NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden di toilet

Hari Sabtu aktivitas sekolah hanya sampai jam sepuluh pagi. Selebihnya tinggallah para siswa kelas X dan XI yang mengikuti berbagai ekstra.

Arin dan Dela pulang lebih dulu. Sebelum pergi Arin bilang untuk menghubungi dirinya setelah Clarinda selesai menjalani hukumannya nanti ia jemput. Ponsel Clarinda masih disita oleh kepsek. Jika hukumannya selesai baru dikembalikan.

Arin dan Dela sebenarnya ingin membantu Clarinda, tapi dari kejauhan Zavian—kepala sekolah mereka—terlihat sedang memantau.

Toilet siswa lelaki dan perempuan saling bersebelahan. Clarinda mendapat tugas membersihkan toilet perempuan. Di dalam sana cukup sepi. Ada empat bilik pintu berjajar rapi. Di depan bilik terdapat wastafel panjang dengan kaca besar membentang seperti toilet di bioskop.

Sebenarnya toilet itu tidak jorok seperti bayangan Clarinda. Ada petugas khusus yang membersihkannya setiap hari. Jadi tugas Clarinda hanya memoles sedikit agar tampak lebih bersih.

Atau malah makin berantakan.

Untungnya Rama berhasil menyelinap masuk membantu.

"Ram... ini toilet perempuan. Sana keluar! Nanti lo dihukum juga!" Clarinda cemas sambil mengambil alat pel.

"Kalau gitu gantian... Lo yang bantuin gue, Cle."

Mereka mulai membersihkan toilet perempuan lantai dua sambil bercanda. Air terciprat ke mana-mana. Kaca wastafel yang tadinya kinclong kini penuh noda air.

"Udah... udah Ram! Basah semua ini!"

Rama tertawa. "Lagian sih lo jahil banget."

"Habisnya gue sebel sama Pak Tua itu."

"Pak tua?"

"Pak Zavian maksudnya." Clarinda nyengir kecil.

"Sebel kenapa Clea? Waktu skorsing lo kan udah lewat?"

Nah loh.

Clarinda langsung pusing sendiri mencari alasan. Masa iya dia bilang kalau susah tidur gegara Zavian ngorok.

"Ya pokoknya sebel aja," gerutunya manyun.

"Sabar dikit, Clea. Tahan dulu jahilnya. Bentar lagi ujian loh."

"Iya... iya... Rama sayang..."

Hening sepersekian detik.

"Sayang?" Rama tersenyum miring.

Mata Clarinda langsung membesar. Wajahnya berubah merah seperti tomat matang.

"A-apasih!" Ia buru-buru menjauh lalu pura-pura sibuk membersihkan sudut toilet lain.

Rama malah makin gemas melihat tingkahnya.

"Aku punya kejutan pas lulus nanti, Clea."

Clarinda menoleh sekilas lalu pura-pura ngepel lagi. "A-apa?"

"Nanti aja pas pengumuman kelulusan." Rama tersenyum misterius. "Sabar dong."

Clarinda berdecak pelan. "Oh iya... lo tahu siapa yang nguntit kita?"

"Iya."

Seketika Clarinda mendekat antusias.

"Siapa?! Gue pengen banget gaplok tuh orang!"

"Udah... udah..." Rama terkekeh kecil. "Roni bukan penguntit kok. Dia udah minta maaf tadi. Anaknya emang introvert. Mau nyamperin kita aja sungkan."

Clarinda langsung manyun. Rasanya Rama malah membela musuh.

"Niatnya dia mau ngirim foto ke nomor gue, tapi malah nyasar ke grup kelas. Dia udah hapus sih, tapi telanjur ada yang lihat, disimpan lagi. Jadi rame deh."

"Tetep aja gara-gara dia kita jadi trending topik!" gerutu Clarinda. "Coba kalau lo bukan mantan ketua OSIS pasti nggak seheboh ini."

