Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: TRANSMISI DARI KEDALAMAN GELAP
Festival Persembahan Tulang dimulai dengan dentuman lonceng raksasa yang menggetarkan seluruh daratan terapung Sekte Tulang Langit. Ribuan murid berkumpul di altar utama, menyaksikan para tetua agung membakar dupa energi untuk menghormati leluhur. Namun, di balik kemegahan itu, Han Jian bergerak seperti hantu di lorong-lorong bawah tanah Perpustakaan Terlarang.
Berkat petunjuk Lin Xia, ia berhasil menemukan pintu masuk rahasia yang tersembunyi di balik patung pendiri sekte yang sudah retak. Pintu itu bukan terbuat dari logam, melainkan dari susunan tulang rusuk raksasa yang saling mengunci.
"Formasi Sembilan Segel Tulang," gumam Han Jian.
Ia bisa merasakan tekanan spiritual yang luar biasa keluar dari celah pintu tersebut. Tekanan ini dirancang untuk menghancurkan dantian siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin. Namun, bagi Han Jian, tekanan ini hanyalah beban tambahan yang justru membuat Tulang Emas Abadi miliknya beresonansi lebih kuat.
Ia menempelkan telapak tangannya pada segel pertama. Alih-alih meretas formasi dengan Qi, Han Jian memicu getaran frekuensi tinggi dari sumsum tulangnya.
Krak... krak...
Tulang-tulang penyusun segel itu bergetar, tertipu oleh frekuensi yang identik dengan energi purba mereka. Satu per satu, sembilan segel itu terbuka dengan suara seperti persendian yang diregangkan. Han Jian melangkah masuk ke dalam kegelapan total Penjara Dasar Langit.
Tempat ini adalah dimensi saku yang terisolasi. Tidak ada udara, tidak ada cahaya, hanya ada aliran Qi hitam yang sangat dingin yang mengalir di lantai seperti sungai merkuri. Di sinilah letak kekejaman Sekte Tulang Langit yang sebenarnya.
"Jian-er... benarkah itu kau?"
Tiba-tiba, sebuah suara bergema langsung di dalam tengkorak Han Jian. Itu bukan suara yang didengar telinga, melainkan getaran yang merambat melalui tulang-tulangnya. Suara itu lemah, kering seperti gesekan amplas, namun penuh dengan kasih sayang yang tak terbantahkan.
Han Jian membeku. Matanya yang keemasan berkilat di kegelapan. "Ayah?"
"Berhenti di sana, Nak... Jangan melangkah lebih jauh. Penjaga Penjara telah merasakan keberadaanmu. Dia bukan mahluk hidup, dia adalah manifestasi dari dendam sepuluh ribu tulang yang gagal."
"Aku tidak datang ke sini untuk melarikan diri, Ayah," jawab Han Jian, suaranya mantap meski hatinya bergejolak. "Aku datang untuk membawamu pulang. Mereka telah mengisap nyawamu terlalu lama."
"Kau telah mencapai tahap Emas... luar biasa," suara Han Shuo terdengar bangga meski tersengal. "Tapi tempat ini adalah perangkap kematian. Formasi yang mengikatku terhubung langsung ke inti daratan terapung ini. Jika kau memutus ikatanku secara paksa, seluruh sekte akan jatuh dari langit dan jutaan orang akan mati."
Han Jian mengepalkan tangannya. "Maka biarlah mereka jatuh! Mereka membangun kemewahan ini di atas penderitaanmu!"
"Tidak, Jian-er... seorang Kaisar Tulang tidak memerintah di atas abu orang yang tidak bersalah. Dengarkan aku... di depanmu, ada Penjaga Penjara. Kau harus mengalahkannya untuk mendapatkan 'Kunci Esensi'. Hanya dengan kunci itu kau bisa melepaskan ikatanku tanpa menghancurkan dimensi ini."
Tiba-tiba, udara di depan Han Jian memadat. Muncul sesosok mahluk setinggi tiga meter yang terdiri dari ribuan fragmen tulang yang terus berputar. Di tengah dadanya, sebuah inti berwarna merah darah berdenyut kencang. Inilah Penjaga Penjara, mahluk tahap Penyatuan Roh yang diciptakan untuk menjadi algojo abadi.
ROOOAAAARRRR!
Mahluk itu mengayunkan pedang raksasa yang terbuat dari tulang panggul raksasa. Han Jian mengangkat Tombak Pemutus Takdir-nya.
BOOM!
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan dinding-dinding dimensi saku. Han Jian terdorong mundur lima langkah, kakinya meninggalkan parit dalam di lantai batu. Ini adalah lawan terkuat yang pernah ia hadapi. Kekuatan mahluk ini murni fisik, sama seperti dirinya, namun didukung oleh ribuan tahun akumulasi energi kematian.
