NovelToon NovelToon
YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Fantasi Timur
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Langkah kaki Ye Chen—atau kini lebih tepat disebut Han Yu—melangkah ringan di atas hamparan daun kering dan ranting kayu yang berserakan di lantai hutan. Tidak ada suara gesekan kasar, tidak ada bunyi patah yang mengganggu keheningan alam. Berkat penguasaan teknik Langkah Bayangan Hantu yang telah mencapai tingkat mahir, setiap sentuhan kakinya ke tanah terasa sehalus kapas, selembut angin, seolah tubuhnya tidak memiliki bobot sama sekali. Ia bergerak menembus rimbunan pepohonan tinggi yang membentang luas sejauh mata memandang, menjauhi kawasan Lembah Kabut Beracun dan reruntuhan kuno Sekte Bayangan yang menjadi saksi kebangkitan hidupnya.

Di punggungnya, terikat bungkusan kain sederhana berisi barang-barang keperluannya. Di pinggang kiri, tergantung sebilah pedang besi biasa dengan sarung kayu yang sudah agak kusam, sengaja dipajang agar terlihat seperti pendekar muda biasa. Sedangkan Pedang Hitam asli, senjata jiwanya yang penuh misteri dan kekuatan dahsyat, tersembunyi aman di dalam kantong penyimpanan di balik bajunya, menunggu saat yang tepat untuk kembali menebas musuh. Wajahnya kini telah berubah total berkat ramuan penyamaran yang ia buat sendiri; kulitnya lebih gelap, rahangnya lebih tegas, alisnya lebih lebar, menciptakan sosok pemuda asing yang gagah namun tidak mencolok. Hanya matanya yang tetap sama: sedingin es, setajam pisau, dan menyimpan kedalaman tekad yang tak terukur.

"Perjalanan menuju Kota Awan Melayang memakan waktu sekitar satu hari satu malam jika kita bergerak terus tanpa henti," suara Yue-Jian terdengar pelan namun jelas di dalam benak Ye Chen. Roh tua itu masih merasa lemah setelah mengerahkan banyak tenaga selama ini, namun tetap tidak pernah absen memberikan panduan dan peringatan. "Kita harus bergerak hanya di malam hari dan istirahat bersembunyi di siang hari. Kawasan ini masih wilayah perbatasan yang rawan. Banyak kelompok perampok, pemburu hadiah, atau bahkan murid-murid Sekte Azure Cloud yang sedang berlatih atau menjalankan tugas di sekitar sini. Kita tidak perlu masalah baru sebelum sampai ke tujuan utama."

"Aku mengerti, Guru," jawab Ye Chen dalam hatinya, sambil tetap mengamati sekeliling dengan kewaspadaan penuh. "Aku tidak mencari masalah, tapi jika ada yang berani mengganggu... aku tidak akan segan-segan membereskan mereka."

Seringai dingin tersungging di bibirnya. Dunia persilatan adalah tempat yang kejam. Hukum rimba berlaku mutlak: yang kuat berkuasa, yang lemah binasa. Dulu, saat ia masih lemah dan polos, ia selalu berusaha berbuat baik, menolong sesama, dan memegang teguh prinsip moral. Namun apa balasannya? Dikhianati, dirampok, disiksa, dan dibuang ke lembah kematian. Pengalaman pahit itu telah mengubah pandangan hidupnya sepenuhnya. Kini, ia hanya percaya pada satu hal: kekuatan adalah kebenaran. Dan ia akan menjadi yang terkuat, agar tidak ada lagi yang bisa menginjak-injak harga dirinya atau nasib orang-orang yang ia sayangi.

Perjalanan itu berlangsung sunyi dan cepat. Saat matahari terbenam dan kegelapan malam mulai menyelimuti bumi, Ye Chen justru bergerak semakin lincah dan cepat. Bagi orang lain, malam adalah waktu yang menakutkan, penuh bahaya dan ketidakjelasan. Namun bagi Ye Chen, yang mewarisi darah dan teknik Sekte Bayangan, kegelapan adalah sahabat terbaiknya. Di dalam malam, indra penglihatannya justru semakin tajam, gerakannya semakin senyap, dan rasa bahaya yang ia rasakan semakin peka. Ia bergerak menyusuri celah-celah sempit, melompati bebatuan besar, dan menyeberangi sungai berarus deras dengan mudah, seolah ia adalah bagian dari kegelapan itu sendiri.

Sepanjang jalan, ia melewati banyak jejak keberadaan manusia: bekas api unggun, jejak kaki kuda, atau suara teriakan dan pertarungan samar dari kejauhan. Namun, sesuai saran Yue-Jian, ia selalu memutar arah dan menjauh, menghindari segala bentuk kontak atau konflik. Ia tidak ingin ada siapa pun yang mengetahui arah tujuannya atau keberadaan sosok barunya ini sebelum waktunya tiba.

