Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Bayang-Bayang di Balik Setelan Jas
Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti pintu gerbang menuju realitas yang berbeda. Saat kami melangkah keluar, udara Jakarta yang lembap dan berbau polusi langsung menyambut. Lukas terlihat tegang. Dia mengenakan kacamata hitam dengan setelan charcoal yang membuatnya terlihat sangat... CEO.
"Kita langsung ke hotel untuk acara makan malam penyambutan mitra bisnis," kata Lukas, suaranya kembali ke mode profesional yang dingin. "Kau harus bersiap, Rea. Ini akan menjadi pertemuan tingkat tinggi."
Aku hanya mengangguk, merasa sedikit terasing. Lukas yang ini, Lukas yang sudah mendarat di tanah kelahirannya, berubah menjadi sosok yang sangat dominan. Dia bukan lagi pria yang menyeruput mie ayam dengan berisik di Hangzhou.
Malam harinya, di sebuah ballroom hotel bintang lima, aku menyadari satu hal: aku adalah satu-satunya orang di sana yang tidak memakai gaun desainer atau setelan jas jutaan dolar. Aku hanya memakai gaun sederhana yang kupilih dengan terburu-buru.
Namun, yang membuatku merasa benar-benar tidak nyaman bukanlah gaun itu, melainkan wanita yang berdiri di samping Lukas.
Namanya Elena. Cantik, tajam, dengan rambut yang disanggul sempurna dan gaun sutra yang memeluk tubuhnya. Dia adalah Chief Strategy Officer dari salah satu perusahaan mitra yang pernah bekerja sama dengan Lukas saat dia baru membangun Arkan Tech.
"Lukas! My goodness, kau benar-benar menghilang ke China dan kembali sebagai orang yang jauh lebih sombong!" Elena tertawa, suaranya renyah namun angkuh.
Dia tanpa ragu menyentuh lengan Lukas, sebuah gestur yang terlalu akrab untuk standar profesional.
Lukas tersenyum, senyum tipis yang profesional. "Aku hanya sedang fokus pada pengembangan sistem, Elena."
"Oh, tentu saja. Sistem. Selalu sistem," Elena memutar bola matanya sambil tertawa, lalu menatapku dengan pandangan meremehkan yang sulit disembunyikan.
"Dan ini? Asisten pribadimu yang baru? Bukankah kau dulu bilang tidak butuh orang lain di sekitarmu?"
Lukas menoleh ke arahku, tatapannya sedikit melunak. "Dia bukan sekadar asisten, Elena. Dia—"
"Hanya mahasiswi magang yang kebetulan ikut dalam perjalanan dinas ini," potongku cepat, merasa panas di wajahku. Aku tidak tahu kenapa, tapi mendengar dia menyebutku 'asisten' membuat dadaku sesak.
Elena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Oh, anak magang. Lucu sekali. Lukas, kau tahu, aku sudah menyiapkan tempat untukmu di meja VIP. Kita perlu bicara soal ekspansi pasar Jakarta. Hanya kita berdua."
Tanpa menunggu persetujuan, Elena menarik lengan Lukas, membawanya ke kerumunan orang-orang penting. Lukas sempat menoleh padaku dengan tatapan bersalah, tapi dia tidak bisa menolak karena ada investor besar yang menunggu.
Aku berdiri di sana, memegang gelas orange juice dengan tangan gemetar. Aku merasa bodoh. Aku merasa sangat kecil. Selama di China dan dulu, aku merasa kami adalah tim. Kami adalah partner. Tapi di sini? Di dunianya yang sebenarnya? Aku hanyalah "anak magang" yang tidak tahu apa-apa tentang strategi bisnis tingkat tinggi.
Sepanjang malam, aku hanya bisa menonton dari kejauhan. Lukas terlihat sangat fasih bergaul. Dia tertawa (tertawa yang sebenarnya, bukan senyum tipis!), dia berdebat dengan antusias, dan Elena selalu ada di sana, terus-menerus membelai lengannya atau membisikkan sesuatu di telinganya.
"Mereka terlihat sangat cocok, ya?" suara seorang pria di sampingku membuyarkan lamunanku. Itu salah satu staf acara.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum kecut. Ya, mereka cocok. Keduanya dingin, ambisius, dan saling memahami bahasa uang dan kekuasaan.
Lukas sempat mencariku dengan pandangannya, tapi setiap kali dia mencoba mendekat, Elena selalu punya cara untuk menariknya kembali ke dalam percakapan. Rasanya seperti melihat dua dunia yang saling mengunci, dan aku berada di luar pagar, hanya bisa menonton.
Aku memutuskan untuk tidak tahan lagi. Aku meletakkan gelas di atas meja prasmanan dan berjalan keluar menuju balkon hotel yang menghadap ke pemandangan Jakarta di malam hari. Angin malam yang panas terasa mencekik.
