Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Seraphina Kehilangan Investor
Pagi itu, mansion keluarga Moretti dipenuhi suasana tegang.
Para pelayan berjalan lebih cepat dari biasanya.
Beberapa bahkan saling melirik diam-diam saat melewati ruang makan utama.
Karena sejak subuh…
suara benda pecah sudah terdengar dua kali.
Dan semua orang tahu penyebabnya hanya satu:
Seraphina Moretti sedang marah besar.
“Bagaimana ini bisa terjadi?!”
BRAK!
Sebuah map dilempar keras ke meja kaca.
Salah satu manajer senior langsung menunduk tegang.
Di depan mereka, Seraphina berdiri dengan wajah dingin yang nyaris kehilangan kendali.
Gaun mahal dan penampilan elegannya pagi itu tidak mampu menyembunyikan amarah di matanya.
“Investor dari Hong Kong membatalkan kerja sama?”
Tak ada yang berani menjawab cepat.
Ruangan terasa menekan.
Akhirnya salah satu staf keuangan berkata pelan,
“Mereka… memilih bekerja sama dengan Vasiliev Group.”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Seraphina perlahan tertawa kecil.
Namun tawanya justru terdengar menyeramkan.
“Vasiliev lagi.”
Ia berjalan pelan ke arah jendela besar.
Tatapannya tajam menatap kota di luar.
Sejak Elara muncul sebagai pewaris keluarga Vasiliev…
semuanya mulai berubah.
Media berubah.
Investor berubah.
Pasar berubah.
Dan yang paling membuatnya marah—
orang-orang mulai membandingkan mereka.
“Alasan mereka?”
Salah satu staf menjawab gugup,
“Mereka mengatakan Vasiliev sekarang terlihat lebih… stabil.”
Kalimat itu langsung membuat Seraphina menoleh tajam.
“Stabil?”
Tak ada yang berani bicara lagi.
Karena semua orang tahu arti sebenarnya dari kata itu.
Investor tidak percaya lagi pada keluarga Moretti.
Skandal kalung berlian.
Tuduhan palsu.
Konflik internal.
Dan rumor tentang Damian yang mulai menjauh dari keluarga.
Semua itu perlahan menghancurkan citra sempurna yang selama ini dibangun Seraphina.
Wanita itu menarik napas panjang.
Namun amarahnya justru semakin terasa.
“Siapkan pertemuan dengan investor Singapura.”
“Sudah dicoba, Nyonya…”
“Apa?”
“Mereka juga menunda.”
Seraphina membeku.
“Menunda?”
“Ya.”
“Karena apa?”
Staf itu ragu beberapa detik.
Lalu menjawab pelan,
“Mereka ingin melihat perkembangan audit internal Vasiliev Group terlebih dahulu.”
Ruangan langsung terasa dingin.
Dan untuk pertama kalinya…
Seraphina benar-benar merasakan ancaman nyata dari Elara.
Dulu wanita itu hanya seseorang yang bisa ia usir kapan saja.
Sekarang?
Nama Elara mulai memengaruhi keputusan miliaran dolar.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.
Damian masuk.
Dan begitu melihat putranya, ekspresi Seraphina langsung berubah keras.
“Kau akhirnya datang.”
Damian berjalan masuk dengan tenang.
“Ada apa?”
Seraphina tertawa sinis.
“Kau bertanya ada apa?”
Ia mengambil tablet lalu melemparkannya ke meja depan Damian.
“Lihat sendiri.”
Damian membaca cepat berita bisnis di layar.
MORETTI HOLDINGS KEHILANGAN INVESTOR ASIA
Ia menghela napas pelan.
“Pasar memang sedang sensitif.”
“Ini bukan soal pasar!”
Bentak Seraphina.
“Ini soal reputasi keluarga kita yang hancur!”
Damian diam.
Dan diamnya justru semakin membuat Seraphina marah.
“Sejak wanita itu muncul…”
tatapannya penuh kebencian,
“…semuanya mulai kacau.”
Damian langsung mengangkat kepala.
“Jangan salahkan Elara untuk semua masalah perusahaan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa staf langsung pura-pura sibuk menunduk.
Karena sudah lama Damian tidak pernah membantah ibunya secara langsung.
Seraphina menatapnya tajam.
“Kau membelanya sekarang?”
“Aku hanya bicara fakta.”
“Fakta?”
Ia tertawa dingin.
“Fakta bahwa dia mempermalukan keluarga kita?”
“Yang mempermalukan keluarga ini bukan Elara.”
Kalimat Damian keluar tenang.
Namun cukup membuat udara di ruangan membeku.
Seraphina perlahan menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
Damian menatap ibunya lurus.
“Kita sendiri.”
Hening.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan para staf terlihat seperti ingin menghilang dari ruangan itu.
Karena mereka sadar—
percakapan ini sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.
Seraphina melangkah mendekat.
“Kau berubah sejak wanita itu pergi.”
Damian tertawa kecil tanpa humor.
“Mungkin karena akhirnya aku mulai melihat dengan jelas.”
“Melihat apa?”
Tatapannya dingin.
“Bahwa selama ini kita terlalu sibuk menjaga nama keluarga…”
ia berhenti sejenak,
“…sampai lupa cara memperlakukan manusia.”
BRAK!
Seraphina membanting meja.
“Cukup!”
Amarahnya akhirnya benar-benar meledak.
“Jangan bicara seolah semua ini salahku!”
Damian diam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan,
“Bukankah memang begitu?”
Kalimat itu seperti tamparan langsung.
Wajah Seraphina berubah pucat karena marah.
“Aku melakukan semua ini untuk keluarga!”