Menjelang tengah malam, Ye Chen tiba di perbatasan wilayah Hutan Pinus Merah. Di depannya, pepohonan mulai merenggang, digantikan oleh dataran luas yang terbentang hingga ke kaki bukit yang menjulang. Udara di sini jauh lebih segar, lebih hangat, dan kandungan energi langit serta bumi di udara terasa jauh lebih padat dibandingkan di dalam hutan lebat tadi. Tanda bahwa ia sudah semakin mendekati kawasan inti kekuasaan Sekte Azure Cloud.

Di kejauhan, di bawah cahaya bulan purnama yang bersinar terang, siluet bangunan megah mulai terlihat jelas. Di atas dataran tinggi, terlihat puluhan gunung-gunung kecil yang seolah melayang di udara, terikat oleh rantai energi raksasa berwarna putih keperakan. Di puncak gunung-gunung itu, berdiri istana-istana indah berarsitektur kuno, dibangun dari batu giok dan kayu berharga, memancarkan cahaya redup dari ribuan lentera yang menyala sepanjang malam. Di tengah-tengah semuanya, menjulang sebuah menara putih raksasa yang ujungnya hampir menembus awan, menjadi pusat dari seluruh kekuatan wilayah itu.

Itulah Kota Awan Melayang. Pusat pemerintahan, pusat kekuatan, dan jantung dari Sekte Azure Cloud. Tempat yang dulu ia impikan sebagai surga ilmu pengetahuan, namun ternyata menjadi neraka penderitaan baginya.

Ye Chen berhenti sejenak di balik semak belukar di pinggir hutan, menatap pemandangan megah di kejauhan itu. Matanya menyala dengan kilatan emosi yang rumit: rindu, benci, dendam, dan ambisi yang bercampur menjadi satu.

"Dulu, aku masuk ke sana dengan penuh harapan, murni, dan polos," gumam Ye Chen pelan, suaranya berat dan bergetar tertahan. Ia teringat kembali hari pertama ia menginjakkan kaki di gerbang kota itu. Ia masih ingat betul betapa takjubnya ia melihat kemegahan tempat itu, betapa bangganya ia bisa diterima menjadi murid di sana, dan betapa hormatnya ia pada sosok Tetua Mo Feng yang kala itu terlihat begitu bijaksana dan baik hati.

"Aku mengira ini adalah tempat suci untuk belajar dan menjadi kuat. Aku mengira Tetua Mo Feng adalah orang baik yang memberiku kesempatan mengubah nasib. Aku mengira Bai Long adalah sahabat seperguruan yang tulus." Seringai miring dan penuh sarkasme terukir di bibirnya. Kenangan tentang pengkhianatan itu masih terasa segar, seolah baru terjadi kemarin. Rasa sakit saat meridiannya dipukul hancur, rasa perih saat ia dibuang seperti sampah, rasa marah saat nama baiknya dicuri... semuanya kembali berputar di kepalanya seperti badai tak berujung.

"Namun, kenyataan pahit mengajarkanku bahwa di dunia ini, tidak ada kebaikan tanpa pamrih. Semuanya didasari nafsu, kekuasaan, dan kekuatan. Di balik wajah-wajah suci itu, tersembunyi hati yang penuh racun dan niat jahat."

"Dan itulah sebabnya kau berdiri di sini sekarang, Ye Chen," suara Yue-Jian memotong lamunannya, nadanya lembut namun tegas. "Kau tidak lagi anak kecil yang mudah ditipu. Kau tidak lagi pemuda lemah yang bisa disiksa sesuka hati. Kau telah ditempa oleh api penderitaan dan dibasuh oleh darah musuhmu. Kau kembali bukan untuk memohon belas kasihan, tapi untuk menagih utang yang belum lunas."

"Benar, Guru," jawab Ye Chen dingin. Ia menarik napas panjang, membuang semua kenangan masa lalu yang hanya akan membebani pikirannya. Ia menegakkan punggungnya, memandang lurus ke depan dengan pandangan yang tajam dan penuh tujuan. "Mulai hari ini, aku akan mengubah pandangan mereka. Mereka akan tahu bahwa membuangku adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka buat seumur hidup."

Ia tidak langsung bergerak maju. Masih ada sisa perjalanan semalam lagi, dan ia harus menunggu hingga pagi tiba untuk masuk ke dalam kota agar tidak menimbulkan kecurigaan. Ia mencari tempat persembunyian yang aman di celah bebatuan dekat aliran sungai kecil, tempat yang tersembunyi namun tetap memiliki pandangan luas ke arah gerbang kota. Di sana, ia duduk bersila, memejamkan mata, dan menstabilkan kembali aliran energinya yang sedikit bergejolak akibat emosi yang memuncak tadi.

