NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26| Truth or Dare

Suasana yang tadinya terasa kaku mendadak memanas lima belas menit kemudian, di atas meja terdapat botol kosong berada di tengah-tengah. Menghabiskan waktu menuju tempat study tour, Kai—si mesum mengemukakan keinginannya untuk menyeret orang-orang bermain permainan 'truth or dare'. Sebastian yang paling tak ingin bergabung, diseret untuk ikut dalam permainan konyol satu ini.

Mata Kai mengedar menatap setiap wajah-wajah di kursi yang mengelilingi meja, tatapan mata Kai tampak memprovokasi orang-orang. Aluna mengutuk keras kepala Kai yang ikut menyeretnya pada permintaan konyol, sialnya terlanjur Aluna setujui tak bisa menarik perkataannya.

"Oke, ready!" seru Kai antusias.

Botol mulai diputar di atas meja, samar-samar degup jantung orang-orang bertalu-talu. Aluna menahan napas di setiap mulut botol melewati dirinya, Kai tersenyum nakal.

"Oho-ho! Tuan Muda Gavino takdir berkata kalo lo duluan yang kena. Ayo, pilih truth or dare?" Kai menaik-turunkan alis mata tebalnya dengan tatapan nakal pada Gavino.

Gavino mendengus, "Truth."

Suara berat itu menjawab namun, sorot matanya tertuju lurus ke wajah Aluna. Aluna menunduk, jari jemari tangannya saling bertautan dan meremas perlahan.

"Lo pernah tidur sama cewek?" tanya Kai blak-blakan, tatapan menggoda dari Kai bersamaan dengan tatapan penasaran dari beberapa orang di dalam mobil.

Gavino menyipitkan matanya, kepalanya menggeleng perlahan. "Belum," jawab Gavino serak, atensi kelamnya masih melirik ke depan. "Tapi, dalam waktu dekat maybe."

Kai bersorak heboh sendiri dengan jawaban jujur Gavino, manik matanya bergerak ke arah Zea. Seakan ia pikir gadis dengan wajah lugu itu adalah target Gavino—sahabat mereka, atensi Kai berpindah ke arah Sebastian memperhatikan ekspresi Sebastian yang tidak mengalami perubahan signifikan.

"Sekarang giliran gue," ujar Gavino, tangannya terulur memutar botol kembali.

Mulut botol berhenti tepat di depan Aluna, tubuh gadis itu membeku dengan pupil mata melebar. Peluh mencuat di dahinya, makian ditelan bulat-bulat. Seluruh tatapan mata tertuju pada Aluna, Gavino melipat kedua tangannya di dada. Sudut garis bibirnya ditarik tinggi ke atas, Aluna memaksa senyum untuk diulas.

"Truth or dare, Aluna?" tanya Gavino serak.

"Gue pilih truth," jawab Aluna tegas, apa yang harus ia takuti untuk berbicara jujur. Aluna benci tantangan, ia tak suka melakukan perintah orang lain. Apalagi yang memberikan perintah adalah Gavian bukan Gavino.

"Lo yakin, hm?" Gavino menarik sebelah alis matanya ke atas.

Bibir ranum Aluna berkedut, kepalanya mengangguk dua kali. "Y—ya, yakin."

Peluh di dahi Aluna diusap perlahan, Aluna menoleh ke samping mendapati Jayden membuang muka setelah mengusap peluh di dahi Aluna. Pura-pura fokus melipat tisu di tangannya.

"Lo keringatan banyak banget," kata Jayden sebelah tangan lainnya menggaruk leher belakangnya yang tak gatal, masih menghindar dari tatapan mata Aluna.

Gavino memiringkan kepalanya memperhatikan keduanya, manik mata hitam legamnya melirik Aluna dan Jayden—sahabat Gavino bergilir. Zea mencibir, perasaan semakin tak enak saja. Pria di samping ini yang terasa berbeda, apalagi Sebastian yang tampak lebih pendiam dari biasanya. Sementara Kai terlalu sibuk meratukan Aluna, membuat pemandangannya menjadi tak nyaman.

"Oke, kalo gitu. Mari kita mulai," ujar Gavino memberikan instruksi mengalihkan perhatian Aluna dari Jayden ke depan. "Siapa yang bakalan lo pilih antara gue dan Jayden, kalo kita berdua memperebutkan lo?"

