Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
[18] Fakta Tentang Bumi
"Masa depan Langit itu cerah. Dia seharusnya kelak bisa menikah dengan laki-laki baik. Kaya raya dan bisa mewarisi perusahaan." Beberapa jam setelah akad, semua keluarga berkumpul. Beberapa keluarga tidak menyukai pernikahan ini. Apalagi cucu pertama mereka dari Ezhar dan Orlin harus menikah dengan anak laki-laki yang mereka anggap sebagai penyebab dari ini semua.
Membawa sial.
"Ibu. Bagaimanapun Ghabumi sudah menjadi suami Langit. Dia bagian dari keluarga kita." Orlin bertutur lembut.
Firala yang tengah mengendong Ibra memberi gelengan. Wanita itu adalah ibu kandung dari Ezhar, yang tidak lain mertua Orlin sendiri. "Ibu tidak setuju. Biarpun dia udah bagian dari keluarga besar kita. Dia bukan dari keluarga baik. Dia hanya sendiri.
Mana orang taunya, gak datang kan? Jangan-jangan dia anak telantar."
"Ibu dari dulu selalu melihat tahta.
Sudahlah Bu. Bumi anak yang baik. Dia bertanggung jawab, " ucap Ezhar yang duduk di sebelah Orlin. Siang itu keluarga besar duduk berkumpul di meja makan.
"Bukan anak yang baik jika membuat cucu ibu menikah dengan cara ini, Ezhar. Wajar dong Ibu khawatir untuk masa depan Langit."
"Sudahlah Firala. Ini sudah terjadi.
Jangan membenci hadirnya Bumi di sini.
Kasian Langit." Gabian yang duduk di sebelah Rania. Istrinya, mencoba menghentikan tabiat Firala yang kembali.
Gabian adalah papa Ezhar. Suami dari Firala sebelum mereka bercerai dan akhirnya Gabian menikah kembali dengan Rania.
"Ah sudahlah. Aku hanya tidak mau ya cucuku nanti hidup susah."
Orlin menghela nafas.
"Bu, mungkin cara pernikahan mereka buruk. Tapi bukan berarti itu akan berakhir buruk juga nanti." Kia, istri dari anak Firala dengan suami keduanya, Rakha, yang tidak lain adalah saudara Ezhar, beda ayah.
"Tidak usah mengkhawatirkan untuk Kedepannya mereka bagaimana. Papa bersedia membawa Bumi masuk ke
Perusahaan papa." Gabian memang bisa berpikir lebih baik dibanding mantan istrinya itu. Empatinya lebih besar. Dia tidak suka membesarkan apa yang bisa diperkecil.
Ezhar menarik kedua sudut bibirnya.
Makin ke sini dia salut dengan papanya, walau dulunya hubungan mereka begitu rengang dan Ezhar sangat membenci Gabian yang menghilang begitu saja.
"Ezhar juga akan langsung bimbing Bumi untuk mengelola restauran, biar nanti Bumi bisa belajar dan mulai bisnis sejak kuliah."
Orlin menoleh pada suaminya. Padahal beberapa menit lalu sikap suaminya masih dingin. Terutama pada Bumi. Tapi ia salut akan bagaimana suaminya bersikap saat ini.
"Baiklah jadi apapun keadannya, ini sudah terjadi. Kita terima Bumi sebagai keluarga kita. Jangan bebani keduanya dengan ketidakterimaan. Ini saja sudah Pasti sulit bagi mereka." Faiz, papa dari Orlin, mengedarkan pandang.
Dira, istri Faiz dan mamanya Orlin mengangguk setuju. Di antara perbincangan itu tidak ada Bumi dan Langit. Di luar hadirnya mereka. Hanya para orang dewasa yang berbicara. Ezhar menyuruh mereka ke
Kamar karena tidak mau keduanya malah merasa sakit akan perbincangan ini.
Sementara itu, sepasang insan yang baru halal itu berdiam diri di kamar. Tidak ada yang bicara sama sekali sejak sejam lalu. Langit yang duduk di tepi jendela dan menatap ke luar seraya memeluk lututnya dan Bumi yang duduk di tepi kasur Langit memandangi punggung perempuan itu.
Pertama kalinya sekamar, sangat secanggung itu selain mereka masih mencerna status di antara keduanya yang sudah berubah. Langit dalam diamnya tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Bumi yang sudah menjadi suaminya.
Dia yang biasanya bersikap biasa, mereka yang berbicara santai dan berujung ribut kini malah seperti orang baru kenal. Lagipula dengan segala yang terjadi, secepat ini, dia merasa ini hanya mimpi.
Tatapan Langit jatuh ke kamar Biru. Dia menghela nafas panjang. Perasaannya pada Biru begitu besar, namun kini sosok berbeda yang mempunyai ikatan penting dalam hidupnya.
Mimpinya bersama Biru sirna.
Langit menatap cincin perak di jarinya. Ia menatap lama benda itu. Bumi. Laki-laki yang menjadi lawan bertengkarnya, rivalnya. Bad boy yang ia bilang engan berjodoh, nyatanya adalah jodoh yang tertulis untuknya.
