NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Isu Keamanan Sang Bos Besar

Sementara Mahesa masih sibuk merapikan alat pembersihnya di koridor sunyi lantai lima belas setelah kepergian Alena, atmosfer di dalam ruang kerja utama Direktur Utama Graha Subroto mendadak berubah menjadi sangat tegang dan mencekam. Ruangan luas berlantai kayu jati premium dengan pemandangan langsung ke deretan gedung pencakar langit Jakarta itu mendadak kehilangan kehangatannya. Hawa dingin yang sesungguhnya kini sedang menyelimuti sang bos besar, Pak Subroto.

Pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya itu duduk bersandar di kursi kerja kulitnya. Wajahnya yang biasa berwibawa dan tenang kini tampak pucat, dengan gurat-gurat kecemasan yang mendalam di sekitar dahinya. Di atas meja kerjanya yang rapi, sebuah amplop cokelat tebal berlogo khusus tergeletak terbuka, bersebelahan dengan secarik kertas putih bermotif huruf-huruf potongan koran dan sebuah tiruan selongsong peluru tajam kaliber 9mm yang mengkilap dingin di bawah sorot lampu meja.

Di depan mejanya, berdiri dua orang pria berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam rapi dengan raut wajah yang sama tegangnya. Salah satunya adalah Kepala Keamanan Internal Graha Subroto, sedangkan yang lainnya adalah asisten pribadi kepercayaan Pak Subroto sejak belasan tahun lalu.

"Jadi, kamu yakin dokumen dan barang ini dikirim langsung lewat kurir pribadi dari pihak internal mereka?" tanya Pak Subroto dengan nada suara yang bergetar rendah, berusaha sekuat tenaga mempertahankan wibawa profesionalnya di depan anak buah.

"Benar, Pak Subroto. Tim intelijen keamanan kita di lapangan sudah memverifikasi nomor pelat kendaraan dan rute yang dilewati kurir tersebut," jawab Kepala Keamanan dengan tegas, meskipun ada nada kecemasan yang terselip di balik ketenangannya. "Surat ancaman ini datang langsung dari lingkaran dalam rival bisnis utama kita, Wijaya Group. Isinya sudah sangat jelas dan tidak bisa dianggap main-main lagi, Pak."

Pak Subroto menarik napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya, lalu memajukan tubuhnya untuk membaca kembali untaian kata-kata kasar yang tertempel di kertas putih itu. 'Mundur dari proyek tender jembatan nasional minggu depan, atau nyawa Anda dan putri tunggal Anda akan menjadi taruhannya. Peluru ini adalah peringatan pertama dan terakhir.'

"Ini gila! Hendra Wijaya benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!" umpat Pak Subroto sembari menggebrak meja kerjanya dengan kepalan tangan yang gemetar akibat amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. "Dia kalah bersaing secara sehat dalam perebutan tender, lalu sekarang dia malah memakai metode premanisme tingkat rendah seperti ini untuk mengancam nyawa saya?!"

Asisten pribadinya melangkah maju satu tapak, membetulkan letak dasinya dengan gestur yang tampak cemas. "Pak Subroto, dari informasi yang saya kumpulkan dari jaringan bisnis di luar, kondisi keuangan Wijaya Group memang sedang berada di ambang kebangkrutan pasca kegagalan proyek mereka di Sumatera Timur. Jika mereka kehilangan tender jembatan nasional ini juga, perusahaan mereka dipastikan akan likuidasi. Hendra Wijaya adalah tipe orang yang sangat nekat jika sudah tersudut, Pak," jelas sang asisten dengan intonasi yang teratur namun penuh penekanan darurat.

"Saya tahu seberapa kejamnya bajingan itu kalau sudah urusan uang," bisik Pak Subroto dengan pandangan mata yang menerawang kosong ke arah luar jendela besar ruangannya. "Tapi saya tidak menyangka dia akan melangkah sejauh ini dengan mengirimkan ancaman pembunuhan secara langsung seperti ini. Dia tahu persis jadwal harian saya dan rute perjalanan pulang saya ke rumah."

