NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk yang Memilih Pelukan

Pukul 03.44 dini hari.

Jerit itu merobek selimut sepi mansion.

Florence tersentak bangun, napas tersangkut di kerongkongan, keringat dingin merembesi lehernya. Tubuhnya gemetar seperti daun disapu badai. Dalam tidurnya barusan, ia kembali ke kamar itu. Malam itu. Aroma wiski. Cengkeram yang membesi. Nyeri yang mengoyak. Namun dalam mimpi, tak ada ujung. Hanya putaran. Terus. Terus. Hingga paru-parunya lupa cara menghirup udara.

“Ti… tidak… jangan… kumohon…” racauannya masih tersisa meski matanya telah terbuka. Ia belum benar-benar terjaga. Terperangkap di celah antara nyata dan neraka.

Pintu kamarnya mengerang dibuka. Bukan ditendang, melainkan dihantam panik. Lucifer. Malam ini ia tak bersemayam di ruang kerja. Ia berjaga di sofa lorong, tepat di depan pintu Florence. Menunggu. Seperti serigala yang takut mangsanya mati dalam tidur.

Ia melihat Florence di ranjang. Duduk, mendekap lutut, gemetar, mata terbuka namun kosong. Terisak tanpa suara. Tenggelam dalam jahanam yang Lucifer ukir sendiri.

Rahang Lucifer mengeras. Naluri pertamanya: mendekat. Merengkuh. Mengusir setan dari kepalanya. Namun kakinya terpaku di tengah. Sentuhanku adalah racun. Aku arsitek mimpi itu. Jika aku maju, ia akan lebih remuk.

Maka ia hanya berdiri di sana. Membeku. Tak berdaya. Raja Neraka yang kebal timah, lumpuh oleh isak seorang gadis.

“Florence,” panggilnya. Pelan. Hati-hati. “Kau aman. Itu mimpi. Hanya bayangan. Aku… aku di sini. Tak ada yang menjamahmu.”

Kalimat terakhir itu ironis. Dan mereka berdua mengecapnya.

Florence menoleh. Maniknya akhirnya menajam. Menangkap Lucifer. Dan sedetik, takut di matanya bukan karena mimpi. Karena lelaki di ambang pintu. Karena ingatan yang bangkit bersamaan dengan raganya.

Lucifer mundur selangkah. Memberi jarak. “Aku panggil Reginald. Atau Dr. Anya. Kau mau—”

Dan di sanalah, sesuatu yang tak pernah Lucifer ramal terjadi.

Florence bergerak. Cepat. Turun dari ranjang dengan telapak telanjang yang masih gemetar. Sebelum otak Lucifer sempat mencerna, sebelum tubuhnya sempat menghindar, Florence sudah di hadapannya.

Lalu mendekapnya.

Bukan dekap erat. Bukan dekap rindu. Dekap orang tenggelam yang mencengkeram apa pun di dekatnya agar tak padam. Wajah Florence terbenam di dadanya, di kemeja hitam yang sama sejak senja. Jemari Florence mencengkeram kain itu, kuat, hingga kukunya terasa menembus kulit Lucifer.

Raga Lucifer membatu total. Seluruhnya. Napasnya putus. Darahnya beku. Otaknya kosong.

Florence mendekapnya. Gadis yang ia lukai dua pekan lalu. Gadis yang seharusnya meludahinya. Gadis yang seharusnya menikamnya jika diberi belati.

Ini inisiatif Florence. Bukan ia yang menarik. Bukan ia yang memaksa. Florence yang datang. Florence yang memilih. Dan pilihan itu adalah dia.

Perlahan, amat perlahan, seolah Florence adalah kristal yang bisa retak, Lucifer mengangkat tangannya. Satu. Ragu. Lalu diletakkannya di punggung Florence. Tak membalas dekap. Tak menekan. Hanya… menempel. Mengabarkan keberadaan. Aku di sini. Aku takkan mendorongmu. Aku takkan… takkan mengulanginya.

Florence tak bersuara. Hanya gemetar. Hembusnya panas dan cepat di dada Lucifer. Aroma sampo dari rambutnya meresap ke hidung Lucifer. Aroma yang sama dengan malam itu. Namun kali ini, tak ada berahi. Hanya ada ngilu yang dalam. Dan takut. Takut Florence sadar dan mundur sambil menatapnya muak.

Satu menit. Dua menit. Waktu berhenti.

Akhirnya, getar di tubuh Florence mereda. Napasnya melambat. Mimpi buruknya luruh, diganti realita yang entah lebih baik atau lebih busuk.

Florence melepas dekapnya. Mundur satu langkah. Tak menatap mata Lucifer. Menatap lantai. Wajahnya pucat, namun tak ada linang lagi. Sudah kering.

Sunyi lagi. Tapi berbeda. Dulu sunyi mereka adalah tembok es. Kini sunyi ini… ada rekah di tengahnya. Rekah yang dialiri satu dekap panik.

“Ma… maaf,” bisik Florence. Suaranya habis. Dan kata itu… bukan untuk Lucifer. Untuk dirinya sendiri. Sebab ia baru saja mendekap monster yang melumatnya. Sebab raganya, di tengah teror, masih mencari hangat di dada orang paling tak aman di dunia.

Lucifer menggeleng. Cepat. “Jangan. Jangan minta ampun. Tak pernah.”

Florence akhirnya mendongak. Matanya hampa lagi. Datar. Benteng sudah naik kembali. Dekap tadi adalah pengecualian. Reaksi luka. Bukan ampunan. Bukan penerimaan.

“Aku mau tidur lagi,” katanya. Dingin. Kalimat itu adalah titah. Pergi.

Lucifer mengangguk. Ia paham. Ia mundur hingga punggungnya menyentuh pintu. “Aku… aku di luar. Jika mimpi lagi… panggil. Atau berteriak. Aku dobrak lagi.”

Ia keluar. Menutup pintu. Pelan. Kembali ke sofa lorong. Duduk. Menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi menempel di punggung Florence. Masih terasa hangatnya. Masih terasa getar takutnya.

Florence mendekapnya. Dia. Dari seluruh dunia, Florence memilih mendekap dia saat takut. Otak Lucifer tak sanggup mencerna itu. Apakah sebab tak ada yang lain? Apakah sebab dalam mimpi, iblis di depan lebih baik daripada iblis di kepala?

Tak penting. Yang penting, selama tiga menit, Florence ada dalam dekapnya. Tak mendorong. Tak menjerit. Dan itu… itu lebih meluluhlantakkan Lucifer daripada seluruh hukuman di bumi.

Di dalam kamar, Florence kembali ke ranjang. Ia menarik selimut. Namun tak terlelap. Ia menatap langit-langit. Ia membenci dirinya. Membenci nalurinya. Membenci sebab di saat paling gentar, raganya lari ke Lucifer. Ke orang yang semestinya ia tikam.

Ia tak mengampuni. Takkan pernah. Setiap sentuh Lucifer, bahkan yang tadi tak menuntut, masih terasa seperti beling di kulitnya. Malam itu takkan pernah hilang.

Tapi… dekap itu nyata. Dan untuk tiga menit, mimpi buruknya berhenti. Digantikan degup jantung Lucifer yang kacau, ketakutan, di telinganya. Degup jantung iblis yang takut ia mati.

Es itu retak lagi. Lebih lebar. Florence melunak. Sedikit. Sebab ia tahu, untuk pertama kali, iblis di luar kamarnya sama tersiksanya dengan iblis di kepalanya.

Namun melunak bukan berarti mencair. Takkan pernah mengampuni sepenuhnya. Takkan pernah bisa.

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!