NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pagi Sang Penguasa

Cahaya fajar menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru tebal di kamar utama mansion Vassiliev. Hujan badai yang mengamuk semalaman telah berganti menjadi pagi yang dingin dan berkabut, seolah alam pun menahan napas setelah menyaksikan pembantaian berdarah di Distrik Utara.

​Aletta perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang mendera seluruh persendiannya—sisa-sisa dari pertempuran fisik dan pergumulan panasnya bersama Xavier hingga menjelang subuh. Namun, di balik rasa lelah itu, ada kedamaian luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​Ia menoleh ke samping. Xavier masih terlelap, napasnya teratur dan tenang. Lengan pria itu melingkar posesif di pinggang Aletta, mengunci tubuh telanjang istrinya rapat ke dada bidangnya. Dalam tidurnya pun, insting melindungi sang Raja Mafia tidak pernah padam.

​Aletta mengangkat tangannya, mengusap pelan rambut gelap Xavier yang berantakan, lalu turun menyusuri rahang tegas pria itu. Bayangan Xavier yang menggorok leher Ivan Volkov sempat melintas di benaknya, namun anehnya, hal itu tidak lagi memicu kengerian. Pria ini adalah monster bagi dunia, tapi ia adalah pelindung mutlak bagi Aletta.

​Merasa sentuhan lembut di wajahnya, kelopak mata Xavier bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Sepasang mata kelabu badai itu langsung menatap Aletta. Tidak ada sisa kantuk di sana, hanya ada kewaspadaan yang dengan cepat melebur menjadi kelembutan murni.

​"Pagi, Sayang," suara bariton Xavier terdengar sangat serak dan dalam, getarannya merambat nyaman di telinga Aletta. Pria itu menarik Aletta semakin dekat, mengecup dahi istrinya lama. "Bagaimana perasaanmu?"

​"Seperti baru saja lahir kembali," bisik Aletta jujur, menyandarkan kepalanya di dada Xavier, mendengarkan detak jantung pria yang semalam nyaris berhenti di medan perang. "Dan kau? Apa ada lukamu yang terbuka lagi?"

​Xavier menyeringai tipis, jemari besarnya menelusuri tulang punggung Aletta dengan gerakan mengklaim. "Satu-satunya yang membuatku kewalahan tadi malam bukanlah Ivan Volkov, melainkan kau, Ratuku. Sentuhanmu jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun."

​Pipi Aletta bersemu merah mendengar godaan nakal suaminya. Ia memukul pelan dada Xavier, membuat pria itu terkekeh pelan—sebuah tawa yang sangat jarang terdengar, eksklusif hanya untuk telinga Aletta.

​Namun, momen keintiman mereka terputus oleh suara ketukan pelan namun tegas di pintu kamar.

​"Bos. Maaf mengganggu." Suara Diego terdengar dari balik pintu tebal. "Tim pembersih telah selesai memulihkan lantai dasar. Dan... telepon di Ruang Komando tidak berhenti berdering sejak dua jam yang lalu."

​Sorot mata Xavier seketika berubah. Sang suami yang manja telah menguap, digantikan oleh sang penguasa klan.

​"Beri aku dua puluh menit, Diego. Siapkan sarapan di ruang rapat," perintah Xavier mutlak.

​"Baik, Bos." Langkah kaki Diego menjauh.

​Xavier menatap Aletta, mengecup bibirnya sekilas sebelum bangkit dari tempat tidur. "Dunia bawah tanah sudah mendengar kabar tentang jatuhnya Volkov semalam. Saatnya kita melihat bagaimana dunia bereaksi terhadap Ratu baruku."

​Tiga puluh menit kemudian, Xavier dan Aletta berjalan berdampingan menuruni tangga utama mansion. Xavier mengenakan setelan jas hitam three-piece tanpa dasi yang memancarkan aura dominasi brutal, sementara Aletta mengenakan gaun sutra berwarna merah maroon gelap yang elegan, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.

​Mansion itu sudah bersih dari mayat dan darah, meski beberapa lubang peluru di pilar marmer sengaja belum ditutupi—sebagai pengingat akan harga sebuah pengkhianatan. Setiap pengawal yang berpapasan dengan mereka langsung berhenti, menundukkan kepala dalam-dalam, bukan hanya kepada Xavier, tapi juga kepada Aletta. Rasa hormat di mata para penjaga itu sangat nyata dan tulus. Mereka tahu siapa yang memandu pertempuran semalam dari Ruang Komando.

​Begitu pintu ruang rapat ganda terbuka, Diego sudah menunggu di sana dengan setumpuk tablet digital dan dokumen. Sarapan mewah telah tersaji di atas meja marmer panjang.

