Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEPERANGAN HEBAT
Langit di Alam Kegelapan bukanlah langit yang dikenal manusia. Tidak ada matahari yang bersinar terang, tidak ada awan putih yang berarak. Di atas negeri tempat para vampir berdiam, langit selalu berwarna ungu kelabu, diselimuti kabut tebal yang berbau logam dan bunga kematian, diterangi cahaya bulan kemerahan yang tak pernah berubah posisinya. Di sinilah berdiri Kerajaan Valtoria, kerajaan tertua dan terkuat yang dipimpin oleh Raja Valerius — ayah dari Liam, satu-satunya pewaris sah takhta, pemilik darah murni yang mengalir dari garis keturunan dewa malam.
Namun, kekuasaan yang bertahan ribuan tahun itu kini berada di ujung tanduk. Perselisihan antar klan telah meletus menjadi api perang yang tak terpadamkan. Klan Mortis, kelompok vampir yang haus kekuasaan dan menganggap aturan Raja Valerius terlalu lembut karena melarang pembantaian besar-besaran, telah bersekutu dengan makhluk-makhluk gelap dari kedalaman bumi: serigala raksasa, penyihir hitam, dan makhluk tanpa wujud yang hidup dari rasa takut. Mereka menganggap darah murni Liam adalah satu-satunya penghalang bagi mereka untuk menguasai seluruh Alam Kegelapan, bahkan dunia manusia sekalipun.
Di dalam istana yang dibangun dari batu hitam dan tulang-tulang makhluk purba, suasana sangat tegang. Liam, yang baru berusia seratus tahun — yang dalam usia vampir berarti ia masih muda, namun sudah memiliki kekuatan yang luar biasa dan kecerdasan tajam — berdiri di dekat jendela tinggi. Ia menatap ke bawah, ke arah benteng pertahanan yang mulai dikepung pasukan musuh. Wajahnya yang tampan, berkulit seputih pualam dan bermata kelam berkilauan, kini dipenuhi kekhawatiran.
"Ayah," suara Liam rendah namun bergetar. "Mereka datang dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari yang kita duga. Benteng luar sudah jatuh. Pasukan penjaga gerbang timur sudah dikalahkan."
Raja Valerius berdiri membelakangi anaknya. Sosoknya gagah, jubahnya berwarna merah darah dengan sulaman benang emas, namun bahunya tampak berat seolah menanggung beban seluruh dunia. Ia berbalik, menatap wajah putranya dengan tatapan yang bercampur antara kebanggaan dan kepedihan mendalam. Ia tahu, malam ini mungkin adalah malam terakhir mereka bersama.
"Liam, dengarkan aku baik-baik," ucap Raja Valerius, suaranya berat namun tegas. "Perang ini bukan sekadar perebutan takhta. Ini adalah perang untuk memusnahkan garis keturunan kita. Klan Mortis tidak akan berhenti sampai darah murni kita lenyap dari muka bumi. Selama kau masih hidup, aku masih punya harapan. Tapi jika kau tertangkap atau terbunuh, maka seluruh sejarah Valtoria akan berakhir malam ini juga."
Gemuruh suara benturan keras terdengar dari kejauhan, disusul jeritan pasukan dan suara sihir yang meledak membelah udara. Tanah berguncang hebat, debu dan batu berjatuhan dari langit-langit ruang takhta yang megah namun kini mulai retak
PERTEMPURAN DARAH DI GERBANG ISTANA
Pintu-pintu besar ruang kerajaan terbuka paksa. Pasukan musuh sudah menembus pertahanan terakhir. Di depan sana, terlihat sosok pemimpin pemberontak — Lord Kael, pemimpin Klan Mortis, pria yang dulu adalah saudara seperguruan Raja Valerius, namun kini menjadi musuh paling kejam. Di belakangnya berbaris ribuan pasukan dengan mata menyala merah, taring mereka terlihat tajam dan panjang, siap untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
"Serahkan anakmu, Valerius!" teriak Lord Kael, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Serahkan Liam, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cepat dan terhormat! Darah mudanya akan menjadi kunci kekuatan mutlak bagi kami. Dunia ini akan menjadi milik kami sepenuhnya!"