Bukan hanya mata Aluna saja yang melotot dengan pertanyaan gila yang baru saja dilemparkan oleh Gavino, semua orang di dalam ruangan tampak sama. Seringai Gavino dengan dagu terangkat tinggi ke atas, permainan ini menarik sekali untuk diri Gavian. Untuk pertama kalinya Gavian mengekspos dirinya sendiri, garis bibirnya terangkat tinggi. Sudah cukup rasanya ia bersembunyi di balik kegelapan, bukankah seharusnya Gavino harus tahu jika dirinya ada di balik kegelapan.

"Apa yang lo maksud ini, Gavino?" Jayden lebih dahulu tersadar menanyai Gavino, ekspresi Jayden yang santai tak lagi terlihat.

Kedua sisi bahu lebar Gavino naik-turun acuh tak acuh, ia terkekeh ringan.

"Ini pertanyaan candaan aja 'kan? Lo nggak serius sama pertanyaan barusan 'kan?" Kai mendadak merasa permainan yang awalnya membuat ia bersemangat mendadak kehilangan  keinginan untuk terus melanjutkan kembali permainannya.

Zea tidak lagi dapat menyembunyikan kecemburuannya yang mencuat, membakar satu-satunya tameng yang harusnya melindunginya. Mendadak berubah haluan, Zea tak terima dengan Aluna yang menarik perhatian Gavino. Yang menjadi pertanyaan Zea saat ini adalah sejak kapan Aluna berhasil menggoda Gavino, kedua mata Zea memerah menatap tajam Aluna. Seakan ingin mencabik-cabik wajah cantik Aluna, membuat Aluna menghilang dari dunia ini selama-lamanya.

'Jalang, lo emang kayak Nyokap pelacur lo itu. Lo kira gue bakalan kek gitu aja nyerahin Gavino buat lo, lo harus mati Aluna. Mati.' Kuku jari jemari Zea menancap melukai telapak tangannya, saat tangannya digenggam erat.

"Hm! Permainan ini cukup sampek sini aja," sela Sebastian bedehem yang memilih diam sedari awal, ia melirik Gavino dan Aluna.

"Oh? Selesai gitu aja. Perasan pertanyaan gue nggak kelewatan batas deh. Atau apa pertanyaan gue barusan menyingung semua orang selain Jayden?" Tatapan mata tajam kelam Gavino langsung mengedar menatap setiap wajah yang tak mampu menyembunyikan perasaan tak senang.

Aura di dalam ruangan mencekam, Aluna meneguk kasar air liur di kerongkongannya. Jari jemari tangannya memijit pangkal hidungnya, atmosfer terasa mulai menipis karena tekanan aura Gavian—psikopat.

"Lo kasih pertanyaan kek gitu nggak mikir perasaan Zea 'kah?" Aluna mengangkat pandangan matanya terarah langsung ke arah depan, membalas tatapan mata Gavino. "Bukannya Gavino tergila-gila sama Zea, atau gue sama anak-anak di sini salah paham?" Aluna menegaskan perasaan Gavino pada Zea.

Gavino ikut melirik ke samping, Zea yang tampak tak senang. Sudut bibir Gavino terangkat tinggi ke atas, terkekeh aneh.

"Ah, gue lupa. Gavino suka Zea," ujar Gavino serak mengundang tatapan rumit dari tiga pria, "tapi dia suka Sebastian sahabat Ga—oh gue, right? Zea. Lo cinta Sebastian, bahkan berhubungan di belakang gue, lo juga mepet Kai diam-diam. Bahkan ngegodain Jayden tanpa gue tau. So, kalo dia kek gitu. Kenapa gue harus cukup cuman sama dia?"

Kacau, tawa Gavino melambung disela degup jantung tiga pria dan satu orang wanita. Aluna speechless dibuatnya, wajah Zea pucat seketika. Gavino mengetahui semuanya, lantas kenapa dia tetap diam selama ini. Menutup rapat bibirnya dan berpura-pura buta, lantas apa alasan Gavino membeberkan semuanya di sini. Mata Zea tertuju pada Aluna, kilatan tajam terlihat samar. Gavino pasti melakukan ini untuk Aluna, pria di sampingnya ini rela mempermalukan Zea karena tersihir oleh godaan Aluna.

'Tamatlah sudah, si Gavian sialan ini benar-benar berniat nyeret gue di lingkaran setan sialan ini. Gue gundulin juga ketek si Author sialan! Awas aja, awas!' Aluna menjerit memprotes alur cerita yang membuat ia tak lagi mampu menebak kemana cerita ini akan berjalan.

...***...

