Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Merayakan Kehampaan
"Kembang api meledak di langit malam, merayakan kebebasan kami dari seragam putih abu-abu. Gelas-gelas berdenting, tawa riang mengudara tanpa beban. Semua orang merayakan masa depan yang membentang luas. Namun di tengah gegap gempita ini, aku merayakan sesuatu yang jauh lebih sunyi: aku merayakan kepergianmu, dan merayakan hatiku yang akhirnya belajar bernapas dengan sebelah paru-paru." (Buku Harian Keyla, Halaman 138)
Kilatan flash kamera studio berkedip menyilaukan mata.
"Oke, gaya bebas ya semuanya! Satu... dua... tiga!" seru sang fotografer dengan penuh semangat dari balik lensa kameranya.
Lidya merangkul leher Bella sambil menjulurkan lidahnya ke arah kamera. Siska berpose anggun dengan senyum manis yang terukur sempurna, memamerkan gaun kebayanya yang membalut tubuhnya layaknya model profesional. Di ujung kanan, aku berdiri berdampingan dengan Indra. Laki-laki itu melingkarkan lengan kokohnya di pinggangku, menarikku sedikit merapat padanya.
Aku memaksakan sudut bibirku untuk tertarik ke atas. Aku tertawa saat Bella tak sengaja menginjak ujung kain lilit Lidya hingga sahabatku itu nyaris terjengkang. Dari luar, aku terlihat seperti Keyla yang bahagia. Keyla yang telah kembali. Keyla yang sedang menikmati perayaan kelulusannya bersama orang-orang terdekatnya.
Namun di dalam kepalaku, layar memori itu terus memutar ulang kejadian dua jam yang lalu di koridor sekolah.
Tiga detik tatapan itu. Keberhasilannya menembus Teknik Sipil. Dan punggungnya yang menjauh tanpa pernah menoleh lagi.
"Bagus banget hasilnya!" pekik Bella girang saat kami melihat pratinjau foto di layar komputer studio. "Gila, kita emang bibit-bibit unggul. Eh, lihat deh yang ini, Keyla sama Indra serasi banget sumpah! Kayak foto pre-wedding!"
Siska tersenyum puas, melingkarkan lengannya di lenganku. "Udah aku bilang kan? Malam ini kita rayakan semuanya. Nggak ada lagi beban, nggak ada lagi masa lalu yang ngerusak mood. Cuma ada masa depan."
Siska sengaja menekankan kata 'masa lalu'. Sahabatku itu masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa 'sampah' yang selalu ia hina baru saja membuktikan diri lebih unggul secara akademis dibandingkan sebagian besar anak kaya di sekolah kami. Dengan merayakan kelulusan ini secara mewah, Siska berusaha mengubur fakta tersebut dari ingatanku.
Setelah sesi foto studio selesai, Indra mengemudikan mobilnya membawa kami menuju sebuah restoran rooftop yang sudah ia booking khusus untuk perayaan hari ini. Restoran itu menghadap langsung ke deretan gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampunya seiring dengan turunnya senja.
Angin sore berembus sejuk. Di meja bundar yang mewah itu, kami memesan berbagai macam hidangan penutup dan minuman dingin.
"Jadi, fix nih ya, lo ambil Manajemen Bisnis, Ndra?" tanya Lidya sambil memotong cheesecake-nya.
Indra mengangguk santai. "Iya, nerusin jejak Papa. Nanti kuliahnya juga searah kok sama kampusnya Keyla. Jadi aku tetep bisa nganter-jemput dia biarpun kita beda fakultas."
Indra menoleh ke arahku, memberiku senyum lesung pipinya yang selalu berhasil membuat siswi-siswi lain menjerit iri. Aku menundukkan wajahku, menyembunyikan rona canggung yang masih saja sulit kubiasakan. Aku telah memutuskan untuk mengambil jurusan Sastra di universitas negeri yang sama dengan tempat Siska diterima di Fakultas Hukum.
"Duh, bucin banget sih kapten kita satu ini," goda Bella sambil tertawa. "Awas loh Key, dijagain terus kayak tahanan kota."
"Biarin aja, Bel. Dijagain sama pangeran mah bahagia," sahut Siska dengan nada memuji. "Daripada ngejar-ngejar cowok yang..." Siska menghentikan kalimatnya sejenak, melirik ke arahku untuk melihat reaksiku. Ia sengaja memancingnya lagi. "...yang cuma bisa ngasih luka."
