Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eirian Vale
POV Eirian
Pagi itu naskah mendarat di mejanya.
Tebal.
Judulnya panjang.
Anak Emas Dewa Menjadi Iblis Batu.
Eirian membalik halaman pertama, membaca beberapa paragraf… lalu menyandar.
“Menarik.”
Beberapa menit kemudian, ia tertawa pendek.
“Tokoh utamanya… nggak ada otak.”
Ia mengetuk naskah dengan jari.
“Beruntung, tampan, semua jalan mulus… mimpi basah penulis, ya?”
Ia tidak benar-benar menghina. Hanya… jujur.
Tetap saja—ceritanya enak dibaca.
Dunia kultivasi yang luas, konflik takdir, perang, dan… harem yang terlalu rapi disusun.
Ia lanjut membaca.
Satu istri.
Dua.
Tiga.
Sampai…
“Selir ke-11.”
Ia berhenti.
Membalik halaman.
Lalu lagi.
Keningnya sedikit berkerut.
“…kok kosong?”
Bukan benar-benar kosong.
Tapi tipis.
Anehnya, setiap kali karakter itu muncul, nada ceritanya berubah.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Seolah ada sesuatu yang disembunyikan.
Eirian mengetuk pelan meja.
Ada yang aneh di sini...
Tapi naskah adaptasi tidak memberi banyak.
Potong.
Lompat.
Diringkas.
Seolah karakter itu sengaja… diredam.
Ia menutup naskah setengah.
“Menyebalkan.”
Bukan karena jelek.
Justru karena terasa belum selesai.
“Gimana?”
Suara agennya masuk dari seberang.
Eirian mengangkat bahu.
“Ambil.”
“Cepat amat?”
Agen nya terkejut.
“Ceritanya enak. Walau tokoh utamanya agak… tolol.”
Agen itu tertawa.
“Ya namanya juga jualan fantasi.”
Ia lalu duduk di depan meja, nada suaranya berubah sedikit.
“Eh, ngomong-ngomong… ada yang lagi rame.”
Eirian tidak terlalu tertarik.
“Apalagi?”
“Artis baru.”
“Hm.”
“Cewek.”
“Biasa.”
“Cantik banget.”
Eirian tidak menoleh.
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Ini beda.”
Agen itu menyandarkan badan, menurunkan suara.
“Langsung masuk proyek ini.”
Baru kali ini Eirian berhenti membalik halaman.
“…tanpa debut awal?”
“Iya.”
“Variety show?”
“Nggak ada.”
“Iklan kecil jadi pemeran penting?”
“Nggak.”
“Jejak?”
“Minim.”
"Dia pernah aktif tapi setelah nya tenggelam"
Eirian akhirnya menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu kembali ke naskah.
“Gosip aja...”
Agen itu langsung protes.
“Serius! Yang pegang artis itu siapa coba?”
Hening setengah detik.
Lalu—
“Rhea.”
Jari Eirian berhenti di halaman.
Kali ini benar-benar berhenti.
Nama itu… bukan nama sembarangan.
Di industri, semua orang tahu.
Manajer “medali emas”.
Artis di tangannya—hampir pasti naik.
Dan yang lebih penting—
dia sudah lama menutup diri.
Tidak menerima artis baru.
Eirian menyandarkan tubuhnya.
“Dia ambil orang baru?”
Agen mengangguk cepat.
“Makanya rame. Meskipun di kalangan kami aja sih... Banyak yang mikir—ini orang dalam, atau… sesuatu yang spesial.”
Eirian diam.
Matanya turun lagi ke naskah.
Halaman tentang selir ke-11.
Tipis.
Aneh.
Tidak lengkap.
Artis baru mengincar Peran selir ke-11.
Kombinasi yang… ganjil.
Ia menutup naskah perlahan.
“Nama?”
Agen tersenyum.
Seolah sudah menunggu pertanyaan itu.
“Mireya.”
Eirian mengulang nama itu dalam hati.
Pelan.
Mencoba mencocokkan.
Tidak ada bayangan wajah.