Raja Valerius mengulurkan tangannya, dan sebilah pedang panjang berkilauan berwarna merah gelap muncul di genggamannya — pedang pusaka yang ditempa dari logam langka dan darah para leluhur. Ia melangkah maju, berdiri di depan Liam seolah menjadi perisai hidup bagi putranya.
"Kau tidak akan pernah menyentuh sehelai rambut pun dari anakku, Kael! Selama aku masih bernapas, kau harus melewati mayatku dulu!" bentak Raja Valerius.
Pertempuran pun meletus. Raja Valerius bertarung sendirian melawan puluhan pasukan elit musuh sekaligus. Gerakannya begitu cepat, hampir tak terlihat oleh pandangan biasa. Setiap ayunan pedangnya membelah udara dan memotong tubuh musuh yang berani mendekat. Darah berceceran ke mana-mana, menodai lantai marmer putih istana yang kini berubah menjadi merah pekat. Namun, jumlah musuh tak habis-habisnya. Semakin banyak yang jatuh, semakin banyak lagi yang datang menggantikan, didorong oleh ambisi dan sihir gelap Lord Kael.
Liam juga tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan kekuatannya, gelombang energi hitam menyebar dari tubuhnya, mendorong mundur siapa saja yang berani mendekat. Tangan kanannya berubah menjadi cakar tajam, matanya berubah menjadi merah menyala, dan taringnya menjulur keluar. Ia bertarung dengan amarah yang meluap-luap, membela ayahnya, membela rumahnya. Namun, meski darah murni mengalir di nadinya, pengalaman bertarung Liam belum sebanding dengan kekejaman musuh yang sudah hidup berabad-abad lamanya.
Sebuah serangan sihir hitam yang besar dan gelap melesat ke arah Liam dari belakang. Raja Valerius melihatnya, dan tanpa berpikir panjang, ia melompat menubruk anaknya hingga mereka berdua terguling ke samping. Serangan itu menghantam pilar penyangga utama istana, membuat bangunan raksasa itu runtuh sebagian, menimbun banyak prajurit di bawah tumpukan puing batu besar.
Raja Valerius terengah-engah, darah mengalir dari luka di bahu dan dadanya. Ia tahu, kekuatannya mulai habis. Ia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Lord Kael berjalan mendekat perlahan, tersenyum sinis seolah sudah memegang kemenangan mutlak di tangannya.
"Sudah berakhir, saudaraku," kata Lord Kael dingin. "Kau hebat, tapi kau terlalu tua dan terlalu lembut. Dunia ini milik yang kuat, dan kami adalah yang terkuat sekarang."
BAB 3: KEPUTUSAN BERAT DAN GERBANG PENGASINGAN
Raja Valerius menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Liam yang berdiri di sampingnya, wajah pemuda itu penuh luka, napasnya memburu namun matanya masih berapi-api, tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut. Di dalam hati Raja Valerius, rasa bangga bercampur dengan kepedihan yang tak terlukiskan. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan garis keturunan mereka, satu-satunya cara agar Liam tetap hidup dan suatu hari nanti bisa kembali menuntut balas.
"Liam, mendekatlah," bisik Raja Valerius sambil menepuk bahu anaknya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk seperti liontin hitam berukir lambang naga — kunci gerbang terlarang. "Dengar, ada satu jalan keluar yang belum diketahui siapa pun selain aku. Gerbang Pengasingan. Gerbang yang menghubungkan dunia kita dengan dunia manusia. Di sana, sihir kita lemah, kekuatan kita terbatasi, dan jejak sihir kita akan hilang tertutup oleh sihir alam manusia. Di sana, kau akan aman."
Liam terkejut, matanya membelalak. "Ayah? Apa maksudmu? Aku tidak akan pergi! Aku akan bertarung di sampingmu sampai tetes darah terakhirku!"
