NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kopi Hitam dan Zirah Pelindung Sang CEO

Aiswa turun dari taksi online dengan bantingan pintu yang cukup keras. Wajahnya ditekuk, aura "siap tempur" terpancar nyata dari setiap langkah kakinya yang menghentak aspal pekarangan kantor Argian Group.

Satpam kantor yang dulu pernah menyambutnya dengan ramah kini hanya bisa menciut, menelan ludah, dan pura-pura sibuk membetulkan letak topinya. Mereka tahu, singa betina sedang lewat.

Tanpa bertanya pada resepsionis, Aiswa langsung nyelonong masuk. Ia merasa percaya diri karena pernah sekali datang ke sini. Namun, begitu melewati lift dan masuk ke area koridor yang lebih luas, langkahnya melambat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.

Sial, kok ruangannya jadi banyak banget? Tadi lewat mana ya? Kenapa gue asal nyelonong sih, bukannya nanya dulu! rutuk Aiswa dalam hati, menyalahi keputusannya yang terlalu menggebu-gebu.

Akhirnya, dengan sisa-sisa harga diri, ia menghampiri seorang karyawan perempuan yang tampak ramah. Berdasarkan name tag-nya, namanya Putri.

"Maaf, Mbak Putri. Saya boleh tanya? Tuan Devan ada di kantor, kan?" tanya Aiswa, berusaha meredam nada suaranya agar tetap sopan.

Putri tampak terkejut. Jarang sekali ada tamu terutama yang penampilannya "biasa saja" dan tidak memakai seragam kantor, menanyakan bos besar mereka tanpa menyebutkan janji temu.

"Tuan Devan ada, Mbak. Tapi sepertinya masih rapat. Apa Mbak sudah membuat janji dengan Pak Lucas?"

Aiswa menghela napas.

Janji? Jangankan janji, gue ke sini aja mau ngajak perang! batinnya.

"Belum ada janji sih, Mbak. Tapi ini urusan sangat urgent. Saya tunggu di sini juga nggak apa-apa," ujar Aiswa memelas.

Putri, yang merasa kasihan melihat wajah Aiswa yang sedikit pucat, mungkin sisa demam tadi malam, meminta Aiswa duduk di kursi kerjanya dan memberinya sebotol air mineral.

"Sebentar ya, Mbak. Saya coba hubungi Pak Lucas dulu."

Aiswa baru saja hendak meneguk air mineral itu ketika sebuah suara melengking menghentikan aksinya.

"Siapa yang berani-beraninya mau ketemu Tuan Muda tanpa janji?!"

Aiswa menoleh dan hampir tersedak. Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan riasan yang menurut Aiswa lebih mirip ikan cupang hias daripada kepala divisi.

Make-up matanya sangat berwarna, bulu matanya lentik berlebihan, dan auranya sangat angkuh. Putri langsung menunduk ketakutan.

"Maaf, Mbak Dewi... saya hanya ingin membantu," cicit Putri.

"Kamu tahu kan Tuan Devan itu sibuk? Dia hanya bertemu dengan orang penting, bukan perempuan yang tampilannya kayak mau ke pasar begini!" ujar Dewi sambil menatap Aiswa dari atas sampai bawah dengan sinis.

Aiswa meneguk airnya perlahan, mengisi energi.

Wah, ternyata benar ada karyawan toxic kayak di drama Korea. Ini pasti tipe-tipe yang naksir bosnya sendiri tapi nggak kesampaian, batin Aiswa.

Aiswa berdiri, melangkah maju menghadapi Dewi.

"Maaf ya... Mbak Cupang, maksud saya Mbak Dewi. Emang ada peraturan kalau mau ketemu CEO harus pakai rok yang kependekan kayak anak murid saya di sekolah? Atau harus pakai bedak setebal martabak manis depan kompleks?"

Wajah Dewi memerah padam.

"Apa kamu bilang?!"

