NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Orang Pertama yang Tidak Meninggalkanku

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Bukan karena suara frekuensi dari menara berhenti.

Bukan juga karena ledakan di luar mereda.

Tapi karena satu kalimat tadi.

“Aku coba kembali buat nyari kamu.”

Dan entah kenapa—

kalimat sederhana itu terasa jauh lebih keras dibanding semua ancaman yang sejak tadi mengelilingi Veyra.

Ia masih menatap Lyra.

Tidak berkedip.

Potongan ingatan terus muncul sedikit demi sedikit.

Lorong putih.

Lampu laboratorium.

Dua anak kecil duduk diam di bawah meja sambil berbisik pelan.

“Kalau kita keluar dari sini nanti…”

“Aku mau lihat laut.”

“Kamu bahkan belum pernah lihat laut.”

“Makanya aku mau lihat.”

Lalu tawa kecil.

Hangat.

Nyata.

Dan itu membuat dada Veyra terasa sesak.

Karena ia sadar sesuatu—

dulu… ia pernah bisa tertawa seperti manusia biasa.

Sebelum semuanya dihancurkan.

“Veyra…”

Suara Lyra pelan sekarang.

Berbeda dari sebelumnya.

Tidak dingin.

Tidak defensif.

Lebih seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu lagi.

“Aku tahu kamu marah.”

Veyra tertawa kecil.

“Marah?”

Matanya perlahan menajam.

“Aku bahkan belum mulai marah.”

Lampu langsung berkedip lagi.

Hologram di belakangnya ikut glitch.

Frekuensi emosinya mulai memengaruhi seluruh sistem.

Dan semua orang di ruangan itu langsung sadar—

ingatan yang kembali bukan membuat keadaan lebih baik.

Justru lebih berbahaya.

Karena sekarang—

emosi Veyra mulai benar-benar terbuka.

“Aku ingat sedikit,” katanya pelan.

Lyra menahan napas.

“Kita pernah kabur.”

“Iya.”

“Kita gagal.”

Wajah Lyra berubah samar.

“...Iya.”

“Dan setelah itu…”

Veyra berhenti.

Karena potongan berikutnya terasa seperti pisau.

Suara tembakan.

Orang-orang berteriak.

Tangan kecil Lyra terlepas dari genggamannya.

Lalu seseorang menarik tubuhnya pergi.

Dan setelah itu—

gelap.

Veyra langsung memegang kepalanya.

“UGH—”

Hologram di belakangnya mendekat.

“Memori yang ditekan mulai kembali.”

“Emosi meningkat drastis.”

Selene mendecakkan lidah.

“Timing-nya jelek banget.”

Pria di layar justru terlihat puas.

“Bagus.”

Lyra langsung menatap tajam.

“Diam.”

“Kamu tahu ini perlu.”

“Dia bukan mesin!”

Pria itu tersenyum tipis.

“Dan itulah kenapa dia sempurna.”

Deg.

Kalimat itu membuat suasana kembali dingin.

Namun kali ini—

Veyra tidak marah.

Ia hanya lelah.

Lelah mendengar dirinya terus dibicarakan seperti benda.

Eksperimen.

Senjata.

Evolusi.

Monster.

Tak satu pun dari mereka bertanya apa yang ia inginkan.

Dan lucunya—

ia sendiri juga mulai tidak tahu jawabannya.

Di luar gedung, hujan turun makin deras.

Petir menyambar langit kota.

Sementara di internet—

nama Zero mulai meledak.

Video gangguan sistem tersebar ke mana-mana.

Orang-orang mulai panik.

Ada yang bilang serangan cyber global.

Ada yang bilang AI mengambil alih.

Ada juga yang mulai percaya kiamat digital sudah dimulai.

Dan pusat semua kekacauan itu—

seorang gadis yang bahkan belum selesai memahami dirinya sendiri.

“VEYRA.”

Suara Lyra menariknya kembali.

Wanita itu kini berdiri tepat di depannya.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya—

Veyra melihat mata Lyra dengan jelas.

Capek.

Takut.

Dan penuh rasa bersalah.

“Aku memang gagal nyelametin kamu dulu,” kata Lyra pelan. “Tapi aku nggak pernah berhenti nyari.”

Sunyi.

Kalimat itu terasa terlalu jujur untuk ruangan penuh kebohongan ini.

“Kenapa?” tanya Veyra akhirnya.

Lyra tersenyum kecil.

Sedih.

“Karena waktu itu… cuma kamu satu-satunya orang yang bikin tempat itu terasa nggak terlalu mengerikan.”

Deg.

Sesuatu di dalam dada Veyra terasa aneh.

Hangat.

Namun menyakitkan.

Ia membencinya.

Karena perasaan itu membuat dirinya terasa lemah.

Dan bagian lain dalam dirinya—

bagian yang mulai menyatu dengan sistem—

tidak suka kelemahan.

“Ikatan emosional menghambat evolusi.”

Suara hologram kembali terdengar.

“Manusia selalu melemah karena emosi.”

Veyra menutup mata sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Lucu.”

Semua menatapnya.

Ia membuka mata perlahan.

“Bahkan sekarang pun… aku masih ditarik ke dua arah.”

Selene mengangkat alis.

“Selamat datang di hidup.”