Di dalam Dantiannya, lautan energi Es Yin berwarna biru tua berputar perlahan dan stabil, memancarkan hawa dingin yang nyaman. Meridiannya yang kini kokoh dan lebar berdenyut irama dengan detak jantungnya. Kekuatannya sudah berada di puncak ranah Qi Condensation, tinggal selangkah lagi menuju gerbang pendekar sejati. Dan langkah itu harus ia lakukan di dalam sana, di bawah hidung musuh-musuhnya.

Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur. Langit yang tadinya gelap gulita perlahan berubah menjadi ungu, merah jambu, lalu keemasan saat matahari mulai naik perlahan. Cahaya pagi menyinari Kota Awan Melayang, membuat bangunan-bangunan megah dan gunung-gunung terapung itu berkilauan indah seolah terbuat dari emas dan perak. Suara lonceng besar bergema enam kali dari arah menara pusat, tanda dimulainya aktivitas sehari-hari di kota itu. Jalanan yang tadinya sepi, kini mulai ramai dengan pergerakan orang-orang. Dari kejauhan, terlihat aliran pendekar, pedagang, dan penduduk kota yang mulai keluar beraktivitas.

Ye Chen membuka matanya tepat saat sinar matahari pertama menyentuh wajahnya. Ia berdiri tegak, membersihkan debu di jubah abu-abunya, merapikan ikatan rambutnya, dan menyesuaikan posisi pedang besi di pinggangnya. Ia memeriksa kembali penyamarannya, memastikan tidak ada satu pun hal yang mencurigakan atau salah tempat. Ia menekan dan menyembunyikan aura kekuatannya sedemikian rupa, hingga yang terpancar keluar hanyalah kekuatan ranah Qi Condensation Tingkat Keempat—cukup kuat untuk dianggap berbakat di mata orang biasa, namun tidak terlalu luar biasa hingga menarik perhatian tetua-tetua tinggi sekte.

"Siap?" tanya Yue-Jian.

"Siap," jawab Ye Chen singkat dan tegas.

Dengan langkah tenang dan santai, persis seperti pendekar muda pengelana yang baru tiba dari jauh, Ye Chen berjalan keluar dari persembunyiannya, menyeberangi dataran luas, dan bergerak perlahan namun pasti menuju gerbang besar Kota Awan Melayang.

Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas ia melihat kemegahan gerbang itu. Dua pintu raksasa setinggi dua puluh meter, terbuat dari logam hitam padat yang kokoh, diukir dengan motif awan dan naga yang rumit dan indah. Di atas gerbang, tertulis tiga kata besar berwarna emas menyala: KOTA AWAN MELAYANG. Di kedua sisi gerbang, berdiri dua patung singa giok raksasa yang terlihat hidup dan mengerikan, seolah siap menerkam siapa pun yang berniat jahat masuk ke sana.

Di depan gerbang, terdapat barisan panjang orang-orang yang hendak masuk: pedagang dengan kereta barang, pengelana, kelompok pendekar, hingga penduduk lokal. Di sana juga berjaga sepuluh orang penjaga berseragam hijau dengan lambang awan putih di dada mereka—pasukan keamanan langsung di bawah komando Sekte Azure Cloud. Mereka berdiri tegak, tatapan tajam mengamati setiap orang yang lewat, tangan mereka siap di gagang senjata, memancarkan aura kekuatan yang cukup kuat—rata-rata berada di tingkat ketiga hingga keempat Qi Condensation.

Saat giliran Ye Chen tiba, seorang penjaga berbadan tegap dengan kumis tebal melangkah maju, menatap sosok pemuda berwajah asing itu dari atas ke bawah dengan pandangan waspada namun tidak kasar.

"Nama? Asal daerah? Dan tujuan datang ke Kota Awan?" tanya penjaga itu dengan suara berat dan tegas, sesuai prosedur standar pemeriksaan.

Ye Chen menundukkan sedikit kepalanya, menampilkan sikap hormat namun percaya diri, ciri khas pendekar muda yang berkelana. Suaranya tenang dan datar, tanpa ada sedikit pun getaran gugup.

"Namaku Han Yu, Tuan. Aku berasal dari wilayah selatan, daerah Pegunungan Kabut Hitam. Aku adalah pendekar muda yang sedang berkelana mencari ilmu dan pengalaman. Aku mendengar kabar bahwa Sekte Azure Cloud adalah yang terbesar dan terkuat di wilayah ini, serta sangat terbuka bagi pendekar asing yang ingin belajar atau berkunjung. Maka dari itu, aku datang jauh-jauh ke sini berharap bisa melihat kemegahan sekte besar ini dan mungkin beruntung bisa ikut serta dalam acara-acara besar yang sering diadakan di sini."

