NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:117.4k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35

Steven Gu terdiam. Kata-kata terakhir Aragon menghantam lebih keras daripada laras pistol yang menempel di dahinya.

Pengkhianat.

Satu kata itu membuat wajah Steven berubah drastis. Saat Aragon menyebut satu kata itu, ia tahu tak ada lagi jalan lain selain terus maju.

Tidak ada lagi negosiasi, tidak ada lagi jalan mundur. Matanya bergerak liar ke segala arah, mencari celah keselamatan yang tidak pernah ada. Steven Gu terlambat menyadari kebodohannya, ia seharusnya berpikir seribu kali sebelum mengkhianati Aragon. Pria itu bukanlah lawan yang bisa ia hadapi.

“Kuberikan waktu lima menit untuk berpikir. Pilihlah salah satu, mati di tangan kananku, atau mati di tangan kiriku?”

Sebuah tawa getir lolos dari bibir Steven Gu. Ia menertawakan kebodohannya sendiri, bagaimana bisa ia terbuai oleh janji manis mafia di belakangnya hingga nekat mengkhianati Aragon?

“Lagipula itu bukan pilihan, karena akhir dari keduanya adalah kematian. Maka aku memilih untuk membunuhmu lebih dulu Aragon!!!” Teriak Steven Gu.

Tidak ada gunanya mundur atau menyerah jika ujungnya tetap kematian. Dengan sisa keberaniannya, Steven Gu memilih untuk menyerang.

“Tembak dia!” teriak Steven Gu mendadak.

Sebuah keputusan putus asa. Sebuah kesalahan fatal. Namun sebelum suara itu benar-benar selesai keluar dari mulut Steven.

“SYUTT! DOORRR!!”

Sebuah suara tembakan mengguncang landasan. Bukan Aragon yang terkena, melainkan tangan Steven sendiri. Pistol di genggamannya terlempar jauh setelah sebuah peluru presisi menghantam senjata itu dari kejauhan.

“ARRGHHH!!! SIALAN!!! BRENGSEEKK!!” Steven Gu memegangi pergelangan tangannya yang mengalirkan darah akibat tembakan itu yang tak tahu dari arah mana datangnya.

Ternyata sniper milik Aragon. Para anak buah Steven Gu bahkan tak ada yang bergerak sedikitpun.

“SYUTT! Jetzzt! Jetzzt!”

“SYUTT! Jetzzt! Jetzzt!”

“SYUTT! Jetzzt! Jetzzt!”

Hanya ada suara desisan dingin yang mengerikan di tengah kegelapan dan suara tembakan sniper modern yang menggunakan peredam tingkat tinggi.

Tanpa sempat mengeluarkan suara atau menyadari dari mana arah tembakan berasal, para penembak jitu milik Steven langsung tumbang satu demi satu

Kepanikan massal melanda pasukan Steven Gu. Nyali mereka ciut, formasi mereka goyah, dan mata mereka bergerak panik ke segala arah, buta terhadap posisi musuh yang mencabut nyawa mereka satu demi satu.

Di saat yang sama, radio komunikasi seluruh pasukan Steven meledak oleh laporan panik.

Pengawal di belakang Steven Gu berkata dengan gemetar.

“Tuan Steven, Tim Sniper tumbang!”

“BOOOM!” Sebuah ledakan dahsyat tiba-tiba meluluhlantakkan menara pengawas di kejauhan. Sebelum asapnya sempat menipis, suara panik kembali terjadi.

“Menara pengawas yang kita ambil alih roboh!”

“Kita kehilangan kontak dengan seluruh penembak jitu!”

Laporan demi laporan yang kacau itu terus disampaikan oleh anak buah yang berdiri di dekatnya dengan wajah pucat pasi.

Wajah Steven berubah pucat. Benar, ia baru menyadarinya sekarang. Seluruh penembak jitu miliknya telah dikunci sejak awal.

Mereka tidak pernah benar-benar menguasai pulau, Aragon hanya membiarkan mereka percaya bahwa mereka menguasainya.

Aragon perlahan menoleh, menatap langit malam yang dipenuhi asap kebakaran. Kemudian ia berkata pelan, “Sudah lima menit.”