Suasana di dalam ruangan mewah itu mendadak menjadi begitu sunyi selama beberapa saat, menyisakan deru halus dari sistem pendingin ruangan yang berhembus dingin. Secara profesional, Pak Subroto sadar bahwa posisinya sebagai pucuk pimpinan sebuah imperium bisnis bernilai triliunan rupiah menjadikannya target yang sangat empuk bagi para pesaing yang menghalalkan segala cara. Emosinya bergejolak hebat, ada rasa takut yang manusiawi sebagai seorang ayah, terutama karena surat itu juga menyebut-nyebut keselamatan Alena, putri semata wayangnya yang manja.

"Bagaimana dengan tim pengawal pribadi kita saat ini? Apakah mereka bisa menjamin keamanan penuh selama dua puluh empat jam ke depan?" tanya Pak Subroto, menatap lurus ke arah Kepala Keamanan dengan tatapan mata yang menuntut kepastian mutlak.

Kepala Keamanan mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, tampak sedikit ragu. "Secara formasi standar, tim kita sangat siap untuk mengantisipasi gangguan keamanan skala menengah, Pak. Namun, jika rival bisnis kita menyewa pembunuh bayaran profesional dari jaringan luar negeri—seperti desas-desus yang biasa terdengar di kalangan hitam—pengawalan biasa dari agensi lokal kita mungkin akan memiliki celah yang berbahaya," aku Kepala Keamanan dengan jujur, tidak berani memberikan janji palsu dalam situasi hidup dan mati seperti ini.

"Apa maksud kamu?! Saya membayar kalian dengan harga yang sangat mahal setiap bulannya bukan untuk mendengar alasan celah keamanan seperti itu!" bentak Pak Subroto, emosinya yang tertahan sejak tadi akhirnya pecah juga, membuat dadanya naik turun dengan napas yang memburu.

"Maafkan saya, Pak Subroto. Maksud saya, kita harus segera meningkatkan level proteksi ke tingkat tertinggi," potong Kepala Keamanan dengan cepat demi menenangkan sang atasan. "Saya menyarankan agar kita menyewa jasa konsultan keamanan militer swasta atau menambah personel 'hantu' yang bergerak di bawah bayangan untuk mengawasi setiap pergerakan di sekitar Bapak dan Nona Alena tanpa disadari oleh pihak lawan."

Pak Subroto memijit pelipisnya yang mendadak terasa sangat pening karena tekanan mental yang bertubi-tubi dari isu keamanan ini. "Lakukan apa pun yang terbaik untuk mengamankan situasi ini. Saya tidak peduli berapa biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Masalahnya, Alena itu anaknya sangat keras kepala dan manja. Dia pasti akan menolak mentah-mentah kalau pergerakannya dibatasi oleh segerombolan bodyguard baru," keluh Pak Subroto dengan nada suara yang melemah, memikirkan tabiat buruk putrinya yang baru saja memarahi seorang OB di koridor luar beberapa menit lalu tanpa tahu bahwa bahaya besar sedang mengintai keluarga mereka.

"Untuk Nona Alena, kita bisa menempatkan pengawal dengan penyamaran terselubung, Pak. Mereka bisa berpura-pura menjadi staf magang baru atau sopir pribadi tambahan agar Nona Alena tidak merasa risih atau terganggu kebebasannya," usul sang asisten pribadi memberikan jalan keluar yang cukup logis.

Pak Subroto tampak menimbang-nimbang usulan tersebut selama beberapa saat, mengetukkan jemarinya di atas meja yang dingin. "Ya, itu ide yang bagus. Hendra Wijaya pasti mengincar saya sebagai target utama, tapi Alena adalah titik lemah saya yang paling rapuh. Jika mereka berhasil menyentuh Alena, saya pasti akan terpaksa menyerahkan tender itu secara sukarela kepada mereka," gumam Pak Subroto dengan nada masif yang penuh dengan rasa khawatir seorang kepala keluarga.

"Saya akan segera menghubungi agensi keamanan khusus siang ini juga untuk menyaring personel terbaik yang memiliki kemampuan bela diri tingkat tinggi dan keahlian penyamaran taktis, Pak," sahut Kepala Keamanan, mencatat perintah tersebut di buku saku kecilnya secara profesional.

