NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

[8] Dilema Langit

"Iya..warna pinknya pink bibir. Nude pokoknya. Gue sih suka Hanasui.

"Bagus banget. Gue mau dong coba." Bina menyerahkan lip hanasui-nya pada Langit. Kedua sahabat itu tengah duduk di meja mereka seraya membicarakan perihal lip.

Kebetulan siang ini lagi jam kosong. Anak Kelas Ips 3 tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang memanfaatkan waktunya untuk tidur. Ada yang lagi ghibah dan juga kaum ciwi nonton. Sedang kaum adam sibuk main games dipojokan.

"Gimana? Cocok gak?"

Langit yang biasanya hanya memakai lip gloss bening di bibirnya kini memperlihatkan warna bibirnya kali ini, pink cerah.

"Gila, lo makin cakep Ngit!" Bina berseru heboh.

"Masa sih? Cocok ya?"

"Lo berkali-kali cantik. Ooh gini deh." Bina memutar bola matanya hingga melihat Bumi

Yang baru saja masuk ke kelas dari pintu belakang.

"Bumi!"

Cowok yang tengah memakai earphone itu mengentikan langkah dan menoleh.

Sebelah alisnya naik.

"Coba lihat Langit. Makin cakep kan pakai lip ini?" Bina tersenyum dan menunjuk Langit.

"Kok lo nanya dia sih? Yang dibilang jelek lah," cebik Langit melirik Bumi yang juga menatapnya.

Bumi mengubah posisinya menghadap lurus ke mereka. Netranya menatap tatapan Langit. "Cantik." Satu kata tapi Langit jadi bergeming beberapa detik.

"Cantik?" Beo-nya dalam hati.

Ia menatap balik kornea hitam itu.

Terdengar tulus dan tidak ada lelucon. Lalu juga kenapa ucapan ini terdengar aneh baginya? Bukan, bukan geli dibilang cantik. Hanya saja ini pertama kalinya seorang Bumi mengakui kecantikannya.

"Tuh kan, gue bilang apa?" Bina tersenyum lebar dan mengambil ponselnya.

Mengajak selfie. Langit melirik Bumi yang sudah berlalu ke kursinya.

"Kok tumben dia muji?" ucapnya membatin. Cukup heran.

"Teman-teman!"

Seruan disertai papan tulisan yang diketuk membuat perhatian mereka teralih pada sang ketua kelas yang berdiri di balik meja guru.

"Kenapa Tas?"

"Lo mau nyanyi?" tanya Reno.

"Atau lo mau nembek gue di sini?" Kala menaik turunkan alisnya. Anak cowok tertawa mengejak dan menyeru akan kepedeaan seorang Kala.

"Terima Kal!" Hugo berseru.

"Gaspol Kalaa." Anak laki-laki bersiul menggoda. Yang perempuan tertawa.

Tasya memutar bola matanya jengah. Ia lalu mengangkat kertas di tangannya. "Diem dulu bisa gak nih?" Sebagai seorang ketua kelas, suaranya menggelegar. Kelas yang tadi riuh berganti hening.

"Gue dikasih info sama Buk Ratna. Tiap

Siswi bakal menemui beliau dan guru BK gantian," jelas Tasya usai mendapat lagi perhatian teman-temannya.

"Untuk apa Buk Ketu?" Bina mengernyit. Tumben sekali.

"Katanya bakal ditanya mengenai bakat minat dan juga ya perihal rencana masing-masing sekaligus petuah persiapan ujian akhir tahun gitulah. Kita udah kelas 12. Jadi harus fokus dan nentuin mau ambil jurusan, univ apa. Paling sedikit kena ceramah dan dapat motivasi biar lebih giat lagi."

"Yah." Helaan nafas keluar dari bibir mereka. Tidak terkecuali Langit yang manyun. Kalau udah ditanya hal seperti ini dia bingung sendiri.

"Datang ke walas gantian. Sesuai nama di sini ya. Ada jamnya. Sendiri-sendiri. Gue tempel nih di mading kelas. Baca sendiri. Mandiri." Tasya menempel kertas itu di mading. Para siswa yang kepo akan nama mereka sontak maju ramai-ramai.

Langit tetap di bangkunya sedang Bina udah desak-desakan.

"Langit nama lo pertama!" Teriakan dari Bina membuat Langit membulatkan matanya.

Padahal namanya paling bawah di absen kenapa jadi yang pertama sih?