Tidak ada ingatan.
Benar-benar kosong.
Ia berdiri.
Mengambil jaketnya.
“Ya sudah.”
“Udah?”
“Lihat saja nanti.”
Nada suaranya santai.
Tapi matanya—
sedikit lebih hidup dari sebelumnya.
Kalau dia memang dipilih Rhea…
dan dapat peran yang ‘kosong’ itu…
berarti ada sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya sejak membaca naskah itu—
Eirian benar-benar penasaran.
Bukan pada cerita.
Bukan pada peran utama.
Tapi pada satu karakter yang hampir tidak ditulis.
Dan satu nama yang tiba-tiba muncul tanpa jejak.
Mireya.
...****************...
"Jadi pada intinya kenapa kamu bahas dia?"
"Ya hati hati aja, takutnya punya backingan... Jangan macem-macem dulu"
“Kita lihat saja nanti.”
Eirian menutup pembicaraan itu dengan ringan.
“Lulus atau tidak… belum tentu.”
Ia menyandarkan badan di kursi.
“Bisa saja dia memang ‘orang dalam’ yang disayang,” lanjutnya santai,
“atau… justru permata yang ketangkap lebih dulu.”
Agen di depannya hanya mengangkat bahu.
“Makanya aku bilang, seru dan bahaya.”
Dan sekarang— ia duduk di meja bundar itu.
Naskah terbuka di tangannya.
Suara para aktor lain bergantian mengisi ruangan.
Namun— perhatiannya tidak sepenuhnya pada halaman.
Ketika nama itu dipanggil.
Selir ke-11.
Eirian tidak langsung menunduk.
Ia melihat.
Mireya.
Posturnya tenang.
Tidak berusaha menarik perhatian.
Tidak gelisah.
Tidak juga terlihat ingin membuktikan sesuatu.
Lalu ia mulai membaca.
Dan dari kalimat pertama—
Eirian langsung tahu.
Ini bukan kebetulan.
“Aku tidak butuh bantuanmu.”
Nada itu.
Tekanan itu.
Jarak itu.
Bukan sekadar membaca dialog.
Tapi seseorang yang sudah memahami kenapa karakter itu berkata seperti itu.
Eirian melanjutkan bagiannya secara refleks.
Namun sebagian pikirannya… berhenti.
Menganalisis.
Naskahnya tipis.
Tapi dia… mengisinya sendiri.
Ini yang jarang.
Sangat jarang.
Banyak aktor bagus.
Banyak yang rapi.
Banyak yang “benar”.
Tapi— yang bisa mengisi ruang kosong?
Sedikit.
Tatapannya sempat naik lagi.
Lebih lama kali ini.
Kalau begini…
besar kemungkinan naskahnya akan berubah.
Ia hampir tidak pernah melihat penulis memberi perhatian sebesar itu pada karakter yang “tidak populer”.
Tapi barusan— reaksi penulis sudah cukup jelas.
Mereka tertarik.
Dan kalau penulis tertarik— adegan bisa ditambah.
Fokus bisa bergeser.
Selir ke-11… bisa naik.
Namun Eirian tidak langsung mengambil kesimpulan.
Ia menurunkan pandangannya kembali.
Tenang.
Rasional.
Tetap harus lihat di lapangan.
Suara Luna sempat terlintas di kepalanya.
“Belum tentu akting sama dengan bagusnya cara bicara.”
Benar.
Sangat benar.
Table read bisa menipu.
Banyak yang bagus di meja—
jatuh di kamera.
Tapi…
Eirian mengetuk pelan naskahnya.
Aku berharap tidak.
Karena sekarang— ekspektasinya sudah naik.
Ia menoleh sedikit lagi ke arah Mireya.
Sekali.
Singkat.
Menarik.
Nama itu berputar di kepalanya.
Mireya.
Dan entah kenapa—
terasa familiar.
Beberapa detik kemudian—
ia teringat.
“Ah…”
Sangat samar. Mungkin dia tidak mendengarkan dengan jelas.
Pernah disebut oleh agennya.
