Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Melawan Takdir Sialan
Setelah menyelesaikan seluruh urusannya di desa, Cang Xuan akhirnya berjalan pulang ketika malam mulai turun. Cahaya terakhir senja perlahan menghilang dari langit, digantikan oleh kegelapan yang semakin menyelimuti Desa Awan Timur. Di sepanjang jalan, para penduduk juga mulai kembali ke rumah masing-masing seperti yang selalu mereka lakukan setiap hari sebelum malam benar-benar tiba.
Tidak lama kemudian, Cang Xuan sampai di depan rumah kayunya yang sederhana.
Ia mendorong pintu dan melangkah masuk.
"Aku pulang."
Suara itu kembali terdengar di dalam rumah yang sunyi.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada seorang pun yang menjawab.
Meskipun telah berlalu bertahun-tahun sejak kepergian ibunya, terkadang kebiasaan lama masih muncul tanpa disadari. Setiap kali memasuki rumah, kalimat itu selalu keluar begitu saja dari mulutnya.
Cang Xuan hanya tersenyum tipis sebelum berjalan menuju dapur.
Ia meletakkan berbagai makanan dan kebutuhan yang baru dibelinya di atas meja kayu. Malam itu sebenarnya cukup menyenangkan baginya. Hasil buruan yang besar membuat persediaannya jauh lebih baik dibandingkan biasanya, dan untuk sementara waktu ia tidak perlu terlalu memikirkan masalah makanan.
Namun tepat ketika sedang merapikan barang-barang tersebut, sebuah suara aneh tiba-tiba terdengar dari luar desa.
Bzzzzzz!
Suara itu sangat samar pada awalnya, tetapi mengandung getaran yang membuat bulu kuduk meremang.
Cang Xuan langsung mengangkat kepala.
Alisnya sedikit berkerut.
Ia belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya.
Sebelum sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara lain yang jauh lebih mengerikan tiba-tiba mengguncang seluruh desa.
CRAAKKK!!!
Suara retakan raksasa bergema dari langit malam.
Seluruh rumah kayu bergetar hebat.
Piring dan peralatan dapur di atas meja berguncang hingga menimbulkan suara berisik.
Ekspresi Cang Xuan langsung berubah.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar rumah dan mengangkat kepalanya ke arah langit.
Apa yang dilihatnya membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Di atas Desa Awan Timur, lapisan cahaya transparan yang selama puluhan tahun melindungi seluruh desa sedang mengalami kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Retakan-retakan besar mulai muncul di permukaannya.
Awalnya hanya satu.
Kemudian dua.
Lalu puluhan.
Retakan itu menyebar ke seluruh pelindung seperti jaring laba-laba yang terus meluas.
Wajah para penduduk yang keluar dari rumah mereka satu per satu mulai dipenuhi kepanikan.
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat hal seperti ini.
Karena sejak mereka lahir, pelindung desa selalu berdiri kokoh tanpa pernah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Namun malam itu semuanya berubah.
Retakan demi retakan terus bertambah.
Cahaya pelindung mulai berkedip tidak stabil.
Kemudian, tepat di depan mata seluruh penduduk desa—
BOOM!!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang langit.
Pelindung yang telah menjaga Desa Awan Timur selama puluhan tahun akhirnya hancur berkeping-keping.
Pecahan cahaya memenuhi langit malam seperti hujan bintang yang jatuh dari surga, menciptakan pemandangan yang indah sekaligus mengerikan.
Mata Cang Xuan langsung membelalak.
"Tidak mungkin..."
Suara itu keluar tanpa sadar.
Pelindung desa telah hancur.
Artinya satu-satunya perlindungan yang memisahkan mereka dari dunia malam sudah tidak ada lagi.
Perlahan, tubuhnya mulai menegang.
Karena ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Tatapannya segera beralih ke arah luar desa.
Ke arah kegelapan yang selama ini selalu ditahan oleh pelindung tersebut.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Satu pasang mata merah.
Lalu dua.
Kemudian puluhan.
Dan tak lama setelah itu, jumlahnya bertambah menjadi ratusan.
Mata-mata merah menyala bermunculan dari dalam kegelapan seperti lautan api yang hidup. Mereka bergerak perlahan di antara pepohonan, menatap Desa Awan Timur dengan rasa lapar yang tidak disembunyikan sedikit pun.
Monster Abyss.
Jeritan segera menggema dari berbagai penjuru Desa Awan Timur. Suara-suara panik saling bersahutan di tengah malam yang baru saja berubah menjadi mimpi buruk. Ada yang berteriak meminta tolong, ada yang memanggil anggota keluarganya, dan ada pula yang hanya berlari tanpa tujuan sambil berusaha menjauh dari bahaya yang datang dari segala arah.
