NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Wajah yang Sama

Mereka datang tepat ke tengah perangkap yang sudah disiapkan sejak awal. Puluhan pria bersenjata muncul dari balik peti kayu, kontainer, dan sudut-sudut gelap gudang, lalu membentuk lingkaran yang menutup seluruh jalan keluar. Lampu-lampu yang baru menyala membuat suasana semakin menegangkan, sedangkan Ezra berdiri santai di lantai dua sambil mengawasi semuanya seperti seorang penonton yang menikmati pertunjukan.

"Kalau aku jadi kalian, aku tidak akan bergerak sembarangan," ujar Ezra sambil menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi.

"Kalau aku jadi kau, aku sudah mulai berdoa," balas Bintang sambil mengarahkan pistol ke arah pria itu.

Ezra tertawa kecil.

"Aku menyukai anak ini," ujarnya sambil menoleh ke arah Viktor. "Sekarang aku mengerti kenapa kalian begitu repot melindunginya."

"Kau ingin apa?" tanya Viktor sambil melangkah maju setengah langkah.

"Aku?" Ezra tersenyum tipis. "Aku hanya ingin melihat reuni keluarga."

Tatapan semua orang langsung tertuju pada pria yang terikat di samping Raka, wajahnya masih penuh memar tetapi kemiripannya dengan Bintang tidak bisa disangkal lagi.

"Siapa dia?" tanya Rania sambil menatap Viktor.

"Namanya Arsen." Viktor terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

Jantung Bintang langsung berdegup lebih cepat.

"Arsen siapa?" tanyanya sambil mengernyit.

"Arsen Mahardika," jawab Viktor pelan.

Suasana langsung membeku karena nama belakang itu adalah nama keluarga yang selama ini digunakan Bintang.

Bintang menatap pria yang terikat itu tanpa berkedip, semakin lama ia melihatnya, semakin jelas kemiripan mereka, bentuk wajah, sorot mata bahkan garis rahang mereka hampir sama.

"Ini lelucon?" tanyanya sambil menoleh ke arah Viktor.

"Aku berharap begitu," jawab Viktor sambil menggeleng pelan.

Arsen tertawa pelan meskipun wajahnya terlihat lelah.

"Percayalah." Ia mengangkat kepalanya perlahan. "Aku juga berharap ini hanya lelucon."

"Aku tidak mengenalmu," ujar Bintang sambil menyipitkan mata.

"Itu karena kita memang tidak pernah bertemu."

"Kalau begitu kenapa wajahmu mirip denganku?"

Arsen tidak langsung menjawab, tatapannya justru beralih kepada Ezra yang masih berdiri di atas.

"Apa aku boleh menjawab?" tanyanya dengan nada sinis.

"Aku tidak keberatan." Ezra mengangkat bahu.

"Karena kita saudara." Arsen kembali menatap Bintang.

Kalimat itu membuat seluruh gudang hening. Rania langsung menoleh ke arah Bintang, sedangkan Rangga terlihat membelalakkan mata.

"Itu tidak mungkin," bantah Bintang sambil menggeleng cepat.

"Aku juga mengatakan hal yang sama saat pertama kali mengetahuinya," balas Arsen sambil tertawa hambar.

Raka yang sejak tadi terikat di kursi akhirnya membuka suara.

"Bisakah seseorang melepaskan tali ini dulu?" tanyanya sambil menggerakkan kedua tangannya.

"Situasinya kurang tepat untuk bercanda," ujar Damar sambil mengusap wajahnya.

"Aku tidak bercanda." Raka mengangkat alis. "Tanganku benar-benar sakit."

Bahkan dalam situasi seperti itu, beberapa orang hampir tertawa namun suasana kembali tegang ketika Ezra bertepuk tangan pelan.

"Sayang sekali." Ia tersenyum tipis. "Kalian terlalu fokus pada reuni keluarga dan melupakan alasan sebenarnya aku mengundang kalian ke sini."

"Aku tidak pernah menerima undanganmu," balas Bintang sambil mengepalkan tangannya.

"Tapi kau tetap datang."

"Itu karena Raka."

"Itulah yang membuatmu mudah ditebak."

Bintang melangkah maju, tetapi Viktor langsung menahan lengannya.

"Jangan," ujar Viktor sambil menggeleng pelan.

"Aku mulai bosan ditahan," balas Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari Ezra.

"Aku tahu."

"Tapi aku tetap akan maju."

"Persis seperti ayahmu." Ezra tersenyum semakin lebar.

Kalimat itu membuat langkah Bintang terhenti.