"Rea?"
Suara itu membuatku menegang. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu siapa.
Lukas berjalan mendekat, kini dia tidak lagi memakai jasnya. Dia tampak sedikit kacau, dasinya longgar. "Kenapa pergi? Tadi acaranya belum selesai."
"Aku lelah," jawabku ketus tanpa membalikkan badan. "Dan sepertinya kamu sudah sibuk dengan 'mitra strategis'-mu yang sangat cantik itu."
Ada jeda sejenak. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya berhenti tepat di belakangku.
"Cemburu?" tanyanya dengan nada yang—sialnya—terdengar geli.
"Engga!" sergahku cepat, membalikkan badan dengan mata melotot. "Aku tidak cemburu. Aku hanya... risih. Kamu bilang kamu ingin berubah, tapi di sini kamu kembali menjadi Lukas Arkan yang arogan dan dikelilingi wanita-wanita seperti Elena."
Lukas menatapku. Senyum geli di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan yang sangat serius. Dia mendekat, sangat dekat sampai aku bisa mencium aroma cologne mahal dan sedikit bau alkohol dari gelasnya.
"Elena adalah masa lalu bisnisku, Rea. Tidak lebih," bisiknya. Dia menatapku dengan intens, membuatku merasa seolah aku satu-satunya orang di dunia ini. "Dan dia tidak pernah tahu siapa aku yang sebenarnya. Dia tidak pernah tahu tentang bengkel Pak Edi, perjuangan Seorang Remaja Laki laki Yang bekerja Dua pekerjaan sekaligus di usia muda, Dia tidak pernah tahu tentang Luqman yang menangis di koridor rumah sakit."
"Tapi dia tampak mengenangmu dengan sangat akrab," balasku, suaraku sedikit bergetar.
Lukas tertawa pelan, lalu jemarinya menyentuh daguku, memaksaku menatap matanya. "Dan dia tidak pernah tahu bahwa orang yang paling aku inginkan saat aku merasa lelah di tengah pesta mewah ini, adalah kamu. Gadis yang memakai gaun sederhana dan yang berani menantangku di atas panggung."
Dia mencondongkan tubuh, membuatku terjepit di antara pagar balkon dan dirinya. "Kau cemburu karena kau merasa tidak pantas ada di dunianya Lukas Arkan?"
Aku terdiam. Itu tepat sasaran.
Lukas menghela napas, lalu menyandarkan dahinya di dahiku. "Dengar, Rea. Lukas Arkan yang di dalam sana, yang sedang tertawa bersama investor, itu hanyalah topeng. Luq yang ada di sini, di depanmu, adalah orang yang sedang berusaha mencari cara untuk membuang semua topeng itu. Dan jika kamu merasa tidak pantas di dunianya Lukas, mungkin itu karena Lukas memang tidak pantas mendapatkan seseorang seperti kamu."
Jantungku berdegup kencang. Dia mengambil tanganku, lalu mengecup punggung tanganku dengan lembut.
"Jangan pernah merasa rendah diri di depan orang-orang itu," lanjutnya tegas. "Mereka mungkin punya uang, tapi mereka tidak punya seseorang yang benar-benar mengenal jiwa mereka seperti kamu mengenalku."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu balkon. Itu Elena.
"Lukas? Oh, kau di sini! Ayo, ada satu investor lagi yang ingin bertemu..." Elena berhenti saat melihat posisi kami. Matanya membelalak, lalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—antara terkejut dan marah.
Lukas tidak melepaskan tanganku. Dia bahkan menggenggamnya lebih erat. "Maaf, Elena. Aku sudah selesai dengan acara malam ini. Aku punya prioritas lain sekarang."
Elena terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer.
Aku menatap Lukas dengan mata bulat. "Apa yang baru saja kakak lakukan?"
"Aku baru saja menetapkan prioritas," jawabnya santai. "Dan sekarang, karena aku sudah membuat keributan di acara mewah ini, bagaimana kalau kita mencari mie ayam di pinggir jalan Jakarta? Aku ingat ada tempat enak di daerah Blok M."
Aku tertawa. "Kamu gila."
"Mungkin," dia merangkul bahuku dan menuntunku pergi meninggalkan balkon. "Tapi setidaknya aku gila bersama orang yang tepat."
Malam itu, di dalam mobil mewah yang dikemudikan sopir pribadinya, aku sadar bahwa cemburu itu sebenarnya hanyalah cara hatiku untuk mengingatkan diriku sendiri betapa berharganya dia. Dan sepertinya, perjalanan 80 episode ini akan menjadi jauh lebih dramatis daripada yang kubayangkan sebelumnya.