Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*MENINGGALKAN MATA MAYAT*
Sepuluh titik cahaya melesat di langit merah Lembah Gema Mati, dipimpin oleh seorang lelaki tua bungkuk dengan jubah hitam bersulam naga darah yang melambangkan otoritas tertinggi. Di dadanya tersemat lencana emas Klan Naga Hitam, menandakan posisinya sebagai Tetua Ketiga, seorang kultivator tingkat Jiwa Baru Lahir yang auranya mampu membuat udara di sekitarnya seolah membeku.
"Perintah Patriark sudah jelas! Kepung lembah ini dan jangan biarkan satu semut pun meloloskan diri!" suaranya yang parau menggema, memecah kesunyian lembah yang mencekam. "Bocah Fondasi tingkat dua itu tidak penting, biarkan dia mati perlahan. Namun, perempuan dengan Tubuh Yin Es Mutlak itu harus dibawa kehadapanku dalam keadaan hidup dan utuh. Jika ada yang menghalangi, jangan ragu untuk membantai mereka tanpa sisa!"
"Kami mengerti, Tetua! Formasi Kepung Langit segera dilaksanakan!" jawab sepuluh Inti Emas serempak sebelum mereka menyebar, menciptakan pilar-pilar cahaya hitam yang mengunci dimensi di sekitar Lembah Gema Mati agar tidak ada teknik teleportasi yang bisa menembusnya.
Di kedalaman Gua Mata Mayat, suasana justru terasa lebih dingin daripada suhu di luar. Yue Lian berdiri tegak dengan Pedang Es yang memancarkan uap putih mematikan, sementara di kakinya, tiga murid Sekte Awan Abu telah berubah menjadi patung es yang retak-retak.
"Luar biasa... Fondasi tingkat tujuh milikmu benar-benar murni. Sekali tebas, tiga Inti Emas langsung menjadi rongsokan es," puji Penjaga sambil menempelkan Batu Sumur Kering terakhir ke dadanya untuk menambal retakan tubuhnya yang mulai mengeluarkan debu.
"Berhenti memuji dan bantu aku membawa Ling Fan! Tempat ini sudah tidak aman, bau darah ini akan mengundang anjing-anjing yang lebih galak ke sini," sahut Yue Lian dingin seraya menatap Ling Fan yang masih meracau menyebut nama ibunya dalam tidur yang penuh keringat dingin.
"Kau benar, Gua Mata Mayat ini akan segera menutup karena formasinya sudah terdeteksi. Kita harus bergerak ke pusat lembah jika ingin menemukan Batu Sumur yang lebih besar untuk memulihkan kekuatanku!" jawab Penjaga seraya menyeret langkahnya yang berderak kencang menuju pintu keluar.
Yue Lian segera menyambar tubuh Ling Fan yang terasa sangat ringan dan menggendongnya di punggung, membiarkan aura dingin dari tubuhnya sedikit meredam panas yang membakar Dantian bocah itu. Begitu mereka melangkah keluar, gua tersebut bergetar hebat dan perlahan menghilang ke dalam dinding tebing, tidak meninggalkan jejak apa pun bagi para pengejar mereka.
Setelah menempuh perjalanan satu jam di bawah langit merah yang penuh bisikan gaib, Ling Fan akhirnya membuka matanya meski penglihatannya masih sedikit kabur. Ia merasakan kehangatan yang aneh bercampur dingin yang jernih, dan saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di punggung Yue Lian.
"Yue... Lian? Kenapa auramu terasa begitu menekan? Bukankah kau seharusnya masih sekarat di dalam gua?" tanya Ling Fan dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.
"Aku sudah sembuh. Dan sekarang aku adalah pelindungmu, jadi diamlah agar aku bisa fokus berjalan," jawab Yue Lian singkat tanpa mengubah ritme langkahnya.
"Sembuh? Bagaimana bisa?! Aku membagi Dantianku hanya untuk membuatmu bernapas, bukan untuk menjadikanmu monster Fondasi tingkat tujuh dalam sekejap!" teriak Ling Fan panik, mencoba meronta namun tubuhnya terlalu lemah.