"Gak heran sih. Petuah buk Ratna pasti banyak buat Queen jahil kita. Ya gak?" Bumi di tempat duduk menoleh pada Langit. Gadis itu mengambil penghapus di atas mejanya lantas melempar pada cowok itu.

Bumi gesit menghindar.

"Jangan senang dulu Bum. Nama lo nomor dua," ucap Hugo yang juga udah ke depan. Gelak tawa sontak memenuhi kelas. Langit paling kencang.

"Huu makanya jangan ledekin gue." Ia menjulurkan lidahnya puas.

"Sialan." Bumi bersunggut kesal.

"Gue jam berapa Bin?" tanya Langit lagi.

ya?" "Sekarang. Sebelum istirahat. Ruang BK

Langit memberi anggukan. Ia kemudian berdiri dan duluan ke luar. Melewati lorong kelas yang sepi karena masih jam pelajaran. Langkahnya menuju lantai dua. Di mana ruang BK berada.

Tok tok tok

Langit mengetuk dulu tiba di depan pintu.

Suara Pak Ego terdengar. Ia disuruh masuk. Sudah ada Buk Ratna juga. Wali kelasnya yang umurnya tidak beda jauh dari mamanya. 43 tahun.

"Langit silakan duduk."

Ia menurut. Mengambil tempat dihadapan dua guru yang sangat sering dia temui. Kali ini dengan berhadapan seperti ini, rasanya dia Langit di interogasi.

Buk Ratna sibuk mengeluarkan sesuatu dari map yang ada di atas meja.

"Buk, nama Langit kan abjad terakhir. Kok jadi yang pertama?"

"Kamu saking banyaknya berulah Langit.

Jadi duluan." Pak Ego yang memberi jawaban.

Langit memberikan cengiran khasnya. Ia melipat tangannya di atas meja.

"Ya udah. Langir bakal dengerin."

"Harus. Kali ini kamu jangan iya-iya."

"Hehe insya allah Pak."

"Langit dua tahun belajar. Kelas 10 dan 11. Nilai kamu banyak pas KKM-nya. Itu pun dibantu dengan tugas biar aman." Buk Ratna memperlihatkan rekap nilanya. "Ada merah

Juga. Sekarang kamu sudah kelas 12 belas selama sebulan lebih. Nilai kamu gak ada kemajuan."

Langit meringis sendiri.

"Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Mulai sekarang belajarlah yang serius. Kurangin mainnya. Udah waktunya fokus."

"Ujian sekolah gak main-main. Kalau kamu gini terus kamu bisa gak lulus. Mau nanti kalau gak selesai sekolah? Kasian mama papanya kan?"

Langit hanya mengangguk saja akan petuah-petuah gurunya. Pak Ego juga menambahkan kemudian. Jangan berpikir hanya singkat, tidak. Belum masuk ke pertanyaan minat bakat saja dia udah kena ceramah selama setengah jam lebih.

"Sekarang coba saya tanya. Kamu kedepannya mau gimana? Kuliah apa nganggur?"

"Kuliah Buk Ratna."

"Oke kalau lulus sekolah. Kalau enggak?"

"Jangan dong Buk." Langit jadi takut tidak lulus. Bisa-bisa kecewa berat Ezhar dan Orlin.

"Langit. Saya ataupun Pak Ego tidak bisa membantu kamu. Ini pilihan kamu. Kalau mauk sukses, mau lulus dan kuliah, berubahlah sedikit. Seengaknya ikutin semua mata pelajaran, jangan bolos, kerjakan tugas dan kurangin kejahilan kamu."

"Kamu yang menentukan nasibmu ke depannya gimana. Bukan guru. Kamu yang akan menentukan mau buat bangga orang tua kamu atau malah mau buat mereka kecewa?"

Buk Ratna dan Pak Ego terus membuka pikirannya akan masa depannya yang tidak pasti. Langit hanya diam mendengar.

"Kamu dengar kan Langit?"

"Dengar Buk."

Buk Ratna menghela nafas.

"Pak Ego akan tanya dan bantu temuin minatmu di mana." Buk Ratna menunjuk Pak Ego dengan gerakan mata. Guru BK itu menampakkan hasil pemilihan minat dan bakat Langit yang sudah diisinya tiga minggu lalu. Iya awal kelas Pak Ego menyuruh semua siswi kelas 12 untuk mengisi formulir minat bakat.

Ia ditanyai. Langit banyak diam dan bingungnya. Dia tidak tahu tujuannya ke

Mana. Bahkan minat jurusannya semua masih mengambang di pikirannya.

Lah gue mau jadi apa ya?

Biru Dokter. Tapi Dokter kan tidak mungkin, Langit IPS.

