Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Pintu Ditutup di Wajahnya
Malam masih turun bersama hujan ketika Damian keluar dari gedung Vasiliev Group.
Udara dingin menyentuh wajahnya.
Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa lebih dingin dari hujan malam itu.
Tatapan Elara.
Nada suaranya.
Dan kalimat terakhir yang terus terngiang di kepalanya:
“Aku kecewa.”
Damian berdiri beberapa detik di depan gedung tinggi itu.
Lampu-lampu kota memantul di jalan basah.
Mobil hitamnya sudah menunggu di depan.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia tidak ingin pulang.
Karena rumah yang dulu terasa tenang sekarang hanya dipenuhi kesunyian.
Dan yang paling menyakitkan—
kesunyian itu diciptakan oleh dirinya sendiri.
“Tuan?”
Suara asistennya membuyarkan pikirannya.
“Kita kembali ke mansion?”
Damian menatap gedung Vasiliev sekali lagi.
Lampu di lantai atas masih menyala.
Ruang kerja Elara.
Ia menghembuskan napas pelan.
“Tidak.”
Asistennya bingung.
“Lalu ke mana?”
Damian terdiam sesaat sebelum menjawab,
“Ke apartemen lama.”
Apartemen itu berada di pusat kota.
Tidak terlalu besar.
Tidak terlalu mewah.
Namun dulu…
tempat itu pernah menjadi ruang paling tenang yang Damian miliki.
Karena di sana tidak ada tekanan keluarga.
Tidak ada rapat bisnis.
Tidak ada topeng.
Hanya dirinya… dan Elara.
Ketika pintu apartemen terbuka, aroma samar kopi masih terasa.
Aneh.
Padahal tempat itu sudah lama jarang digunakan.
Damian masuk perlahan.
Tatapannya menyapu ruangan.
Sofa abu-abu.
Rak buku kecil.
Lampu sudut yang dulu selalu dinyalakan Elara setiap malam.
Dan tiba-tiba…
kenangan datang terlalu cepat.
“Elara, aku pulang.”
Dulu suara itu selalu disambut langkah kaki kecil dari dapur.
“Dinner sudah siap.”
Kadang sederhana.
Kadang hanya pasta.
Kadang bahkan makanan instan karena mereka sama-sama sibuk.
Namun entah kenapa…
semuanya terasa hangat.
Sekarang?
Hanya sunyi.
Damian duduk perlahan di sofa.
Tangannya menekan pelipis.
Untuk pertama kalinya…
ia benar-benar memahami sesuatu:
Ia tidak kehilangan pelayan.
Ia kehilangan rumah.
Dan itu jauh lebih sulit diganti.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari ibunya, Seraphina.
“Besok makan malam keluarga. Jangan terlambat.”
Damian menatap layar tanpa emosi.
Lalu mematikan ponsel begitu saja.
Dulu ia selalu datang.
Selalu mengikuti.
Selalu memilih diam agar semuanya tetap damai.
Dan sekarang…
ia mulai sadar berapa mahal harga dari diam itu.
Keesokan paginya, berita bisnis kembali dipenuhi nama Elara.
Foto wanita itu muncul di layar televisi kantor Moretti Holdings.
Elegant.
Tenang.
Berbahaya.
“Pewaris Vasiliev Mulai Bersih-Bersih Internal Perusahaan.”
“Direksi Senior Mulai Tertekan.”
“Langkah Agresif Elara Vasiliev Mengejutkan Investor.”
Damian berdiri di depan layar cukup lama.
Asistennya masuk sambil membawa dokumen.
“Tuan, rapat dimulai lima menit lagi.”
Damian tidak bergerak.
“Apa menurutmu…” katanya tiba-tiba.
Asistennya bingung.
“Tuan?”
“Orang bisa memperbaiki sesuatu yang sudah terlalu rusak?”
Ruangan langsung hening.
Asisten itu jelas tidak tahu harus menjawab apa.
Dan Damian tidak menunggu jawaban.
Karena sebenarnya…
ia sudah tahu.
Sementara itu di Vasiliev Group, suasana kantor jauh lebih hidup dibanding biasanya.
Para staf mulai bergerak lebih cepat.
Beberapa divisi mulai menjalani audit mendadak.
Dan nama Elara mulai menciptakan dua reaksi berbeda:
takut…
atau kagum.
Elara sendiri sedang berjalan menuju ruang rapat kecil bersama Viktor.
“Divisi investasi mulai membersihkan dokumen,” kata Viktor.
“Cepat sekali.”
“Mereka panik.”
Elara tersenyum tipis.
“Bagus.”
Langkahnya tetap tenang.
Namun pikirannya masih sedikit terganggu sejak pertemuan tadi malam.
Damian datang.
Meminta maaf.
Dan anehnya…
itu tidak memberinya kepuasan apa pun.
Hanya rasa lelah.
“Elara.”
Suara Cassian terdengar dari belakang.
Ia berhenti berjalan.
Pria itu mendekat dengan senyum santai seperti biasa.
“Aku dengar tadi malam kau kedatangan tamu.”
“Elara kembali berjalan.”
“Kau terlalu banyak mendengar.”
Cassian tertawa kecil.
“Damian Moretti datang meminta maaf?”
Elara tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Cassian memperhatikannya beberapa detik.
“Dan?”
“Dan apa?”
“Kau memaafkannya?”
Elara berhenti.
Menoleh pelan.
Tatapannya dingin.
“Tidak semua hal selesai dengan kata maaf.”
Untuk sesaat, Cassian diam.
Lalu senyumnya kembali muncul.
“Jawaban yang menarik.”