"Kau hanyalah tumpukan tulang mati!" teriak Han Jian.
Ia melepaskan seluruh pendar emas di tubuhnya. Cahaya emas itu menerangi seluruh penjara, menyingkap pemandangan yang mengerikan: ayahnya, Han Shuo, terlihat disalib di tengah-tengah jaring energi hitam yang rumit di kejauhan. Tubuhnya kurus kering, namun matanya tetap bersinar dengan api yang tak kunjung padam.
Han Jian melesat maju menggunakan Langkah Bayangan Tulang. Ia muncul di atas kepala penjara dan menghantamkan tombaknya dengan kekuatan Penghancur Takdir.
Mahluk penjara itu mengangkat perisai tulangnya, namun Han Jian tidak berhenti di sana. Di tengah udara, ia melakukan manuver gila—ia menarik energinya kembali ke dalam tulang belakangnya, lalu meledakkannya dalam satu titik di ujung tombak.
KRAAAAAKKKK!
Perisai tulang itu hancur. Tombak Han Jian menembus bahu mahluk itu. Namun, penjaga itu tidak merasakan sakit. Ia menangkap lengan Han Jian dengan tangan tulangnya yang besar dan mulai meremas.
Suara tulang yang beradu dengan tulang terdengar mengerikan. Han Jian meringis, namun ia justru tersenyum dingin. "Kau ingin mencoba kekuatan tulangku? Rasakan ini!"
Han Jian memicu resonansi sumsum tulang pada lengan yang ditangkap. Energi emas murni mengalir dari lengannya ke dalam tubuh mahluk itu, menyebabkan fragmen-fragmen tulang penjara mulai meledak satu per satu dari dalam karena tidak mampu menahan kepadatan energi Kaisar Tulang.
"Sekarang, Jian-er! Hantam intinya!" teriak Han Shuo melalui transmisi.
Han Jian melepaskan diri, berputar di udara, dan melayangkan tendangan bertenaga penuh tepat ke inti merah di dada mahluk itu.
PYAAAARRRR!
Inti merah itu pecah berkeping-keping. Mahluk penjara itu mengeluarkan suara raungan terakhir sebelum runtuh menjadi tumpukan debu tulang yang tak bernyawa. Di tengah debu itu, sebuah kristal berbentuk kunci melayang jatuh.
Han Jian segera memungut kunci itu dan berlari menuju ayahnya. Namun, saat ia mendekat, ia melihat bahwa jaring energi yang mengikat Han Shuo mulai berkedip merah.
"Ayah!" Han Jian mencoba menyentuh jaring itu, namun ia terpental oleh sengatan listrik hitam yang sangat kuat.
"Jangan sentuh dengan tangan kosong, Jian-er... Gunakan kunci itu pada pilar pusat di belakangku," Han Shuo menatap putranya dengan bangga. "Kau telah tumbuh sangat kuat... lebih kuat dari yang pernah kubayangkan."
Han Jian memasukkan kunci itu ke dalam pilar pusat. Seketika, jaring energi hitam itu mulai memudar. Namun, di saat yang sama, sirene peringatan bergema di seluruh penjara.
"Penyusupan terdeteksi! Aktifkan Protokol Pemusnahan!" suara mekanis formasi sekte terdengar dingin.
Di atas sana, di aula festival, para tetua sekte termasuk Tetua Ghou baru saja menyadari bahwa Penjaga Penjara telah dihancurkan.
"Siapa yang berani?!" teriak Tetua Ghou, wajahnya berubah menjadi monster karena marah. "Kirim seluruh Pasukan Penegak Hukum! Siapa pun yang ada di bawah sana, bawa kepalanya padaku!"
Di dalam penjara, Han Shuo jatuh ke pelukan Han Jian saat ikatan terakhirnya terlepas. Tubuhnya sangat ringan, hampir tidak memiliki berat karena energinya telah diisap habis.
"Kita harus pergi, Ayah," bisik Han Jian.
"Jian-er... mereka akan menutup semua jalan keluar," Han Shuo memegang pundak anaknya. "Kau harus memimpin. Gunakan 'Seni Penyatuan Tulang' yang akan kuajarkan sekarang. Hanya dengan menggabungkan esensi kita, kita bisa menembus blokade dimensi ini."
Han Jian mengangguk. Di tengah kepungan pasukan sekte yang mulai memasuki dimensi penjara, ayah dan anak itu berdiri berdampingan. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dua pemegang warisan Tulang Purba bersatu.