Sentuhan di atas pundak Aluna menyentak Aluna dari lamunannya, ia tidak tahu sejak kapan ia keluar dari mobil mini bus milik keluarga Van Houten. Berada di kamar penginapan yang di sewa oleh sekolah, Karina menyodorkan piring makanan ke tangannya.

"Are you oke, Lun? Kok lo bengong kek ayam kena sawan dari awal lo turun dari mobil mini bus. Tiga jam loh Lun, lo kek gini," tegur Karina yang satu kamar dengan Aluna.

Kepala Aluna menggeleng, "Gue baik-baik aja kok, keknya cuma kelelahan doang."

Mata Aluna tertuju pada piring makanan yang dibawa masuk ke dalam kamar, Karina mendesah lagi.

"Tadi gue ajakin lo makan di restoran penginapan lo bergumam nggak jelas. Gue takut lo kelaparan, makanya gue bawa piring makanan ke sini," jelas Karina alasan kenapa ia bisa membawa sepiring makanan ke dalam kamar penginapan.

Aluna mengangguk paham ia mulai menyantap makanan di piring, diperhatikan oleh Karina. Karina cukup penasaran alasan kenapa Aluna bisa satu mobil dengan Gavino dan yang lainnya, serta alasan kenapa Aluna tampak aneh sejak turun dari mobil. Saat ingin bertanya, Aluna malah sulit untuk berkomunikasi.

Ketukan di pintu mengalihkan fokus Karina dari Aluna ke arah pintu, ia turun dari ranjang melangkah menuju pintu. Pintu dibuka, Karina berdiri di ambang pintu menatap pria jangkung.

"Aluna-nya ada?"

"Ya, dia lagi makan," balas Karina santai, alisnya berkerut.

Sebastian mengulurkan kantong kresek ke arah Karina, Karina ragu-ragu menerimanya.

"Lo mau gue panggilin Aluna?" tawar Karina saat menerima bungkusan makanan dari tangan Sebastian.

Sebastian sontak saja langsung menggeleng, "Nggak perlu."

Mulut Karina terbuka lalu kembali tertutup saat Sebastian berbalik dan pergi begitu saja tanpa pamit atau basa-basi lainnya, kedua mata Karina memicing menatap punggung Sebastian yang semakin menjauh.

"Dasar cowok aneh," gumam Karina pelan.

Ia menutup pintu, melangkah masuk ke dalam. Kantong kresek di diletakkan di atas kasur tepat di depan Aluna, atensi Aluna tertuju ke arah kantong kresek.

"Apa ini?"

"Mana gue tau, ini dikasih sama Sebastian barusan. Dia cuma kasih itu ke gue, keknya  buat lo," jawab Karina, ia duduk di bibir ranjang.

Piring yang mulai kosong diletakkan di atas nakas tepat di samping ranjang, tangannya bergerak membongkar isi kantong keresek. Ada nasi kotak untuk makan siang, beberapa batang coklat, beberapa rasa es cream, dan cemilan.

Mata Karina berbinar-binar, ia mengoda Aluna. "Emang ya, si Sebastian ini nggak ngomong tapi langsung ngasih. Kayaknya dia tau banget kalo lo lagi bad mood. Sampek ngasih kek gini, gue jadi iri." Karina mengedarkan pandangan matanya pada pemberian Sebastian.

Aluna mendesah berat, Sebastian cukup perhatian. Senyum di bibir Aluna tercetak, belum sempat tangan Aluna bergerak menyentuh es cream. Suara ketukan di daun pintu kamar mengalihkan perhatian keduanya. Karina kembali berdiri dan melangkah menuju pintu, Aluna menjulurkan kepalanya menatap ke arah pintu yang terbuka. Bibirnya terbuka lebar saat Karina tampak kepayahan membawa dua buket bunga, buket coklat, nasi kotak yang dibawa masuk memenuhi kedua tangannya.

"Cowok-cowok itu agak gila, mereka serentak ngirimin lo ini. Siapa yang bisa makan semuanya coba?" Karina mengerut menurunkan barang-barang yang ia pegang di atas meja panjang di sudut ruangan.

Karina berkacak pinggang menghadap ke arah ranjang, ia bahkan tidak bisa menutup pintu kamar. Mendesah berat menggeleng-geleng tak berdaya, Aluna berkedip dua kali.

"Dari si omes Kai dan si paling calon lakik lo si Jayden," sambung Karina sebelum Aluna bertanya, ia menunjuk ke arah barang-barang yang diberikan oleh keduanya secara bergantian.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!