Pada saat yang sama, kobaran api mulai muncul di beberapa sudut desa. Rumah-rumah kayu yang selama puluhan tahun berdiri dengan tenang kini terbakar satu demi satu, menerangi malam dengan cahaya merah yang menyeramkan. Tanpa adanya pelindung yang menjaga mereka, Monster Abyss menyerbu masuk seperti banjir yang tidak dapat dibendung. Makhluk-makhluk itu menerjang siapa pun yang mereka temui, meninggalkan jejak kehancuran dan kematian di belakang mereka.
Cang Xuan segera berlari keluar rumah begitu mendengar jeritan pertama. Namun sesaat setelah melihat keadaan di luar, langkahnya sempat terhenti. Jalan desa yang dikenalnya sejak kecil kini berubah menjadi pemandangan yang hampir tidak dapat dikenali. Api membakar bangunan-bangunan di sekitarnya, sementara darah membasahi tanah yang sebelumnya selalu dipenuhi suara tawa dan kehidupan.
Wajahnya perlahan memucat.
"Jangan bilang... pelindung desa benar-benar hancur..."
Meskipun telah menyaksikan kehancuran pelindung itu dengan mata kepalanya sendiri, sebagian dirinya masih sulit menerima kenyataan yang sedang terjadi. Selama bertahun-tahun, Desa Awan Timur selalu menjadi tempat yang aman ketika malam tiba. Kini semua itu lenyap hanya dalam hitungan menit.
Raungan Monster Abyss terus terdengar dari berbagai arah.
Cang Xuan tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam keterkejutan terlalu lama. Menggenggam pedangnya erat-erat, ia segera berlari menuju pusat desa. Jika masih ada warga yang selamat, ia ingin membantu mereka semampunya.
Namun ketika akhirnya tiba di jalan utama desa, langkahnya kembali terhenti.
Kali ini, tubuhnya benar-benar membeku.
Jalan yang biasanya ramai oleh aktivitas penduduk kini dipenuhi tubuh-tubuh yang tergeletak tak bergerak. Beberapa rumah di sekitarnya masih terbakar, sementara asap hitam membubung ke langit malam. Di antara para korban yang bergelimpangan, ia melihat banyak wajah yang dikenalnya sejak kecil.
Kemudian pandangannya berhenti pada satu sosok.
Seorang pria tua yang terbaring di dekat kiosnya yang telah hancur.
Pria yang selama bertahun-tahun membeli hasil buruannya.
Pria yang selalu menyapanya dengan senyum ramah setiap kali ia kembali dari hutan.
Pedagang tua itu.
Cang Xuan berdiri diam menatap pemandangan tersebut.
Tidak ada lagi kehidupan yang tersisa di sana.
Yang ada hanyalah kesunyian yang mengerikan, diiringi suara api yang membakar dan raungan monster dari kejauhan.
"Tidak..."
Bibirnya bergerak pelan.
Tatapannya tetap tertuju pada jalan yang dipenuhi kematian.
"Ini mustahil..."
Saat masih berdiri di tengah jalan utama yang dipenuhi kehancuran, beberapa Monster Abyss akhirnya menyadari keberadaannya. Makhluk-makhluk itu segera mengalihkan perhatian dari mangsa lain dan berlari ke arahnya dengan geraman haus darah. Mata merah mereka bersinar di tengah kobaran api yang menerangi desa, sementara cakar-cakar tajam terangkat, siap mencabik siapa pun yang berada di hadapan mereka.
Melihat monster-monster itu mendekat, kesedihan di wajah Cang Xuan perlahan menghilang dan digantikan oleh tatapan yang dingin. Jarinya mengencang pada gagang pedang sebelum ia menarik senjata itu dari sarungnya dalam satu gerakan bersih. Namun kali ini ia tidak langsung menyerang. Dengan gerakan cepat, pedang tersebut justru dilemparkannya ke udara.
Energi spiritual segera mengalir keluar dari tubuhnya dan menyelimuti bilah pedang yang melayang di atas kepala.
"Teknik Tingkat 5, Hujan Pedang Pemula!"
Begitu teknik itu diaktifkan, pedang yang berada di udara mulai bergetar hebat. Dalam sekejap, bayangan-bayangan pedang bermunculan di sekelilingnya hingga jumlahnya mencapai sepuluh buah. Masing-masing tampak tajam dan memancarkan cahaya dingin yang membuat monster-monster yang mendekat semakin ganas.
Detik berikutnya, sepuluh pedang itu meluncur turun dari langit seperti hujan maut.
