjadi perdebatan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman dengan pengunjung hotel.

"Kalau tidak, kenapa?." Dengan tatapan tajam Sandi mengulang pertanyaannya.

"Kalau tidak, saya pastikan reputasi hotel ini akan hancur." Dengan penuh percaya diri pria bertubuh gempal tersebut menjawab.

Sandi maju beberapa langkah, hingga kini tubuh tegapnya berdiri tepat di depan kamar mandi hotel. Sandi mendorong pintu kamar mandi, hingga terlihatlah seorang wanita muda yang kini berdiri ketakutan di dalam sana.

Sandi menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan senyuman smirk di sana.

"Apa anda yakin, masih memiliki kesempatan untuk merusak nama baik hotel kami setelah istri anda tahu tentang kebejatan anda?." Dari perbedaan usia antara pria bertubuh gempal tersebut dan wanita muda yang kini berdiri ketakutan di dalam kamar mandi hotel, Sandi bisa menebak jika keduanya bukanlah pasangan suami-isteri. Hingga, Sandi menggunakan kesempatan itu untuk memojokkan pria itu.

Pria bertubuh gempal tersebut nampak menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Sandi berhasil memojokkannya hingga tak sanggup lagi berkata-kata.

"Sebaiknya segera tinggalkan hotel ini, sebelum saya kehabisan kesabaran!." Perintah Sandi sebelum berlalu begitu saja.

Deg

Untuk kali pertama Vania tidak harus menanggung amukan pimpinan ketika terjadi perdebatan antara pihak hotel dan pengunjung hotel. Biasanya saat masih di bawah pimpinan lama, dirinya selalu menjadi tumbal atas amukan pimpinan hotel. Padahal seharusnya itu merupakan tanggung jawab manager hotel. Tapi kenyataannya setiap ada kesalahan, Vania yang harus menanggungnya, sedangkan pujian pastinya akan didapatkan oleh manager hotel.

"Ikut dengan saya!." Seruan itu berhasil menyadarkan Vania dari lamunannya.

Vania menuding ke arah dirinya. "Saya, tuan?."

"Memangnya siapa lagi?."

"Baik, tuan." Dengan langkah cepat, Vania menyusul Sandi.

"Lain kali jangan dikasi hati, jika ada pengunjung hotel yang tidak tahu diri seperti itu! Bersikaplah lebih tegas, jangan mau dipersalahkan jika kenyataannya pihak hotel telah memberikan pelayanan yang sesuai!."

"Baik, tuan." Baru kali ini Vania diperbolehkan bersikap tegas setelah sebelumnya dirinya selalu diminta untuk mengalah setiap kali berurusan dengan pengunjung hotel yang suka seenaknya sendiri.

"Kembali lah ke ruangan kerjamu!." Kata Sandi. Tadinya Vania berpikir Sandi akan memberikan pekerjaan hingga memintanya ikut bersamanya, tapi sepertinya pria itu hanya ingin ia meninggalkan pengunjung tak tahu diri tadi.

"Baik, tuan."

*

Tidak terasa, sudah hampir sebulan Sandi menduduki posisi barunya sebagai pimpinan hotel, dan secara otomatis perjanjiannya dengan sang ibu pun sudah genap sebulan, mengingat janji itu disepakati tepat dihari pertama Sandi hendak mengemban posisi barunya tersebut. Mungkin Sandi sudah lupa dengan kesepakatan itu akibat kesibukannya, namun tidak dengan ibunya. Karena, wanita yang telah melahirkannya ke dunia tersebut masih ingat bahkan tak sabar menunggu hari ini tiba.

"Berdasarkan kesepakatan kita, berarti mulai hari ini mamah yang akan mencarikan calon istri untukmu." Suapan Sandi terhenti di udara mendengar perkataan ibunya. Perutnya pun terasa kenyang seketika, padahal baru satu suapan nasi goreng spesial buatan ibu yang masuk ke perutnya.

