Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian dan Pengusiran
Setelah sampai, ia membuka pintu perlahan. Pemandangan di dalam membuat langkahnya terhenti.
Ji Lianyue sudah terbangun. Ia duduk bersandar di ranjang, wajahnya masih sedikit pucat, tapi matanya sudah jernih dan sadar sepenuhnya. Lin Feng duduk di sampingnya, memegang tangan istrinya. Dan yang paling penting, Lin Han bisa merasakan kultivasi ibunya benar benar pulih. Aliran Qi dari tubuhnya stabil, meridiannya berfungsi normal. Keajaiban yang tidak mungkin terjadi, terjadi dalam semalam.
Lin Feng langsung berdiri begitu melihat putranya.
"Nak, lihat ibumu! Dia mendapatkan keajaiban! Kultivasinya yang hancur, meridian yang rusak, pulih dalam semalam. Ini sebuah keajaiban yang tidak mungkin terulang!"
Lin Han langsung mendekati ranjang. Ia menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangannya sendiri.
"Apakah itu benar, Ibu?"
Ji Lianyue mengangguk pelan, senyum lemah tersungging di wajahnya.
Lin Han langsung memeluk ibunya erat. Air matanya mengalir, kali ini air mata bahagia.
Tak berselang lama, pintu terbuka lagi. Liu Bei masuk dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Lin Feng langsung bertanya. "Kenapa, Saudara Bei? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"
Liu Bei menggelengkan kepalanya. "Justru ini hal baik. Istriku kultivasinya pulih, racunnya menghilang, dan meridiannya pulih total."
Lin Feng membelalakkan matanya. "Ini gila! Dua keajaiban dalam semalam. Ini benar benar terjadi!"
Liu Bei mengernyitkan dahinya. "Dua keajaiban... Maksud Saudara Lin ini..."
Sebelum Lin Feng menjelaskan, Liu Bei mundur selangkah karena terkejut. Matanya menatap Ji Lianyue yang sudah duduk di ranjang.
"Nyonya Ji juga pulih... Bagaimana bisa ini terjadi bersamaan?"
Lin Feng menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu."
Liu Bei terdiam.
Lin Feng menghela nafas. "Lupakan saja tentang itu. Karena yang terpenting adalah... keduanya selamat, dan kita sekarang bisa fokus pada pencarian Liu Mei."
Liu Bei mengangguk setuju, wajahnya menunjukkan sedikit kelegaan untuk pertama kalinya sejak semalam.
Lin Han kemudian berdiri. Ia melepaskan pelukan dari ibunya dan berbalik menghadap Liu Bei.
"Ayah Mertua. Saya ingin bicara hal penting."
Lin Feng mengernyitkan dahinya.
Liu Bei mengangguk. "Katakan saja di sini."
Lin Han diam sejenak.
Lin Feng menepuk pundaknya, memberi dukungan tanpa tahu apa yang akan diucapkan putranya.
Lin Han menarik napas panjang, lalu membuangnya. Kemudian ia berlutut.
Ji Lianyue, Lin Feng dan Liu Bei terkejut.
"Ayah mertua, saya ingin menceraikan Liu Mei." Ucap Lin Han.
"Apa?"
Kata Liu Bei dan Lin Feng bersamaan. Keduanya seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Lin Han berbicara lagi. "Saya ingin bercerai, dan memohon agar Ayah dan Ayah Mertua menjadi saksi. Saya putuskan hubungan pernikahan saya dengan Liu Mei hari ini. Di hadapan Ayah, Ayah Mertua, leluhur, dan di hadapan langit dan bumi."
"Kau gila?" Suara Liu Bei serak. "Putriku sedang diculik, dan kita semua tidak tahu dia di mana. Ibumu dan ibu mertuamu meskipun sudah pulih kultivasinya, mereka masih sakit. Dan kau sanggup bicara cerai?"
"Iya."
"KENAPA?!"
Lin Han bersujud, dahinya nyaris menyentuh lantai.
"Saya tidak bisa memberitahu alasannya. Ayah Mertua boleh pukul saya, bahkan bunuh saya jika perlu. Tapi satu hal yang pasti... saya tetap ingin bercerai."