"Wajah Mbak itu penuh warna, mirip hasil karya mewarnai anak-anak TK saya. Apa saya harus dandan begitu dulu baru boleh ketemu Pak Devan?" cerocos Aiswa tanpa rem, membuat karyawan lain mulai berbisik-bisik.

Di luar gedung, Shena yang mengikuti Aiswa hanya bisa mengelus dada. Ia tertahan di lobi karena tidak punya akses masuk, tidak seperti Aiswa yang ternyata sudah masuk dalam daftar "akses bebas" oleh perintah rahasia Devan. Shena segera mengirim foto ke grup Sembilan Nyawa.

Shena: Terpantau Aiswa lagi ngamuk sama Nyai-Nyai di dalam. Doakan keselamatan gedung ini.

Tanpa ada yang tahu, Devan sebenarnya sudah memantau melalui CCTV sejak Aiswa menginjakkan kaki di lobi. Ia awalnya tersenyum tipis melihat keberanian "gadisnya" itu. Namun, senyum itu hilang seketika saat Dewi, yang sudah gelap mata, menyambar gelas bekas kopi hitam dari meja seorang OB dan menyiramkannya ke baju putih Aiswa.

BYUR!

Baju putih Aiswa kini kotor oleh noda kopi yang kontras. Aiswa terpaku, napasnya mulai memburu karena emosi yang mencapai puncak.

"Apa ini ya mbak? Dikira baju sama wastafel kali ya, di siram sampai kopi begini?" Aiswa mengomel.

Namun dia masih berusaha sabar. Kalau tidak sudah dipastikan rambut Dewi tidak lagi tertata rapi.

"Memang kamu pantas mendapatkan ini! Tempat ini tidak cocok untuk gembel sepertimu!" teriak Dewi.

"Ambilkan saya satu gelas lagi!" perintahnya pada OB yang kebingungan.

"Saya mohon Mbak, jangan!"

Putri berusaha membela, namun Dewi justru mengancam akan memecatnya.

Saat gelas kopi kedua hendak melayang ke arah Aiswa, Aiswa memejamkan matanya rapat-rapat. Namun, dinginnya air kopi itu tidak pernah sampai ke kulitnya. Ia merasakan sebuah bayangan besar berdiri tegak di hadapannya.

Begitu Aiswa membuka mata, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Devan Argian berdiri di sana. Kemeja putihnya yang mahal kini basah dan kotor oleh siraman kopi hitam, karena ia menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk Aiswa. Seluruh ruangan mendadak hening sesunyi kuburan. Dewi berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.

"Tu... Tuan Devan..." gumam Dewi gagu.

Tanpa berkata-kata, Devan melepaskan jas bersih yang tadi ia sampirkan di lengan, lalu memakaikannya ke bahu Aiswa yang gemetar. Tatapannya dingin, setajam silet saat menatap Dewi.

"Lucas!" panggil Devan dengan nada rendah yang mengerikan.

"Iya, Tuan," Lucas muncul dengan wajah yang tak kalah tegang.

"Bereskan ini. Saya tidak mau melihat wanita ini lagi di perusahaan saya mulai detik ini," titah Devan mutlak.

Setelah itu, tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata yang terpelongo, Devan merangkul bahu Aiswa dengan posesif dan membawanya menuju lift pribadi menuju ruangannya. Putri dan karyawan lainnya hanya bisa melongo. Bos mereka yang dikenal dingin dan tidak tersentuh, baru saja rela menjadi kotor dan pasang badan demi melindungi seorang wanita yang datang dengan niat membuat keributan.

"Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa tuan muda sampai melakukan hal itu?" gumam Putri keheranan.

Di dalam lift, Aiswa hanya bisa menunduk, menatap kemeja Devan yang basah karena dirinya.

"Bapak... kemejanya kotor," cicitnya pelan.

"Diam, Aiswa. Simpan tenaga labrakmu untuk di ruangan saya nanti," sahut Devan tanpa menoleh, namun genggamannya di bahu Aiswa justru semakin mengerat.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!