NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Malam itu, suasana festival kuliner sangat meriah dengan lampu hias yang menggantung di sepanjang jalan. Anna tampil memukau namun tetap sederhana, mengenakan celana santai panjang berwarna cokelat tua yang dipadukan dengan kardigan warna cokelat susu (coksu). Rambutnya yang dikepang sanggul menambah kesan anggun pada wajahnya yang mungil, sambil menjinjing totebag kecil di lengannya.

​Saat sedang asyik menyusuri stan makanan bersama Jolina dan Emma, langkah Anna terhenti. Di depan sana, terlihat Zella, sang tokoh utama, sedang berjalan mesra bersama Arland. Zella yang menyadari keberadaan Anna segera menghampiri dengan senyum manis yang tampak dibuat-buat.

​"Eh, Anna? Kamu di sini juga?" sapa Zella dengan nada basa-basi. "Kebetulan sekali, aku baru saja membeli camilan panas ini. Kamu harus mencobanya."

​Zella menyodorkan wadah berisi makanan yang masih mengepul panas itu kepada Anna. Namun, saat tangan Anna baru saja hendak menerimanya, Zella dengan sengaja melepaskan wadah tersebut hingga isinya tumpah mengenai punggung tangannya sendiri.

​"Aaahhh! Panas!" terpekik Zella sambil memegangi punggung tangannya yang memerah.

​Arland yang melihat kejadian itu langsung naik pitam. Zella pun mulai melancarkan provokasi dengan wajah yang memelas seolah-olah menjadi korban. "Arland, perih sekali... Sepertinya Anna tidak sengaja menyenggol tanganku sampai makanannya jatuh," ucap Zella sambil terisak palsu.

​Mendengar hal itu, Arland tidak mampu lagi menahan amarahnya. Ia merasa Anna sengaja mencelakai Zella karena rasa iri. Tanpa peringatan, Arland melayangkan tamparan keras ke pipi Anna.

​PLAK!

​Anna tersungkur, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut kesakitan akibat tamparan pria itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya karena rasa sakit dan malu yang luar biasa.

​Melihat sahabat mereka diperlakukan secara kasar, Jolina dan Emma tidak tinggal diam. Mereka meledak dalam kemarahan.

​"Apa-apaan kamu, Arland?! Kamu buta ya? Jelas-jelas dia sendiri yang menjatuhkannya!" teriak Jolina sambil mendorong bahu Arland.

​Emma pun tidak kalah berang. Ia langsung menghampiri Zella yang masih bersandiwara. "Jangan berakting jadi korban di sini, Zella! Kami melihat semuanya dengan jelas!" bentak Emma sambil mencoba membalas perlakuan Zella, sementara suasana di festival itu mendadak mencekam karena keributan tersebut.

Zella terus melanjutkan sandiwaranya di depan kerumunan orang yang mulai berkumpul. Ia memegangi punggung tangannya yang memerah dengan ekspresi wajah yang sangat menderita, namun suaranya terdengar begitu lembut seolah ia adalah malaikat yang terzalimi.

​"Sudahlah Arland, mungkin ini memang salahku," ucap Zella dengan nada bergetar, sengaja memancing simpati. Ia menatap Anna dengan pandangan memelas. "Maaf ya, Anna. Meskipun kamu dulu sering jahat kepadaku dan selalu berusaha mencelakaiku, aku tidak akan marah kok. Aku sudah memaafkanmu."

​Provokasi itu berhasil telak. Orang-orang di sekitar festival mulai berbisik-bisik dan menatap Anna dengan tatapan menghina, menganggap Anna adalah gadis jahat yang tidak tahu diri karena telah mencelakai Zella yang "baik hati".

​Anna hanya bisa terdiam, pipinya masih terasa panas dan perih akibat tamparan Arland, sementara hatinya jauh lebih sakit karena fitnah yang dilemparkan Zella secara terang-terangan.

​Jolina yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya dipermalukan, segera merangkul bahu Anna dan menariknya pergi dari kerumunan itu. "Ayo Anna, jangan dengarkan nenek sihir ini! Kita pergi dari sini sekarang juga," tegas Jolina dengan nada penuh proteksi.

​Sementara itu, Emma berdiri paling depan, menatap tajam ke arah Zella dan Arland dengan mata yang menyala penuh amarah. Ia tidak sudi membiarkan mereka merasa menang begitu saja.

​"Lo benar-benar licik, Zella! Dan lo, Arland, lo bakal menyesal karena sudah berani main tangan ke Anna," ancam Emma dengan suara rendah yang penuh penekanan. "Ingat kata-kata gue, lo berdua bakal gue balas lebih dari ini. Nikmati saja kemenangan palsu kalian malam ini!"

​Setelah memberikan ancaman itu, Emma segera menyusul Jolina dan Anna, meninggalkan Zella yang masih bersandar manja di lengan Arland di tengah kerumunan festival yang kini memandang Anna dengan sebelah mata.

Anna mencoba tersenyum meskipun pipinya masih memerah akibat tamparan Arland. "Aku tidak apa-apa, kok," ucapnya menenangkan kedua sahabatnya. "Sudah mulai baikan. Kita pulang saja ya? Besok festivalnya masih ada, kita bisa ke sini lagi."