Mendengar itu, Ji Lianyue dan Lin Feng sangat terkejut, bahkan terpukul. Wajah Ji Lianyue yang baru saja membaik kembali pucat. Lin Feng mengepalkan tangannya, kuku kuku jarinya memutih.
Liu Bei mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya. Pedang itu bergetar di tangannya, bukan karena takut, tapi karena amarah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.
"Kau tahu apa artinya ini? Kalau kau ceraikan istrimu saat dia tidak ada, itu sama saja kau campakkan putriku. Dia tidak bisa membela diri, dan tidak bisa bertanya. Dia hanya akan tahu saat dia pulang nanti... suaminya ternyata sudah tidak menginginkannya lagi."
"Saya tahu." Jawab Lin Han. Suaranya tetap datar, tapi di dalam hatinya, setiap kata itu seperti belati yang menusuk.
"Dan kau tetap mau?" Tanya Liu Bei, suaranya bergetar hebat.
"Maafkan saya, Ayah Mertua. Dan tolong lepaskan ikatan ini."
Liu Bei mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah ke leher Lin Han. Lin Han tidak bergerak, menerima kemarahan mertuanya.
Lin Feng mengepalkan tangannya semakin kuat. Ia merasa sangat kecewa dengan apa yang diucapkan putranya, tapi ia tidak bisa bicara karena terlalu shock.
Mata Liu Bei berkaca kaca, pedang di tangannya bergetar semakin keras.
Ting!
Pedang itu jatuh ke lantai dengan suara nyaring.
"Pergi." Bisik Liu Bei. "Pergi dari kediamanku, sebelum aku benar benar membunuhmu."
Lin Han menangkupkan tangannya, masih dalam posisi berlutut, lalu ia berdiri. Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan, bahkan tanpa melihat wajah ayah ibunya.
Di ruangan itu, Liu Bei terduduk di lantai. Tangannya menutup wajahnya, bahunya bergetar, karena terlalu banyak beban yang menimpanya dalam sehari. Istrinya hampir mati, putrinya diculik, dan sekarang menantu yang sangat ia kagumi, kini menceraikan putrinya tanpa alasan yang jelas.
Lin Feng mendekati Liu Bei, membantu sahabatnya berdiri, suaranya bergetar saat berbicara.
"Saudara Bei, aku..."
Liu Bei menggelengkan kepalanya, memotong kalimat Lin Feng.
"Ini bukan salahmu. Jadi jangan salahkan diri sendiri."
Lin Feng mengepalkan tangannya, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata kata yang bisa keluar.
Liu Bei kemudian berjalan keluar ruangan. Langkahnya gontai, tidak seperti Patriak Klan Liu yang biasanya tegap dan berwibawa.
Ji Lianyue yang masih duduk di ranjang berbicara dengan suara lemah.
"Kenapa putra kita melakukan itu? Dia bukan seseorang yang memutuskan sesuatu tanpa alasan yang kuat. Dia selalu bijak dalam berpikir. Tapi tadi..."
Ji Lianyue menangis ,air matanya mengalir pelan di pipinya yang masih pucat.
Lin Feng langsung mendekat dan memeluk istrinya. "Tenanglah. Biar aku bicara dengan putra kurang ajar itu."
Ji Lianyue mengangguk pelan dalam pelukan suaminya.
"Tapi... tolong jangan pukul anakku."
Lin Feng menghela napas berat.
"Kau ini... dia juga anakku. Tidak mungkin aku memukulnya."
Ji Lianyue mengangguk lagi.
Ia merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang, menutup matanya.
Lin Feng menatap pintu yang ditinggalkan putranya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lin Han yang ia kenal tidak akan pernah melakukan hal seperti ini tanpa alasan. Tapi alasan apa yang begitu penting hingga ia rela menceraikan istrinya di saat seperti ini? Alasan apa yang begitu berat hingga ia tidak bisa mengatakannya pada ayahnya sendiri?
Lin Feng tidak tahu.
Tapi ia bertekad akan mencari tahu..