"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25.
Setelah seminggu berada di rumah, kondisi Leon sudah benar-benar pulih. Ia bisa beraktivitas seperti orang biasa, meski kadang masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terasa sedikit asing setelah lima tahun terlewatkan.
Suatu pagi, saat ia sedang duduk di teras sambil membaca buku catatannya, Pak Indra mendekat dengan senyum. “Nak, hari ini ada kabar baik. Teman-temanmu dari sekolah dulu sudah tahu kamu pulang dan membaik. Mereka sudah menelepon berkali-kali, ingin sekali menengokmu. Apakah kamu siap bertemu mereka?”
Leon terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. Ia memang penasaran, sekaligus sedikit gugup. Dalam ingatannya, ia masih mengingat wajah dan nama-nama sahabatnya, tapi tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang setelah sekian lama.
Belum lama berselang, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Pintu gerbang terbuka, dan tiga orang pemuda masuk dengan langkah tergesa namun penuh hati-hati. Begitu melihat Leon yang berdiri menyambut di teras, mereka berhenti sejenak, matanya terbelalak tak percaya.
“Leon… ini beneran lo ?” seru salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh tinggi besar bernama Dimas, yang dulunya paling dekat dengannya.
Leon tersenyum tipis dan melambaikan tangan. “Iya, ini gue. Maaf udah bikin kalian nunggu lama.”
Tanpa ragu, Dimas segera mendekat dan memeluknya erat, diikuti dua orang lainnya Raka dan Bimo. Suasana haru segera menyelimuti mereka. Selama lima tahun, mereka hanya bisa berdoa dan sesekali menjenguk Leon yang terbaring tak sadarkan diri. Hampir saja mereka kehilangan harapan, tapi sekarang sahabat mereka sudah berdiri tegak di hadapan mereka.
“Gue nggak nyangka bisa lihat lo lagi kayak gini,” ujar Raka sambil mengusap sudut matanya yang berkaca-kaca. “Setiap kali kita datang ke rumah sakit, nyokap lo selalu bilang kalo lo masih berjuang. Dan lihat sekarang… lo benar-benar bangun.”
Mereka pun duduk melingkar di teras, saling bertukar kabar. Teman-temannya menceritakan apa saja yang terjadi selama Leon terbaring koma: bagaimana mereka lulus sekolah, melanjutkan kuliah, mulai bekerja, hingga kisah-kisah konyol dan menyenangkan yang mereka alami.
Mendengarnya, Leon merasa ada celah yang perlahan terisi kembali. Meskipun ingatannya tentang masa-masa itu masih samar, rasa akrab dan kehangatan persahabatan itu terasa nyata, sama persis seperti yang ia rasakan bersama Zarek dan Valgus di dunia cerita.
“lo nggak ingat sebagian kejadian itu nggak apa-apa,” kata Bimo yang menyadari raut wajah Leon yang sedikit bingung. “Yang penting lo udah ada di sini lagi. kita akan ceritakan semuanya pelan-pelan, sampai lo bisa ingat lagi.”
Leon tersenyum tulus, kali ini tanpa rasa ragu. “makasih, bro. Rasanya seperti baru aja kembali ke tempat yang seharusnya. Gue pikir setelah sekian lama, semuanya akan berubah dan melupakan gue, tapi ternyata kalian masih ada di sini.”
“ngelupain? nggak mungkin!” potong Dimas dengan suara lantang. “Persahabatan kita nggak bisa putus begitu saja, apalagi hanya karena waktu dan keadaan. lo adalah bagian dari hidup kita, Leon.”
Siang itu berlalu dengan penuh tawa dan cerita. Leon mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya hal-hal yang belum ia pahami. Ia menyadari satu hal penting di dunia ini pun, ia memiliki ikatan yang kuat, orang-orang yang menyayanginya dan menunggunya kembali.
Saat matahari mulai condong ke barat, teman-temannya pamit pulang, tapi berjanji akan datang lagi besok dan mengajak Leon berkeliling untuk melihat perubahan yang ada di kota mereka.
Setelah mereka pergi, Leon kembali duduk sendirian, memegang buku catatannya di pangkuan. Ia merasakan kehangatan yang sama baik dari orang tuanya, teman-temannya di dunia nyata, maupun dari sahabat dan Liora di dunia cerita.
“Ternyata gue memang punya dua tempat pulang,” gumamnya pelan sambil tersenyum. “Dan keduanya sama berharga.”
Di halaman kosong buku catatannya, ia menulis satu kalimat baru. Persahabatan dan kasih sayang tidak mengenal batas dunia, waktu, atau kenyataan. Di mana pun kita berada, ikatan itu akan tetap terjaga.
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