Rasanya dia ingin menertawai takdirnya.
Entah apa yang dilakukan Bumi di belakang. Langit belum berani menoleh. Dan juga dia masih engan bicara. Rasanya dia benar butuh waktu akan status baru mereka.
Bumi juga dalam pikirannya. Memikirkan Langit. Apa yang dipikirkan Langit. Dia khawatir jika langit membencinya. Bumi bingung untuk memulai. Padahal biasanya dia yang paling gencar jika membuat langit kesal. Dia akan mencari cara agar bisa mengobrol atau berlama dengan Langit.
Tapi sekarang secanggung itu.
Tok tok tok
Netra keduanya beralih pada pintu yang diketuk. Bumi dan Langit saling tatap sesaat sebelum sama-sama berdiri.
"Gue aja," ucap Bumi diangguki Langit. Langit tetap berdiri di posisinya membiarkan Bumi yang membuka pintu.
Ezhar. Papanya yang berdiri begitu pintu dibuka lebar. Langit sontak mendekat juga.
"Pa?"
"Papa mau ngobrol sama kalian berdua.
Bisa?"
Keduanya memberi anggukan.
"Keluarga yang lain sudah pulang. Ini pembicaraan antara keluarga inti saja. Papa tunggu kalian di ruang keluarga," ucap Ezhar lagi.
Jantung Bumi dan Langit sama-sama berdegup. Ezhar berbalik duluan. Pergi meninggalkan keduannya yang masih berdiri.
"Langit?" Itu panggilan pertama Bumi setelah sejak kemarin mereka tidak lagi bicara. Tatapan Bumi dalam dan lembut.
Langit hanya memberi respon lewat matanya. Ia tatap balik wajah itu. Wajah yang tampak gusar dan kusut.
"Maaf." Hanya satu kata. Kata tulus yang sudah sangat ingin cowok itu utarakan. Bumi lalu berjalan ke luar duluan, Langit menatap punggung lebar itu.
Ia menghela nafas.
***
Di ruang keluarga, sudah duduk Orlin dan Ezhar. Keluarga yang lain benar-benar sudah tidak ada. Gara dan Gea juga tidak nampak. Apalagi Ibra. Pembicaraan kali ini hanya untuk keduanya.
Langit dan Bumi duduk sebelahan. Ezhar dan Orlin tepat di depan mereka. Suasana di ruang tamu itu sudah seperti sidang saja. Mereka tersangkanya.
Langit sampai tidak berani mendongak. Dia hanya menunduk. Sementara Bumi dia menghadap Ezhar yang sudah jadi mertuanya dengan duduk tegap bersama mental yang sudah dia persiapkan.
"Kalian tahu status kalian hari ini sudah berubah kan?" Ezhar menatap keduanya bergantian. "Bumi, kamu sekarang seorang suami." Tatapan Ezhar tegas pada menantunya.
Bumi mengangguk.
"Langit, kamu sekarang sudah jadi seorang istri." Kalimat itu ditujukan Ezhar untuknya. Langit mendongak.
"Kalian tahu kan itu artinya apa? Kalian gak teman satu sekolah lagi. Tapi lebih dari
Itu. Pernikahan. Sesuatu yang sakral dan disaksikan Allah serta pada malaikat. Akad yang Bumi ucapkan tadi bahkan udah buat Arasy Allah berguncang."
"Dan sejak akad tadi. Tanggung jawab Langit sepenuhnya beralih pada Bumi. Bukan papa lagi."
Langit menatap sendu Ezhar.
"Kalian masih belum terlalu dewasa untuk ditahap ini. Tapi nyatanya sekarang kalian sudah bukan ditahap main-main lagi. Papa yakin baik Bumi ataupun Langit paham apa makna pernikahan ini."
"Langit, Bumi sekarang imam kamu. Apapun itu Bumi yang wajib kamu turuti. Izin suami, kini segalanya. Kamu mengerti kan?"
Langit memberi anggukan.
"Papa dan mama ingin membahas ini dengan kalian. Bumi punya hak untuk membawa Langit. Karena putri saya adalah tanggung jawab kamu dunia akhirat."
Kata tangung Jawab dunia akhirat itu membuat tubuhnya bergetar.
"Kalian tahu, kalian masih sama-sama kelas 12. Sekarang papa kasih pilihan untuk
Kalian. Apa kalian akan sama-sama tinggal di sini atau tidak serumah dulu."
"Tan, Bu-"
"Bumi tidak perlu panggil Om Tante.
Kamu menantu kami. Panggil seperti Langit memanggil kami." Orlin yang sedari tadi membiarkan Ezhar bicara selaku kepala keluarga berujar lembut.
Bumi memberi anggukan. Masih terasa aneh di lidahnya. "Saya rasa kami butuh waktu untuk ini Ma Pa. Bumi serahkan semua sama Langit." Ia melirik Langit. Bumi tahu seorang istri akan ikut suaminya. Ke mana Bumi, ya Langit ikut. Tapi saat ini dia ingin mendengar keputusan Langit. Lagipula ini masih terlalu dini untuk mereka sudah satu rumah kan?
"Langit... Langit ingin tinggal di sini," tuturnya pelan. "Apa boleh kami gak serumah aja?"
"Langit. Apapun itu namun kamu tetap harus mempertimbangkan suami kamu.
Gimanapun kamu punya kewajiban sebagai seroang istri. Begitu juga dengan Bumi. Kalian sudah punya tanggung jawab yang kalian penuhi. Hak dan kewajiban seorang suami dan istri."
"Iya Pa. Langit gak akan ninggalin kewajiban itu, apa yang harus Langit lakukan dengan status ini. Tapi jika kami serumah bukannya teman akan curiga kalau kami sudah menikah?" Langit bernegosiasi. Selain dia masih canggung dengan status baru mereka, dia juga takut sekolah tahu dan berakibat pada masa depan ia dan Bumi.
"Langit ada benarnya Ma, Pa. Bagaimana jika seperti sebelumnya Langit tetap di sini dan Bumi tetap di rumah Bumi. Walaupun gak serumah, Bumi janji akan tetap menjalankan tanggung jawab dan memberikan hak Langit."
"Kami akan berusaha menjalankan walaupun gak serumah." Langit berujar lagi.
Orlin dan Ezhar saling menatap seolah sedang berbicara.
"Baiklah. Jika ini keputusan kalian. Namun papa gak akan melarang jika Bumi mau ajak Langit nginap di rumah kamu. Ataupun Bumi menginap di sini. Ini rumah kamu. Maka kamu bebas datang kapanpun."
Bumi merasa lapang akan ucapan mertuanya. Walaupun pernikahan mereka dengan cara seperti ini. Walaupun awalnya Ezhar begitu dingin, ia merasa lega karena masih diterima dengan baik.
Bekerja untuk menghidupi diri dan membayar biaya rumah sakit Ibu."
"Apa kalian kecewa dengan latar belakang keluarga Bumi?" tanyanya dengan suara tertahan.
Ezhar memberi gelengan. "Gak. Papa bersyukur punya menantu sekuat kamu."
Ezhar mengulas senyum. Itu pertama kalinya dia tersenyum kepada menantunya.
Mata Bumi memerah.
"Mama juga bersyukur. Ternyata langit dapat laki-laki sekuat dan sehebat kamu Bumi." Orlin tersenyum tulus.
Bumi tidak tahu terbuat dari apa hati mertuanya. Dia sempat takut jika keduanya tidak suka dengan latar belakang keluarganya.
Dengan hidupnya yang berantakan.
"Kenapa kalian tidak benci saya?"
"Untuk apa?"
"Karena saya membuat kalian malu apalagi di depan pak RT dan warga. Karena saya juga, Langit terjebak nikah dengan saya lalu latar belakang keluarga saya berantakan. Saya gak pantas berada di antara keluarga ini."
Ezhar berdiri. Dia menepuk bahu Bumi
itu terdengar berat dan bergetar.
"Bagaimana dengan papa kamu?" tanya Ezhar.
Bumi menggeleng. "Sejak ibu mengandung Bumi, papa pergi begitu saja ninggalin tanggung jawabnya."
Glek!
Mereka menatap iba Bumi. Langit bahkan tidak pernah menyangka hal ini. Ingatannya kembali pada foto pria yang dirobek dan wajah yang dicoret.
"Bumi gak pernah tahu siapa ayah Bumi kecuali dari foto. Apa dia masih hidup. Apa dia punya keluarga baru?" Bumi tersenyum pedih. "Bahkan kasih sayang ayah gak pernah Bumi rasakan."
Ezhar bergeming. Cerita ini membuatnya melihat dirinya yang dulu. Dia yang dulunya juga di tinggal Gabian umur 10 tahun kurang hingga umurnya 26 tahun. Orang tuanya yang bercerai dan dia yang terkena dampak. Membenci takdirnya. Membenci orang tuanya hingga waktu membuat keadaan membaik dengan sendirinya.
"Ibu kerja kantoran. Hanya saja sejak sakit ibu berhenti. Sejak tiga tahun terakhir, Bumi
Dan tersenyum. "Tidak perlu membenci hanya karena satu kesalahan. Apapun yang terjadi terjadi kemarin itu di luar kendali kita."
"Kita memang perlu menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai evaluasi. Tapi kita tidak harus berlarut dengan penyesalan yang tidak bisa kita ubah. Menantu papa mengerti kan?"
Mertua dan menantu itu saling menatap. Bumi tersenyum dan mengangguk.
"Jangan lihat ke belakang. Fokus ke depan dan bersiap saja untuk melakukan hal baik." Ezhar memeluk Bumi dan menepuk-nepuk punggungnya.
Air mata langit mengalir melihat hal tersebut. Sejak Bumi cerita tentang keluarganya. Perasannya juga merasakan sakit yang tidak dia mengerti. Air matanya juga jatuh tanpa terasa.
Orlin juga tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kalau begitu apa kami bisa melihat ibu kamu ke rumah sakit?" tanya Ezhar usai melepas pelukan. Bumi memberi anggukan.
**