Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Persiapan Perang Akhir
Udara masih berbau asap dan debu, namun rasa berat yang menekan dada perlahan hilang, digantikan oleh semangat yang berkobar di dada setiap prajurit. Pasukan Garuda dan Elang Bebas kini turun dari bukit, bergerak tertib mendekati posisi para Penjaga Purba. Dua kekuatan besar yang selama ribuan tahun terpisah—teknologi militer manusia dan kekuatan elemen alam—kini berdiri berdampingan, saling menatap dengan rasa hormat dan harapan baru.
Jenderal Agus berjalan paling depan, diikuti Karin, Reza, Dedi, Bara, Rio, dan para komandan lainnya. Wajah mereka masih penuh kekhawatiran, tapi mata mereka berbinar melihat sosok-sosok legendaris yang selama ini hanya ada di buku sejarah kuno.
Jenderal Agus berhenti tepat di hadapan Kakek Aran dan Raka yang kini sudah bisa berdiri tegak meski masih sedikit pincang. Ia memberi hormat militer yang tegap dan dalam, rasa hormat tertinggi yang pernah ia berikan seumur hidupnya.
"Jenderal Agus, pemimpin Pasukan Gabungan Garuda dan Elang Bebas... Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kalian datang di saat kami sudah berada di ujung tanduk. Kalian... adalah mukjizat bagi kami."
Kakek Aran tersenyum ramah, membalas penghormatan itu dengan anggukan kepala yang wibawa.
"Turunkan tanganmu, Jenderal. Kami bukan dewa, kami juga bukan penyelamat dari langit. Kami hanyalah penghuni bumi ini sama seperti kalian, yang memiliki tugas menjaga rumah kita sendiri. Sebenarnya, kamilah yang harus berterima kasih kepada kalian... Terutama kepada pemuda ini."
Ia menoleh ke arah Raka, menepuk bahu pemuda itu pelan.
"Kalian bertahan bertahun-tahun sendirian melawan kekuatan yang jauh lebih maju. Kalian berjuang dengan apa pun yang kalian punya, dengan keberanian dan pengorbanan yang luar biasa. Tanpa perlawanan kalian, tanpa kebangkitan Raka... mungkin kami akan selamanya bersembunyi, dan bumi ini akan benar-benar hilang dari peta alam semesta. Kalianlah pahlawan sesungguhnya di sini."
Kata-kata itu membuat ribuan pasukan yang mendengarnya merasa bangga hingga dada mereka hampir meledak. Air mata haru bercampur senyum bangga menghiasi wajah-wajah yang lelah berperang itu.
Namun, suasana hangat itu tak berlangsung lama. Kakek Aran kembali menatap ke atas, ke arah kapal raksasa yang kini mulai menurunkan ratusan pesawat tempur tambahan—pesawat yang bentuknya lebih tajam, lebih besar, dan memancarkan aura mematikan yang jauh lebih kuat dari pasukan Elara sebelumnya.
"Tapi jangan salah sangka," ucap Kakek Aran dengan nada serius dan tegas. "Meskipun kami datang, meskipun kami punya kekuatan purba, meskipun kami punya teknologi kuno yang setara dengan mereka... kenyataannya tetaplah berat. Musuh kita marah besar. Kehadiran kami dan kekuatan Raka telah membuat Kerajaan Langit mengubah sasaran mereka dari sekadar 'penjarahan' menjadi 'pemusnahan total'."
Ia menunjuk ke arah kapal raksasa itu.
"Yang kita hadapi sekarang bukan lagi sekadar satu komandan dan pasukan pengawas. Kita menghadapi seluruh kekuatan armada perang Kerajaan Langit. Mereka akan mengerahkan segala yang mereka punya. Senjata pemusnah massal, pasukan elit, dan bahkan mungkin para panglima tingkat tinggi yang jauh lebih kuat dari Elara. Perang kali ini... bukan lagi soal wilayah atau sumber daya. Ini perang hidup mati untuk keberadaan bumi dan seluruh makhluk hidup di dalamnya."
Raka mengangguk paham, matanya menatap tajam ke arah langit yang semakin gelap tertutup pesawat musuh. Ia merasakan sendiri betapa besarnya perbedaan kekuatan itu, betapa dahsyatnya tekanan yang datang dari atas sana.
