NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Seminggu sudah Asya berada di Indonesia. Hubungan Anisa dan gus Kafka sangat harmonis. Asya merasa lega melihat kebahagiaan kakak keduanya itu.

Saat ini Asya berada di ruang tv bermalas-malasan. Abang dan kakak iparnya sedang sibuk dengan kegiatannya di pesantren. Ia merasa bosan sendirian

Ting

Sebuah pesan masuk ke ponsel Asya. Ia tersenyum saat tau siapa pengirim pesan itu.

'Aku sudah resmi bercerai. Tolong pertimbangkan permintaanku'

Begitulah isi pesan itu. Asya menepuk keningnya. Ia lupa bahwa ia masih menggantungkan Alif. Asya mengotak-atik ponselnya membalas pesan dari kawannya itu.

^^^'Sholat istikharah lah minta petunjuk sama Allah apakah aku ada dalam jawaban itu'^^^

Asya tersenyum setelah mengirim pesan itu. Tak lama kemudian Alif membalasnya.

'Baiklah. Tunggu aku ya secepatnya pasti Allah kasih jawabannya'

Asya hanya membaca pesan itu. Ia kembali fokus pada tontonan di depannya. Umi dan abi berjalan menuruni tangga. Mereka menghampiri anak bungsunya itu.

"Adek bisa bantuin Umi?," tanya umi

"Apa yang bisa Asya bantu?," tanya Asya balik

"Umi harusnya saat ini ngajar di kelas 1 diniyah tapi karena umi harus menemani abi maka bolehkah minta tolong pada Adek untuk menggantikannya?," tanya umi

"Boleh kok," jawab Asya

"Adek mau nitip apa nanti kami belikan," ucap abi menawarkan

"Tidak usah Abi. Nanti kalo pengen jajan bisa beli di kantin," ucap Asya sambil tersenyum

Abi mengelus kepala Asya dengan penuh kasih sayang. 'Maafkan abi, Nak. Seandainya waktu itu abi tau bahwa kamu mencintainya maka abi tidak akan membuatmu sakit hati sampai menjauh dari keluarga begitu lamanya' batin abi.

"Ya sudah kami berangkat dulu ya," ucap umi

"Assalamualaikum," pamit abi dan umi

"Waalaikumsalam," jawab Asya sambil menatap keduanya yang berjalan keluar rumah

Asya menyusuri lorong madrasah yang sudah sepi karena para santri sudah memasuki kelasnya masing-masing. Asya membuka pintu kelas perlahan.

"Assalamualaikum," salam Asya

"Waalaikumsalam," jawab seluruh santri putri

"Hari ini saya yang akan mengisi materi dikarenakan umi saya sedang ada acara di luar," ucap Asya sambil tersenyum

Asya mulai mengabsen satu per satu santri di kelas. Setelah selesai ia mulai berjalan menyusuri tiap bangku santri.

"Hari ini materinya tentang keikhlasan ya. Ada yang mau berpendapat nggak tentang ikhlas?," tanya Asya sambil menatap satu per satu santri

"Ikhlas itu rela, ikhlas itu menerima dengan lapang dada apa yang menjadi takdir Allah," ucap salah seorang santri

"Contohnya?," tanya Asya lagi

"Melihat dia bersanding dengan orang lain Ning. Meskipun rasanya sangat sakit tapi tetap harus ikhlas. Karena nyatanya takdir dia berjodoh dengan orang lain," ucap santri itu terkekeh

"Kok kamu seperti curhat ya?," gurau Asya

"90% benar Ning," jawab santri lalu tertawa kecil

Asya merasa senang mengajar di kelas ini. Semua santri nyambung diajak sharing dan mereka kompak.

Skip

Asya berjalan menyusuri lorong madrasah menuju ndalem. Banyak santri putri yang menyapanya. Asya membalas semua sapaan para santri.

'Sepertinya sedang ada tamu' batin Asya

"Assalamualaikum," ucap Asya yang memasuki rumah

"Waalaikumsalam," jawab dua orang pria di ruang tamu

"Asya?," ucap seorang pemuda yang menjadi tamu abangnya

Asya menoleh ke asal suara. Ia melihat Alif yang sepertinya terkejut menatap dirinya. Asya juga sama terkejutnya.