"Lalu yang di mading itu?" Clarinda masih belum puas.

"Bukan dia yang nempel. Dia bahkan nggak tahu siapa yang nyetak foto-foto itu."

Clarinda makin kesal. Rasanya ingin mematahkan gagang pel di tangannya.

Rama mengusap kepala Clarinda pelan.

"Udah... jangan dipikirin terus."

Tiba-tiba—

"DI SINI BUKAN TEMPAT PACARAN!"

Suara menggelegar itu memenuhi seluruh ruangan toilet.

"Pak Zavian!" Rama tersentak.

Clarinda ikut menoleh kaget.

Zavian berdiri di depan pintu toilet dengan wajah dingin mengintimidasi.

"Kenapa kau di sini?" Tatapannya tajam mengarah pada Rama.

"Maaf Pak... saya cuma mau bantu Cla—"

"KELUAR!"

Rama sampai bergidik. Hari ini kenapa kepsek emosinya tinggi banget sih?

Rama dan Clarinda saling lirik.

"Clarinda." Zavian menatap sekeliling toilet. Sebagian memang sudah bersih, tapi sebagian lagi malah berantakan karena ulah mereka. "Apa dengan pacaran pekerjaanmu jadi selesai?"

Rama kembali mencoba bicara.

"Biarkan saya membantu Cla—"

"KELUAR!!!"

Kali ini suara Zavian jauh lebih keras.

Rama akhirnya mundur perlahan. Sebelum pergi ia sempat memberi kode pada Clarinda.

'WA gue.'

Setelah Rama keluar, Clarinda langsung melempar alat pel ke lantai.

"Apaan sih bentak-bentak anak orang!"

Zavian tidak menjawab. Tatapannya justru semakin tajam.

"Cepat selesaikan. Atau sekalian bersihkan toilet lantai tiga!"

Lalu pria itu pergi begitu saja.

"HAAAAAAAAA!!!" Clarinda menjerit kesal. "Pak Tua edaaaan!"

Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar.

"Ya udahlah... bersihin asal aja."

Clarinda mulai mengelap kaca seenaknya. Setelah itu ia keluar menuju toilet lantai satu.

Namun langkahnya langsung berhenti.

Zavian ternyata berdiri di depan toilet.

Keterkejutan Clarinda berubah menjadi senyum mengejek.

"Wih... nungguin ya Pak Tua?" Ia terkekeh sambil menyibak rambutnya yang basah karena keringat. Eh, bukan ding... Itu basah terkena cipratan air.

"Aku mengawasimu, bocah."

Padahal sebenarnya hukuman membersihkan toilet hanyalah alasan saja. Clarinda tadi berada di ruangannya cukup lama. Dengan begini tidak akan menimbulkan kecurigaan para guru.

Sampai di toilet lantai satu semuanya masih aman. Clarinda kembali bekerja setengah hati membersihkan wastafel dan kaca gede itu sambil bernyanyi dan bersiul. Model toiletnya sama dengan yang ada di lantai dua.

Setelah ini ia langsung meluncur ke rumah Arin. Eh, tapi jalan sebentar sama Rama makan mie pangsit dulu boleh juga. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan.

Clarinda membuka salah satu pintu bilik toilet.

Lalu tubuhnya membeku. Matanya menatap lurus ke arah closet.

Di dalam sana sesuatu yang kuning yang kecoklatan yang lembek memenuhi air toilet yang sudah keruh.

Banyak.

Mengapung.

Seketika wajah Clarinda pucat.

Aroma menyengat langsung menghantam tanpa ampun. Tangannya refleks menutup hidung.

"Hueeekkk!"

"Hueeekk!!!

"Hueeekk!!!"

Perutnya bergejolak hebat. Mual parah. Matanya sampai berair.

"Huuekkk!"

Clarinda ingin segera keluar. Tapi belum sempat berbalik tubuhnya didorong kasar dari belakang hingga masuk kedalam.

