Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Duduk di Sampingku
Selvina masih berdiri di ruang tengah mansion sambil tersenyum tipis. “Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.” Suara wanita itu terdengar lembut dan elegan. Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu langsung membuat suasana berubah canggung.
Kemuning buru-buru berdiri dari lantai. Boneka dan kardus paket di sekelilingnya langsung membuat dirinya terlihat semakin berantakan. Sedangkan Arkana perlahan bangkit sambil kembali memasang aura dingin khasnya. Seolah kehangatan beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Namun Selvina tetap melihat semuanya dengan jelas. Ia belum pernah melihat Arkana duduk di lantai bermain bersama siapa pun sebelumnya. Apalagi bersama seorang gadis desa dan anak kecil yang bahkan bukan keluarganya. Dan fakta itu membuat dada Selvina terasa tidak nyaman.
Selama bertahun-tahun mengenal Arkana, pria itu selalu menjaga jarak. Dingin. Sulit disentuh. Dan hampir tidak pernah membiarkan siapa pun masuk terlalu dekat.
Namun sekarang? Arkana terlihat jauh lebih hidup di dekat Kemuning. Hal yang perlahan membuat Selvina sadar satu hal penting. Kemuning bukan ancaman kecil lagi.
Kemuning langsung salah tingkah membereskan paket-paket yang berserakan di lantai. Ia buru-buru memeluk beberapa kardus kecil sekaligus sambil menunduk malu. Wajahnya terasa panas karena Selvina melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Sangat jauh dibanding wanita elegan di depan sana.
Selvina berdiri sempurna dengan pakaian mahal dan makeup rapi. Sedangkan Kemuning duduk di lantai dengan rambut sedikit berantakan dan kaus rumahan sederhana. Perbedaan dunia mereka terasa terlalu jelas. Dan hal itu kembali membuat Kemuning merasa kecil.
Kemuning mencoba mengangkat satu kardus besar sendiri. Namun ukurannya terlalu berat untuk tubuh kecilnya. Kardus itu hampir terlepas dari pelukannya. Tetapi sebelum jatuh, seseorang lebih dulu mengambilnya dari tangannya.
Arkana berdiri di dekat Kemuning sambil memegang kardus tersebut dengan satu tangan. Pria itu melakukannya tanpa banyak bicara. Namun detail kecil itu terasa terlalu natural dan intimate. Seolah Arkana memang terbiasa membantu Kemuning seperti itu.
Selvina memperhatikan semuanya diam-diam. Dan untuk pertama kalinya, rasa cemburu benar-benar muncul jelas di dadanya. Karena Arkana tidak pernah memperhatikan perempuan lain sedetail itu sebelumnya. Bahkan pada dirinya sendiri.
“Ada dokumen yang harus segera ditandatangani.” Selvina akhirnya bicara sambil menyerahkan map tipis pada Arkana. Nada suaranya tetap profesional. Namun matanya masih terus mengamati Kemuning.
Arkana menerima map itu singkat. “Kenapa tidak besok di kantor?”
“Karena ini penting.” Selvina menjawab sambil tetap tersenyum tipis.
Namun sebenarnya, Selvina datang bukan hanya karena pekerjaan. Ia ingin memastikan satu hal. Apakah posisinya di hidup Arkana masih berarti. Atau perlahan digantikan gadis desa itu.
“Kana biasanya tidak suka membawa pekerjaan ke rumah.” Selvina berkata santai sambil duduk elegan di sofa ruang tengah. Nama panggilan itu langsung membuat Kemuning refleks menunduk lagi. Dadanya terasa tidak nyaman mendengarnya.
“Kana.” Selvina mengucapkannya begitu mudah dan akrab. Sedangkan Kemuning bahkan masih gugup memanggil nama Arkana secara langsung. Perbedaan kecil itu terasa menusuk tanpa alasan jelas.
Agam yang duduk di lantai tiba-tiba menoleh polos ke arah Selvina. “Kakak kenal Om Kana juga?” Pertanyaan polos anak kecil itu langsung membuat suasana membeku sesaat. Kemuning langsung panik sendiri.
Namun Selvina tetap tersenyum anggun. “Kami sudah sangat lama dekat.” Nada suaranya lembut dan tenang. Tetapi kalimat itu terasa menusuk langsung ke dada Kemuning.
Kemuning langsung terdiam. Untuk pertama kalinya, dirinya benar-benar merasa seperti orang luar. Ia tidak tahu apa pun tentang masa lalu Arkana. Sedangkan Selvina terlihat begitu mengenal pria itu.
Arkana memperhatikan perubahan ekspresi Kemuning lagi. Gadis itu semakin diam dan menunduk sejak Selvina datang. Dan Arkana semakin tidak suka melihatnya seperti itu. Karena Kemuning terlihat seperti ingin menghilang dari ruangan ini.
“Duduk di sini.” Suara Arkana tiba-tiba terdengar datar di tengah keheningan. Kemuning langsung menoleh bingung. Sedangkan Arkana menarik satu kursi di sampingnya khusus untuk gadis itu.