"Alif?!," pekik Asya

"Kalian saling kenal?," tanya Raffa

"Kami kuliah di tempat yang sama, Gus," jawab Alif

"Kamu ngapain di sini?," tanya Asya

"Aku alumni pesantren ini," jawab Alif

"Alif ini dulu salah satu santri di sini. Terkadang kalo Abang lagi ada urusan mendadak, Alif lah yang menggantikan abang ngajar," jelas Raffa

"Abang?," Tanya Alif heran

"Asya ini adalah adik bungsu saya, Lif," jelas Raffa

Alif terkejut bukan main. Ternyata ini yang dimaksud Asya tempo hari. Sekarang Alif tau kenapa Asya lebih memilih hidup di negeri orang. Karena lingkup keluarganya pesantren.

'Jadi aku naksir sama adik dari ustadz ku? Apa gus Raffa akan merestuinya?' batin Alif gelisah

"Jadi ustadz teladan yang sering kamu ceritain waktu kamu mondok itu abangku ya, Lif," ucap Asya terkekeh

Alif tersenyum sambil menggaruk hidungnya yang tak gatal. Raffa menganggukkan kepalanya begitu paham bahwa muridnya dulu ternyata teman adiknya.

"Tapi kenapa saat aku mondok di sini nggak pernah lihat kamu?," tanya Alif heran

"Aku aja jarang pulang," ucap Asya terkekeh

Raffa mengamati percakapan keduanya. Raffa melihat ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya.

Malam harinya Asya sedang duduk di gazebo belakang. Ia menatap bintang berkilauan di langit.

"Kenapa belum tidur?," tanya Raffa yang baru saja duduk di samping adiknya

"Belum ngantuk Bang," jawab Asya

"Kamu ada hubungan spesial dengan Alif?," tanya Raffa

"Kok Abang nanya gitu?," tanya Asya

"Karena abang melihat binar mata bahagia Alif saat melihat kamu," jawab Raffa

Asya menghela napasnya. Bagaimanapun juga ia tak akan pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari abangnya ini.

"Teliti banget jadi orang. Aku sama Alif berteman baik karena kami satu organisasi jadi sering komunikasi. Beberapa hari yang lalu Alif bilang dia suka sama Asya dan ingin Asya membuka hati untuknya. Tapi Asya takut Bang," ucap Asya

"Apa yang kamu takutkan?," tanya Raffa

"Terluka seperti sebelumnya," ucap Asya lirih

"Gak semua laki-laki sama Dek. Jujur aja nih ya sebenarnya dulu Abang berniat menjodohkan kamu sama Alif loh tapi karena saat itu kamu cerita bahwa kamu sedang mencintai orang lain maka Abang mengurungkan niat itu," ucap Raffa terkekeh

Raffa memandang wajah teduh adiknya. Ia mengusap bahu adiknya lembut.

"Abang tau bahwa kamu belum siap. Tapi apa salahnya mencoba? Alif itu nggak ada minusnya. Tapi apa kamu tau bahwa dia pernah menikah dan dikhianati oleh mantan istrinya itu?," ucap Raffa

"Asya sudah tau tentang masa lalu Alif kok," ucap Asya

"Lalu apalagi yang kamu tunggu? Jemput kebahagiaan itu Dek. In sya Allah Alif bisa membahagiakan kamu. Terlepas apa yang terjadi di masa lalu, kebahagiaan menantimu di ujung sana," ucap Raffa menasehati

Asya terdiam mendengar ucapan abangnya. Selama ini Asya selalu mengenal abangnya tipe orang yang cuek. Tapi saat bersama Alif tadi abangnya itu menjadi orang yang friendly. Bahkan Raffa dengan gus Kafka saja tidak sedekat dengan Alif.

"Asya sudah menyuruh Alif untuk istikharah Bang agar dia memantapkan hatinya," ucap Asya

"Kalo dia nanti menemui abi dan abang, berarti kamu sudah siap dong," ucap Raffa

"In sya Allah," jawab Asya sambil tersenyum

Raffa menarik Asya ke dalam pelukannya. Pemandangan itu disaksikan abi dan umi. Mereka sesekali mengusap air matanya melihat kerukunan antara sulung dan bungsu. Memang dari 3 bersaudara yang paling dekat si sulung dan bungsu.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!