NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Nama yang Mulai Menjadi Target

Bab 26 — Nama yang Mulai Menjadi Target

Malam di mansion Moretti terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Bukan sunyi yang tenang, tapi sunyi yang terasa menekan dada.

Angin dingin masih menyisakan sisa hujan di luar, membuat kaca jendela berembun tipis. Lampu-lampu di halaman mansion menyala redup, tapi itu tidak cukup menghapus rasa gelap yang menyelimuti suasana.

Amelia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat.

Tatapannya kosong.

Sejak tadi dia hanya diam.

Jas hitam milik Lorenzo masih tergantung di kursi dekat meja.

Benda itu… entah kenapa membuatnya tidak nyaman.

Karena setiap kali Amelia melihatnya, dia teringat kejadian malam tadi.

Tembakan.

Darah.

Dan pria itu.

Lorenzo Moretti.

Tok tok.

Amelia tersentak kecil.

“Masuk…”

Pintu terbuka perlahan.

Clara masuk sambil membawa nampan makanan.

“Nona Amelia… Anda belum makan dari siang.”

Amelia melirik sekilas, lalu kembali menunduk.

“Aku belum lapar…”

Clara mendekat dan meletakkan nampan itu di meja.

Wajahnya terlihat cemas.

“Sejak kejadian tadi, semua orang di mansion jadi sangat waspada.”

Amelia tersenyum pahit.

“Karena aku, kan?”

Clara langsung menggeleng.

“Jangan bilang begitu.”

“Tapi mereka menyerang karena aku melihat sesuatu…”

Suara Amelia pelan sekali.

Seolah dia sendiri tidak yakin apakah dia boleh berbicara.

Clara terdiam beberapa detik.

Karena dalam hatinya dia tahu… itu tidak sepenuhnya salah Amelia, tapi juga tidak sepenuhnya tidak ada hubungannya.

“Yang penting sekarang Nona aman di sini,” ucap Clara akhirnya lembut.

Amelia tidak menjawab.

Matanya kembali kosong.

Di ruang kerja lantai bawah.

Lorenzo berdiri di depan jendela besar.

Tangannya memegang gelas whiskey, tapi dia tidak minum.

Tatapannya tajam menatap gelapnya malam di luar.

Marco duduk di sofa sambil membaca laporan.

“Romano mulai bergerak lebih cepat,” kata Marco.

Lorenzo tidak menoleh.

“Aku tahu.”

“Dan dia jelas nggak bakal diam setelah kejadian tadi.”

Lorenzo meneguk whiskey sedikit.

“Dia tidak punya pilihan.”

Marco menutup map di tangannya.

“Ada masalah lain.”

Lorenzo akhirnya menoleh.

“Apa.”

Marco melemparkan foto ke meja.

Beberapa pria asing.

Simbol burung hitam di cincin mereka.

“Black Raven.”

Nama itu membuat ruangan langsung berubah dingin.

Lorenzo memperhatikan foto itu lama.

Tatapannya sedikit menggelap.

“Masuk ke Palermo?”

“Iya.”

Marco menghela napas.

“Mereka nggak main-main. Mereka muncul di tempat yang sama dengan Amelia.”

Sunyi.

Nama itu disebut lagi.

Amelia.

Lorenzo menaruh gelasnya.

“Apa hubungannya?”

“Belum jelas,” jawab Marco. “Tapi setiap kali mereka muncul, selalu ada sesuatu yang besar terjadi.”

Lorenzo mengatupkan rahangnya.

“Cari tahu.”

Marco mengangguk.

“Dan Amelia?”

Lorenzo diam sebentar.

“Jaga dia.”

Jawabannya singkat.

Tapi tegas.

Marco tersenyum kecil.

“Sudah kuduga.”

Lorenzo meliriknya.

“Apa.”

“Tidak. Lupakan.”

Kamar Amelia.

Gadis itu akhirnya berdiri dan berjalan ke arah jendela.

Dari kaca besar itu, dia bisa melihat halaman mansion yang luas.

Lampu taman menyala samar.

Tapi semuanya tetap terasa dingin.

Amelia menyandarkan dahi ke kaca.

“Aku harus bagaimana…”

Bisiknya pelan.

Dia benar-benar merasa tidak cocok di dunia ini.

Dunia Lorenzo.

Dunia mafia.

Semua terlalu besar.

Terlalu berbahaya.

Tiba-tiba—

Tok tok.

Amelia langsung menegang.

“Masuk…”

Pintu terbuka.

Lorenzo masuk.

Langkahnya tenang, seperti biasa.

Tapi kehadirannya langsung membuat udara berubah.

Lebih berat.

Lebih sunyi.

Amelia refleks mundur sedikit.

Lorenzo memperhatikan itu sekilas.

“Kau belum makan.”

“Aku… tidak lapar.”

Lorenzo berjalan masuk.

“Bukan pilihan.”

Amelia mengernyit.

“Hah?”

Lorenzo mengambil kursi lalu duduk di dekat meja.

“Mulai sekarang kau harus jaga kondisi.”

Nada suaranya datar, tapi tidak bisa dibantah.

Amelia terdiam.

“Kau marah?”

“Tidak.”

Jawaban cepat.

Terlalu cepat.

Amelia jadi ragu.

Lorenzo berdiri lagi, lalu mengambil makanan dari nampan.

“Duduk.”

Amelia menurut.

Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia selalu menurut saat Lorenzo bicara seperti itu.

Lorenzo mendorong piring ke arah Amelia.

“Makan.”

Amelia ragu.

Tapi akhirnya dia makan pelan.

