“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Seminar Dakwah
Pengumuman yang Azzam minta ternyata bukan sekadar rapat biasa.
Pagi itu, seluruh santriwati, Pesantren Al-Farizi dikumpulkan di aula utama. Suasana tegang. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan dibicarakan, tapi bisik-bisik sudah menyebar sejak subuh, ada yang mengatakan Gus Azzam akan mengumumkan perubahan jadwal, ada yang mengatakan ada insiden keamanan, dan ada yang menduga ini ada hubungannya dengan istri Gus yang baru.
Zahra duduk di barisan depan, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jari-jarinya yang memutar tasbih lebih cepat dari biasanya. Ia tahu, secara insting ia tahu... bahwa ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi kemarin sore. Tapi ia tidak khawatir. Ia adalah santriwati teladan. Tidak ada yang bisa menyalahkannya.
Saat Azzam melangkah masuk ke aula, seluruh ruangan hening.
Sorban putihnya sempurna, matanya tajam, dan rahangnya tegas. Ia tidak tersenyum. Tidak ada senyuman tipis yang biasa ia berikan pada santri-santrinya. Yang ada hanyalah aura autoriti yang membuat ruangan terasa lebih kecil.
Kyai Hanan duduk di belakangnya, di kursi pengurus, menatap putranya dengan tatapan yang penuh perhatian. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Azzam, dan ia memberikan restunya.
Azzam berdiri di mimbar, menatap seluruh santriwati yang duduk rapi di bawahnya. Matanya menyapu perlahan, dari barisan belakang, ke barisan tengah, lalu akhirnya jatuh pada Zahra yang duduk di barisan pertama.
"Assalamu'alaikum," sapa Azzam, suara baritonnya menggema di aula.
"Wa'alaikumussalam," jawab seluruh santriwati serempak.
Azzam menarik napas, lalu memulai.
"Saya tidak akan berbicara panjang lebar hari ini. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang sangat penting." Ia berhenti sejenak, matanya mengunci pada audiensinya. "Kemarin, di kajian sore, salah satu santriwati di ruangan ini telah mempermalukan istri saya di depan banyak orang."
Ruangan membeku. Zahra menegang, tangannya berhenti memutar tasbih.
"Istri saya, Naura Aleesha Al-Farizi, datang ke kajian dengan niat baik. Ia ingin belajar. Ia ingin beradaptasi. Ia ingin menjadi bagian dari komunitas ini. Tapi apa yang ia dapatkan? Ia dipermalukan karena tidak bisa membaca kitab gundul. Ia diberitahu bahwa ia tidak pantas berada di ruangan itu. Ia diberitahu bahwa tuganya hanyalah merawat bunga dan urusan duniawi."
Suara Azzam semakin lama semakin keras, tapi tetap terkontrol, seperti api yang dibakar dalam perapian, bukan api yang membakar hutan.
"Ini bukan ajaran yang kita anut di Pesantren Al-Farizi. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan kita untuk merendahkan orang yang sedang belajar. Beliau mengajarkan kita untuk memuliakan tamu, menghormati yang lebih rendah ilmunya, dan menuntun mereka dengan kelembutan, bukan dengan keangkuhan."
Azzam mengambil langkah maju, menatap Zahra langsung di matanya.
"Dan saya ingin bertanya pada santriwati yang memimpin kajian kemari, apakah ilmu yang kamu dapatkan dari bertahun-tahun mengaji mengajarkanmu untuk merendahkan istri orang lain? Apakah kitab-kitab yang kamu baca mengajarkanmu untuk menggunakan ilmumu sebagai senjata, bukan sebagai cahaya?"
Zahra pucat. Cadarnya tidak bisa menyembunyikan keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi tatapan Azzam membuatnya tidak mampu bersuara.
"Jika ada di antara kalian yang merasa berhak menghakimi istri saya," suara Azzam kini menggema seperti deru petir, "ingatlah satu hal. Aku adalah suaminnya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh harga dirinya dengan kata-kata maupun perbuatan."
Aula senyap. Tidak ada suara napas yang terdengar. Beberapa santriwati menunduk, malu. Beberapa lainnya menatap Zahra dengan tatapan tidak setuju.