Jawaban itu sudah ia persiapkan matang-matang. Wilayah Pegunungan Kabut Hitam adalah daerah terpencil yang jauh di selatan, terkenal dengan jalannya yang berbahaya dan jarang ada orang yang datang pergi ke sana, sehingga sulit untuk diverifikasi kebenarannya. Identitas 'Han Yu' adalah nama yang biasa dan umum, tidak memiliki riwayat buruk atau koneksi apa pun dengan Sekte Azure Cloud.

Penjaga itu menatap mata Ye Chen dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan atau ketidakjujuran. Namun, yang ia lihat hanyalah tatapan tenang, polos, namun menyimpan tekad kuat—persis seperti ribuan pemuda ambisius lain yang datang ke sini setiap harinya demi mencari kekuatan dan nama besar. Penjaga itu juga merasakan aura energi yang dipancarkan Ye Chen: stabil, murni, dan berada di tingkat keempat Qi Condensation. Cukup bagus untuk ukuran pendekar muda dari daerah terpencil.

"Baiklah, Han Yu dari Pegunungan Kabut Hitam," ucap penjaga itu sambil mengangguk sedikit puas. Ia memberikan sebuah lencana kayu persegi kecil berwarna cokelat bertanda awan kecil. "Ini lencana izin masukmu. Dengan ini, kau bebas bergerak di seluruh wilayah kota luar. Namun ingat, dilarang mendekati kawasan inti sekte, dilarang menimbulkan keributan, dan dilarang berkelahi sembarangan. Langgar aturan, dan kau akan ditangkap atau diusir permanen. Mengerti?"

"Mengerti sepenuhnya, Tuan. Terima kasih banyak," jawab Ye Chen sambil menerima lencana itu dengan kedua tangan, lalu menyimpannya rapi di saku dada.

"Silakan lewat."

Gerbang besar itu terbuka lebar di hadapannya. Ye Chen melangkah melewati ambang pintu itu dengan langkah yang tetap tenang, namun di dalam hatinya, badai emosi kembali bergulir kencang. Ia melangkah masuk kembali ke tempat yang dulu menjadi saksi jatuhnya harga dirinya, tempat di mana nama 'Ye Chen' dihapuskan dari sejarah.

Namun kali ini, semuanya berbeda.

Di punggungnya kini terbebani bukan hanya dendam pribadi, tapi juga dendam darah ribuan tahun klan Ye. Di dadanya kini berdenyut kekuatan yang jauh melampaui murid biasa mana pun di sini. Di kepalanya kini tersimpan ilmu pengetahuan dan seni bertarung warisan sekte kuno yang telah lama hilang dari dunia.

Ia berjalan masuk ke jalan utama kota yang ramai dan megah itu, berbaur dengan ribuan orang lain yang lalu lalang. Di sekelilingnya, bangunan-bangunan indah menjulang tinggi, toko-toko serba ada berjejer rapi, dan suara hiruk-pikuk pasar memenuhi udara. Banyak murid Sekte Azure Cloud berjalan lewat dengan jubah kebesaran mereka, kepala terangkat tinggi penuh kebanggaan dan kesombongan. Mereka tidak sadar, di antara kerumunan orang biasa itu, berjalan sosok mimpi buruk yang selama ini mereka anggap sudah mati dan hilang.

"Mulai detik ini... permainan dimulai," bisik Ye Chen pelan, hampir tak terdengar, sambil terus berjalan maju menuju jantung kota, menuju musuh-musuhnya, menuju takdir besar yang menantinya.

Gerbang yang dulu tertutup rapat baginya, kini terbuka lebar. Dan di balik gerbang itu, pembalasan dendam yang ia impikan kini tinggal selangkah lagi terwujud.

1
albarra
ok,, coba kita teruskan..
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat terus
Aman Wijaya
ayo ye Chen babat semuanya musuh musuh mu.bikin kabut darah semua
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Opayos
💪💪💪💪💪💪💪😄😄😄😄
Opayos
😄😄😄😄👍👍👍👍
Opayos
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍😄😄😄💪💪💪💪
Opayos
😄😄😄😄😄💪💪💪💪👍👍
Opayos
👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Opayos
😍😍😍😍💪💪💪👍👍
Opayos
😄😄😄💪💪💪
Opayos
🤣🤣🤣💪💪
T28J
Kaaaak... kepanjangan paragrafnya, kaget saya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!