"Hei! Kurang ajar! Huuekkk!!!"

Brak!

Pintu langsung tertutup.

Tak bisa dibuka.

Pintu diganjal dari luar.

Clarinda panik menarik gagangnya.

Ia berulang kali menggedor pintu.

Clarinda berusaha tak menoleh pada closet tapi tetap saja pemandangan tadi sudah menancap di 0taknya.

"Huek!!!"

"Huekk!!!"

"Hueeekk!!!"

Suara cekikikan tertahan terdengar dari luar. Ia tahu siapa itu. Tapi Clarinda tak punya tenaga untuk berperang saat ini.

Ia muntah sampai lemas. Kepalanya sudah pusing, bajunya sudah kotor kena muntahannya sendiri. Dunia seolah berputar.

Namun sialnya pandangan matanya malah tertuju pada closet lagi seolah isinya meluber. Perutnya naik lagi. Tak tertahan.

"Huueeekkk!!!"

"Huuekkk!!!"

"Hueeekk!!!"

"Hueeekkk!!!"

Pandangan Clarinda mulai kabur.

Air matanya ikut keluar karena terlalu mual.

"Huueekk..."

Aroma toilet bercampur bau muntahan membuatnya semakin lemas. Tubuhnya merosot ke lantai.

Ia menggedor pintu berkali-kali dengan sisa tenaga yang ia punya.

"Buka..."

Buk!

Buk!

Buk!

Tiba-tiba pintu terbuka. Ganjalan dari luar sengaja dilepas.

Clarinda berusaha keluar dengan langkah sempoyongan setelah tersiksa di dalam.

Kakinya menabrak obat pembersih lantai yang masih terbuka. Isinya tumpah semua.

Licin.

Tiba-tiba...

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Aaaahhhh...."

Brukkk!!!

Tubuhnya terjatuh terlentang. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras.

Pandangan Clarinda langsung buyar. Kepalanya terasa berat. Cahaya lampu putih di langit-langit toilet sangat terang menyilaukan seolah melahap tubuhnya.

Sementara itu...

Zavian melihat jam mahal di tangannya. Ia baru saja keluar dari ruang kepala sekolah dan bersiap pulang. Namun dahinya mengernyit.

"Aneh... kenapa bocah itu belum selesai juga?"

Langkahnya otomatis menuju lantai satu.

Seharusnya Clarinda sudah menemuinya untuk mengambil ponsel. Membersihkan toilet yang sudah bersih jelas tidak membutuhkan waktu selama itu.

Baru saja Zavian hendak mendekati lorong toilet—

"Ada yang pingsan di toilet!" Teriakan siswi kelas X membuat suasana mendadak heboh.

Beberapa siswa yang masih ada di lantai satu langsung bergerombol.

Jantung Zavian mendadak berdebar tidak nyaman. Tanpa sadar langkahnya berubah sangat cepat.

Ia langsung menerobos masuk ke dalam toilet perempuan. Seketika langkahnya terhenti.

Wajah Zavian berubah.

Clarinda terbaring pucat di lantai. Penampilannya berantakan.

"Clarinda!" Rama panik sudah berjongkok hendak mengangkat tubuh Clarinda.

Namun Zavian lebih dulu menarik tubuh Rama menjauh. Rama sampai terdorong ke belakang. Untung keseimbangannya bagus sehingga tidak jatuh.

Tanpa banyak bicara Zavian langsung mengangkat tubuh Clarinda ke dalam gendongannya.

Tubuh gadis itu sangat lemah. Kepala Clarinda bersandar di da-da Zavian.

Pria itu menatap wajah pucat Clarinda dengan rahang mengeras. Tanpa menunggu lagi Zavian segera membawa Clarinda menuju UKS.

Sementara Rama hanya bisa berdiri terpaku menatap punggung kepala sekolahnya menjauh.

1
Marini Suhendar
bukan ngomongin d belakang orangnya,t p d depan😄
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!