Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan pagi ; Laras bangun tanpa membangunkan Rafael yang tertidur pulas. Dia mandi dan sarapan ala kadarnya, karena Rafael belum bangun untuk menyediakan sarapan lezat seperti biasanya.
Kemudian dia mengambil kunci mobil dan berjalan keluar rumah tanpa suara. Dia tidak mau Rafael antar ke kantor, agar tidak ada pembicaraan tentang kehamilannya di jalan. Sebab dia belum bisa memutuskan dan belum punya jawaban tentang kelanjutan kehamilannya.
Selain itu, dia masih emosi dengan sikap Rafael dan apa yang dikatakannya sebelum tidur. Apa lagi meninggalkan dia dengan mata nyalang melihat punggungnya.
~••
Ketika tiba di kantor, Laras menuju ruang kerja. "Pak Hendi, ke ruangan saya." Laras memanggil Hendi yang ditugaskan oleh kepala cabang untuk mendampingi dia.
"Pagi, Bu." Sapa Hendi saat masuk ke ruangan. Hatinya menciut melihat wajah Laras tidak happy seperti biasanya, bahkan mendung.
"Pagi. Tolong berikan materi yang akan saya presentasi siang ini. Saya mau pelajari powerpointnya." Laras mengulurkan tangan ke arah Hendi.
Lutut Hendi langsung goyang mendengar permintaan Laras. "Maaf, Bu. Saya belum selesai kerjakan."
"Belum selesai? Berikan yang ada." Laras tetap meminta, sebab dia ingin mempelajari dan menguasai materi yang akan dipaparkan. Dan juga, supaya bisa mengalihkan pikirannya dari pertengkaran dengan Rafael.
Suara tegas Laras membuat Hendi tidak berani membantah. "Tapi baru stengah jadi, Bu. Belum disusun dan terstruktur rapi." Hendi mencoba memberi alasan untuk menunda, agar bisa menyelesaikan tugasnya.
"Berikan pada saya. Anda tidak mengerti yang saya katakan?" Laras membentak. Emosinya meningkat melihat sikap Hendi yang tidak sigap seperti biasanya.
"Baik, Bu. Saya permisi." Hendi tidak bisa mengelak atau membuat alasan lagi. Dia segera balik ke meja kerja untuk mengambil laptop.
"Ini yang baru saya kerjakan Bu." Hendi menunjuk materi presentasi yang sudah dia kerjakan.
"Apa ini? Materi ini bukan stengah jadi, tapi masih mentah." Laras jadi emosi melihat yang dikerjakan Hendi. "Sudah dua hari saya berikan, tapi seperti ini? Powerpoint seperti apa ini?" Laras mendorong laptop Hendi.
"Anak SMP bisa kerjakan Powerpoint lebih bagus dari ini." Laras ingat slide bagus yang dikerjakan Juano untuk membantu Papanya.
"Ke mana kemampuanmu selama ini, yang menyiapkan powerpoint untuk presentasi saya?" Laras menatap tajam Hendi. Dia heran sebab presentasi yang dilakukan selama di kantor cabang didukung oleh powerpoint moderen dengan penampilan slide yang bagus dan canggih.
Sehingga materi yang dijelaskan kepada karyawan atau client cepat diterima dan mudah dimengerti. Sehingga tidak ada banyak pertanyaan dan pertemuan tidak bertele-tela, karena materi yang disajikan sangat rinci dan jelas.
"Bu, saya minta maaf. Batas ilmu saya hanya bisa membuat powerpoint seperti itu." Hendi berkata pelan, sambil menunduk dan was-was.
"Apa maksudmu? Kemampuanmu cuma segini? Lalu siapa yang buat powerpoint untuk materi saya sebelumnya?" Laras tanya beruntun. Dia kembali melihat layar laptop Hendi. Perbedaannya bagaikan bumi dan langit dengan sebelumnya.
Dengan jantung berdegup kuat Hendi mendekat. "Selama ini saya dibantu Pak Rafael, Bu."
"Pak Rafael? Siapa Pak Rafael?" Laras bertanya dengan tatapan tajam, sebab tidak ada karyawan yang bernama Rafael.
"Maaf, Bu. Pak Rafael suami Ibu." Suara Hendi makin pelan. Tapi mampu membuat Laras tersentak dan langsung berdiri.
"Suami saya yang lakukan itu? Mengapa saya tidak tahu? Mengapa kau tidak kasih tahu saya?" Laras membentak dengan suara keras karena terkejut.