Sreet!
Sreet!
Sreet!
Suara daging yang tertembus bergema berturut-turut. Monster-monster yang berada di barisan depan bahkan tidak sempat menghindar sebelum tubuh mereka tertusuk oleh pedang-pedang tersebut. Beberapa roboh seketika, sementara yang lain terlempar beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti bergerak.
Namun kemenangan kecil itu tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.
Dari berbagai sudut desa, Monster Abyss terus bermunculan tanpa henti. Puluhan makhluk baru berlari keluar dari kegelapan, lalu disusul oleh puluhan lainnya lagi. Mereka memenuhi jalan-jalan desa, memanjat reruntuhan rumah yang terbakar, dan mengeluarkan raungan yang membuat suasana semakin mencekam.
Cang Xuan segera menyadari bahwa jumlah musuh yang datang jauh melampaui perkiraannya.
Ia menggertakkan gigi sambil mengendalikan pedangnya kembali ke tangan.
Meskipun teknik tadi berhasil membunuh beberapa monster sekaligus, itu hanyalah sebagian kecil dari ancaman yang sedang mengepung desa. Untuk setiap monster yang tumbang, lebih banyak lagi muncul dari balik kegelapan, seolah malam itu tidak akan pernah kehabisan pasukan.
Tatapannya menyapu jalanan yang dipenuhi bayangan merah menyala. Di mana pun ia melihat, yang ada hanyalah Monster Abyss yang terus bergerak mendekat.
Pada saat itu, Cang Xuan memahami satu kenyataan yang tidak ingin diakuinya.
Ia tidak memiliki pilihan selain terus bertarung.
Di tengah pertempuran yang semakin kacau, ketika pedangnya kembali menebas salah satu Monster Abyss yang menerjang dari samping, pandangan Cang Xuan tanpa sengaja terangkat ke langit malam. Awalnya ia hanya ingin memastikan tidak ada ancaman lain yang datang dari atas, tetapi pada saat itulah seluruh tubuhnya mendadak membeku.
Di antara awan-awan gelap yang menggantung di atas Desa Awan Timur, terdapat sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.
Sebuah mata.
Mata raksasa yang begitu besar hingga seolah menutupi seluruh langit.
Tidak memiliki tubuh.
Tidak memiliki wujud lain.
Hanya sebuah mata yang diam-diam mengawasi dunia dari balik awan.
Yang membuat darah Cang Xuan terasa dingin adalah arah tatapannya. Ia dapat merasakan dengan sangat jelas bahwa mata tersebut sedang memandang tepat ke arahnya.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Apa itu..." gumamnya tanpa sadar sambil menatap langit dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan. Semakin lama ia melihat, semakin sulit baginya mempercayai apa yang sedang dilihatnya. "Apakah itu... mata?"
Untuk sesaat, ingatan masa kecil yang hampir terlupakan kembali muncul di benaknya. Ketika masih kecil, para tetua desa sering menceritakan berbagai legenda kepada anak-anak. Salah satu kisah yang paling sering ia dengar adalah tentang para dewa yang konon selalu mengawasi dunia dari langit yang jauh.
Mungkinkah...
"Mungkinkah itu Mata Dewa?"
Pikiran itu muncul begitu saja di benaknya.
Namun sebelum sempat melihat lebih jelas, awan-awan gelap kembali bergerak. Dalam sekejap, mata raksasa tersebut lenyap tanpa jejak, seolah tidak pernah muncul sejak awal.
Cang Xuan berdiri terpaku beberapa saat.
Ketika akhirnya menundukkan pandangan kembali ke medan pertempuran, pemandangan yang menunggunya membuat ekspresinya perlahan berubah.
Selama perhatiannya teralihkan ke langit, semakin banyak Monster Abyss telah berkumpul di sekitarnya. Jalanan yang dipenuhi api dan reruntuhan kini sepenuhnya dikepung oleh lautan monster bermata merah. Mereka menggeram pelan sambil menatapnya dari segala arah, menutup seluruh jalur pelarian yang mungkin masih tersisa.
Ratusan pasang mata merah menyala memandang ke arahnya secara bersamaan.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang seharusnya merasa takut.
Seseorang seharusnya putus asa.
Namun setelah menatap sekeliling beberapa saat, Cang Xuan justru tertawa.
Tawanya terdengar pelan pada awalnya, tetapi perlahan berubah semakin jelas di tengah suara kobaran api dan raungan monster.
"Hahaha..."
Tidak ada kegembiraan di dalam tawa itu.
Yang ada hanyalah kemarahan, kepahitan, dan keputusasaan yang selama bertahun-tahun terus menumpuk di dalam hatinya.