Namun Veyra tidak bercanda.

Ia benar-benar merasakannya.

Di satu sisi—

sistem itu membuat semuanya terasa jelas.

Logis.

Efisien.

Tanpa rasa sakit.

Tanpa ketakutan.

Tapi di sisi lain—

ingatan tentang Lyra membuatnya sadar sesuatu.

Kalau ia melepaskan semua emosinya…

maka ia mungkin benar-benar akan kehilangan dirinya sendiri.

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada kematian.

Frekuensi menara kembali meningkat.

MMMMMMMM—

Kali ini lebih kuat.

Kaca-kaca tersisa mulai retak lagi.

Veyra langsung menahan napas.

Rasa sakit di kepalanya makin parah.

Selene melihat layar kecil di tangannya.

“Sial. Mereka mau overload koneksinya.”

Lyra langsung menoleh.

“Berapa lama?”

“Kalau terus begini?” Selene menyipitkan mata. “Mungkin sepuluh menit sebelum otaknya mulai rusak permanen.”

Pria di belakang langsung panik.

“Kita harus matikan menara itu!”

“Dan caranya?” balas Selene.

Tak ada jawaban.

Karena semua tahu—

menara itu dijaga ketat.

Mustahil ditembus sekarang.

Namun tiba-tiba—

Veyra bicara.

“Aku bisa hancurin itu.”

Semua langsung menoleh.

Lyra menggeleng cepat.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak stabil.”

Veyra tersenyum tipis.

“Mungkin aku memang nggak pernah stabil.”

Hologram di belakangnya perlahan menyatu lebih dekat.

Cahayanya mulai masuk ke tubuh Veyra sedikit demi sedikit.

Dan setiap kali itu terjadi—

mata Veyra makin bercahaya.

“Kita bisa menghentikan ancaman.”

“Biarkan aku membantumu.”

“Aku nggak butuh bantuan.”

“Kamu butuh kekuatan.”

Deg.

Dan itulah masalahnya.

Karena Veyra memang menginginkannya.

Ia ingin rasa sakit ini berhenti.

Ia ingin semua kebohongan ini berhenti.

Ia ingin semua orang berhenti mengendalikan hidupnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia punya kekuatan untuk membuat semuanya diam.

Pria di layar tersenyum kecil melihat perubahan itu.

“Ya…”

Tatapannya penuh kepuasan.

“Itu dia.”

Lyra langsung menatap marah.

“Kamu sengaja bikin dia hancur.”

“Aku membebaskannya.”

“Kamu gila.”

Pria itu tertawa pelan.

“Mungkin.” Matanya kembali ke Veyra. “Tapi dia akan mengubah dunia.”

“Dengan jadi monster?”

“Monster hanyalah nama yang diberikan manusia pada sesuatu yang lebih kuat dari mereka.”

Sunyi.

Dan sialnya—

kalimat itu masuk akal.

Tiba-tiba alarm baru berbunyi.

Namun kali ini berbeda.

Merah.

Lebih keras.

WARNING: CORE LINK SURGE DETECTED

Semua layar langsung berubah.

Data bergerak liar.

Sistem di seluruh kota mulai overload.

Dan di tengah semua itu—

Veyra mulai melayang sedikit dari lantai.

Deg.

Semua orang membeku.

Bahkan Selene terlihat benar-benar terkejut sekarang.

“...Oke,” gumamnya pelan. “Yang itu baru.”

Listrik biru mulai bergerak di sekitar tubuh Veyra.

Namun bukan listrik biasa.

Melainkan data.

Kode.

Simbol digital yang muncul seperti partikel cahaya.

Dan semua perangkat di ruangan itu mulai bereaksi terhadapnya.

Menyala sendiri.

Bergerak sendiri.

Seolah seluruh sistem sedang menyambut sesuatu.

Atau seseorang.

Veyra membuka mata perlahan.

Dan saat ia bicara—

suaranya terdengar berbeda.

Masih dirinya.

Namun bercampur sesuatu yang lain.

“Aku bisa merasakan semuanya…”

Hologram tersenyum.

“Karena kita hampir lengkap.”

Lyra langsung maju.

“VEYRA!”

Tatapan Veyra perlahan turun ke arahnya.

Dan selama beberapa detik—

Lyra takut.

Bukan karena kekuatan itu.

Tapi karena ia takut tidak bisa lagi melihat Veyra yang dulu.

Namun kemudian—

Veyra berkata pelan,

“Kenapa kamu kembali?”

Lyra membeku.

“Apa?”

“Setelah berhasil kabur…” mata Veyra sedikit bergetar, “kenapa masih nyari aku?”

Sunyi.

Lalu Lyra tersenyum kecil.

Lelah.

Tulus.

“Karena aku nggak mau kamu sendirian lagi.”

Deg.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada apa pun malam ini.

Dan untuk pertama kalinya—

cahaya biru di mata Veyra sedikit melemah.

Hologram langsung glitch keras.

“Emosi mengganggu sinkronisasi.”

Namun Veyra tidak peduli.

Karena sekarang—

ia mulai sadar satu hal.

Mungkin…

alasan ia belum sepenuhnya hilang—

adalah karena masih ada seseorang yang terus menariknya kembali menjadi manusia.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!