NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Labirin di Bawah Museum

Udara pagi di Lembah Anila terasa dingin dan segar, namun ketegangan yang menyelimuti tim ekspedisi jauh lebih menusuk. Di depan pintu masuk makam kuno, yang terletak tersembunyi di balik sebuah reruntuhan candi, suasana hiruk pikuk persiapan campur dengan keheningan yang menyeramkan. Pintu besi besar ke lantai pertama, yang sebelumnya sempat dibuka untuk umum sebagai museum pameran tentang Raja Armaan Ash, kini telah tertutup rapat, menunggu untuk dibuka kembali kali ini bukan untuk pengunjung, melainkan untuk tim penyelamat.

Aura berdiri di depan gerbang batu itu, mengenakan pakaian pelindung yang disiapkan Harun, tangannya memegang senter bertenaga tinggi. Meskipun bibirnya menyunggingkan senyum percaya diri, di dalam hatinya, ada gejolak keraguan dan keresahan yang dalam. Ia tahu ini bukan hanya tentang menyelamatkan orang, tapi tentang menghadapi warisan jahat yang kini menjadi bagian dari ingatannya.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang dingin menyentuh bahunya.

“Aura.”

Aura menoleh. Di belakangnya berdiri Kakak perempuannya, Yeni. Wajah Yeni pucat, matanya sembab karena kurang tidur, dipenuhi kekhawatiran seorang kakak.

“Mbak Yeni,” sapa Aura, berusaha santai.

“Apa kamu yakin ingin ikut mereka masuk ke dalam sana?” tanya Yeni, suaranya bergetar. Ia melirik ke arah pintu makam yang tampak seperti mulut gua raksasa yang siap menelan siapa saja. “Di sana sangat berbahaya, Ra. Ayah bilang, jebakannya sudah memakan korban.”

Aura menggenggam tangan kakaknya, senyumnya kini lebih meyakinkan, sebuah tameng yang ia pasang untuk meredakan kekhawatiran Yeni.

“Aku harus ikut, Kak. Tenang saja, aku akan baik-baik saja,” jawab Aura, nadanya ringan, seolah ia hanya pergi piknik. “Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku punya petunjuk yang mereka tidak punya.”

Yeni menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kau tidak mengerti, Aura. Kau baru saja bangun dari… dari mimpi burukmu. Kami baru mendapatkanmu kembali. Aku takut kau akan masuk lagi ke kegelapan itu. Apa Ayah benar-benar mengizinkanmu?”

“Ayah mengizinkan, dengan syarat aku harus mendengarkan para tentara. Dan aku akan menepatinya,” kata Aura, menatap lurus ke mata kakaknya.

Yeni tahu, begitu tekad masuk ke mata adiknya, tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia hanya bisa diam, menatap perpisahan dengan kecemasan yang membekukan.

“Janji padaku, janji kau akan kembali untuk minum teh sore bersamaku,” pinta Yeni, suaranya pecah.

“Aku janji, Kak,” jawab Aura, memeluk kakaknya erat.

Beberapa langkah di depan mereka, Jenderal Jack, pemimpin regu keamanan, memberi kode. Harun dan Kieran sudah menunggu di depan pintu masuk.

Aura melepaskan pelukan Yeni. Yeni hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, menatap Aura berjalan maju.

Di depan gerbang, Aura berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk memberikan senyum terakhir kepada Yeni. Kemudian, ia berbalik, dan fokusnya kembali tajam, siap menghadapi bayangan Asaarmata.

Pintu makam lantai pertama terbuka dengan suara gesekan batu yang memekakkan telinga. Tim utama segera masuk.

Di dalam, suasana berubah total. Aula pameran yang sebelumnya penuh dengan artefak Raja Armaan Ash sudah bersih, hanya menyisakan koridor batu yang lebar dan gelap.

“Kita tidak akan membuang waktu di sini,” kata Jenderal Jack, suaranya berat dan berotoritas. “Harun, tunjukkan jalur menuju tingkat dua.”

Harun segera memimpin, diikuti oleh Aura. Di belakang mereka, berdiri dua pria yang menjadi pendamping terdekat Aura dalam misi ini: Kieran, yang memandu jalan menuju ke dalam makam kuno, dan Falix, seorang yang santai dengan barang ditasnya untuk persiapan menghadapi bahaya makam.

Mereka menyusuri koridor pameran yang kosong, aura kemewahan dan sejarah yang tersisa terasa dingin. Koridor itu mengarah pada sebuah tangga spiral batu yang curam, menukik tajam ke bawah.

“Ini adalah gerbang menuju ‘Labirin Kepuasan’ milik Asaarmata,” bisik Aura, lebih kepada dirinya sendiri.

Kieran menoleh. “Kau yakin dengan nama itu, Aura?”

“Itu istilah yang digunakan di cerita lama,” jawab Aura. “Tempat di mana dia mendapatkan ‘kepuasan’ dari penderitaan. Di tingkat dua inilah dia benar-benar berkuasa.”