Sejak kecil ia hidup dalam kemiskinan.
Ia kehilangan ibunya.
Ia tumbuh tanpa pernah mengenal ayahnya.
Ketika akhirnya menemukan tujuan hidup, desa tempat ia dibesarkan justru dihancurkan dalam satu malam.
Semua itu terasa begitu ironis.
"Takdir sialan..." ucapnya sambil menggenggam pedang erat-erat. Matanya perlahan memerah ketika menatap langit yang gelap. "Kenapa hidupku selalu seperti ini?"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya suara api yang membakar rumah-rumah desa dan geraman para Monster Abyss yang terus bergema dari segala arah.
Perlahan, Cang Xuan mengangkat pedangnya ke langit.
"Woi, Dewa!" teriaknya dengan suara serak yang dipenuhi emosi. Tatapannya menembus awan-awan gelap, seolah sedang berbicara kepada keberadaan yang mungkin sedang mengawasinya. "Kalau memang kau ada..."
Tangannya sedikit gemetar.
"Apa salahku?!"
Pertanyaan itu meluncur ke langit malam yang sunyi.
Namun seperti sebelumnya, tidak ada jawaban yang datang.
Tidak ada suara dari surga.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada tangan yang turun untuk menyelamatkannya.
Yang menjawab pertanyaannya hanyalah raungan para Monster Abyss yang semakin mendekat.
Cang Xuan perlahan menurunkan pedangnya dan mengembuskan napas panjang. Api terus berkobar di sekelilingnya, menerangi sosok pemuda berusia enam belas tahun yang berdiri seorang diri di tengah desa yang telah hancur.
Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia mengarahkan ujung pedangnya ke depan.
Dan pada malam yang dipenuhi darah serta kobaran api itu, pertarungan terakhir pun dimulai.
Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Cang Xuan. Di tengah kobaran api dan lautan Monster Abyss yang memenuhi desa, ia terus bertarung tanpa henti. Pedangnya berulang kali menebas musuh yang datang dari segala arah, sementara luka-luka di tubuhnya terus bertambah seiring berjalannya waktu. Energi spiritual di dalam tubuhnya hampir terkuras habis, kedua tangannya mulai gemetar karena kelelahan, dan setiap gerakan terasa semakin berat. Namun ia tetap berdiri dan terus bertarung, seolah hanya itu satu-satunya hal yang masih bisa dilakukannya.
Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya cahaya pertama muncul di cakrawala. Fajar perlahan menyingsing dan sinar matahari keemasan mulai menyinari Desa Awan Timur yang telah berubah menjadi medan kehancuran. Begitu terkena cahaya matahari, Monster-monster Abyss yang masih hidup langsung menjerit kesakitan. Tubuh mereka terbakar sedikit demi sedikit sebelum berubah menjadi abu yang terbawa angin. Dalam waktu singkat, seluruh monster yang tersisa lenyap tanpa jejak.
Keheningan akhirnya turun.
Namun yang tersisa bukan lagi Desa Awan Timur yang dikenal Cang Xuan. Rumah-rumah telah hancur, api masih menyala di beberapa tempat, dan jalanan dipenuhi bekas pertempuran yang terjadi sepanjang malam. Tidak ada lagi suara penduduk, tidak ada lagi kehidupan, hanya reruntuhan dan kesunyian.
Di tengah jalan desa, Cang Xuan terbaring dengan tubuh yang dipenuhi luka. Darah mengering di pakaian dan kulitnya, tetapi kesadarannya masih belum hilang. Dengan napas yang berat, ia menatap langit pagi yang tampak begitu tenang, seolah tidak pernah terjadi tragedi mengerikan semalam.
Desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan telah lenyap dalam satu malam. Ibunya telah pergi bertahun-tahun lalu, dan kini seluruh penduduk desa yang dikenalnya juga telah tiada. Tidak ada lagi yang tersisa untuknya di tempat ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cang Xuan benar-benar sendirian.
Perlahan ia mengepalkan tangannya, sementara tatapannya berubah semakin tegas. "Sepertinya petualanganku akan dimulai sekarang," gumamnya pelan sambil menatap langit yang membentang luas, ke arah dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan kenangan ibunya. "Aku akan melawan takdirku sendiri."
Angin pagi berembus melewati desa yang telah hancur, seolah membawa tekad seorang pemuda yang baru saja kehilangan segalanya menuju dunia yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Setelah semua barang selesai dibeli, kedua tangannya sudah dipenuhi berbagai bungkusan sederhana. Meski begitu, langkahnya tetap terasa ringan. Sore yang awalnya biasa saja kini terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
End Chapter 8