"Berhenti meronta, bocah bodoh! Dia memakan buah urat dua belas yang kau berikan!" potong Penjaga dari depan dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Apa?! Kau memakannya?! Yue Lian, kau tahu betapa mengerikannya mimpi buruk itu? Aku baru satu malam dan rasanya ingin mati! Kau pasti sudah gila di dalam sana, kan? Katakan padaku, kau tidak sedang berencana membunuhku sekarang?" cecar Ling Fan dengan mata membelalak ketakutan.
Yue Lian hanya diam, namun Penjaga tertawa terbahak-bahak hingga debu keluar dari retakan lehernya. "Dia tidak seperti kau yang bermental lemah, Ling Fan! Tubuh Yin Es Mutlak miliknya membekukan racun api jiwa itu sebelum sempat menyentuh saraf pusatnya. Dia tidak mimpi, tidak gila, dan justru menyerap seluruh energinya secara sempurna. Dia benar-benar penipu langit yang asli!"
"Ini benar-benar tidak adil! Kenapa hanya aku yang harus disiksa oleh bayangan ayah dan ibuku yang terpenggal?!" raung Ling Fan frustrasi. "Aku yang berjuang mencari buah itu, aku yang hampir mati dimakan mayat hidup, tapi kau yang mendapatkan kekuatannya tanpa rasa sakit sedikit pun! Langit benar-benar pilih kasih, aku ingin protes pada dewa mana pun yang mengatur ini!"
"Kalau kau ingin adil, mungkin kau seharusnya tetap menjadi mayat di Sumur Naga Beku kemarin," balas Yue Lian datar namun pedas. "Dantian Iblismu adalah alasan kita hidup, dan tubuhku adalah alasan kita akan tetap hidup hari ini. Jadi berhentilah merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya."
Mereka tiba di tepi Sumur Kering, sebuah kawah raksasa yang di tengahnya terdapat Batu Sumur Kering sebesar kepala kerbau yang memancarkan energi murni yang luar biasa. Namun, kebahagiaan mereka sirna saat melihat seekor Ular Tulang raksasa sepanjang tiga puluh meter melingkari batu tersebut dengan mata api hijau yang berkilat lapar.
"Ular Tulang Inti Emas Tingkat Puncak... ini buruk," gumam Yue Lian sambil menggenggam erat gagang pedangnya. "Aku tidak yakin bisa menahannya lebih dari sepuluh napas dengan kekuatanku yang sekarang."
"Hanya ada dua pilihan, gadis es! Kau maju sebagai umpan dan aku mencuri batunya, atau kita bangunkan bocah lapar ini untuk menelan ular itu hidup-hidup!" saran Penjaga dengan mata yang juga berkilat penuh nafsu pada batu tersebut.
"Jika dia menelan ular itu, mimpi buruknya akan bertambah menjadi dua puluh delapan malam! Dia akan kehilangan kewarasannya selamanya!" protes Yue Lian keras.
"Tapi gila yang bisa membunuh musuh jauh lebih berguna daripada orang waras yang hanya bisa menjadi mayat di perut ular!" balas Penjaga tidak mau kalah. "Pilih sekarang, karena Tetua Naga Hitam di atas sana sudah mulai turun ke sini!"
Tepat saat itu, langit seolah terbelah oleh tekanan dari Tetua Ketiga yang melesat turun seperti meteor hitam. "Ketemu kalian, tikus-tikus kecil! Serahkan perempuan itu dan aku akan memberikan kalian kematian yang cepat!" teriak sang Tetua dengan tawa kejamnya yang memekakkan telinga.
Yue Lian menatap Ling Fan yang kembali jatuh pingsan karena tekanan aura Jiwa Baru Lahir yang terlalu kuat. Ia menarik napas dalam, membiarkan energi esnya meledak hingga menciptakan badai salju kecil di sekitar mereka.
"Ling Fan... aku tidak punya pilihan lain. Bangun dan tunjukkan pada mereka seberapa lapar monster yang ada di dalam dadamu itu!" teriak Yue Lian seraya menghujamkan pedangnya ke tanah, menciptakan dinding es tebal untuk menahan terjangan pertama dari sepuluh Inti Emas yang datang menyerang.
Pertempuran hidup dan mati di pusat Lembah Gema Mati baru saja dimulai, dan bau kematian mulai tercium lebih tajam daripada sebelumnya.