Kedua guru itu sudah bantu mengarahkan dan menjelaskan ke mana kiranya yang Langit inginkan. Namun Langit merasa butuh waktu untuk memastikan apa yang dia inginkan. Antara ekonomi atau Geografi. Ia bingung. Pada akhirnya dia diberi waktu. Buk Ratna dan Pak Ego tidak mendesak. Setidaknya mereka cukup senang Langit sudah memikirkan hal ini dari sekarang.

Sejak tadi mereka hanya terus menekankan dan menyuruhnya agar lebih rajin. Sebelum di suruh keluar bertepatan dengan bel jam istirahat, sebuah amplop diberikan padanya.

"Surat untuk orang tua kamu. Ada yang perlu ibuk sampaikan."

Ia lihat amplop putih itu sesaat. "Kok ada panggilan Orang tua buk?"

"Saya gak yakin sama kamu. Jadi perlu sampaikan semuanya juga sama mereka."

Langit hanya diam saja.

"Coba juga untuk ikut les. Biar kamu bisa mengulang materi kelas 10 dan 11 untuk ujian sekolah dan persiapan masuk Univ."

"Iya Buk." Langit pusing. Disuruh sekaligus ini itu. Berhubung sudah bel dan akhirnya diminta keluar, Langit mengirimkan pesan pada Bina untuk memesan makanannya. Dia sendiri duduk di bangku panjang tidak jauh dari BK seraya mengeluarkan ponselnya dan mencari kontal Albiru.

Calon Imam

[Kak Biru, Kak Biru nanti mau Langit jadi apa?]

Ia mengetikkan kalimat tersebut.

[Assalamualaikum dulu]

[Hehe iya assalamualaikum. Jadi gimana Kak Biru?]

[Untuk?]

[Hari ini Langit ditanya mau ke mana kedepannya. Mau jadi apa. Langit mau jadi yang kak Biru inginkan]

[Kenapa saya?]

[Karena Langit mau disukai Kak Biru ]

[Pilih dari hati kamu. Bukan dari orang lain. Jangan lakukan sesuatu karena orang lain. Cari apa yang kamu suka dan minati.]

[Langit kan mau usaha jadi menjadi wanita impian kak Biru]

[Untuk disukai jangan mengorbankan apa yang disukai. Pilih sendiri]

[Langit gak tahu]

[Kamu suka apa?]

[Suka Kak Biru]

[Ck. Maksud saya kamu berat ke pelajaran apa? Kamu IPS ada pelajaran ekonomi, geografi dan lain-lain. Coba kerucutkan, minat kamu dimana? Misal dibanding pelajaran lain, kamu suka ekonomi. Kamu mudah paham pelajarannya Ambil apa yang kamu suka. Terus kerucutkan lagi di kampus biasanya ekonomi ada jurusan apa aja?]

[Langit suka ekonomi sama Geo]

[Ya sudah diantara keduanya pilih. Terus lihat juga peluang kerja di masa depan. Mana yang besar]

[Kak Biru jangan bahas kerja. Langit baru

Mau kuliah]

[Iya, tapi kamu juga harus perhatikan hal ini dari sekarang. Selepas kuliah nyari kerja enggak mudah]

[Kalau Langit tertarik ke ekonomi, jadi apa bagusnya kak Biru?]

[Kalau ekonomi. Kamu mau jadi guru atau gak?]

[Gak mau guru. Pusing. Langit niat kerja kantoran]

[Kalau kantoran kamu bisa ambil manajemen atau akuntansi. Di fakultas ekonomi juga ada ilmu ekonomi atau ekonomi pembangunan. Juga ada perpajakan]

[Bingung. Bedanya kak Biru?]

[Buka google. Cari]

[Gak kak Biru jelasin aja? Kalau kak Biru jelasin Langit gampang paham:(]

[Gk!]

[Kak Biru mah]

[Banyak baca seputar jurusan. Pilih univ apa yang kamu pengen]

[Tapi Langit juga mau kerja di rumah

Sakit. Bagian kantor. Bisa enggak Kak Biru?]

[Rumah Sakit?]

[Manajemen akuntansi di mana-mana kepakai. Bisa masuk ke mana aja. yang penting belajar.]

Senyumnya melengkung.

[Berarti Langit bisa ya kerja di rumah sakit kak Biru kerja?]

[Pikirkan ujian kelas 12 dulu bukan kerja.

Belajar yang benar biar mudah masuk universitas.]

[Langit mau dekat kak Biru]

[Saya gak]

Langit mengerucutkan bibirnya kesal.