​Xavier menarik kursi utama, lalu seperti biasa, menarik kursi di sebelah kanannya untuk Aletta. Pria itu baru duduk setelah istrinya duduk dengan nyaman.

​"Laporan," titah Xavier singkat seraya menuangkan kopi hitam untuk dirinya sendiri, lalu menuangkan susu hangat untuk Aletta.

​Diego melangkah maju, wajahnya memancarkan kebanggaan luar biasa.

​"Berita pembantaian di pabrik baja Distrik Utara meledak di jaringan gelap Dark Web tiga jam yang lalu, Bos," lapor Diego, meletakkan sebuah tablet di hadapan Xavier dan Aletta. "Faksi Volkov di Eropa Timur sedang dalam kekacauan massal karena kehilangan pemimpin utama mereka. Tiga klan mafia besar dari Italia, Yakuza dari Jepang, dan Kartel Selatan baru saja mengirimkan pesan."

​"Apa isi pesannya?" tanya Aletta, suaranya tenang, menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.

​"Sumpah setia dan penawaran gencatan senjata abadi, Nyonya," jawab Diego seraya menunduk hormat pada Aletta. "Mereka menyatakan tunduk pada klan Vassiliev. Tidak ada satu pun yang berani mengklaim wilayah Pelabuhan Timur dan Barat. Malam ini, klan Vassiliev resmi menjadi sindikat paling berkuasa tanpa pesaing di benua ini."

​Xavier tersenyum miring, sebuah seringai iblis yang memuaskan. Pria itu menatap Aletta. "Kau dengar itu, Sayang? Dunia ada di bawah kaki kita hari ini."

​Namun, Xavier belum selesai. Pria itu memberi isyarat pada Diego. Tangan kanan kepercayaannya itu segera mengambil sebuah map kulit hitam tebal dari koper besinya dan meletakkannya tepat di hadapan Aletta.

​Aletta mengernyit, menatap map itu lalu menatap suaminya bergantian. "Apa ini?"

​"Hadiah pernikahan yang tertunda karena serangan semalam," jawab Xavier tenang. "Buka."

​Dengan penasaran, Aletta membuka map kulit tersebut. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen legal yang sudah ditandatangani dan dibubuhi stempel resmi. Mata Aletta melebar saat membaca kop surat di halaman pertama.

​Akta Kepemilikan Penuh: Artech Design & Konstruksi.

​"Xavier..." Aletta menahan napas. Itu adalah perusahaan milik ayahnya yang bangkrut, disita, dan kemarin baru saja terbongkar dibeli oleh Alexei menggunakan perusahaan cangkang.

​"Aku memerintahkan notaris klan untuk membaliknamakan seluruh aset V-Logistics milik Alexei ke atas namamu pagi ini," ucap Xavier, mencondongkan tubuhnya ke arah Aletta. "Bukan hanya Artech Design. Aku juga memasukkan hak kepemilikan operasional penuh atas Pelabuhan Barat ke dalam dokumen itu."

​Aletta terpaku. Pelabuhan Barat adalah jalur perdagangan bernilai miliaran dolar, jalur yang sama yang dulu diincar ayahnya hingga rela bekerja sama dengan Volkov untuk meledakkan kapal ibu Xavier. Dan kini, Xavier menyerahkan semuanya begitu saja ke tangan Aletta.

​"Mengapa kau melakukan ini?" bisik Aletta, matanya berkaca-kaca menatap pria di sebelahnya. "Pelabuhan Barat adalah nadi utamamu, Xavier."

​Xavier meraih sebelah tangan Aletta yang bertumpu di atas meja, mengecup punggung tangannya dengan khidmat di hadapan Diego yang berdiri diam.

​"Karena ayahmu menghancurkan segalanya karena keserakahan, dan aku menghancurkan keluargamu karena dendam," bisik Xavier mutlak, menatap lurus menembus jiwa Aletta. "Sekarang, aku ingin kau yang membangunnya kembali, bukan sebagai pion ayahmu, melainkan sebagai Ratu dari klan Vassiliev. Kau bukan hanya istriku yang duduk manis di rumah, Aletta. Mulai detik ini, kau adalah penguasa mutlak Pelabuhan Barat."

​Aletta menatap dokumen itu, lalu beralih menatap cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya. Air mata haru akhirnya jatuh menetes. Pria yang dulu ia pikir akan menghancurkan sisa hidupnya, kini justru memberikan dunia di telapak tangannya.

​"Aku akan membuat klan kita menjadi tidak tersentuh, Rajaku," sumpah Aletta dengan suara mantap, menghapus air matanya dan tersenyum—sebuah senyuman cantik yang berbahaya.

​Pagi itu, di ruang rapat yang megah, lahir seorang bos mafia baru. Aletta Vassiliev tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang suaminya; ia telah melangkah keluar untuk memerintah bersamanya.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!