"Maaf, Bu. Pak Rafael minta saya tidak kasih tahu Ibu. Beliau hanya mau membantu saja." Hendi makin tidak berani melihat Laras.
"Mengapa suami saya lakukan itu?" Tanya Laras setelah duduk dan minum air mineral yang ada di atas meja.
"Ibu ingat saat saya menjelaskan materi yang saya kerjakan pertama kali di mobil Ibu sebelum berangkat ke tempat pertemuan?"
"Iya. Kenapa?" Laras ingat saat pertama kali akan lakukan presentasi dan diantar oleh Rafael yang sudah lulus mengemudi dan mendapat SIM.
"Saat itu Pak Rafael melihat powerpoint yang saya kerjakan. Beliau memanggil saya setelah saya mengantar Ibu masuk gedung..."
"Pak Rafael menggunakan waktu singkat itu untuk bantu menyiapkan powerpoint sambil memarahi saya. Karena menurut beliau ini wajah istrinya. Materi yang saya kerjakan tidak menarik dan client akan meninggalkan Ibu sebelum selesai presentasi...." Hendi menjelaskan.
"Beliau bertanya, apa tidak ada karyawan yang bisa kerjakan lebih bagus dari yang saya kerjakan. Saya katakan, mungkin ada, tapi perlu waktu untuk mencari..."
"Jadilah beliau mengambil laptop saya lalu perbaiki yang saya kerjakan. Tapi beliau minta saya tidak usah bilang pada Ibu." Hendi menjelaskan sambil minta pengertian Laras. Agar tidak dilaporkan kepada kepala cabang.
"Hanya kali itu?" Nada suara Laras turun level.
"Tidak, Bu. Setelah saya cek rekan kerja lain, kemampuan kami hampir sama. Rata-rata seperti ini. Jadi saya minta tolong Pak Rafael untuk mengajari saya."
"Tapi beliau minta saya belajar otodidak, sebab beliau sangat sibuk. Tapi karna kempuan dan ide saya terbatas, hasilnya sangat mengecewakan. Jadi beliau minta saya email materi Ibu..." Hendi menceritakan yang dia lakukan dan Rafael diam-diam bantu mengerjakan powerpoint untuk materi presentasi Laras.
"Baik. Jangan bilang ke beliau, kalau saya sudah tahu beliau yang kerjakan."
"Baik, Bu. Terima kasih." Hendi merasa lega, walau tidak mengerti mengapa minta harus dirahasiakan.
"Oh iya, Bu. Apa Pak Rafael baik-baik saja?" Hendi bertanya sebelum meninggalkan ruangan Laras.
"Kenapa?" Tanya Laras singkat dengan jantung berdegup kuat.
"Cuma tanya saja Bu. Soalnya dari kemarin Pak Rafael tidak membalas email dan pesan saya. Makanya materi ini belum selesai dikerjakan...." Hendi menjelaskan dia sedang menunggu bantuan Rafael, tapi belum ada balasan.
"Email ini buat saya. Kerjakan yang lain untuk persiapan pertemuan." Laras tidak menjawab keresahan Hendi tentang Rafael. Kemudian dia minta Hendi keluar, sebab hatinya seperti ditusuk jarum pentul.
"Baik, Bu. Terima kasih." Hendi merasa sedikit lega, mengetahui tugasnya akan dikerjakan.
Setelah Hendi keluar dari ruangan, Laras memegang perut yang masih rata sambil ingat percakapannya dengan Rafael setelah tahu tentang kehamilannya.
Emosinya seketika sirna mengetahui Rafael mendukung pekerjaannya, sehingga tugasnya bisa selesai tepat waktu, dan mungkin akan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Karena kalau bukan bantuan Rafael, setiap pertemuan akan tertunda atau diulang karena client tidak puas dengan pemaparannya yang tidak didukung oleh slide powerpoint.
Apa yang dikatakan Rafael di atas tempat tidur kembali terngiang di benak Laras. Oleh kesaksian Hendi, apa yang dilakukan Rafael untuk mendukung pekerjaannya jadi terpampang jelas di depan matanya.
'Laras, apa yang sudah kau lakukan untuk membahagiakan Rafael? Apa selama kalian menikah, ada sesuatu yang dia minta darimu?' Terdengar sayup-sayup suara hatinya.
'Dia baru meminta untuk mempertahankan anak kalian. Padahal itu seharusnya tidak perlu diminta, kalau kau tahu tugasmu sebagai istrinya.' Hati nuraninya mengingatkan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...