Artis lama.
Tidak terlalu bersinar.
Lalu— menghilang.
Dan tiba-tiba—
muncul lagi.
Dengan manajer seperti Rhea.
Dengan proyek sebesar ini.
Langsung sejajar dengan rookie sepertiku…
Eirian tersenyum tipis.
Bukan langkah biasa.
Ia menutup naskah perlahan saat sesi hampir selesai.
Kalau dia memang sebaik ini…
Tatapannya kembali ke arah Mireya.
Kali ini tanpa menyembunyikan sedikit rasa ingin tahu.
kerja sama ke depan… bukan ide buruk.
Bukan ketertarikan kosong.
Bukan sekadar kagum.
Tapi penilaian.
Sebagai seseorang yang juga baru naik—
ia tahu satu hal:
industri ini tidak memberi tempat lama untuk yang biasa saja.
Dan gadis itu— jelas bukan “biasa”.
...****************...
Restoran yang dipilih cukup besar.
Bukan mewah berlebihan, tapi jelas bukan tempat biasa.
Lampu hangat.
Meja panjang.
Suara gelas dan tawa mulai bercampur.
Para kru dan aktor duduk berkelompok.
Yang dekat biasanya duduk bersama.
Yang “penting” di tengah.
Sutradara sudah duduk di posisi utama.
Di sampingnya—
Eirian Vale.
Beberapa kursi lain cepat terisi.
Namun— penulis novel justru berdiri sebentar.
Matanya menyapu ruangan.
Lalu— tanpa ragu— ia berjalan ke arah lain.
Ke arah Mireya.
“Kamu di sini saja.”
Ia menarik kursi di sampingnya.
Bukan di tengah.
Bukan di spotlight.
Tapi di sisi agak pojok.
Beberapa orang langsung melirik.
Singkat.
Tajam.
Mireya sempat terkejut.
“Eh… di sini?”
Penulis itu duduk santai.
“Iya. Lebih enak ngobrol.”
Dan benar saja.
Tidak lama setelah itu— pembicaraan mereka langsung hidup.
“Menurutmu, kenapa Aurelia nolak bantuan di awal?”
Penulis menatapnya serius.
Mireya tidak langsung jawab.
Ia memutar gelasnya pelan.
“Karena… dia nggak percaya sama ‘kebaikan gratis’.”
Penulis langsung tersenyum.
“Lanjut.”
“Dia hidup di tempat yang… kalau ada yang nolong tanpa alasan, justru mencurigakan.”
Nada Mireya tenang.
Tapi jelas.
“Dan dia juga nggak mau punya hutang emosi.”
Penulis tertawa kecil.
Bukan mengejek.
Tapi puas.
Di meja lain—
beberapa orang mulai memperhatikan.
“Mereka serius banget…”
“Bahas karakter?”
Sementara itu— di tengah meja—
Eirian melirik ke arah mereka.
Sekilas.
Dia langsung nyambung sama penulis…
Menarik.
Gelas mulai diisi.
Minuman dibagikan.
Sutradara mengangkat gelasnya.
“Oke, untuk awal yang bagus.”
Semua ikut mengangkat.
“Untuk drama ini.”
“Cheers—!”
Gelas bersentuhan.
Suara kaca berdenting ringan.
Mireya ikut minum.
Sedikit saja.
Ia ingat peringatan Zevran.
Di sisi lain— Luna juga minum.
Tapi matanya…
tidak ikut tersenyum.
Tatapannya sesekali mengarah ke pojok.
Ke arah Mireya.
Ke arah penulis.
Kenapa dia…? Ggrrgghh
Sementara itu— penulis masih belum berhenti.
“Kalau nanti kita tambah satu adegan—”
Ia mencondongkan badan.
“—adegan dia sendirian setelah itu, menurutmu dia bakal nangis atau… tetap diam?”
Mireya berpikir sebentar.
“Dia nggak akan nangis.”
“Kenapa?”
“Karena dia nggak punya waktu buat itu.”
Nada Mireya lebih pelan sekarang.