Hank tersenyum, sebuah senyuman yang membuat anak buah Steven merasakan hawa dingin menjalar ke tulang belakang. Seolah melalui senyuman itu, mereka sudah bisa melihat akhir tragis nasib mereka sendiri. Pria itu keji dan tak punya belas kasihan. Ia mampu membantai dengan wajah tanpa ekspresi, bahkan menikmati setiap detik saat memutilasi tubuh lawannya.

“Tuan.” Panggil Hank.

“Hm?” Jawab Aragon santai.

“Saya anggap, anda memberikan lampu hijau untuk saya.”

Aragon kemudian menggeser pistolnya kebawah, Steven melotot melihat pistol dingin itu bergerak turun. Tubuhnya gemetar hebat.

“Hmm… Lakukan kesenanganmu sendiri. Biar lebih menarik aku tidak ingin perayaan ini cepat selesai…..” Kata Aragon.

“DOORRR!!!” Kalimat Aragon dilanjutkan oleh sebuah tembakan.

“AARGGHH!!! SIAAAALLL!!!! AMPUNI AKU ARAGON!!!” Teriak Steven Gu.

”Aku janji akan mengatakan siapa yang merencanakannya, aku akan mengatakan siapa otaknya.” Kata Steven Gu pincang.

Ternyata Aragon menembak lutut Steven Gu. Darah mengalir hingga ke bawah.

“BOOOOM!”

Ledakan besar mengguncang hanggar sebelah barat, membuat api langsung menjulang tinggi ke langit malam. Dalam hitungan detik, puluhan kendaraan taktis milik Aragon keluar dari balik kegelapan. Lampu sorot menyala bersamaan, mengiringi raungan mesin yang memekakkan telinga.

Mata Steven Gu membulat saat api dan asap membumbung tinggi, sebuah penampakan yang teramat tidak masuk akal baginya, dari mana Aragon memiliki pasukan sebanyak itu dan dari mana mereka muncul.

Pasukan elit Aragon bergerak seperti gelombang hitam yang menyapu pantai. Mereka tidak berteriak ataupun berisik, mereka bergerak dengan disiplin mengerikan yang justru terasa jauh lebih menyeramkan.

Aragon melempar senyum sinis yang dingin.

“TOLONG ARAGON… TOLONG… AMPUNI AKU…!”

“Mintalah pertolongan pada mafia yang sudah menghasutmu,” ucap Aragon dingin, langkah kakinya bergaung pelan mendekati Steven Gu.

“KRAACCKKKK!!”

Aragon menginjak kuat-kuat lutut Steven Gu yang sudah ia tembak sebelumnya, saat itu Steven Gu sedang merangkak ketakutan di tanah landasan.

“AARGGH!!” Jerit Steven memecah malam.

Sementara itu, sisa pengawal Steven sedang berada di neraka mereka sendiri. Hank bergerak seperti menari di antara desing peluru, mencabut nyawa demi nyawa menggunakan kombinasi belati dan pistolnya. Pulau itu seketika berubah menjadi ladang pembantaian yang bersimbah darah.

“Ba… Bagaimana bisa kau melakukan ini?” Steven Gu terbata dengan napas tersengal, berusaha keras menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. “Aku yakin pulau ini sudah sepenuhnya kuambil alih! Semua pengawalmu sudah kubantai, dan seluruh persenjataanmu sudah kubakar habis!”

Aragon hanya tersenyum tipis. “Hmm… kau tahu pulau di sebelah sana?” tanyanya santai sambil melirik ke arah lautan yang gelap. “Itu Pulau Merthom, saudara kembar Pulau Morthem.”

Steven mengangkat kepalanya dengan susah payah, menatap sang raja mafia dengan sisa kekuatannya.

“Sejujurnya, keindahan Pulau Merthom sangat menipu,” lanjut Aragon tenang. “Meskipun Pulau Morthem adalah tempat yang kubangun dan kuperkenalkan kepada dunia, hampir semua aset terpentingku justru kusimpan di bawah tanah Pulau Merthom. Semua orang hanya melihat Merthom sebagai pulau wisata yang indah. Tidak ada benteng, tidak ada gudang senjata, tidak ada markas militer. Sementara Morthem dikenal sebagai pusat kekuatanku. Itulah yang ingin kulihat dari mereka.”