Sore hari, setelah seluruh agenda selesai, Elara akhirnya pulang ke rumah besar Vasiliev.
Tubuhnya lelah.
Pikirannya penuh.
Ia baru saja menaiki tangga utama ketika Irina menghampiri.
“Nona.”
“Ada apa?”
“Seorang tamu datang.”
Elara mengernyit sedikit.
“Siapa lagi?”
Irina tampak ragu sebelum menjawab,
“Tuan Damian.”
Langkah Elara langsung berhenti.
Di ruang tamu utama, Damian berdiri sendirian.
Ia mengenakan kemeja hitam sederhana tanpa jas formal.
Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding malam sebelumnya.
Saat mendengar langkah kaki Elara, ia langsung menoleh.
Dan untuk sesaat…
mereka kembali saling diam.
“Aku pikir kau tidak akan datang lagi,” kata Elara datar.
Damian tersenyum tipis.
“Aku juga berpikir begitu.”
“Lalu kenapa datang?”
Damian menatapnya beberapa detik sebelum menjawab jujur,
“Karena aku belum selesai.”
Jawaban itu membuat udara terasa sedikit lebih berat.
Elara berjalan melewatinya menuju sofa.
“Kalau kau datang untuk meminta maaf lagi, aku sibuk.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu cepat bicara.”
Damian berdiri diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Aku hanya ingin tahu satu hal.”
“Elara menatapnya.”
“Dulu…”
Damian menarik napas pelan.
“…apakah kau pernah bahagia bersamaku?”
Pertanyaan itu membuat ruangan tiba-tiba terasa sunyi.
Sangat sunyi.
Elara tidak langsung menjawab.
Karena justru pertanyaan itu yang paling berbahaya.
Bukan tentang kebencian.
Bukan tentang luka.
Tapi tentang kenangan yang pernah tulus.
“Aku pernah,” jawabnya akhirnya.
Mata Damian sedikit berubah.
Namun sebelum ia sempat bicara—
Elara melanjutkan,
“Itulah kenapa semuanya terasa lebih menyakitkan.”
Kalimat itu menghantam Damian tanpa ampun.
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Tapi kau tetap melakukannya.”
Damian menunduk.
Ya.
Lagi-lagi itu benar.
“Aku bodoh waktu itu.”
“Elara tersenyum kecil.”
“Sedikit terlambat menyadarinya.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu?”
Damian mengangkat kepala perlahan.
“Aku ingin mencoba memperbaikinya.”
Dan akhirnya…
kalimat itu keluar.
Elara menatapnya lama.
Lalu tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena lelah.
“Memperbaiki?”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Damian…”
ia berdiri perlahan,
“…kau tidak sedang memperbaiki vas pecah.”
Ruangan terasa semakin menekan.
“Kau menghancurkan kepercayaan seseorang.”
Damian diam.
“Dan hal seperti itu…”
Elara menatap lurus ke matanya,
“…tidak kembali hanya karena kau menyesal.”
Hening panjang memenuhi ruangan.
Damian ingin membantah.
Ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak ada satu pun kata yang terasa cukup.
Di luar, hujan kembali turun pelan.
Suara rintiknya memenuhi kesunyian di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya…
Damian benar-benar merasa takut.
Bukan takut kehilangan bisnis.
Bukan takut reputasi.
Tapi takut…
kalau kali ini ia benar-benar kehilangan Elara selamanya.
“Elara.”
Nada suara Damian terdengar lebih rendah dari biasanya.
“Hm?”
“Apa benar… sudah tidak ada kesempatan lagi?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Membuat bahkan Irina yang berdiri jauh di lorong ikut menahan napas.
Elara memandang pria di depannya lama sekali.
Pria yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman dalam hidupnya.
Pria yang juga menjadi luka paling besar.
Dan anehnya…
dua hal itu masih berada dalam orang yang sama.
“Aku tidak tahu,” jawabnya pelan.
Jawaban itu membuat Damian sedikit mengangkat harapan.
Namun harapan itu langsung dihancurkan kalimat berikutnya.
“Tapi sekarang…”
Elara berjalan mendekati pintu besar ruang tamu.
“…aku terlalu sibuk membangun hidupku kembali.”
Damian berdiri diam.
Sementara Elara membuka pintu utama mansion.
Udara dingin langsung masuk bersama suara hujan.
Tatapannya tenang.
Namun sangat jelas.
Ia sedang menyuruh Damian pergi.
Damian menatapnya beberapa detik.
Matanya penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Penyesalan.
Rindu.
Dan kehilangan yang akhirnya terasa nyata.
“Aku mengerti,” katanya pelan.
Namun langkahnya terasa berat saat berjalan menuju pintu.
Sangat berat.
Saat melewati Elara, Damian berhenti sejenak.
“Aku benar-benar menyesal.”
Elara tidak menjawab.
Karena kali ini…
kata-kata itu tidak lagi punya kekuatan yang sama.
Dan beberapa detik kemudian—
Damian melangkah keluar.
Elara langsung menutup pintu besar itu di belakangnya.
BRAK.
Suara pintu tertutup menggema di seluruh ruangan.
Tegas.
Dingin.
Final.
Di luar mansion, Damian berdiri sendirian di bawah hujan.
Tidak bergerak.
Tidak pergi.
Tatapannya tertuju pada pintu besar yang baru saja ditutup di wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.
Perasaan yang dulu pernah dirasakan Elara saat berjalan keluar dari mansion Moretti malam itu.
Kini…
semuanya kembali padanya.
Bedanya—
kali ini, tidak ada seorang pun yang mengejarnya.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