Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEGER DI DESA TIRO
Pagi hari yang cerah, para petani begitu semangat pergi untuk menghalau burung-burung yang ingin merusak tanam.
Panen besar kan tiba, padi-padi mulai menguning, sawah laksana emas yang menghampar seluruh daerah persawahan.
Srikandi juga turun ke sawah peninggalan ayahnya. Walau hanya dua puluh petak di atas lereng. Hasilnya sangat cukup untuk ....
"Sri!" Rukmi datang bersama seorang pria.
Srikandi yang tengah memainkan orang-orangan sawah menoleh. Rukmi mendatangi keponakannya.
"Sri ini Ki Tanta, dia mau beli semua hasil panenmu sekarang!" ujarnya dengan penuh semangat.
"Tidak dijual!" jawab Srikandi tegas.
"Eh ... Kok enak sekali kamu ...."
"Panen masih tiga hari lagi, Bi. Bibi mau jual ke tengkulak dengan harga rendah dan Bibi kantungi sendiri koinnya?"
"Anak kurang ajar. Jangan menuduh ...."
"Aku tekankan sekali lagi!" potong Srikandi tegas. Ia melepas tali yang menarik orang-orangan sawah.
Ia menatap tajam tengkulak bernama Tanta dan bibinya. Keduanya menelan saliva kasar.
"Aku tidak menjual padiku. Baik sekarang ataupun setelah panen tiba!" lanjutnya penuh tekanan.
Lalu Srikandi kembali meraih tali dan memainkan orang-orangan sawah.
"Jika Bibi mau. Kenapa bukan padi Bibi saja yang dijual!" sahut Srikandi lalu mengabaikan keduanya.
Tatan menatap Rukmi, sementara Rukmi seperti takut untuk bersuara lagi. Ia masih ingat ancaman rajanya saat membawa Srikandi pingsan.
"Jangan usik anak ini. Jika kau mengusiknya dan dia mengeluh lalu aku mendengarnya ...," Prabu Laksa menghentikan ucapannya.
"Aku pastikan kau akan menyusul suamimu di pelabuhan sana!" ancamnya waktu itu.
Rukmi bergidik ngeri jika harus membayangkan dirinya dibuang ke pelabuhan ujung selatan, tempat para pesakitan dan kuli kasar bekerja tanpa ampun di bawah terik matahari.
Mengingat ancaman dingin Prabu Laksa malam itu, nyalinya yang setinggi langit mendadak rontok kelabu.
Ia melirik Ki Tanta yang mulai memasang wajah masam karena merasa waktunya terbuang sia-sia.
"Nok Ayu, bagaimana kalau aku naikkan bayarannya dan uangnya langsung kuserahkan padamu?" rayu Tanta belum mau menyerah.
"Tapi perjanjiannya tidak ...," Rukmi menyela lalu sadar jika terkaan keponakannya barusan itu benar.
"Sudah lah Ki, kau beli saja padi milik Bibiku. Ia butuh pemasukan!" sahut Srikandi abai dengan rayuan tengkulak itu.
Tanta mengengkus pelan, ia menatap tajam ke arah Rukmi. Sementara perempuan itu seperti mati kutu.
"Lain kali yang benar jika ingin kasih informasi!" gerutunya lalu pergi meninggalkan Rukmi.
"Ki ... Tunggu!" Rukmi menatap Srikandi kesal.
"Dasar anak tak tau diri!" umpatnya lalu menyusul tengkulak, Tanta.
Sementara di desa Tiro tampak keributan terjadi. Seorang petani karet berteriak ketakutan keluar dari hutan karet yang letaknya tak jauh dari pedesaan.
"Ada mayat! Ada mayat!" teriaknya dengan wajah pucat dan keringat dingin.
Penduduk pun gempar, para petugas diturunkan dari istana. Mayat itu kini dibawa dengan tandu ke rumah Senopati, Kebo Ireng.
Bau amis darah menyengat. Pria itu menutup hidungnya kuat-kuat untuk menghalau bau busuk dari mayat.
"Mestinya kalian bawa langsung ke pendopo pertahanan! Rumah ini bukan tempat buang mayat tidak dikenal!" umpatnya kesal menatap para petugas yang membawa mayat itu.
""Nuwun pangapunten, Gusti Senopati! Nanging mayit iki ditemokake ing wilayah sing dikuasai Gusti Senopati dhewe!" sahut salah satu petugas.
"Tapi aku tak mengenal orang itu. Pasti dia pendatang dan hendak menjarah hutan. Lalu karena mengganggu sarang harimau jadi dia terbunuh!" sahut Senopati Kebo Ireng.
Salah seorang warga berani membuka penutup mayat. Hampir seluruh wajah tercabik akibat cakaran. Darah sudah mengering mayat itu kehabisan darah.
"Eh ... Bukannya ini salah satu anak buah Nyimas Padan Laran?" serunya mengenali mayat itu.