"Jadi, apa rencananya, Kakek?" tanya Raka tegas. "Kita tidak bisa hanya diam bertahan di sini selamanya. Dan kita juga tidak punya cukup kekuatan untuk menyerang kapal raksasa itu secara langsung saat ini."
Kakek Aran tersenyum tipis, kilatan kecerdasan terlihat di matanya. Ia mengangkat tongkat kristalnya, dan seketika itu juga, di udara di depan mereka terbentuk peta holografik raksasa yang sangat rinci, menampilkan seluruh wilayah benua, posisi pasukan, lokasi sumber energi, dan bahkan pergerakan musuh di atas sana.
"Benar sekali. Bertahan pasif sama saja dengan menunggu mati. Menyerang secara langsung sama saja dengan bunuh diri. Kita butuh strategi, kita butuh pembagian tugas, dan kita butuh memaksimalkan setiap kekuatan yang kita miliki—baik itu teknologi kalian maupun kekuatan elemen kami."
Ia menunjuk ke beberapa titik di peta itu.
"Pertama, Pertahanan Utama. Kubah Pelindung yang aku aktifkan tadi hanya cukup menahan serangan skala besar dalam waktu terbatas. Ia butuh energi yang sangat besar untuk terus menyala. Para Penjaga Elemen akan membagi diri ke enam titik strategis di sekitar wilayah ini. Mereka akan menjadi pilar penyangga, menyuplai energi, dan menjaga agar perisai ini tidak runtuh. Mereka juga akan bertugas menangkis serangan-serangan langsung, menghancurkan pesawat musuh yang mencoba menembus masuk menggunakan kekuatan alam: badai petir, tembok tanah, lautan api, dan angin pemotong."
Lalu jarinya beralih ke barisan pasukan Garuda dan Elang Bebas.
"Kedua, Pasukan Militer. Jenderal Agus, kalian dan seluruh pasukan kalian bertugas sebagai garda terdepan penyerang dan pertahanan lapangan. Senjata-senjata canggih, roket, artileri, dan pesawat tempur kalian sangat efektif melawan pasukan reguler dan pesawat musuh. Kalian harus bergerak lincah, menyerang titik-titik lemah, dan menjaga celah yang mungkin terbentuk di antara jangkauan kekuatan para Penjaga. Kalian adalah jaring pengaman kami."
Terakhir, jari Kakek Aran menunjuk tepat ke arah Raka.
"Dan ketiga... Kekuatan Inti. Raka, kau adalah kunci dari segalanya. Sumber Unggul di dalam tubuhmu adalah sumber energi terbesar, paling murni, dan paling dahsyat yang ada di bumi ini. Tanpa kau, kami hanyalah para penjaga biasa, dan perisai serta serangan kami tidak akan cukup kuat. Tugas utamamu bukan bertarung di garis depan dulu... tapi menjadi jantung penyuplai energi bagi seluruh kekuatan gabungan kita. Kau harus belajar mengendalikan kekuatan itu dengan lebih efisien, lebih stabil, dan lebih terarah."
Raka mengerutkan kening sedikit. "Jadi aku... harus diam dan menjadi baterai saja?"
Kakek Aran tertawa kecil, lalu menggeleng tegas.
"Tentu saja tidak. Saat musuh mengerahkan kekuatan terbesar mereka, saat panglima-panglima kuat mereka turun ke bawah... saat itulah kau akan bertarung. Kau adalah satu-satunya yang mampu menghadapi petinggi Kerajaan Langit secara langsung. Tapi untuk itu, kau harus belajar lebih banyak lagi. Kau baru saja menggores permukaan dari apa yang bisa dilakukan Sumber Unggul itu. Ada teknik-teknik kuno, ada cara-cara memanipulasi energi, ada bentuk-bentuk kekuatan yang belum pernah kau bayangkan."
Ia menatap Raka lekat-lekat.
"Selama persiapan ini, aku akan melatihmu. Dalam waktu singkat, aku akan berikan semua pengetahuan yang kami kumpulkan ribuan tahun lamanya. Kau harus menyerapnya, menguasainya, dan menjadi jembatan antara kekuatan bumi dan kekuatan manusia. Hanya dengan begitu, kita punya peluang nyata untuk menang."