Suasana di meja seketika menjadi sedikit kaku. Indra yang menyadari perubahan raut wajahku langsung berdeham pelan, memotong arah pembicaraan.
"Udah, kita lagi bahas masa depan, nggak usah bahas yang lain," ucap Indra tegas, namun tetap menjaga kesopanan pada Siska. Indra menuangkan lemon tea ke gelasku. "Kamu mau nambah dessert-nya, Key? Atau mau pesen main course lagi?"
"Nggak usah, Ndra. Ini aja udah kenyang banget," jawabku pelan.
Aku menopang dagu, menatap pemandangan kota Jakarta dari atas rooftop. Langit perlahan berubah menjadi biru dongker, dihiasi rintik hujan gerimis yang mulai membasahi kaca pembatas restoran.
Hujan lagi.
Pikiranku otomatis kembali melayang. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah hari ini ia mengambil libur dari pekerjaan kasarnya untuk merayakan kelulusannya bersama Nanda?
Di kepalaku, tanpa sadar aku melukiskan sebuah skenario yang membuat bibirku melengkung membentuk senyum yang sangat tulus—senyum yang pertama kali muncul bukan karena paksaan. Aku membayangkan Rendi sedang duduk di ruang tamu panti asuhan yang sederhana, memangku Nanda yang kegirangan karena dibelikan ayam goreng dari uang sisa tabunganku. Aku membayangkan wajah dingin Rendi akhirnya mencair, tertawa lepas melihat adiknya makan dengan lahap, dan membisikkan bahwa Nanda tak perlu takut lagi karena masa depan mereka sudah terjamin.
Membayangkan kebahagiaan kecil mereka di sudut kota sana, entah mengapa rasa perih di dadaku perlahan menguap.
Digantikan oleh sebuah kelegaan yang mengalir hangat di nadiku.
Benar. Aku telah berhasil. Uang tujuh juta itu, binder rangkuman itu, dan semua pengorbanan perasaanku... semuanya terbayar lunas dengan senyum di wajahnya tadi pagi. Aku tidak pernah memilikinya, dan aku mungkin akan selalu merindukannya, namun setidaknya aku tahu bahwa laki-laki yang kucintai sedang bernapas dengan lega malam ini.
"Key?"
Sentuhan hangat di punggung tanganku menarikku kembali ke realita.
Aku menoleh. Indra menatapku dengan kening berkerut. Tatapannya penuh dengan kekhawatiran yang sangat dalam. Di seberang meja, Lidya, Bella, dan Siska sedang asyik berfoto selfie dan membuat video untuk media sosial mereka, tak memperhatikan kami.
"Kamu senyum-senyum sendiri natep hujan," bisik Indra pelan, suaranya nyaris terendam oleh alunan musik live restoran. "Kamu lagi mikirin apa?"
Aku terdiam sejenak. Aku menatap tangan Indra yang menggenggam tanganku. Biasanya, aku akan langsung menariknya secara halus. Biasanya, aku akan merasa bersalah.
Namun kali ini, aku membiarkan tangannya di sana. Aku menatap mata Indra yang memancarkan ketulusan tanpa syarat. Laki-laki ini telah bertahan di sisiku melalui seluruh badai emosiku. Ia melihatku hancur, ia melihatku menangis histeris untuk laki-laki lain, namun ia tak pernah selangkah pun mundur dari sisiku.
"Aku lagi mikirin kalau... hujan hari ini kerasa beda, Ndra," jawabku jujur, suaraku terdengar sangat tenang. "Biasanya kalau hujan, aku ngerasa dingin dan sesak. Tapi hari ini... aku ngerasa semuanya udah bersih. Kayak debu-debu yang nyesakkin dada udah tersapu pergi."
Indra menatapku lekat. Sebagai laki-laki yang cerdas, ia mengerti metafora di balik kalimatku. Ia mengerti bahwa aku baru saja berdamai dengan penolakanku, berdamai dengan kepergian Rendi, dan berdamai dengan luka batinku sendiri.
Mata Indra berbinar, sebuah harapan besar menyala di sana. Ia mengeratkan genggaman tangannya.
"Jadi... hujannya udah reda di hati kamu, Key?" tanya Indra, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
Aku menarik napas panjang. Bayangan sedetik tatapan Rendi berkelebat untuk terakhir kalinya di benakku. Kututup mataku sejenak, mengucapkan selamat tinggal yang paling sunyi pada cinta pertamaku yang kelam itu. Lalu, aku membuka mataku dan menatap Indra.
