NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:918
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi penonton di hari pertama syuting

Aula itu luas.

Terlalu luas.

Pilar-pilar tinggi menjulang sampai ke langit-langit, diukir dengan pola naga dan awan.

Di ujung— singgasana emas berdiri megah.

Lampu sorot menyala.

Kamera sudah di posisi.

“Semua siap?”

Suara sutradara terdengar tegas.

Beberapa kru menjawab serempak.

Di sisi luar area syuting—

Mireya berdiri diam.

Naskah ada di tangannya.

Tapi matanya tidak melihat tulisan.

Ia melihat—

dunia itu.

Di tengah set—

Eirian Vale berdiri.

Tidak lagi rapi.

Tidak lagi bersinar seperti biasanya.

Pakaiannya lusuh.

Rambutnya sedikit berantakan.

Wajahnya dibuat pucat.

Seorang… “anak buangan”.

Namun— punggungnya tetap tegak.

"…dia nggak nurunin aura."

Mireya menyipitkan mata sedikit.

Di depannya— seorang wanita berdiri anggun.

Pakaian kerajaan.

Mahkota kecil di kepalanya.

Putri kaisar.

Selir pertama.

Aura mereka bertabrakan.

“Action!”

Suasana langsung berubah.

“Jadi… ini bentukmu sekarang?”

Suara putri itu lembut.

Tapi dingin.

Tatapannya turun sedikit.

Menilai.

“Putra keluarga Vale, Kaizar Vale…”

Ada jeda.

“…atau hanya bayangan dari nama itu?”

Beberapa orang di sekitar menahan napas.

Eirian—tidak, Kaizar—

tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap lurus.

“Jika Yang Mulia datang hanya untuk menghina—”

Nada suaranya rendah.

Serak.

“—maka tidak perlu sejauh ini.”

Putri itu tersenyum tipis.

“Masih punya harga diri, ya.”

Ia melangkah mendekat.

Perlahan.

Di belakangnya—

dayang-dayang mengikuti.

Termasuk—

Luna.

Ia berdiri sedikit di belakang.

Namun matanya— tidak pada scene.

Melainkan— ke arah Mireya.

Kembali ke tengah—

Putri itu mengangkat sebuah kotak kecil.

“Ini.”

“Sebagai tanda… kita akhiri saja semuanya di sini.”

Hening.

“Perjanjian kakek buyut kita…”

Ia tertawa kecil.

“…terdengar konyol sekarang.”

Kaizar menatap kotak itu.

Tidak langsung mengambilnya.

Beberapa detik.

Lalu— ia mengulurkan tangan.

Menerima.

Tanpa ekspresi.

“Baik.”

Satu kata.

Tidak ada amarah.

Tidak ada penyesalan.

Itu justru— membuat suasana terasa lebih berat.

Putri itu sedikit mengernyit.

“…kau bahkan tidak bertanya?”

“Tidak perlu.”

Jawaban cepat.

Dingin.

“Sejak awal… itu bukan pilihan.”

Hening lagi.

Angin buatan dari kipas produksi berhembus pelan.

Membuat pakaian mereka bergerak.

Putri itu menatapnya beberapa detik.

Lalu berbalik.

“Mulai hari ini—”

“—hubungan kita berakhir.”

Langkahnya menjauh.

Kamera mengikuti.

Dan di tangan Kaizar—

kotak itu terbuka sedikit.

Kilau samar terlihat di dalamnya.

Sesuatu—

yang belum diketahui siapa pun di ruangan itu.

“Cut!”

Suasana langsung pecah.

Kru bergerak lagi.

“Bagus!”

“Ambil ulang angle dua!”

Namun—

di sisi luar—

Mireya masih diam.

Matanya tertuju pada satu titik.

Dia nerima… tanpa reaksi.

Tapi justru itu yang bikin sakit.

Tangannya tanpa sadar mengepal naskah.

Kalau Aurelia di situ…

Langkahnya bergeser sedikit.

Menjauh dari keramaian.

dia juga nggak akan ikut campur.

Di kejauhan—

Eirian melirik sekilas.

Matanya menangkap sosok itu lagi.

Diam.

Tapi… tenggelam.

Dia nonton… atau belajar?

Sementara itu—

Luna mendengus pelan.

“…sok paham.”

Bisiknya lirih.

Namun kali ini—

tidak ada yang mendengar.

Karena di tengah set—

cerita baru saja dimulai.

...****************...

Pagi itu berubah menjadi siang.

Namun suasana set tidak pernah benar-benar tenang.

“Set berikutnya siap!”

“Ganti properti! Cepat!”

Aula kerajaan masih digunakan.

Hanya—

dekorasinya berubah.

Bendera diganti.

Ukiran ditambah.

Karpet digelar ulang.

Dalam waktu singkat—

kerajaan yang sama…

menjadi “masa lalu”.

Mireya berdiri di sudut.

Memperhatikan semuanya.

Satu tempat… banyak waktu…

mereka memotong cerita di sini.

“Scene flashback! Semua siap!”

Beberapa aktor tua masuk ke set.

Salah satunya—

seorang pria dengan jenggot putih yang…

terlalu panjang.

Benar-benar panjang.

“…itu serius nggak sih?”

bisik Pixy pelan di samping Mireya.

Jenggot itu hampir menyentuh lantai.

Dan setiap kali pria itu bergerak—

asisten harus ikut mengangkatnya.

“Maaf—maaf—kejepit lagi—”

Salah satu kru tersandung.

Jenggotnya ikut ketarik.

“EH—!”

Beberapa orang langsung panik.

Dan—

suasana pecah.

Tawa terdengar di mana-mana.

Bahkan aktor lain tidak bisa menahan diri.

“Ini nanti di kamera melayang kok!” teriak salah satu kru sambil tertawa.

“Kalau nggak melayang, kita yang melayangin!” sahut yang lain.

Mireya tanpa sadar ikut tersenyum.

…ternyata sesantai ini di balik layar.

“SIAP! Ulang dari awal!”

Semua kembali ke posisi.

Kali ini—

lebih serius.

“Action!”

Dua pria tua berdiri berhadapan.

Aura mereka berubah total.

Tidak ada lagi kekacauan tadi.

Yang ada—

dua sosok berpengaruh.

“Persahabatan kita… tidak akan berakhir di generasi ini.”

“Setuju.”

“Jika suatu hari… keturunan kita bertemu—”

“—maka mereka akan terikat.”

“Sebagai keluarga.”

Tangan mereka saling menggenggam.

Angin buatan berhembus.

Dan—

jenggot itu…

benar-benar “melayang”.

Pixy membekap mulutnya, menahan tawa.

Mireya hanya menggeleng pelan.

…ajaib juga.

“Cut! Bagus!”

Waktu bergeser lagi.

Set berubah.

Kini—

lebih megah.

Lebih formal.

Singgasana utama.

Seorang pria duduk di atasnya.

Kaisar.

Wajahnya tegas.

Tatapannya tajam.

Di tangannya—

sebuah surat tua.

“Mulai.”

“Action!”

Ia membuka surat itu perlahan.

“Perjanjian…”

Nada suaranya berat.

“…yang dibuat oleh mereka yang sudah tiada.”

Seorang menteri berdiri di sampingnya.

“Yang Mulia, keluarga Vale kembali mengingatkan.”

“Bahwa janji itu harus ditepati.”

Kaisar terdiam.

Matanya menyipit sedikit.

“Janji…”

Ia tertawa pelan, nadanya cukup sinis.

“Janji itu dibuat saat keluarga mereka masih kuat.”

Nada suaranya berubah.

“Sekarang?”

“Seorang anak buangan… tanpa kekuatan…”

“Dan mereka tetap memaksa?”

Hening.

“Yang Mulia… mereka juga menawarkan opsi lain.”

“Keponakan mereka.”

“Lebih kuat. Lebih layak.”

Kaisar tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

ia melipat surat itu.

“Tidak.”

Jawaban singkat.

“Keponakan itu?”

Ia mendengus pelan.

“Seluruh ibu kota tahu reputasinya.”

“Playboy.”

"Menjijikan"

“Putriku bukan alat tukar.”

Tatapannya tajam.

“Kalau ingin memutus pertunangan—”

“biarkan dia sendiri yang melakukannya.”

“Dengan tangannya sendiri.”

“Bukan aku.”

“Cut!”

Suasana kembali normal.

Namun— beberapa kru terlihat terkesan.

“Wah, ini dapet banget…”

“Berat sih dialognya…”

Sore mulai turun.

Cahaya berubah lebih hangat.

Mireya masih di tempat yang sama.

Tidak bosan.

Tidak lelah.

Matanya terus mengikuti.

Setiap orang… punya perannya.

Setiap adegan… punya tujuan.

Tangannya perlahan membuka naskahnya lagi.

Halaman tentang—

Aurelia.

Ia menatapnya lama.

Di kejauhan—

melirik sekilas.

Lagi.

Dia belum syuting…

tapi tidak pergi.

Sementara itu—

Luna mengamati dari sisi lain.

“…cari muka banget.”

Namun— kali ini— tidak ada yang benar-benar memperhatikan ucapannya.

Karena perlahan— tanpa disadari—

Mireya sudah mulai…

menjadi bagian dari tempat itu.

...****************...

“OKE! Hari pertama selesai!”

Suara sutradara menggema di seluruh set.

“Beri tepuk tangan untuk para pemeran utama kita!”

Clap! Clap! Clap!

Tepuk tangan langsung pecah.

Beberapa kru bahkan bersiul.

Para aktor yang tadi berada di tengah set saling menunduk ringan.

Ada yang tersenyum lega.

Ada yang masih terbawa suasana.

Di antara mereka— Eirian berdiri santai.

Sedikit mengusap tengkuknya. Dengan handuk sejuk yang di berikan asisten nya.

Namun ekspresinya tetap tenang.

“Not bad ya hari pertama…”

bisik salah satu kru.

“Lumayan banget malah.”

Tiba-tiba— asisten sutradara mendekat dan membisikkan sesuatu.

Sutradara itu langsung mengangkat alis.

Lalu—

tersenyum lebar.

“Ohooo—kalau begitu!”

Ia menepuk tangan sekali lagi, menarik perhatian.

“Dari pemeran utama pria kita—”

Ia menunjuk ke arah Eirian.

“—kita dapat kiriman minuman sore!”

Suasana langsung ramai.

“WOOO!”

“Serius?!”

“Baru hari pertama udah traktir!”

Beberapa kru langsung bersorak.

Sutradara tertawa kecil.

“Terima kasih, Eirian!”

Eirian hanya mengangguk ringan.

“Santai saja.”

Namun—

sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Anggap saja perkenalan.”

“Wah, enak banget ngomongnya!”

Tawa kembali pecah.

Beberapa staf mulai membagikan minuman dalam kotak-kotak kecil.

Desainnya rapi.

Jelas bukan minuman sembarangan.

Sutradara kembali angkat suara.

“Tapi—”

Ia melirik ke arah para aktris.

“Yang perempuan, hati-hati ya.”

Nada suaranya bercanda.

“Jangan sampai besok datang-datang sudah tambah satu kilo.”

“HAHAHA!”

“Kalau gemuk, kita yang susah ngatur kostumnya!”

Beberapa aktris pura-pura kesal.

“Ih, direktur!”

“Kan masih boleh hari pertama!”

“Diet besok aja!”

Suasana jadi santai.

“Sudah, sudah!”

Sutradara melambaikan tangan.

“Yang mau pulang—silakan pulang.”

“Tim set, bereskan ini semua.”

“Kita ada rapat setelahnya.”

“Bubar!”

Perlahan— orang-orang mulai berpencar.

Kru sibuk merapikan.

Aktor mulai santai.

Beberapa berkumpul kecil.

Di pinggir— Mireya masih berdiri.

Ia tidak ikut tepuk tangan terlalu heboh.

Tidak juga langsung bergerak.

Hanya— menatap set yang perlahan kosong.

Hari pertama… selesai.

Pixy muncul di sampingnya dengan dua minuman.

“Kak! Ini buat Kak Mireya!”

Mireya berkedip.

“Ah… makasih.”

Ia menerima satu.

Dingin.

Segar.

Sementara itu—

dari kejauhan—

Eirian sempat melirik lagi.

Matanya berhenti sepersekian detik.

Dia nggak langsung pulang juga…

Di sisi lain—

Luna menerima minumannya dengan ekspresi datar.

“…cuma minuman doang.”

Namun— tatapannya tetap mengarah ke satu orang.

Mireya.

Sementara itu—

di dekat pintu keluar—

sudah menunggu.

“Sudah cukup lihat-lihat?”

Mireya menoleh.

“…iya.”

Jawabannya pelan.

Namun kali ini—

matanya berbeda.

Lebih fokus.

Lebih dalam.

Rhea menyipitkan mata sedikit.

“…bagus.”

Ia berbalik.

“Besok kamu mulai bukan sebagai penonton lagi.”

Langkahnya berjalan keluar.

Mireya mengikuti.

Di belakang—

suara set masih ramai.

Namun perlahan menjauh.

Hari pertama telah selesai.

Dan tanpa disadari—

hari itu bukan sekadar observasi.

Melainkan— awal dari perubahan.

...****************...

Pintu mobil terbuka perlahan.

Udara sore yang mulai dingin menyambut.

Mireya masuk tanpa banyak bicara.

Pixy menyusul cepat di belakangnya.

Dari kursi depan—

Pak Laurent melirik lewat kaca spion.

“Semua sudah siap?”

“Iya, Pak!”

Pixy menjawab cepat.

Mobil kembali melaju.

Meninggalkan lokasi syuting yang perlahan menjauh.

Di dalam—

suasana tidak sepenuhnya tenang.

Rhea duduk bersandar, menyilangkan kaki.

Namun matanya tajam.

“Yang tadi… aktor yang jadi menteri.”

Mireya menoleh sedikit.

“Ekspresinya kurang hidup.”

“Kalau bukan karena shot-nya cepat, pasti kelihatan di kamera.”

Nada Rhea datar.

Seolah sedang mengevaluasi laporan.

“Sebaliknya—”

“pemeran putri kaisar, bagus.”

“Kontrol emosinya stabil.”

Mireya mengangguk pelan.

“Iya… aku juga ngerasa begitu.”

Rhea meliriknya.

“Bagus. Berarti kamu memperhatikan.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu—

nada suaranya sedikit lebih dalam.

“Ingat, Mireya.”

“Di depan kamera—”

“kamu harus selalu sempurna.”

Hening sejenak.

“Kesalahan kecil saja… bisa merusak satu adegan.”

Tatapan Rhea lurus.

“Dan kalau adegan itu penting—”

“bisa merusak keseluruhan cerita.”

Mireya menelan ludah.

“…iya, Kak Rhea.”

Jawabannya pelan.

Namun mantap.

Rhea mengangguk singkat.

“Bagus.”

Beberapa saat kemudian—

mobil mulai melambat.

Gedung tinggi tempat tinggal mereka sudah terlihat.

“Besok aku tidak bisa ikut.”

Rhea membuka pintu lebih dulu.

“Pixy saja yang menemani kamu.”

Pixy langsung menegakkan punggung.

“Iya! Aku siap!”

Rhea tersenyum tipis.

“Hati-hati ya.”

Ia melirik Mireya sekali lagi.

“Dan jangan bikin masalah.”

“…aku yang capek nanti.”

Mireya tertawa kecil.

“Iya…”

Mobil kembali melaju.

Kali ini—

menuju tujuan berikutnya.

Sementara itu—

Mireya berdiri di depan pintu penthouse.

Pintu terbuka.

Aroma makanan langsung menyambut.

Hangat.

Rumahan.

“Ah, Mireya!”

Seorang wanita paruh baya muncul dari dapur dengan senyum lebar.

“Cepat masuk!”

Ia langsung menarik Mireya pelan ke dalam.

“Capek banget ya?”

“Duduk dulu, duduk dulu!”

Meja sudah penuh dengan makanan.

Masih hangat.

Mireya sedikit tertegun.

“…banyak banget.”

Wanita itu mendengus ringan.

“Ya iyalah!”

“Kamu ada makan siang nggak sih dari kru?”

Tatapannya penuh curiga.

“Soalnya aku lihat kamu makin kurus!”

Mireya tersenyum kaku.

“…makan kok.”

“Sedikit.”

Wanita itu langsung menghela napas panjang.

“Tuh kan!”

“Pasti nggak bener makannya!”

Ia menyilangkan tangan.

“Kalau Mas Zevran tahu—”

“dia bisa marah.”

Mireya terdiam sejenak.

Jantungnya berdetak sedikit aneh.

“…nggak segitunya kali…”

gumamnya pelan.

Wanita itu hanya tersenyum misterius.

“Kamu nggak tahu saja.”

Ia mendorong piring ke arah Mireya.

“Sudah, makan dulu.”

“Energi itu penting.”

Mireya duduk perlahan.

Tangannya mengambil sendok.

Hangat.

Bukan cuma makanannya.

Tapi juga—

suasana itu.

…rumah.

Pikirannya melayang sejenak.

Hari ini— ramai.

Bising.

Penuh tekanan.

Tapi sekarang— sunyi.

Dan nyaman.

Ia menunduk sedikit.

Mulai makan.

Tanpa sadar— senyum kecil muncul di wajahnya.

Hari pertama telah selesai.

Dan untuk pertama kalinya— ia merasa…

mungkin— ia tidak sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!