Jenderal Agus maju selangkah, wajahnya serius namun penuh keyakinan.
"Baiklah, kami mengerti rencananya. Saya akan segera membagi pasukan, mengatur posisi pertahanan, dan memastikan setiap senjata siap ditembakkan. Kami sudah bertahan bertahun-tahun... kami tahu persis bagaimana cara melawan mereka. Dan sekarang... dengan bantuan kalian, kami yakin bisa membuat mereka menyesal pernah menginjakkan kaki di bumi ini."
Ia menoleh ke arah para komandan di belakangnya.
"Karin, Reza, Dedi, Bara, Rio... kalian dengar semuanya? Bagikan perintah ini ke seluruh pasukan. Siaga penuh. Siapkan semua pos pertahanan. Aktifkan semua sistem senjata. Tidak ada lagi mundur. Tidak ada lagi menyerah. Di sini kita berdiri, di sini kita bertahan, atau di sini kita mati bersama tanah air kita."
"SIAP, KOMANDAN!" seru para komandan serentak, suara mereka menggelegar mengguncang tanah.
Saat semua mulai bergerak sibuk menyiapkan posisi, Kakek Aran membawa Raka menjauh sedikit, menuju sebuah dataran tinggi di tengah wilayah yang dilindungi kubah itu. Di sana, para Penjaga lainnya sedang menyiapkan lingkaran sihir kuno yang besar, berdenyut energi yang menenangkan.
Raka duduk bersila di tengah lingkaran itu, menatap Kakek Aran dengan napas teratur. Tubuhnya masih terasa sakit dan lemas, tapi semangatnya sudah kembali menyala berkali-kali lipat.
"Kakek..." panggil Raka pelan. "Elara bilang tadi... bahwa kehadiran kalian dan kekuatanku justru mempercepat kiamat. Bahwa kita baru saja mengundang kekuatan besar mereka datang. Apakah... keputusan kami bertarung ini benar? Apakah kami tidak salah langkah?"
Kakek Aran berhenti sejenak, menatap langit yang semakin gelap dan penuh ancaman. Wajahnya yang tua terlihat sedih namun tegar.
"Raka... Dengar baik-baik. Kerajaan Langit tidak datang ke sini karena kau bertarung. Mereka tidak datang karena kami muncul. Mereka sudah datang ribuan tahun yang lalu, dan mereka sudah berniat menghancurkan bumi sejak dulu kala. Mereka akan tetap menghancurkan kita saat mereka merasa sudah mengambil semua yang mereka butuhkan. Perbedaan besarnya hanya satu..."
Kakek Aran menoleh kembali menatap mata Raka, matanya bersinar tajam.
"Dulu, saat mereka mau menghancurkan bumi... kami lari, kami sembunyi, kami pasrah. Tapi sekarang... karena kau ada, karena kau berani melawan... kami tidak lagi pasrah. Kami memilih untuk melawan sebelum mereka siap. Kami memilih menentukan nasib kami sendiri, meskipun risikonya lebih besar. Dan percayalah, Nak... lebih baik mati bertarung sebagai manusia yang merdeka, daripada hidup diam sebagai ternak yang menunggu disembelih."
Kalimat itu masuk ke dalam hati Raka begitu dalam, begitu kuat, hingga rasa ragu yang tersisa lenyap seketika. Ia mengangguk mantap, menutup matanya, dan mulai memusatkan seluruh perhatiannya ke dalam dirinya sendiri, ke arah cahaya biru yang berdenyut di dadanya.
"Baiklah, Kakek... Aku siap. Ajari aku semuanya. Aku akan jadi sekuat apa pun yang diperlukan. Aku akan lindungi mereka semua. Aku akan lindungi bumi ini."
Di atas sana, kapal raksasa itu mengeluarkan suara dengungan panjang dan mengerikan. Ribuan pesawat tempur mulai bergerak turun serentak, membentuk formasi raksasa yang menutupi seluruh langit. Cahaya merah dari senjata-senjata mereka mulai menyala, bersiap melepaskan hujan kematian ke bawah.
Di tanah, ribuan laras senapan diarahkan ke atas, ribuan energi elemen berkumpul di udara, dan satu cahaya biru bersinar makin terang di tengah-tengahnya.