Saat mereka menuruni tangga, cahaya senter mereka tidak mampu menembus kegelapan di bawah. Suhu udara anjlok drastis, berganti menjadi lembap dan berbau belerang samar aroma yang menyerupai tanah yang sudah lama tidak tersentuh kehidupan.

Setelah menempuh jarak yang terasa sangat jauh, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang gelap. Ini adalah lantai kedua.

Begitu kaki Aura menginjak lantai batu yang terasa kasar, ia berhenti. Seluruh tim menghentikan langkah.

Aura menyapu cahaya senternya ke sekeliling. Ruangan itu bukan aula terbuka, melainkan persimpangan yang kacau. Di depan mereka membentang tiga lorong yang mengarah ke arah berbeda, namun ada yang aneh.

Setiap lorong memiliki pola ukiran dinding yang unik. Lorong pertama berukiran kalajengking, lorong kedua berukiran wajah anak kecil yang tersenyum aneh, dan lorong ketiga berukiran mesin roda gigi.

“Ini… ini bukan hanya labirin biasa,” gumam Aura, matanya melebar saat ia merasakan gelombang ingatan dari Asaarmata menyeruak di benaknya. “Setiap lorong memiliki jebakan yang berbeda, diaktifkan dengan mekanisme yang berbeda pula. Tapi setiap lorong adalah jebakan! Mana jalan yang benar?”

Aura menoleh ke samping, mencari Falix dan Kieran.

Falix, yang sedari tadi diam mengamati, maju selangkah, sorot matanya yang tajam memindai setiap detail dinding. Dia adalah pria dengan perawakan sedang, namun auranya tenang seperti danau di pagi hari.

“Tepat sekali,” kata Falix, suaranya datar dan santai, tanpa emosi terkejut sedikit pun. “Ini memang labirin makam. Labirin bukan hanya tentang arah, tapi tentang pilihan yang mengarah pada konsekuensi. Jadi, Nona Aura, mana yang jalan benar dan mana jalan penuh jebakan?”

Semua orang termasuk Jenderal Jack dan para tentara yang bersenjata lengkap hanya bisa diam, menatap Aura, menunggu jawaban. Ketegangan mencengkeram ruangan, hanya ada suara napas dan klik detektor logam Kieran.

Aura merasa tekanan itu membebani. Ia baru saja masuk, dan ia sudah harus mengambil keputusan yang menentukan nasib semua orang. Ia menyadari, Falix sengaja mengajukan pertanyaan itu, bukan karena ia tidak tahu, tapi karena ia ingin menguji keyakinan Aura pada pengetahuannya yang tiba-tiba muncul.

“Lorong kalajengking adalah jebakan racun. Lorong roda gigi adalah jebakan mekanik,” kata Aura, menganalisis.

“Dan lorong wajah anak kecil?” tanya Kieran.

Aura menelan ludah. Rasa ngeri yang ia rasakan ketika mengingat obsesi Asaarmata muncul. “Itu… itu adalah lorong kepercayaan aneh Asaarmata. Dia menggunakan anak kecil untuk mengelabui, seolah itu adalah jalan aman. Tapi itu mungkin jebakan emosional, atau tempat dia menyembunyikan ritual ‘darah murni’-nya.”

Jenderal Jack maju. “Aura, kita harus memilih satu. Kita tidak punya waktu untuk menganalisis setiap ukiran.”

“Tunggu,” potong Falix, matanya terpaku pada dinding kalajengking. “Jika semua adalah jebakan, maka jalan keluarnya adalah jebakan itu sendiri.”

Aura menatap Falix, seketika memahami inti pemikirannya yang sinis dan logis.

“Tepat,” kata Aura. “Asaarmata tidak akan membuat jalan yang aman. Dia akan membuat jebakan yang harus diaktifkan atau dilewati untuk membuka jalan yang sebenarnya. Dan untuk lima orang yang hilang… mereka pasti memilih lorong yang salah. Kita harus menghindari lorong Anak Kecil.”

“Lalu kita pilih yang mana?” tanya Harun.

Aura menunjuk lorong dengan ukiran kalajengking. “Kita ambil risiko di lorong Kalajengking. Falix, kita harus menemukan mekanisme di balik jebakan ini. Itu adalah jalan kita.”

“Baik,” kata Jenderal Jack, mengangguk. “Falix, Kieran, kalian di depan. Aura, kamu di tengah, dekat dengan Harun. Tim, bersiap! Pindahkan semua detektor ke mode racun dan biohazard!”

Aura menatap lorong kalajengking, udara terasa beracun bahkan sebelum mereka melangkah. Ini adalah awal dari perjalanan yang gelap, sebuah labirin yang dirancang oleh seorang pangeran gila, dan Aura adalah satu-satunya harapan mereka untuk bertahan.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!