Sama sekali tidak ditanggepin lagi walau dia spam. Ia simpan benda pipih itu setelahnya. Setidaknya dia jadi punya gambaran.

Langit kemudian melangkahkan kakinya menuju kantin usai taruh surat untuk orang tuanya. Semua mata menatap ke arahnya yang datang dari pintu kantin. Bola matanya mengedar mencari posisi Bina.

"Langit!" teriakan disertai lambaian dari meja tengah itu membuatnya balik melambai

Dan mendekat. Bina sendiri di sana.

"Lo lama banget. Hampir sejam di BK."

Bina melirik jam tangannya saat Langit menarik kursi untuk duduk.

Dia tertawa. "Petuahnya ya banyak."

Dari arah belakang mereka. Bumi dan ketiga temanya baru datang membawa nampan mereka masing-masing. Mereka duduk bergabung dengan kedua cewek itu.

Hugo dan Alden di kanan kiri Bina. Bumi di kanan Langit dan Liam kiri Langit.

"Kalian kalau kehabisan meja seengaknya jangan di sini kali," sewot Langit.

"Gue bayar sekolah. Ya serah gue." Bumi yang menjawab. Cowok itu mengambil sendok dan garpu.

Langit mendelik.

"Gimana tadi di BK?" Alden tiba-tiba bertanya. Ia menatap Langit. Semua mata di meja itu sontak menatap Alden yang tumben ajak Langit ngomong.

Langit menunjuk dirinya. Alden memberi anggukan.

"Ya gitu. Kena ceramah dulu. Terus gue juga bingung minatnya ke mana. Btw kalian

Pada mau masuk jurusan dan univ apa?"

"Gue juga sama, gak tahu." Hugo mengedikkan bahunya acuh tak acuh.

"UI, Ekonomi." Alden komentar.

"Gila. Alden sih gak diragukan langsung lulus." Mereka berdecak.

"Gue juga ekonomi. Kita kan IPS.

Kemungkinan Akuntansi." Bina menjawab.

"Kalau Universitas gak tahu. Mau ambil yang bagus sadar diri otak pas-pasan," lanjutnya mendengus.

"Gue minat perpajakan," ungkap Liam juga.

"Lo Bum?" Langit menoleh pada Bumi yang belum bicara dan asik makan saja.

"Gue?"

Langit memberi anggukan.

"Manajemen. Gue lebih ke kantoran terus ntar punya usaha sendiri. Kenapa? Lo mau ngikut gue biar bisa bareng lagi?"

"Dih nyesel gue nanya," dengusnya. "Kalau bisa nih gue jauh dari lo. Itu alasan gue tanya," kilahnya. Padahal iya dia kepo saja.

Bumi terkekeh.

"Lo gimana Ngit?" Bina balik tanya.

"Gue antara eko atau geo. Sebenarnya masih bingung. Tapi dibanding itu dulu juga takut bakal lulus gak ya dari sini?"

"Lulus udah. Yang penting usaha."

"Gue belum puas udah disuruh berhenti jahil," cebiknya memasukkan suapan soto yang hari ini dia pesan.

"Sadar diri. Udah kelas 12 Ngit."

"Heum." Langit hanya memberi anggukan. Dia tidak mau mulai dari mana. Tapi ia akan mencoba. Bagaimanapun masa depannya harus dipikirkan.

Sepertinya Langit harus minta bantu seseorang. Tapi siapa? Matanya menatap gantian mereka yang dijawab, hingga tercetus saat lihat Alden.

Nah iya. Kenapa enggak Alden?

"Alden?"

"Hm?" Sebelas alis cowok itu naik.

"Lo kan pinter nih. Ajarin gue mau gak biar nular?"

"Lo minta Alden? Dia mana mau. Yang lain banyak yang minta ajarin dia tolak," kekeh

Bumi.

"Oke. Gue ajarin." Tapi Alden malah menjawab bisa. Bumi tersedak sedang yang lain mengejapkan mata.

Alden, cowok pinter dan dingin itu tidak suka berinteraksi dengan orang lain selain Bumi, Liam dan Hugo serta anak gengnya.

Apalagi untuk cewek, Alden itu anti dan menolak cewek yang sengaja dekatin dia maupun berkedok hal lain dengan penolakan menyakitkan. Tapi ini?

Senyum Langit melengkung lebar. Korneanya berbinar senang. "Beneran Alden?"

"Hm." Alden tersenyum tipis dan Langit kian girang. Bumi menatap Alden dengan heran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!