"Apa?" seru Kebo Ireng kaget begitu juga para warga yang berkumpul di area halaman rumah Senopati.
"Iya ... Dia yang melawan Ki Danar Pati Buksa!" seru pria itu lagi.
Lalu beberapa orang warga maju, melihat wajah mayat. Mereka sangat mengenali pria yang kesehariannya suka memalak pedagang di pasar itu.
"Oh ... iya ... Dia Ki Garta! Syukurlah dia mati diamuk harimau!" seru beberapa wanita lega.
"Kalau begitu. Bawa mayat itu ke warung Nyimas Padan Laran!" titah Kebo Ireng.
"Biar aku ikut kalian!" ujarnya, lalu para petugas membawa mayat itu ke warung di mana Nyimas Padan Laran berada.
Semua warga beramai-ramai mendatangi warung yang tak pernah tutup itu. Didatangi banyak warga, tamu-tamu yang rata-rata adalah pria-pria hidung belang, langsung lari ketakutan.
"Pa'e! Kamu di sini!' teriak seorang perempuan pada salah satu pria yang baru saja lari dari warung itu.
Keributan di depan warungnya, membuat sang pemilik akhirnya turun. Wajah cantik, tubuh molek dan kulit bersih tanpa cacat keluar dengan wajah bingung.
"Aduh ... Ada apa ini di depan warungku?" tanyanya.
Suaranya yang merdu, belum lagi harum kembang kantil yang menyeruak. Semua seperti patung menatap wanita nan cantik itu. Tidak hanya pria yang terpana, tetapi para wanita juga terpukau melihat betapa sempurnanya pahatan dewa di depan mereka.
"Ehem!" Senopati Kebo Ireng berusaha mengatasi situasi.
Ia maju dan berhadapan dengan perempuan yang menggugah kelelakiannya itu.
"Begini Nyimas. Kami menemukan mayat pria ...," ujarnya penuh kewibawaan.
"Mayat pria?" tanya Padan Laran tak mengerti.
"Iya, salah satu warga mengenali jika itu adalah anak buahmu ...," wajah Padan Laran langsung pias.
"Tenanglah, Nyimas. Ini baru dugaan saja ...."
"Biar kulihat!" seru Padan Laran mendekati mayit.
Salah seorang petugas membuka penutup dan wajah mayat itu masih bisa dikenali. Mata Padan Laran melebar sempurna.
"Gatra!" teriaknya histeris.
Ia ingin menghambur ke jasad salah satu centengnya itu. Tangisannya terdengar pilu. Kebo Ireng gegas menahan laju Padan Laran dan memeluknya erat.
"Gatra ... Apa yang terjadi Gatra!" jerit wanita itu dan jatuh pingsan.
Kebo Ireng langsung menggendongnya. Ia menyuruh petugas untuk langsung menguburkan saja mayat itu.
Dua petugas menurut dan membawa mayit ke area pemakaman. Sementara Kebo Ireng membawa Nyimas Padan Laran ke dalam warungnya.
Sementara itu di lereng bukit, Srikandi baru selesai menghalau burung-burung menggunakan orang-orangan sawah.
Ia masuk rumahnya dan akan memasak. Setelah mencuci beras, ia menanaknya di atas anglo.
Hingga terdengar langkah kaki gusar menaiki undakan lereng. Srikandi sangat mengenali suara langkah itu.
"Sri! Sri!" teriak Rukmi bernada panik.
Srikandi langsung awas, perempuan itu datang dengan wajah tegang dan pucat. Matanya besar dan ketakutan.
"Sri ... Geger! Ini geger!" serunya dengan nafas tersengal-sengal.
"Tenanglah Bi ... Ada apa?" tanya Srikandi membawa bibinya duduk.
Rukmi ngos-ngosan, bahunya naik turun. Bahkan detak jantungnya yang cepat dan keras, terdengar Srikandi.
"Minumlah, Bi," suruhnya sambil menyerahkan air dalam gelas tanah liat.
Rukmi menerima gelas itu dan meminumnya cepat, ia sampai terbatuk karena tersedak.
"Tenanglah Bi ... Tenang," Srikandi mengelus punggung bibinya lembut.
Akhirnya setelah beberapa waktu, Rukmi tenang. Tapi gerak matanya liar, seakan-akan ada yang mengejarnya.
"Sri ... Desa Tiro geger Sri!" ujarnya penuh ketakutan.
"Geger?"
"Iya ... Ada mayat ditemukan dengan tubuh hancur akibat luka cakaran binatang buas ...."
"Bi, hutan di dekat Desa Tiro tidak ada hewan buas ...."
Rukmi menatap Srikandi.
"Sri ... Pokoknya Bibi tinggal di sini!"
"Apa?"
bersambung.
Hadeh ...
Next?
lanjut
Srikandi