"Pastikan penyaringan ini dilakukan dengan sangat ketat dan rahasia. Jangan sampai ada satu pun kebocoran informasi ke media atau ke karyawan biasa di gedung ini. Kita tidak boleh memicu kepanikan massal yang bisa menjatuhkan nilai saham perusahaan di bursa efek," tegas Pak Subroto dengan sisa-sisa ketegasan kepemimpinannya yang masih kuat.

"Dimengerti, Pak Subroto. Semua dokumen ancaman dan selongsong peluru ini akan saya amankan di ruang penyimpanan bukti internal kita untuk penyelidikan lebih lanjut secara tertutup," kata Kepala Keamanan sembari mengemasi amplop cokelat di atas meja dengan sarung tangan kain putih yang sudah ia siapkan.

Pak Subroto kembali bersandar di kursi kerjanya yang besar, memejamkan matanya rapat-rapat demi mengusir bayangan buruk tentang masa depan perusahaannya dan keselamatan putri tercintanya. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia tahu bahwa peperangan bisnis di tingkat atas ini telah bergeser dari sekadar adu strategi di atas meja rapat menjadi pertarungan berdarah yang mengancam nyawa di dunia nyata.

Sementara itu, di balik dinding ruangan yang tebal dan kedap suara tersebut, Mahesa yang memiliki indra pendengaran super dari Kitab Inti Jagat sebenarnya mampu menangkap getaran frekuensi suara pembicaraan tegang itu secara samar-samar dari jarak jauh di koridor. Namun, untuk saat ini, Mahesa memilih untuk mengabaikannya secara profesional, tugasnya sebagai pekerja kecil hanyalah memastikan lantai marmer itu bersih berkilau, tanpa menyadari bahwa takdir perlahan-lahan sedang merajut benang merah yang akan menyeret dirinya masuk ke dalam pusaran konflik berdarah sang bos besar di babak berikutnya.

1
anggita
ikut dukung like👍aja.
Dewa Naga 🐲🐉
pandai Mahesa bermain kata..kata...👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap..seru...👍👍👍
Dewa Naga 🐲🐉
seru...
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp....👍
Agus Susilo
💪💪💪💪
Agus Susilo
makin terkenal musuh makin banyak dan kuat Thor MC nya harusnya dibekali ilmu beladiri serta kekuatan magis untuk pengobatan kronis dan jaga diri dari musuh yg mengancam
Gege
kaaan...kaaan... ketebak Thor jalan ceritamu..🤣🤭..ulur teroos sampai ratusan episode Thor..💪
Gege
ceritanya menghibur mirip sinetron ikan terbang
Gege
aku ga kepancing Thor sama narasimu.. paling juga Alena mabok di club trus terjadilah adegan dewasa tanpa disengaja.. trus ada plot wanita lain menyukai Mahesa dan Alena cemburu.. tarik teruus sampe episode berjilid Thor..🤣🤣🤭
Gege
yaah gaji OB 4jt All in, dikalikan 20 baru 80jt Thor.. pikir ditawari gaji 200jt gitu si Sasa Mahesa...🤭🤣
Paksu82: sisanya buat author boskyu... 🤭🤭🙏
total 1 replies
Gege
apakah MC bakalan dapat gaji ratusan juta? yoooklah gass updatenya 10k kata thor
Paksu82: di bayar pakai cinta boskyu...🤭🙏
total 1 replies
Gege
pikir Mahesa mau jadi tukang pijet dengan keahlian kita warisan kuno, eeeh malah mau jadi tukang kawal a.k.a bodyguard...🤭🤣
Paksu82: 🤭 idenya tadinya dari film jetli boskyu, kemren lihat filemnya jadi aja keluar ide ini, semoga suka boskyu...
total 1 replies
Gege
bahas padi ada pepatah Thor dijaman sekarang. ilmunya seperti padi tapi berasnya import...🤣
Paksu82: beras lokal mahal boskyu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Hentri Gunawan
lanjut kn thor
Gege
Yoo gass lagi Thor..ide ceritanya keren ini... bikin enteng saja, yang penting ngalir Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!