​Emma menghela napas berat, menatap Anna dengan iba. "Ya sudah, kalau itu maumu. Ayo kita pulang," sahutnya ketus karena masih menyimpan dendam pada Zella. Mereka pun akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

​Di kediaman keluarga Elion, suasana ruang tengah tampak tenang. Mama dan Papa Elion sedang bersantai, sementara Axel duduk di sofa tunggal sambil memeriksa beberapa dokumen di tabletnya. Keheningan itu pecah saat Jolina melangkah masuk dengan hentakan kaki yang keras. Wajahnya merah padam karena menahan amarah yang meledak-ledak.

​Jolina langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar, membuat Mama Elion tersentak heran.

​"Jolina? Ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa pulang-pulang sudah seperti singa kelaparan?" tanya Mama lembut namun penuh rasa ingin tahu.

​Jolina tidak bisa menahan diri lagi. "Ma, Jolina benar-benar muak! Tadi di festival kuliner, Anna difitnah habis-habisan oleh Zella!" seru Jolina menggebu-gebu.

​Mendengar nama 'Anna' disebut, gerakan tangan Axel di atas tabletnya terhenti seketika.

​"Zella sengaja menjatuhkan makanan panas ke tangannya sendiri, lalu berakting seolah-olah Anna yang melakukannya," lanjut Jolina dengan suara bergetar karena emosi. "Dan yang paling membuatku gila, Arland langsung percaya begitu saja! Dia memaki Anna di depan umum, bahkan... bahkan pria brengsek itu menampar Anna sampai terjatuh!"

​BRAK!

​Axel meletakkan tabletnya di meja kaca dengan bunyi dentuman yang cukup keras. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat mencekam. Rahang Axel mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya memancarkan kilat amarah yang sangat gelap.

​Mama Elion menutup mulutnya karena terkejut. "Apa? Ditampar? Kasihan sekali Anna..."

​Axel bangkit berdiri tanpa pamit, aura dingin dan kejam yang biasanya ia tunjukkan di kantor kini keluar sepenuhnya. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Jolina maupun orang tuanya, namun cara ia berjalan keluar ruangan menandakan bahwa Arland dan Zella baru saja menggali liang kubur mereka sendiri.

Anna baru saja akan mematikan lampu kamar saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor asing tertera di layar. Dengan dahi berkerut, ia menggeser tombol hijau.

​"Halo?" ucap Anna dengan nada bertanya-tanya.

​"Turun," suara di seberang sana sangat berat dan familiar, dingin namun mengandung otoritas yang tidak terbantahkan.

​Paman Axel? jantung Anna seketika berdegup kencang. "Paman? Sekarang? Tapi..."

​"Saya di bawah. Turun dan buka pintunya, Anna."

​Sambungan terputus. Anna tidak menunggu sedetik pun; ia berlari menuruni anak tangga dengan jantung yang berpacu. Ia sempat memastikan keadaan rumah—syukurlah, Mama dan Papa sudah tidur sejak tadi, jadi mereka tidak akan menyadari kehadiran pria berbahaya ini di tengah malam.

​Anna membuka pintu depan dan napasnya tertahan. Axel berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sudah sedikit berantakan seolah ia baru saja melepas dasinya dengan kasar. Tanpa basa-basi, pria itu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya, mengunci akses dari dunia luar.

​Axel tidak membuang waktu. Tangannya yang besar dan hangat langsung terulur, jemarinya menyentuh sisi pipi Anna yang tadi ditampar Arland dengan sangat lembut, seolah ia takut menyakiti gadis itu lebih jauh.

​"Siapa yang melakukan ini?" tanya Axel. Suaranya rendah, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di dalamnya. Mata tajamnya menatap bekas kemerahan di pipi Anna dengan tatapan yang bisa membunuh.

​"P-paman... tidak apa-apa, ini hanya tamparan biasa," jawab Anna lirih, berusaha menghindar namun Axel menahan dagunya agar tetap menatapnya.

​"Bagi mereka, ini mungkin biasa. Bagi saya, ini adalah deklarasi perang," desis Axel. Ia mengusap pipi Anna dengan ibu jarinya, sentuhannya berpindah dari rasa amarah menjadi rasa kepemilikan yang intens. "Katakan padaku, Anna. Apakah kau masih merasa sakit?"

​"Sedikit," bisik Anna jujur. Ia menunduk, merasa malu karena harus menunjukkan kelemahannya di depan pria sedominan Axel. "Paman, kenapa Paman ke sini? Ini sudah sangat malam."

​Axel membawa wajahnya mendekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku tidak bisa tidur mengetahui milikku disakiti oleh bajingan yang bahkan tidak pantas menginjak tanah yang kau pijak," bisik Axel tepat di depan bibir Anna. "Malam ini, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja... sebelum aku menghancurkan mereka besok pagi."

​Anna tertegun. Kata 'milikku' yang diucapkan Axel membuatnya merasa terlindungi sekaligus takut akan apa yang akan pria ini lakukan terhadap Arland dan Zella. "Paman, jangan melakukan sesuatu yang berlebihan..."

​Axel tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya. "Berlebihan? Anna, kau belum melihat apa itu arti 'berlebihan' dalam kamusku."

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!