"Terserah mamah saja!." Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Sandi menanggapi perkataan ibunya. Sandi hanya bisa pasrah menerima keputusan ibunya. Lagipula, ia tidak punya waktu untuk mencari calon istri.

"Ohiya, Jangan sampai lupa untuk memeriksakan kondisi luka di lutut mamah! Jangan karena sibuk mencari calon menantu, mamah sampai lupa pada kesehatan mamah sendiri!." Entah ingin menyindir atau memang tulus ingin mengingatkan ibunya, yang jelas ibu hanya mengiyakan perkataan putranya tersebut.

"Iya...iya...." balas ibu.

Karena perutnya tiba-tiba terasa kenyang dengan semua perkataan ibunya tentang calon istri, Sandi lantas berpamitan untuk berangkat kerja.

*

Di waktu yang sama namun ditempat yang berbeda, Vania tengah cemas melihat kondisi putrinya yang sejak semalam mengalami demam.

"Sebaiknya kita segera membawa non Sesil ke rumah sakit, Bu! Soalnya suhu badan non Sesil panas banget. Mbak takut kalau sampai amit-amit non Sesil mengalami kejang, Bu." Mbak Atun sudah nampak menangis, tak tega melihat anak majikannya tersebut dalam kondisi seperti ini.

"Iya mbak." Sebenarnya Vania jauh lebih cemas ketimbang mbak Atun, namun wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Lagipula, ibu mana yang tega melihat putrinya dalam kondisi seperti ini.

Setelah mengirim pesan pada Cika guna menyampaikan jika hari ini ia akan sedikit terlambat, Vania segera membawa putrinya ke rumah sakit.

*

"Tidak perlu terlalu cemas, nyonya! Anak anda hanya mengalami demam biasa, mungkin karena akhir-akhir ini cuaca tidak menentu. Kondisi cuaca memang cukup berpengaruh, terutama bagi anak-anak, Nyonya." Terang dokter usai memeriksa kondisi Sesil, serta memberi instruksi pada perawat untuk memasangkan infus pada pasien.

"Syukurlah, kalau putriku hanya mengalami demam biasa, dok." Vania akhirnya lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Rupanya tidak sampai terjadi kondisi berbahaya pada putrinya, hanya demam biasa saja dan kata dokter akan membaik setelah diberikan suntikan injeksi penurun demam.

Namun begitu, dokter tetap menyarankan agar Sesil dirawat hingga kondisi bocah itu benar-benar stabil seperti sediakala.

Setelah selesai melakukan tugasnya, dokter lantas pamit undur diri guna memeriksa pasien yang lainnya.

Vania menatap wajah putrinya yang kini terlelap.

Kalau hanya untuk menguatkan hati menjadi ibu sekaligus ayah bagi putrinya, Vania mungkin masih sanggup. Tetapi, untuk terus membohongi putrinya tentang sosok ayahnya, Vania merasa sangat bersalah. Ya, Vania mengatakan pada putrinya bahwa sang ayah telah meninggal dunia sejak Sesil masih berada di dalam kandungan. Mungkin terkesan egois bahkan jahat, tapi itulah keputusan terbaik menurut Vania. Sesil tak perlu tahu siapa ayahnya.

"Vania..." Tadinya Bu Dinda hendak ke loket informasi pelayanan rumah sakit guna mencari tahu sesuatu, namun siapa sangka saat melintas di depan ruang IGD ia melihat punggung seseorang yang sangat mirip dengan punggung gadis yang pernah menolongnya. Ya, gadis, hingga detik ini sepengetahuan Bu Dinda, Vania masih gadis, Mengingat dari segi wajah serta penampilan Vania masih berada pada usia kurang lebih dua puluh lima tahunan.

"Bu Dinda." Vania menoleh ke sumber suara.

Bu Dinda melangkah, mendekat pada Vania.

Setelah posisinya lebih dekat, Bu Dinda mengarahkan pandangannya pada sosok bocah perempuan yang kini tengah tertidur di ranjang rumah sakit.