Senyum di bibir Aragon semakin tipis, memancarkan aura kemenangan yang mutlak.

“Orang-orang mengira seluruh hartaku, pasukanku, dan persenjataanku berada di sini, di pulau Morthem. Padahal, apa yang mereka lihat selama ini hanyalah umpan.”

Wajah Steven perlahan berubah pucat pasi.

Aragon lalu mengangkat satu jari, menunjuk ke arah permukaan tanah. “Pasukan yang kau lihat muncul barusan tidak datang dari tempat yang jauh.”

Mata Steven membelalak sempurna.

“Mereka datang dari bawah.”

“Tok… Tok.!”

Aragon mengetukkan ujung sepatunya ke permukaan landasan yang keras.

“Di bawah kaki kita terdapat jaringan terowongan raksasa yang menghubungkan Pulau Morthem dan Pulau Merthom. Kedua pulau ini sebenarnya saling terikat. Jalur logistik, gudang senjata, bunker, hingga pusat komando, semuanya berada jauh di bawah tanah.”

Aragon membungkuk sedikit, menyejajarkan tatapannya dengan wajah Steven yang bersimbah keringat dingin.

“Jika saja kau cukup cerdas untuk menemukan pintu masuknya, mungkin kau masih punya kesempatan untuk membuatku terkejut.” Tatapan Aragon seketika berubah sedingin es. “Sayangnya, kau tidak memiliki otak yang cukup untuk itu.”

Tanpa peringatan, Aragon kembali menekan lutut Steven yang sudah hancur dengan kekuatan penuh.

“KRAKKK!”

Suara tulang yang remuk terdengar begitu nyata di tengah medan perang.

“AAAARRGGHHH!!”

Jeritan histeris Steven Gu menggema membelah malam, sementara sisa-sisa anak buahnya hanya bisa menyaksikan sang pemimpin tersungkur tak berdaya, tanpa berani melangkah maju setapak pun karena mereka pun sedang berjuang atas nyawa mereka sendiri.

Bersambung

1
Anggitadama
lanjut Thor sangat suka sama novel kamu Aragon dan hang adalah dua pria idaman
Anggitadama
Aragon idaman semua orang perfect kalau baca novel ini berasa ikut perang bareng Aragon dan hang a wkwkwkwk
Anggitadama
Wow keren sekali berasa lihat TV penjabaran Tulisannya sangat kena bisa bayangin langsung kayak ikut di dalamnya
wiwied
lanjut
wiwied
upp
vtrhee.mychant
Seruw
vtrhee.mychant
Up
Arumi Hanza
lanjut kak seru banget ini aragon spek idamanku
Arumi Hanza
Lanjut thor
Arumi Hanza
Aragon smeangt
Anggitadama
Aku menginginkan hati mu bang aragon
Anggitadama
kembang kempis thurr, berjuang ngasih gift 🥲
Luna.aluna
Ah ini berarti saingan dari Aragon sifatnya berbanding terbalik sekali dengan Aragon Alexander ini ternyata lucu menggemaskan dan suka tertawa berbeda dengan Aragon yang dingin kental dengan dominasi dan intimidasi jadi aku bingung milihnya hahaha kenapa aku jadi Aurora Aurora aja nggak bingung hahaha seru seru sekali lanjutkan ceritanya Kak
Luna.aluna
Wow makin seru sekali novel ini aku semakin suka berharap novelnya memiliki episode yang banyak dan banyak adegan romantisnya Aku suka dengan novel seperti ini kakaknya pintar membuat novel aku semakin larut dalam cerita ini dan selalu terbayang-bayang sampai dalam mimpi pengen jadi Aurora hahaha pengen punya pacar seperti Aragon hahaha
fajargcr
uppy
fajargcr
lanjoy
JancokRaiMu
up donk lage
JancokRaiMu
lagii donk
doremihot
kerenn
doremihot
lanjutkn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!