"Jangan bodoh!" bentak Raja Valerius, namun suaranya bergetar menahan tangis. "Kalau kau tetap di sini, kita berdua akan mati hari ini juga, dan nama kita akan hilang ditelan sejarah. Kau harus hidup! Kau harus bertahan! Di dunia manusia, kau akan tumbuh, kau akan belajar, dan kau akan mengumpulkan kekuatan. Ingatlah, darahmu adalah darah raja. Kau bukan makhluk biasa. Suatu hari nanti, saat waktunya tiba, kau akan kembali ke sini, dan kau akan mengembalikan kejayaan Valtoria. Tapi untuk sekarang... kau harus pergi."
Suara langkah kaki musuh semakin mendekat. Lord Kael sudah hanya berjarak beberapa meter saja, siap menghabisi mereka berdua. Raja Valerius segera menarik tangan Liam, berlari menembus lorong rahasia di balik dinding ruang takhta, lorong yang hanya bisa dibuka oleh darah keluarga kerajaan.
Mereka sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap dan gelap. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah gerbang batu besar, diukir dengan simbol-simbol kuno yang berkilauan samar. Raja Valerius mengangkat liontin itu, menempelkannya ke tengah gerbang. Suara gemuruh berat terdengar, dan perlahan gerbang itu terbuka, memancarkan cahaya putih keperakan yang menyilaukan, sangat berbeda dengan cahaya merah yang biasa ada di dunia mereka.
"Melangkahlah, Liam," perintah Raja Valerius sambil mendorong anaknya mendekat ke cahaya itu. "Begitu kau masuk, ingatlah hal ini: Kau harus menyembunyikan jati dirimu. Jangan biarkan siapa pun tahu apa kau sebenarnya. Kau akan menjadi manusia. Kau akan hidup seperti mereka. Rasa haus darah itu akan tetap ada, tapi kau bisa mengendalikannya. Ingat ajaranku. Ingat siapa dirimu."
Liam menatap ayahnya dengan mata berair, sesuatu yang jarang terjadi pada vampir. Ia tahu, saat ia melangkah masuk ke gerbang itu, ia mungkin tidak akan pernah melihat ayahnya lagi.
"Ayah... ikutlah bersamaku. Kita bisa bertahan hidup di sana bersama," mohon Liam, suaranya memohon.
Raja Valerius menggeleng pelan, tersenyum sedih. "Aku harus tetap di sini. Aku harus menahan mereka agar kau punya waktu untuk pergi. Ini takdirku, Liam. Dan ini takdirmu. Sekarang pergilah! Itu perintah rajamu!"
Di ujung lorong, terdengar suara teriakan dan benturan pintu yang dihancurkan. Musuh sudah menemukan jalan masuk ke ruangan ini. Raja Valerius berbalik, mengangkat pedangnya lagi, bersiap untuk menghadapi ribuan musuh sendirian agar anaknya selamat.
"PERGI SEKARANG, LIAM! JANGAN PERNAH LUPA DARAH YANG MENGALIR DI TUBUHMU!" teriak Raja Valerius untuk terakhir kalinya.
Dengan hati yang hancur dan rasa sakit yang tak terbayangkan, Liam melangkah masuk ke dalam cahaya putih itu. Tubuhnya terasa ringan, seolah ditarik oleh arus angin yang sangat kencang. Di detik terakhir sebelum gerbang tertutup rapat, ia melihat sosok ayahnya yang gagah namun sendirian, dikelilingi lautan musuh, siap berjuang sampai mati demi putranya. Gerbang itu menutup, dan kegelapan total menyelimuti Liam, memisahkannya selamanya dari dunia asalnya.
TERDAMPAR DI ANTARA POHON TUA
Sensasi jatuh dari ketinggian dan rasa berputar hebat menyerang seluruh tubuh Liam. Ia merasa seolah ditarik, didorong, dan dilempar melintasi ruang dan waktu. Ingatannya sedikit demi sedikit menjadi kabur, kepalanya terasa sangat berat, seolah ada kabut tebal yang menutupi sebagian memori ingatannya. Kekuatan yang biasanya mengalir deras di nadinya kini terasa terkunci, tertekan, dan jauh lebih lemah dari biasanya. Sihir yang dulu ia kendalikan dengan mudah, kini terasa jauh dan sulit dijangkau.