"Akhir kata," Azzam menurunkan suaranya, kembali ke nada yang tenang namun tetap tegas, "saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Pesantren ini adalah rumah bagi semua orang yang ingin belajar. Termasuk istri saya. Jika kalian tidak bisa menerimanya, itu adalah kekurangan kalian, bukan kekurangannya."
Ia menoleh pada Kyai Hanan, memberikan isyarat hormat, lalu berjalan turun dari mimbar dan keluar dari aula tanpa menoleh kembali.
Ruangan tetap hening beberapa detik setelah kepergiannya, lalu meledak dalam bisik-bisik yang tak terkendali.
Zahra duduk kaku di kursinya, menatap lurus ke depan, matanya kosong. Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya merasa... hancur. Di depan semua orang, Gus Azzam the man she had loved for years telah membela istrinya dan menyinggung nya secara terbuka.
"Dia akan membayar untuk ini," bisik kebencian itu kembali, kaliapi lebih kuat, lebih gelap, lebih berbahaya dari sebelumnya. "Naura akan membayar."
.
.
.
Ia menghabiskan pagi dan siangnya di taman belakang, menanam bibit mawar putih di petak yang telah disiapkan Azzam. Tangannya kotor tanah, kerudungnya sedikit melorot, dan kakinya telanjang menyentuh rumput yang lembap. Tapi ia tersenyum, senyum asli yang datang dari kebahagiaan sederhana menanam bunga di tanah yang subur.
Azzam tidak pulang untuk makan siang. Ia mengirim pesan singkat.
Azzam: Ada urusan di kota. Saya pulang sore. Bersiaplah, nanti saya jemput.
"Bersiaplah? Untuk apa?"
Naura mengerutkan dahi, lalu mengetik balasan.
Naura: Bersiap buat apa?!
Balasan Azzam hanya dua kata.
Azzam: Acara, resmi.
Naura menggerutu, membuang ponselnya ke rumput, dan melanjutkan menanam. Tapi rasa penasaran membuatnya tidak tenang. Acara resmi? Apa itu? Makan malam dengan pengurus? Rapat keluarga? Atau...
Ponselnya bergeta lagi. Pesan dari Cipa.
Cipa: NAURA! GUE BARU DENGAR KABAR DARI TEMEN GUE YANG SANTRIWATI DI PESANTREN LO!
Cipa: GUS AZZAM NGOMELIN SEMUA SANTRIWATI DI AULA! DIA BELAIN LO! DIA NGOMONG "AKU ADALAH SUAMINYA DAN AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN SIAPA PUN MENYENTUH HARGA DIRINYA"!
Cipa: NAURA ALEESHA! LO NIKAH SAMA PRIA TERBAIK DI DUNIA! GUE NANGIS BANGET BACA NYA!
Naura menatap pesan itu, matanya melebar. Azzam... Azzam membela dia di depan semua orang? Lagi? Untuk kali kedua?
Ia menutup mulutnya dengan tangan yang kotor tanah, meninggalkan jejak cokelat di pipinya. Matanya memanas. Bukan karena sedih. Tapi karena... karena pria itu terus membuktikan bahwa ia tidak sendirian.
"Berhenti menangis untuk hal-hal baik," tegur Naura pada dirinya sendiri, mengusap matanya dengan punggung tangan dan justru membuat tanah menempel lebih banyak di wajahnya. "Lo terlihat konyol."
.
.
.
Jam lima sore, Azzam pulang.
Ia masuk melalui pintu belakang dan menemukan Naura di taman, duduk di bangku kayu dengan wajah yang sudah dicuci, tapi ada sedikit tanah yang masih menempel di ujung hidungnya. Gadis itu mengenakan gamis rumahan yang sederhana, kerudungnya sudah dilepas, rambutnya diikat asal-asalan.
Azzam berhenti di ambang pintu, menatap istrinya, dan tersenyum, senyum yang lembut, yang hanya untuk Naura.
"Kamu belum bersiap?" tanya Azzam, berjalan mendekat.
"Bersiap buat apa, Azzam?" Naura mengerutkan dahi. "Kamu nggak jelas soal acara apa."