“Tidak.”
Damian menggeleng pelan.
“Kau melakukan semua ini untuk harga dirimu.”
Tatapan mereka saling bertabrakan.
Dingin.
Keras.
Penuh luka lama yang selama ini tidak pernah dibahas.
“Aku membesarkanmu untuk menjadi pewaris Moretti!”
“Dan aku menghargainya.”
“Lalu kenapa sekarang kau berdiri melawanku karena seorang wanita?”
Damian terdiam sejenak.
Lalu berkata pelan,
“Karena wanita itu…”
ia menarik napas panjang,
“…satu-satunya orang yang pernah tulus peduli padaku tanpa meminta apa pun.”
Sunyi.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari bentakan.
Seraphina tertawa kecil.
Namun matanya mulai terlihat goyah.
“Tulus?”
“Ya.”
“Dia hanya mencari posisi!”
Damian langsung menggeleng.
“Kalau dia hanya mengejar kekayaan…”
tatapannya tajam,
“…dia tidak akan pergi malam itu tanpa membawa apa pun.”
Ruangan kembali hening.
Dan untuk pertama kalinya…
Seraphina tidak langsung punya jawaban.
Karena jauh di dalam dirinya—
ia tahu Damian benar.
Elara memang pergi tanpa mengambil apa pun.
Tidak uang.
Tidak perhiasan.
Tidak fasilitas.
Ia pergi hanya membawa harga dirinya yang sudah dihancurkan.
Dan justru itulah yang membuat Seraphina semakin tidak nyaman.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik,” katanya dingin.
“Kau pewaris keluarga Moretti.”
Damian diam.
“Kau tidak akan menghancurkan masa depanmu demi wanita itu.”
Damian tersenyum pahit.
“Terlambat.”
Seraphina mengernyit.
“Apa?”
“Aku sudah menghancurkannya sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Damian berbalik pergi.
Namun sebelum keluar ruangan, ia berhenti sebentar.
“Dan satu lagi.”
Seraphina menatapnya.
“Kalau investor mulai meninggalkan kita…”
Damian menoleh sedikit,
“…mungkin mereka hanya lebih cepat sadar dibanding kita.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan ruangan dalam kesunyian panjang.
BRAK!
Begitu pintu tertutup, Seraphina langsung melempar gelas kristal ke lantai.
Pecah berkeping-keping.
“Semua karena dia!”
Suara napasnya terdengar berat.
Amarah.
Panik.
Dan sesuatu yang mulai tumbuh tanpa ia sadari:
takut.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Seraphina merasa mulai kehilangan kendali.
Bukan hanya atas bisnis.
Tapi juga atas putranya sendiri.
Sementara itu di Vasiliev Group, suasana jauh berbeda.
Ruang rapat kecil dipenuhi beberapa investor asing yang datang langsung dari luar negeri.
Dan di tengah mereka—
Elara duduk dengan tenang sambil menjelaskan strategi baru perusahaan.
“Fokus kami bukan hanya pertumbuhan cepat,” katanya.
“Tapi pertumbuhan yang bertahan.”
Salah satu investor tersenyum.
“Jarang ada perusahaan besar yang bicara soal stabilitas jangka panjang.”
Elara menjawab tenang,
“Karena banyak yang terlalu sibuk terlihat besar.”
Ruangan tertawa kecil.
Namun di balik senyum itu…
mereka tahu wanita ini berbeda.
Setelah pertemuan selesai, Viktor mendekat.
“Kabar tentang Moretti mulai menyebar.”
Elara menutup dokumen perlahan.
“Investor mereka?”
“Dua mundur. Satu menunda.”
Elara diam beberapa detik.
Tak ada rasa puas di wajahnya.
Hanya kelelahan.
Karena sebenarnya…
ia tidak pernah benar-benar ingin perang ini terjadi.
“Dan ada satu berita lagi.”
“Apa?”
Viktor terlihat ragu.
“Tuan Damian mulai bentrok terbuka dengan Seraphina.”
Langkah Elara berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
Namun Viktor tetap menyadarinya.
“Aku tidak peduli urusan keluarga mereka,” kata Elara akhirnya.
Nada suaranya datar.
Terlalu datar.
Viktor mengangguk pelan meski tidak sepenuhnya percaya.
Karena ia tahu satu hal:
beberapa luka memang bisa ditinggalkan.
Tapi tidak semuanya benar-benar hilang.
Malam hari, Seraphina duduk sendirian di ruang kerja mansion Moretti.
Lampu redup.
Laporan keuangan berserakan di meja.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…
ia merasa terpojok.
Ponselnya bergetar.
Panggilan masuk dari investor lama.
Seraphina langsung menjawab cepat.
Namun wajahnya perlahan berubah dingin selama percakapan berlangsung.
“Saya mengerti.”
Nada suaranya mulai kaku.
“Tentu. Kita bisa bicara lagi nanti.”
Panggilan berakhir.
Dan perlahan…
Seraphina menurunkan ponselnya.
Investor itu juga mundur.
Hening memenuhi ruangan besar itu.
Wanita elegan yang selama ini selalu terlihat tak terkalahkan kini duduk diam dengan rahang menegang.
Dan di dalam kepalanya…
hanya ada satu nama.
Elara.
Tatapannya perlahan berubah tajam.
Dingin.
Berbahaya.
“Kalau kau pikir bisa menghancurkan keluargaku begitu saja…”
ia berbisik pelan,
“…maka kau belum benar-benar mengenalku.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak Elara kembali—
Seraphina mulai memutuskan sesuatu.
Ia tidak akan hanya bertahan.
Ia akan menyerang balik.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