Lorenzo memperhatikannya diam.

Tidak bicara.

Tidak bergerak.

Tapi matanya tidak pernah benar-benar pergi dari Amelia.

Beberapa menit berlalu dalam hening.

Akhirnya Amelia membuka suara.

“Kenapa kau melindungiku?”

Lorenzo berhenti sejenak.

Lalu menjawab.

“Aku tidak suka urusan yang belum selesai.”

Amelia menatapnya.

“Bohong.”

Lorenzo langsung menoleh.

Amelia sendiri kaget dengan keberaniannya.

Tapi sudah terlanjur.

“Aku merasa… bukan itu alasannya.”

Sunyi.

Lorenzo tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Lalu dia berdiri dan berjalan mendekat.

Langkahnya pelan.

Tapi terasa menekan.

“Dengar,” ucap Lorenzo akhirnya.

Suara rendah.

“Kalau kau tetap di sini, kau akan selalu dalam bahaya.”

Amelia menatapnya.

“Tapi aku tidak bisa pergi.”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Dan itu membuat Lorenzo terdiam.

Amelia sendiri juga kaget.

Kenapa dia bilang begitu?

Lorenzo menatapnya lama.

Sangat lama.

Lalu pelan berkata,

“Kenapa.”

Amelia tidak tahu harus jawab apa.

Karena dia sendiri tidak mengerti.

Kenapa dia tidak ingin pergi.

Kenapa dia merasa aman di dekat pria berbahaya ini.

Kenapa dadanya terasa sesak kalau memikirkan meninggalkan Lorenzo.

Akhirnya Amelia hanya menunduk.

“Aku tidak tahu…”

Lorenzo menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya…

dia terlihat sedikit kehilangan kata.

Lalu dia berkata lebih pelan dari sebelumnya,

“Black Raven mulai bergerak.”

Amelia langsung menatapnya.

“Apa itu?”

“Masalah yang lebih besar dari Romano.”

Amelia menelan ludah.

“Dan aku terlibat?”

Lorenzo tidak langsung menjawab.

Tapi itu cukup untuk membuat Amelia paham.

Iya.

Dia terlibat.

Lorenzo berbalik menuju pintu.

“Jangan keluar kamar.”

Amelia refleks.

“Lorenzo…”

Langkah pria itu berhenti sebentar.

Tapi dia tidak menoleh.

“Kalau kau keluar sekarang…”

Suara Lorenzo lebih pelan.

“…aku tidak bisa menjamin kau selamat.”

Hening.

Dan sebelum Amelia sempat berkata apa pun…

Lorenzo keluar.

Pintu tertutup.

Amelia kembali sendirian.

Tapi kali ini…

dia benar-benar sadar.

Dia tidak lagi hanya “gadis desa yang dijual”.

Dia sudah menjadi sesuatu yang sedang diburu.

Dan itu membuat dunia barunya semakin tidak bisa ditinggalkan.

Amelia masih berdiri di tengah kamar setelah pintu tertutup.

Sunyi.

Terlalu sunyi sampai dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

“Aku tidak bisa menjamin kau selamat…”

Kalimat itu terus berulang di kepalanya.

Bukan karena menakutkan saja.

Tapi karena… ada sesuatu di suara Lorenzo tadi.

Bukan sekadar ancaman.

Tapi seperti… peringatan yang tulus.

Amelia perlahan berjalan ke arah pintu.

Tangannya hampir menyentuh gagang pintu.

Tapi berhenti.

Dia ragu.

Kalau dia keluar sekarang, dia akan melanggar perintah Lorenzo.

Tapi kalau dia diam saja…

dia hanya akan terus berpikir.

Dan itu malah lebih menyakitkan.

“Aku ini sebenarnya siapa di hidupnya…”

Bisiknya pelan.

Di luar kamar.

Lorong mansion gelap dan sepi.

Lorenzo berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Amelia.

Dia tidak langsung pergi.

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Tatapannya sedikit menggelap.

Marco datang dari ujung lorong.

“Dia sudah tidur?” tanya Marco pelan.

Lorenzo tidak langsung menjawab.

Beberapa detik.

Lalu—

“Belum.”

Marco memperhatikan ekspresi bosnya.

Dan dia langsung paham.

Ini bukan soal strategi lagi.

Ini soal Amelia.

“Kalau Black Raven benar-benar bergerak, kita harus pindahkan dia,” kata Marco hati-hati.

Lorenzo langsung menoleh.

Tatapannya dingin lagi.

“Tidak.”

Marco menghela napas.

“Kau terlalu keras kepala.”

Lorenzo berjalan pelan melewati Marco.

“Dia tetap di sini.”

Marco menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Lorenzo berhenti.

Hening sebentar.

Lalu dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar:

“Karena kalau dia pergi…”

Dia berhenti.

Seolah tidak melanjutkan kalimatnya.

Lalu pergi tanpa menjawab lagi.

Marco hanya menatap punggungnya.

Dan kali ini dia tidak tertawa.

Dia serius.

“Bos ini benar-benar sudah berubah…”

gumamnya pelan.

Di kamar Amelia.

Gadis itu akhirnya menjauh dari pintu.

Dia duduk kembali di tepi tempat tidur.

Tangannya memegang jas Lorenzo yang masih ada di sana.

Entah kenapa…

dia tidak mau mengembalikannya.

Amelia memeluk jas itu pelan.

Hangatnya masih terasa samar.

“Aku harus gimana…”

Bisiknya lagi.

Dan di luar sana…

dunia yang lebih gelap sudah mulai bergerak ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!