Azzam berdiri di depan Naura, mengulurkan tangannya, dan mengusap ujung hidung Naura dengan ibu jarinya, menghapus tanah yang tersisa di sana. Gerakan itu begitu lembut, membuat jantung Naura berdebar tak teratur.
"Seminar dakwah di hotel bintang lima di pusat kota," jawab Azzam. "Saya diundang sebagai pembicara utama. Dan saya ingin kamu datang bersamaku."
Naura terkesima. "Aku?! Tapi aku—"
"Kamu istriku," potong Azzam, menatap Naura dengan tatapan yang tak menerima bantahan. "Dan istriku harus duduk di sampingku di acara seperti ini. Kamu tidak perlu berbicara, hanya perlu hadir."
Naura menelan ludah. Seminar dakwah. Hotel bintang lima. Pembicara utama. Dunia Azzam yang sesungguhnya, bukan dunia pesantren yang sempit, tapi dunia di mana Azzam adalah seorang pemimpin, seorang intelektual, seorang figur publik.
"Baik," bisik Naura, mengangguk pelan. "Bentar aku siap-siap dulu."
.
.
.
Satu jam kemudian, Naura berdiri di depan cermin kamar, menatap dirinya dengan tidak percaya.
Ibu Jamilah... dengan bantuan Umi Salma yang datang khusus, untuk membantunya berdandan. Gaun yang dikenakannya adalah gaun ballgown sederhana berwarna emerald green, dengan lengan panjang dan kerah boat neck yang elegan. Kerudungnya disusun rapi oleh Umi Salma, dililitkan dan disemat dengan brooch hijau zamrud pemberian Azzam, membentuk french twist yang anggun.
Riasan wajahnya ringan tapi memukau, alis yang terbentuk sempurna, bulu mata yang terlipat lentik, dan bibir yang diwarnai nude pink. Rambutnya yang tersembunyi di balik kerudung membuat wajahnya tampak lebih tegas, lebih matang, dan sangat... anggun.
"Naura, kamu cantik sekali, Sayang" bisik Ning Salma, matanya berkaca-kaca. "Azzam tidak akan bisa menahan dirinya malam ini."
Naura memerah, menunduk. "Terima kasih, Bu-umi."
Terdengar ketukan di pintu. Suara Azzam terdengar dari luar. "Naura? Kita harus berangkat."
Naura menarik napas panjang, meraih clutch bag kecil di meja, lalu membuka pintu.
Saat ia melangkah keluar, Azzam... yang sedang memakai jam tangannya, menoleh. Dan pria itu terdiam.
Benar-benar terdiam.
Matanya melebar, napasnya tertahan, dan tangannya yang sedang memasang jam tangan berhenti di tengah-tengah. Ia menatap Naura dari atas ke bawah, dari kerudung yang tersusun rapi, ke wajah yang bercahaya, ke gaun emerald yang memeluk tubuh gadis itu dengan sempurna, hingga ke sepatu heels yang membuatnya beberapa sentimeter lebih tinggi.
"Azzam?" panggil Naura ragu, menyadari suaminya tidak bergerak. "Aku... aku terlihat aneh?"
Azzam menelan ludah. Ia memejamkan mata sejenak, seolah sedang berjuang menahan sesuatu, lalu membukanya lagi. Saat ia berbicara, suaranya lebih serak dari biasanya.
"Tidak." Satu kata. Berat. Penuh makna. "Kamu terlihat... luar biasa."
Ia mengulurkan tangannya, dan Naura meraihnya. Saat tangan mereka bersentuhan, Naura merasakan telapak tangan Azzam sedikit lembap, pria itu gugup. Gus Azzam Al-Farizi, yang selalu tenang di atas panggung, gugup karena melihat istrinya.
"Mari," ucap Azzam, suaranya kembali terkontrol, tapi jari-jarinya menggenggam tangan Naura lebih erat dari biasanya. "Kita berangkat."
.
.
.
Hotel Grand Mahakam adalah salah satu hotel termewah di Jakarta.
Aula utamanya telah disulap menjadi ruang seminar yang megah, dengan lampu kristal yang berkilauan, meja-meja bundar berhiaskan bunga segar, dan panggung besar di bagian depan yang dihiasi backdrop bertuliska. SEMINAR DAKWAH NASIONAL: ISLAM DAN TANTANGAN MODERNITAS.