"Adik kamu sakit apa, Vania?." Bu Dinda berpikir bocah itu adalah adiknya Vania, tak sedikitpun terlintas dibenak wanita paruh baya tersebut bahwa bocah perempuan itu adalah putrinya Vania.

"Dia putri saya Bu, bukan adik saya." Bu Dinda sempat terkejut mendengar jawaban Vania. Jika bocah itu adalah putri Vania, itu artinya Vania sudah menikah, begitu pikir Bu Dinda.

"Putri kamu cantik sekali, mirip dengan ibunya." Tidak ingin sampai menyinggung perasaan Vania, Bu Dinda lantas mengulas senyum.

"Terima kasih, Bu Dinda."

Tak lama berselang, Seorang perawat di ruangan tersebut menghampiri.

"Permisi....Maaf nyonya, untuk kepentingan opname, pihak rumah sakit meminta keluarga pasien untuk menandatangani persetujuan opname."

"Baik, suster."

Vania pun ikut bersama perawat menuju ke meja staff dokter, setelah berpamitan pada Bu Dinda.

Sepeninggal Vania tinggallah Bu Dinda dan mbak Atun menemani sesil yang masih nampak lelap dalam tidurnya. Ya, Bu Dinda berniat meninggalkan ruangan setelah nanti Vania kembali, biar sekalian berpamitan pada wanita itu.

"Suaminya Vania bekerja di luar kota ya?." Mungkin karena tidak melihat keberadaan suaminya Vania, tiba-tiba Bu Dinda berbasa-basi dengan menanyakan keberadaan suami sekaligus ayah dari putrinya Vania tersebut pada mbak Atun.

"Bu Vania seorang single mom, nyonya. Ayahnya non Sesil sudah meninggal saat Non Sesil masih dalam kandungan." Mbak Atun memberi jawaban sesuai dengan pesan dari Vania, jika sewaktu-waktu ada yang menanyakan keberadaan ayah dari putrinya tersebut.

"Maaf." Bu Dinda merasa bersalah atas pertanyaannya tadi.

Mbak Atun mengukir senyum dibibirnya agar Bu Dinda tidak merasa bersalah atas pertanyaannya tadi.

1
Nurminah
lanjut thor
Lia siti marlia
makasih doang nih vania😄 gak ada tambaha lain mungkin buat nyenengin pak bos 🤭🤭🤭
secret
sekaliann gopub ajaa gaa sii, biar mingkemm semua tu mulut2 tukang gosipp🤭
Felycia R. Fernandez
yang lebih parah itu mulut Atika...
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Ariany Sudjana
kok cuma disuruh minta maaf saja? kenapa ga dipecat dan diblacklist dari semua jaringan hotel? terlalu ringan kalau hanya disuruh minta maaf
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: padahal udah melakukan kecurangan juga ya diperusahaan
total 1 replies
Ariany Sudjana
cuma segini updatenya?
secret
thorr kok blm up sii😭
Syarifah
🤭🤭🤭
Lusi Hariyani
nah gitu dong sandi cr th ttg istrimu
secret
ga habis2 si manajer tuaa bikin ulah, liat aja bntr lg kena depakk
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih dukungan sama pak bos plus suami ayo vania robek tuh mulut c wanita lemes 🤭🤭🤭
Felycia R. Fernandez
Naah lho...
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
naaah kan...
Nurminah
double up thor
Felycia R. Fernandez
Pasti bingung ini tentang data2 diri Sesil...mana akte kelahiran nya??
Lusi Hariyani
kpn terungkap y kakak klo sesil mmg ank kandung sesil
Nurminah
lanjutkan
secret
ehh ehh pmksdd ayo mandii😂😂 lanjuuttt thorrr, semangaaattt
Lia siti marlia
eh eh jangan mau di ajak mandi bareng vania entar kelar mandinya sampe zduhur lagi 🤭🤭keburu sesil ngamuk deh😄
Lusi Hariyani
jujur vania sm sandi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!