Liam merasakan tubuhnya menghantam sesuatu yang empuk dan basah. Rasa sakit menusuk seluruh persendiannya, namun rasa itu berbeda — lebih tajam, lebih nyata, lebih manusiawi. Ia mengerang pelan, perlahan membuka matanya yang berat. Cahaya yang masuk ke matanya sangat terang, bukan cahaya merah bulan kemerahan, melainkan cahaya putih kekuningan yang menyilaukan. Ia menutup matanya kembali, berusaha menyesuaikan diri dengan suasana baru ini.
Perlahan, Liam bangkit berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor dan basah terkena tanah serta lumut. Ia menatap sekeliling dengan tatapan bingung dan kosong. Di sekelilingnya hanya ada pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, berdaun lebat dan rimbun, jauh lebih hijau dan hidup dibandingkan pepohonan kering dan berduri yang ada di alam asalnya. Udara di sini terasa berbeda — segar, dingin, dan berbau tanah basah, rumput, serta bunga-bunga liar. Tidak ada bau darah, tidak ada bau besi atau kematian yang biasa ia hirup setiap hari.
Namun, keindahan itu tidak membuat Liam merasa tenang. Sebaliknya, rasa sepi yang mencekam menyergap hatinya. Ia sendirian. Benar-benar sendirian di dunia asing yang tidak ia kenal. Tidak ada ayah, tidak ada prajurit, tidak ada istana megah. Hanya ada dia, hutan belantara yang luas, dan kegelapan yang perlahan mulai turun menggantikan siang hari.
Ia meraba dadanya. Jantungnya berdetak pelan, sangat pelan, namun tetap berdenyut. Rasa haus yang samar namun menggelitik mulai terasa di tenggorokannya, mengingatkan dia pada sifat aslinya, pada darah yang ia butuhkan. Liam mengerutkan kening, berusaha mengingat apa yang terjadi, mengapa ia ada di sini, dan siapa dirinya sebenarnya. Ingatan tentang perang, tentang ayahnya, tentang Kerajaan Valtoria masih ada di sana, namun terasa jauh, samar, dan terbungkus kabut tebal. Ia tahu ia bukan manusia. Ia tahu ia berbeda. Ia tahu ada janji yang terucap, ada tujuan yang harus ia penuhi, meski ia belum ingat persis apa itu.
Liam berjalan perlahan menerobos semak belukar, matanya yang tajam mampu melihat dengan jelas meski cahaya matahari mulai hilang. Ia berjalan tanpa tujuan, mengikuti naluri yang menuntunnya ke arah mana pun yang terbuka. Di kejauhan, samar-samar ia melihat ada asap putih mengepul naik di antara celah-celah pepohonan. Ada suara-suara halus, suara binatang, dan suara aktivitas kehidupan — tanda bahwa ada manusia tinggal di dekat sini.
Darah di tubuhnya berdesir. Di dalam hatinya yang abadi, ia tahu perjalanan panjangnya baru saja dimulai. Ia adalah Liam, anak dari Raja Valerius, seorang vampir yang terbuang, yang kini terdampar di dunia manusia, di tengah hutan belantara yang sunyi. Di sini, ia harus bertahan hidup. Di sini, ia akan tumbuh besar, menyembunyikan rahasia besarnya, dan menunggu saat yang tepat untuk kembali.
Langkah kakinya terus berjalan mendekati asap itu, mendekati kehidupan manusia yang sederhana, tanpa tahu bahwa takdirnya akan segera bertaut dengan keluarga miskin yang akan menerimanya, dan dengan seorang gadis bernama Seruni yang kelak akan menjadi satu-satunya alasan mengapa ia bertahan hidup sebagai manusia, bukan sebagai monster.
Di balik punggungnya, di dalam kedalaman hutan yang semakin gelap, kabut tebal mulai turun perlahan, seolah menyembunyikan jejak keberadaan makhluk abadi itu dari dunia, menandai dimulainya kisah panjang Janji Darah Sang Vampir.