Naura melangkah masuk menggenggam lengan Azzam, merasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Dunia di mana Azzam bukan hanya seorang Gus pesantren, tapi seorang tokoh publik yang dihormati.
Para tamu sudah memenuhi aula, akademisi, tokoh agama, pengusaha, dan pejabat. Saat Azzam melangkah masuk, percakapan terhenti. Semua menoleh, menatap pria itu dengan rasa hormat dan kekaguman.
"Gus Azzam!" sapa seorang pria paruh baya berjas, berjalan mendekat dan berjabat tangan. "Alhamdulillah, Gus bersedia hadir malam ini. Kami sudah lama menunggu."
"Terima kasih atas undangannya, Pak," jawab Azzam sopan, senyum tipisnya kembali, senyum sopan namun tidak terlalu terbuka.
Matanya kemudian menatap Naura, dan senyum itu berubah... lebih lembut. "Izinkan saya memperkenalkan istriku, Naura Aleesha Al-Farizi."
Pria itu menoleh pada Naura, dan ekspresi terkejut muncul di wajahnya, bukan karena Naura cantik, tapi karena ia tidak menyangka Gus Azzam akan membawa istrinya ke acara seperti ini.
"Subhanallah, istri Gus sangat cantik," pria itu berkata, tersenyum ramah. "Senang bertemu dengan Anda, Ning Naura."
"Senang bertemu dengan Bapak juga," jawab Naura, berusaha terdengar percaya diri meski jantungnya berdebar brutal.
Selama satu jam berikutnya, Naura berdiri di samping Azzam, menyaksikan suaminya berinteraksi dengan berbagai tokoh. Ia kagum dengan cara Azzam berbicara, tenang, berwibawa, namun rendah hati. Ia tidak pernah terlihat terintimidasi oleh siapapun, bahkan saat berbicara dengan menteri atau rektor universitas. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, menjawab dengan bijak, dan selalu menyisipkan humor ringan yang membuat lawan bicaranya tersenyum.
Ini adalah sisi Azzam yang belum pernah Naura lihat sebelumnya. Bukan Azzam yang diam di rumah, bukan Azzam yang membaca kitab di masjid, bukan Azzam yang membuat taman bunga di belakang rumah. Ini adalah Azzam di atas panggung, Azzam yang menjadi pemimpin, Azzam yang menjadi pusat perhatian, Azzam yang membuat semua orang terpaku hanya dengan kata-katanya.
Dan Naura... Naura jatuh cinta padanya sekali lagi.
Bukan karena ketampanannya, meski itu tentu membantu. Bukan karena kekuasaannya, meski itu juga mengesankan. Tapi karena cara Azzam memandang dunia, dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan harapan yang tak pernah padam.
"Pria ini suamiku," sadar Naura dengan perasaan yang membuatnya pusing. " ini benar-benar suamiku."
.
.
.
Saat acara seminar dimulai, Naura duduk di kursi barisan depan, khusus untuk keluarga pembicara. Ia duduk di antara Umi Salma dan istri-istri tokoh lainnya, merasa sedikit canggung tapi berusaha menampilkan diri sebaik mungkin.
MC mengumumkan pembicara pertama. Gus Azzam Al-Farizi.
Azzam melangkah naik ke panggung dengan langkah yang mantap. Ia duduk di kursi yang disediakan, lalu berdiri mendekati podium. Mikrofon diletakkan di depan mulutnya, dan aula menjadi senyap.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Suara baritonnya menggema, memenuhi setiap sudut aula. Naura merasakan bulu kuduknya meremang, bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang magis dalam suara itu, yang membuatnya ingin mendengarkan selamanya.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Washshalatu wassalamu 'ala asyrafil anbiyaa iwal mursalin..."
Azzam memulai ceramahnya dengan bacaan Al-Fatihah dan selawat, suaranya merdu seperti saat ia mengaji di tengah malam. Tapi kali ini, suara itu lebih kuat, lebih percaya diri, lebih... memukau.
"Topik malam ini adalah Islam dan Tantangan Modernitas. Dan saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. Apakah modernitas itu musuh agama?"
Aula hening. Semua terpaku pada kata-kata Azzam.