"Mungkin masih ada sedikit mendung, Ndra," kataku pelan, membalas genggaman tangannya untuk pertama kalinya. "Luka yang dalam nggak bisa hilang dalam semalam. Kadang aku mungkin bakal kepikiran lagi, atau mungkin aku bakal tiba-tiba sedih tanpa alasan."
Aku menelan ludah, menatap laki-laki yang rela menjadi pelindungku ini. "Kamu... kamu beneran yakin mau nungguin orang yang hatinya masih banyak bekas jahitannya kayak aku?"
Indra tersenyum. Senyum paling lega dan bahagia yang pernah kulihat dari wajahnya. Lesung pipinya terbentuk sempurna. Ia mengangkat tanganku yang tergenggam, lalu mengecup pelan punggung tanganku.
"Jangankan bekas jahitan, Key. Sekalipun hatimu masih berupa pecahan kaca, aku bakal mungutin satu-satu biarpun tanganku harus berdarah," bisik Indra penuh keyakinan. "Aku udah janji, aku bakal jadi tempat kamu pulang. Kita jalan pelan-pelan ya? Bareng-bareng."
Setetes air mata haru jatuh membasahi pipiku. Aku mengangguk pelan. "Iya, Ndra. Bareng-bareng."
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku merasa dadaku benar-benar lapang. Aku tak lagi memaksakan diri untuk berlari ke arah gunung es yang tak ingin kucapai. Aku memilih untuk berbalik, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sengaja dibangunkan untukku.
"CIEEEE!"
Jeritan heboh Bella menghancurkan momen melankolis kami. Aku dan Indra tersentak kaget. Rupanya, sejak tadi Lidya dan Bella diam-diam memperhatikan interaksi kami, bahkan Siska sudah bersiap dengan kamera ponselnya.
"Gila ya, nyamuk banget gue di sini!" gerutu Lidya sambil tertawa keras. "Akhirnya ya Tuhan, temen gue yang satu ini sadar juga kalau di depannya ada berlian Swarovski! Selamat ya, Key, Ndra! Pajak jadiannya tolong besok traktir kita karaokean!"
Indra tertawa lepas, wajahnya memerah bahagia. "Beres, Lid! Kalian mau minta apa aja besok aku turutin!"
Siska menatapku dengan senyum malaikatnya. "Aku ikut seneng, Keyla. Akhirnya kamu kembali ke jalan yang benar. Masa depan yang cerah udah nungguin kalian berdua."
Aku tersenyum membalas ucapan Siska. Aku tahu Siska memiliki agenda tersendiri, aku tahu Siska adalah dalang di balik semua ini, namun malam ini, aku memilih untuk memaafkannya. Aku memaafkan semua racunnya, aku memaafkan arogansinya. Karena pada akhirnya, perjalanan menyakitkan inilah yang mendewasakanku.
Perayaan kelulusan malam itu ditutup dengan tawa yang mengudara bebas menembus langit Jakarta.
Masa SMA kami telah resmi berakhir. Aku akan melangkah ke dunia perkuliahan, meninggalkan masa lalu, meninggalkan bayang-bayang kelam di sudut kelas XII-IPA 1.
Mungkin di suatu masa depan yang jauh, di sebuah persimpangan jalan atau di sebuah kedai kopi yang sepi, takdir akan kembali mempertemukanku dengannya. Mungkin saat itu, ia tak lagi memakai seragam lusuh, dan aku tak lagi menatapnya dengan air mata. Mungkin kami akan saling menyapa sebagai dua orang dewasa yang telah berdamai dengan luka masa lalu.
Namun untuk saat ini, biarlah ceritaku dan Rendi terhenti di lembar kelulusan itu.
"Buku harianku untuk masa putih abu-abu telah habis halamannya. Cinta pertamaku tidak berakhir dengan ciuman di bawah hujan, melainkan berakhir dengan sebuah pengorbanan tanpa suara dan sebuah senyum kelegaan dari kejauhan. Terima kasih telah mengajarkanku arti mencintai yang sesungguhnya, Rendi Ardiansyah. Hiduplah dengan baik, Insinyur masa depan. Dan untuk diriku sendiri... selamat datang di babak kehidupan yang baru." (Buku Harian Keyla, Halaman 140)
(Akhir dari masa SMA Keyla)
Bersambung...
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik