Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 29
Penempatan Dinner
**
Seseorang akan merasa malu ketika dia berhadapan dengan orang yang mungkin bisa saja ia suka, ketika berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dengan infus yang masih menyala, dan semua itu dirasakan Some untuk pria bernama George itu. Dia sebenarnya punya agama kristen, namun terlepas dari agama mereka yang berbeda. Ada rasa simpatinya yang membuat Some kagum, dan juga perhatian yang ditunjukannya terasa tulus.
"Gimana Some kamu suka George tidak?" tanya Amelda, yang membuat Some menatapnya dengan senyum canggung. Dengan anggukan lemah Some mengiyakan. Memang dia suka hal yang berkaitan dengan perhatian. Pastinya pas dia menikah dengan orang itu, mereka akan lebih peduli terhadapnya. Apakah mungkin itu berlaku pada George, Some tidak tahu. Lagi pula agama mereka sudah menjadi benteng.
"Wah wah ternyata putri mama sudah bisa memilih mana yang kau suka dan tidka," ujar mama yang membuat suasana mencari riuh karena tertawa.
"Tidak apa Mel, kalau misalnya kita jadi mantuan kan bisa terus ngegosip kita," balas mama. George dan Some tahu kalau keluarganya memang terlalu kolot dalam urusan percintaan, sehingga hal sepele itu saja sudah dianggap mantuan.
"Kalau terus bergosip gitu memangnya baik?" tanya papa menginterupsi yang membuat mereka kembali tertawa. Tidka menghiraukan kedua anaknya yang antara malu juga merasa jengkel.
"Ya sudah Some dan George kenapa nggak bicara dulu, kalian kan bisa saling mengenal lebih jauh," ujar mama menatap Some seolah mencari ketertarikan dari dirinya. Namun ia tahu kalau sebenarnya Some hanya bersikap ramah agar tidak dianggap aneh oleh yang datang.
"Baik Tante," jawab George dengan ragu. Ia sampai kewalahan mencari kursi untuk duduk di sebuah kursi yang dekat dengan Some. Mungkin ketika ke sana fokus keluarganya hanya pada obrolan mereka.
"Maafkan keluarga gue," ujar Some pelan berusaha mengenal George. Meskipun perkataan itu hanya sebuah instruksi untuk bersabar sejenak.
"No itu bukan salah mereka. Loe lagi sakit, jangan banyak bicara," balasnya dengan pelan juga. Perlahan kecanggungan mencari diantara keduanya.
"Lantas apa kamu sama sekali nggak keberatan?" tanya Some akhirnya dengan sebisa mungkin melawan rasa nyeri bekas operasi. George terkekeh tertarik dengan sikap anti social dari Some.
"Keberatan jelas enggak aku nggak pernah berpikir mempunyai orang tua sebaik orang tua kamu memikirkan masa depan anaknya," ujarnya terdengar jujur membuat Some menyunggingkan senyum kecil. Ia lantas mencari kata - kata yang bisa menggambarkan dirinya lebih jauh, siapa tahu tertariknya kali ini mendapat keputusan.
"Apakah kamu mengira kalau papa dan mama terlalu mengharapkan ku, padahal aku jelas berbaring di rumah sakit," ujar Some perlahan. George memerhatikan baik - baik lalu ia menggeleng.
"Mereka mengharapkan mu lebih dari apa yang mereka lakukan Some. Kamu jelas tahu, kalau kamu belum siap menanganinya," ujar George. Ia tahu begitu sulitnya seseorang ketika dihadapkan dengan keadaan yang tidak mendukung seperti Some saat ini.
"Aku bukannya belum siap. Hanya saja terkadang aku membangkang keinginan mereka, bahkan untuk ini," ujar Some jujur. Lalu George tertawa kecil, benar saja dia sangat menyukai orang yang berpikiran positif tanpa ada tekanan.
"Kenapa membangkang, bukannya didikan orang tua itu bagus. Seperti aku, yang menuruti keinginan mereka bahkan untuk ini," ujarnya perlahan. Lalu Some menunduk lesu, benar sayangnya selama ini Some bertahan menjadi dirinya sendiri.
Some memainkan jemarinya perlahan nampak malu menjawab kejujuran itu. "Aku selalu menangani semua hal unik membanggakan mereka dengan hal yang aku suka. Misal memberikan mama hadiah ulang tahun yang mahal, juga membuat papa senang dengan anaknya yang berpenampilan seperti anak remaja," ujar Some. Ia menceritakannya karena untuk saat ini ia perlu membuka diri agar lebih bebas memilih seseorang baru di hidupnya.
Terlebih dia adalah cewek yang nggak terbuka, apalagi sama pacar.
"Wah Some nampaknya ketika aku menerima perkenalan ini juga, aku harus menerima kamu apa adanya. Ternyata rencana orang tua itu bagus ya," ujar George bangga entah pada siapa. Some nampak bingung namun ia tahu maksudnya mungkin Some sama sekali bukan gadis yang ia terka.
"Hehe kamu ingin cewek berpendidikan yang sepadan misal juara satu lomba fisika," ujar Some menggoda dan George hanya tertawa kaku.
"No. Itu membosankan, sudah banyak pretasi yang ku punya mengapa harus diterpa pacar yang sama. Tapi ya aku sangat suka orang pintar," jawabnya jujur. Some yakin dirinya selalu salah penilai orangtuanya. Dan ternyata ini yang membuat mama dan papa selalu mewanti anaknya agar pintar.
"Kita bakalan cocok, sayangnya agama kita berbeda," ujar Some mulai merasa jenuh. Melihat salib bartender di leher pria itu. Benar percuma punya hal yang dibanggakan kalau kita tidak seiman.
"Hehe, kita bakalan punya hubungan lain Some. Agama tak mendominasi, kita bisa temenan bahkan teman curhat juga bisa," ujar George membuat Some ikut tertawa.
"Jadi apa kamu menerima jika saja perjodohan ini berlaku pada beda agama?" tanya Some lebih ke pandangan George terhadapnya. Jika saja ia tahu kalau Some nggak yakin kalau itu berjalan sesuai rencana.
"Kayaknya hubungan akan semakin sulit, apalagi cinta juga sudah sulit kita raih, hehe mungkin itu saja," ujar George nampak ragu. Dan Some tahu keduanya memang tidak seimbang.
"Hmm jadi hanya sebatas perkenalan dan jenguk yang membuatku tersanjung. Btw, terima kasih menyempatkan waktu ke sini, padahal sebelumnya kamu sudah tahu kita beda agama," ujar Some sambil memegang tangan pria itu yang hendak menghampiri ibu dan bapaknya.
"Tidak apa - apa, selamat atas keberhasilan operasinya Some," ujar pria itu. "Akan ada orang yang menerima penyakit dan kamu dengan suka dan duka," tambahnya. Meski hanya sebuah sanjungan tapi Some yakin ketulusan George.
"Maaf ya jeng, kayaknya pertemuan kita sampai sini saja. Hati - hati Some jangan kebanyakan main, kayaknya papa ada meeting. Ya udah sampai jumpa lagi," ujar Amelda sambil menjabat keluarga Some termasuk gadis yang sempat mau disanding dengan anaknya. Namun melihat ekspresi dari kedua orang itu mereka tahu jawabannya.
Mama dan papa hanya sanggup menghembuskan nafas pasrah. Siapa yang tidak kesal mendengar bedanya agama dari dua orang yang sempat punya komitmen demi keluarga.
**
Setelah paska selesai operasi dan akhirnya bekas operasi di atas perut Some perlahan pulih. Meski masih terlihat basah namun dua hari ini mereka tidak was - was pas pertama kali selesai. Some mendapat bimbingan belajar dari teman mamanya, ia juga yang suka mengadakan belajar mandiri di rumah. Dan untuk itu Some di sekolah tidak absen sama sekali. Karena hal itu jadi tiga sahabatnya termasuk Setyo datang menjenguk. Dengan lengkap menggunakan pakaian sekolah.
"Hi," ujar Cassie pas pertama kali membuka pintu rawat inap. Dia menghampiri Some dengan Dina dan Setyo. Mereka masih merasa kikuk, karena baru mendapat kabar pas Some selesai operasi.
Percayalah sebenarnya mereka menyesal karena tidak bertanya lebih jauh perihal penyakit Some.
"Hi guys," jawab ceria Some di atas ranjang. Ia bersandar pada bantal, dan wajahnya sama sekali menunjukan kalau ia baik - baik saja.
"Ini buat loe," ujar Setyo sambil membawa bingkisan bunga dari tangan Cassie. Lalu menyunggingkan senyum manis.
"Selamat selesai operasi," ujar Dina di belakang Setyo. "Gue nggak pernah menyangka akan begini jadinya, gue ingat janji loe," tambah Dina.
Some menghela nafas. "Iya emang janji itu cuma agar gue nggak terjadi seperti ini Din, dan ternyata pada akhirnya gue nggak bisa menolak," ujar Some menyerah. Cassie dan Dina saling mendekati Some merasa iba, mungkin pelukan mereka bisa meredakannya.
"Gws," ujar Cassie berbisik sambil mengelus bahu Some. "Kita nggak bisa lama - lama lagi di sini Some, sebentar lagi ada kelas, nanti kalau minggu ke sini lagi," lanjutnya. Membuat Setyo nampak merasa kesal karena tidak bisa menunggu Some.
"Nggak usah gue bakalan lebih awal sekolah kali," balas Some yang seketika membuat mereka tertawa.
"Serius padahal Some operasi loe belum tentu udah kering main sekolah aja. Gue nggak mau malah makin tambah nyeri itu bekas," ujar Dina menginterupsi namun kediaman Some membuat ia sadar kalau Some emang nggak dapat dibantah.
"Ya udah kalau loe sekolah berarti loe udah sembuh," ujar Setyo sambil mengacak gemas rambut Some yang beneran baru di sisir.
"Ih Setyo diem," ujar Some kesal. Sambil menyingkirkan tangan itu.
"Kita pergi dulu ya, jangan lupa buahnya dimakan, Dina yang beli," ujar Cassie sambil memberikan Some sekotak buah segar. Ia hanya mengangguk patuh.
"Bye," ujar Cassie juga sambil menarik pintu ruang rawat inap. Sekaligus keluar dari ruangan bersama dengan Dina dan Setyo. Ruangan itu kembali lagi hening. Tapi kemudian datang mama dengan tergesa.
"Benar Some kamu bisa sekolah dua hari lagi, tapi ingat mama nggak mau kamu kelelahan," ujar mama to the point. Sambil mendekati anaknya yang kembali segar itu.
Ia memegang tangan Some. "Ingat! Mama dan papa sebenarnya udah merasa putus asa sama pilihan - pilihan kamu yang nggak pernah kamu iyakan. Semoga kencan yang terakhir ini memberi kami keputusan, right?" tanya mama penuh harap. Some mengatupkan bibirnya rapat.
"Baik," jawabnya sambil menunduk. Dan ia tahu kesempatan ini akan membawanya pada harapan yang sebenarnya masih ia pikirkan.
**