"Banyak orang berpikir bahwa modernitas dan agama adalah dua kutub yang berlawanan. Bahwa jika kamu modern, kamu tidak bisa religius. Bahwa jika kamu religius, kamu tidak bisa modern. Tapi saya tidak setuju."
Azzam berjalan perlahan di atas panggung, tangannya bergerak mengikuti kata-katanya, matanya menatap audiens dengan intensitas yang menawan.
"Islam adalah agama yang diturunkan untuk seluruh umat manusia, di segala zaman, di segala tempat. Islam tidak takut pada modernitas. Islam takut pada kebodohan. Islam takut pada keangkuhan. Islam takut pada hati yang tertutup."
Naura menelan ludah, merasa setiap kata itu ditujukan padanya, tojuk pada keraguannya, kekhawatirannya, dan perjalanannya dari gadis modern yang menolak pesantren menjadi istri Gus yang belajar menerima.
"Dan saya ingin bercerita sedikit," lanjut Azzam, senyum tipisnya muncul. "Saya baru saja menikah. Istri saya bukan perempuan yang tumbuh di pesantren. Dia adalah gadis modern, suka bunga, suka kamera, suka nongkrong cafe. Dan ketika pertama kali ia mendengar bahwa ia akan menikah dengan seorang Gus, ia menolak."
Tawa kecil terdengar dari audiens. Naura memerah, menunduk.
"Ia menolak karena ia takut. Takut kehilangan dirinya. Takut dikurung oleh aturan. Takut tidak diterima. Dan ketakutan itu... valid. Karena banyak di antara kita, termasuk umat Islam...yang menggunakan agama sebagai tameng untuk menghakimi orang lain, bukan sebagai jembatan untuk menyambut mereka."
Aula kembali senyap. Kata-kata Azzam mengena, bukan hanya pada Naura, tapi pada semua orang yang pernah merasa terpinggirkan oleh komunitasnya sendiri.
"Agama bukan penjara. Agama adalah rumah. Dan rumah yang baik adalah rumah yang pintunya selalu terbuka untuk orang yang ingin masuk, bukan rumah yang menguncinya dari dalam."
Azzam menatap ke arah Naura, hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat jantung gadis itu berhenti berdetak.
"Istri saya mengajarkanku bahwa modernitas bukan musuh agama. Modernitas adalah alat. Dan seperti semua alat, tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Kita bisa menggunakan kamera untuk mendokumentasikan keindahan ciptaan Tuhan, atau kita bisa menggunakannya untuk menyebarkan fitnah. Kita bisa menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, atau kita bisa menggunakannya untuk merendahkan orang lain. Pilihan ada di tangan kita."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Jadi, jawaban saya untuk pertanyaan tadi adalah: tidak. Modernitas bukan musuh agama. Musuh agama adalah hati yang tertutup, lisan yang tidak terjaga, dan ilmu yang tidak disertai akhlak. Dan mari kita berjuang bersama agar kita tidak menjadi bagian dari musuh-musuh tersebut."
Aula meledak dalam tepak tangan yang bergemuruh. Berdiri. Semua berdiri. Para tokoh, akademisi, dan jamaah memberikan 'standing ovation' untuk pria di atas panggung itu.
Naura juga berdiri, tangannya bertepuk, matanya memanas. Ia menatap Azzam.. Azzam yang berdiri di atas panggung dengan sorban putih dan jubah hitam, dikelilingi oleh cahaya lampu kristal, mendapat 'standing ovation' dari ratusan orang dan merasa begitu bangga. Bangga bahwa pria itu adalah suaminya. Bangga bahwa pria itu memilihnya. Bangga bahwa pria itu tidak malu membicarakan dirinya di depan semua orang.
Azzam menoleh, menangkap mata Naura di antara lautan manusia, dan tersenyum.
"Itu untukmu," kata senyum itu. "Semua kata-kata itu untukmu."
Air mata Naura jatuh lagi. Tapi kali ini, ia tidak menyembunyikannya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, sambil tersenyum, sambil bertepuk tangan, sambil merasa bahwa mungkin, hanya mungkin... ia tidak lagi hanya jatuh cinta pada pria itu.
Ia sudah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya.
.
.
.