"Apa kau mengenal ayahku?" tanyanya sambil menyipitkan mata.

"Aku mengenalnya jauh lebih baik daripada yang kau bayangkan."

"Kau bohong."

"Aku jarang berbohong." Ezra tertawa kecil. "Masalahnya, orang-orang lebih suka menganggap kebenaran sebagai kebohongan."

Leonard yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju.

"Sudah cukup," ujarnya sambil menatap Ezra dingin.

"Oh?" Ezra memiringkan kepalanya. "Aku hampir lupa kau juga ada di sini."

"Aku masih hidup."

"Itulah kesalahan terbesarmu."

Tatapan kedua pria tua itu saling bertemu. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, tetapi ketegangan yang muncul terasa jauh lebih besar daripada ancaman senjata yang mengelilingi mereka.

"Berapa banyak orang yang mati karena ambisimu?" tanya Leonard sambil mengepalkan tongkatnya.

"Lebih sedikit dibandingkan orang yang mati karena rahasiamu." Ezra tertawa.

Suasana langsung berubah karena untuk pertama kalinya sejak bertemu, senyum Leonard menghilang sepenuhnya.

"Kau tidak tahu apa-apa," ujar Leonard dengan suara rendah.

"Aku tahu segalanya." Ezra menunjuk ke arah Rania. "Aku tahu siapa dia."

Kemudian ia menunjuk ke arah Raka.

"Aku tahu siapa anak itu." Lalu ia menunjuk ke arah Bintang dan Arsen secara bergantian. "Dan aku tahu kenapa mereka dipisahkan."

Jantung Rania berdegup semakin cepat.

"Kau bicara terlalu banyak," ujar Septian sambil mengangkat pistolnya.

"Mungkin." Ezra mengangguk pelan. "Tapi aku masih hidup."

Septian langsung menarik pelatuk.

Dor

Peluru melesat cepat namun sebelum mengenai sasaran, salah satu anak buah Ezra mendorong pria itu hingga peluru menghantam pagar besi dan dalam hitungan detik... kekacauan pecah.

Dor Dor Dor

Suara tembakan menggema di seluruh gudang, anak buah Ezra langsung membalas serangan sedangkan Viktor dan kelompoknya mencari perlindungan di balik kontainer.

"Lelepaskan mereka!" bentak Bintang sambil menunjuk ke arah Raka dan Arsen.

"Aku sedang mencoba!" teriak Rangga sambil menembak ke arah beberapa pria bersenjata.

Rania berlindung di belakang peti kayu sambil menahan napas, peluru terus beterbangan di atas kepalanya.

"Aku mulai membenci keluarga ini!" teriaknya.

"Selamat datang di klub!" balas Raka sambil masih terikat di kursi.

Meski situasinya kacau, kalimat itu membuat Bintang hampir tertawa.

Dor

Sebuah peluru menghantam kursi Raka hingga kayunya pecah.

"Sedikit lagi!" teriak Raka panik.

"Itu bukan aku!" balas Rangga.

.

Di lantai dua, Ezra mulai berjalan menjauh dan Viktor yang melihatnya lebih dulu.

"Dia kabur!" bentaknya sambil menunjuk ke arah tangga belakang.

Bintang langsung menoleh dan tanpa ragu sedikit pun, ia berlari mengejar.

"Bintang!" teriak Rania.

Namun pria itu sudah menghilang di balik tangga.

Hujan kembali turun deras di luar gudang ketika Bintang menerobos pintu belakang, ia melihat Ezra berlari menuju dermaga tua yang gelap.

"Berhenti!" bentaknya sambil terus mengejar.

Ezra tidak menoleh, ia hanya tertawa. Tawa yang menggema di tengah suara hujan dan ombak.

"Kau ingin jawaban?" teriak Ezra sambil terus berlari.

"Tentu!" jawab Bintang keras.

"Kalau begitu datang dan ambil sendiri!"

Jarak mereka semakin dekat, namun tepat ketika Bintang hampir berhasil menangkapnya sebuah speedboat tiba-tiba muncul dari balik kabut hujan. Ezra melompat ke atasnya dan mesin langsung meraung.

"Sampai jumpa lagi, Bintang!" teriak Ezra sambil tersenyum lebar.

"Aku belum selesai!" bentak Bintang.

"Justru sekarang semuanya dimulai!"

Speedboat itu melaju menjauh dan saat Bintang berdiri di tepi dermaga sambil menatapnya menghilang dalam gelap, satu hal akhirnya ia sadari. Musuh mereka tidak hanya mengetahui masa lalu, musuh itu mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah mereka dengar.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!