Semua orang langsung terdiam beberapa detik. Karena Arkana Mahendra tidak pernah melakukan hal seperti itu pada perempuan lain. Tindakan sederhana tersebut justru terasa sangat possessive. Dan Selvina langsung menyadarinya.
Kemuning panik luar biasa. “Aku di sini aja.” Namun Arkana justru menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa lagi. Tatapan itu jelas tidak memberi pilihan.
Dengan gugup, Kemuning akhirnya duduk pelan di kursi sebelah Arkana. Dan begitu ia duduk, lutut mereka langsung bersentuhan samar di bawah meja. Tubuh Kemuning langsung menegang refleks. Sedangkan Arkana terlihat terlalu tenang.
Tangan pria itu berada sangat dekat dengan tangannya di atas meja. Jarak mereka terlalu dekat untuk membuat Kemuning bernapas normal. Apalagi aroma parfum Arkana terasa samar di dekatnya. Membuat jantung Kemuning kembali kacau.
Selvina melihat semuanya dengan jelas. Dan sesuatu di dadanya mulai terasa sakit.
Karena Arkana mungkin belum sadar. Tetapi pria itu terus memilih Kemuning tanpa berpikir.
Percakapan berlanjut dengan suasana formal yang tipis dan dingin. Selvina mulai membahas proyek perusahaan dan perjalanan bisnis lama mereka. Sesekali wanita itu menceritakan kebiasaan Arkana saat kerja. Hal-hal yang sama sekali tidak dipahami Kemuning.
“Kana biasanya tidak tidur kalau proyek belum selesai.” Selvina berkata sambil tersenyum kecil.
“Dulu sampai pernah pingsan di ruang meeting.” Kemuning langsung diam mendengarnya.
Ia merasa semakin tertinggal dari dunia Arkana. Selvina tahu begitu banyak tentang pria itu. Sedangkan dirinya bahkan baru mengenal Arkana beberapa minggu. Dan itu membuat hatinya perlahan terasa berat.
Namun anehnya, Arkana sendiri tidak terlihat terlalu tertarik membahas masa lalu itu. Tatapannya justru beberapa kali jatuh pada Kemuning. Apakah gadis itu makan. Apakah masih diam dan murung.
Saat makan malam kecil disajikan pelayan, Kemuning terlihat kesulitan menggunakan garpu dan pisau modern. Gerakannya canggung dan pelan. Kemuning bahkan hampir menjatuhkan potongan makanannya sendiri. Dan rasa malu langsung memenuhi wajahnya.
Namun tanpa berkata apa-apa, Arkana menarik pelan piring Kemuning ke arahnya. Pria itu mulai memotong makanan tersebut dengan tenang. Lalu mengembalikan piring itu ke depan Kemuning begitu saja. Seolah hal tersebut sangat biasa dilakukan.
Kemuning langsung membeku. Sedangkan Selvina hanya bisa memperhatikan dengan dada semakin sesak. Karena Arkana memperlakukan Kemuning jauh lebih lembut dibanding perempuan mana pun. Bahkan dibanding dirinya sendiri selama bertahun-tahun.
Agam yang duduk dekat Arkana malah tersenyum senang. “Om Kana baik.” Anak kecil itu berkata polos sambil memeluk lengan Arkana. Dan suasana hangat itu terasa semakin menusuk bagi Selvina.
Beberapa saat kemudian, Selvina akhirnya meletakkan gelasnya pelan. Tatapannya bergeser singkat ke arah Kemuning. Lalu wanita itu tersenyum tipis sambil berkata santai. “Kana selalu seperti ini kalau sedang tertarik pada sesuatu.”
Kemuning langsung menegang kecil. Sedangkan Arkana perlahan mengangkat tatapannya dingin. Namun Selvina melanjutkan kalimatnya dengan tenang. “Tapi dia juga cepat bosan.”
Kalimat itu terasa ambigu dan tajam sekaligus. Langsung menghantam ketakutan terbesar Kemuning. Ucapan Ratih beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya. Bagaimana jika semua perhatian Arkana memang hanya sementara?
Kemuning perlahan menunduk. Dadanya terasa sesak lagi. Dan Arkana langsung menyadari perubahan wajah gadis itu hanya dalam hitungan detik. Pria itu akhirnya kehilangan kesabarannya.
Gelas di tangan Arkana diletakkan cukup keras di atas meja. Suara kecil itu langsung membuat seluruh ruangan sunyi. Agam bahkan ikut diam sambil menatap Arkana bingung. Sedangkan Selvina membeku sesaat.
Untuk pertama kalinya malam itu, Arkana menatap Selvina dengan dingin tanpa menyembunyikan apa pun. “Cukup.”
Satu kata itu terdengar tajam dan tegas. Membuat suasana langsung berubah berat. Kemuning perlahan mengangkat kepalanya pelan. Sedangkan Selvina menahan napas kecil.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu Arkana perlahan menoleh ke arah Kemuning. Tatapannya melembut sedikit saat melihat wajah gadis itu yang murung. Dan suara rendah pria itu kembali terdengar.
“Aku tidak suka melihat dia sedih.”