“Dan… dia udah terlalu sering sendirian.”
Hening sepersekian detik.
Penulis menatapnya.
Lama.
“Bagus.”
Suaranya rendah.
“Bagus sekali.”
Di tengah meja—
Eirian berhenti minum.
Dia bahkan ngerti bagian yang belum ditulis…
Seorang aktor lain tiba-tiba nyeletuk
“Eh, selir ke-11 itu kan dibenci banget ya di novel?”
Suasana sedikit berubah.
Beberapa tertawa kecil.
Mireya tidak tersinggung.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Wajar.”
“Wajar?” orang itu heran.
“Karena mereka cuma lihat sampulnya.”
Ia mengangkat bahu.
“Bukan isinya.”
Sunyi sebentar.
Penulis langsung tertawa pelan.
“Kamu ini… bahaya.”
...----------------...
Eirian akhirnya berdiri.
Mengambil gelasnya.
Berjalan santai— menuju meja itu.
Berhenti di dekat Mireya.
“Boleh?”
Ia menunjuk kursi kosong.
Penulis langsung mengangguk.
“Duduk.”
Eirian duduk.
Menatap Mireya sebentar.
“Kalau begitu…”
Ia menyandarkan punggung.
“Menurutmu… Kaizar itu bodoh?”
Pertanyaan itu tiba-tiba.
Langsung.
Penulis langsung tertawa keras.
“NAH ini seru.”
Mireya sedikit terkejut.
Lalu— tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
percakapan mereka bertiga benar-benar dimulai.
Sementara di kejauhan— Luna menatap.
Diam.
Dan kali ini— bukan cuma kesal.
Tapi mulai terasa…
tertinggal.
...****************...
Eirian duduk santai, gelas di tangan.
Di luar, ia terlihat biasa.
Di dalam—
ia sedang menilai.
Industri ini… kejam.
Naik cepat.
Tenggelam lebih cepat.
Matanya sempat kembali ke arah Mireya.
Bukan karena terpikat.
Tapi karena—
potensi ancaman.
Rookie seperti dia sedang di fase paling berbahaya.
Harus menang.
Harus terlihat.
Harus… lebih menonjol dari yang lain.
Sebelum terlambat.
Kalau dia meledak lebih dulu…
aku bisa ketutup.
Ia tidak suka kemungkinan itu.
Sama sekali tidak.
Namun—
alih-alih menjauh—
Eirian justru menyandarkan badan.
Berpikir.
Atau… dipakai saja.
Matanya menyipit tipis.
Lebih fokus sekarang.
Mireya— visual kuat.
Jika Akting solid.
Dan yang paling penting—
kontroversial.
Selir ke-11.
Karakter yang dibenci.
Dipilih oleh artis yang tiba-tiba muncul.
Perfect.
Eirian meneguk minumannya pelan.
Kalau diarahkan…
bisa jadi bahan bakar.
Netizen suka dua hal:
pasangan yang bikin gemas
atau pasangan yang bikin ribut
Dan dia tahu— mana yang lebih cepat viral.
chemistry panas.
tarik-ulur.
konflik tipis.
Ia melirik lagi.
Mireya sedang bicara dengan penulis.
Serius.
Fokus.
Bukan tipe yang gampang diajak main drama murahan.
Bagus.
Justru bagus.
Semakin susah didapat…
semakin menarik dilihat.
Eirian tersenyum tipis.
Kalau dia tahan tekanan…
kita bisa “main” di depan kamera.
Bukan cinta.
Bukan tertarik.
Strategi.
Dan tanpa disadari—
ia sudah mengambil keputusan.
Ia berdiri.
Mendekat.
Duduk di dekat Mireya tadi—
bukan kebetulan.
“Menurutmu… Kaizar itu bodoh?”
Pertanyaan itu bukan iseng.
Itu— tes pertama.
Lihat dulu… dia mainnya sejauh apa.
Di kejauhan—
Luna melihat itu semua.
Dan tanpa tahu isi kepala Eirian— ia hanya melihat satu hal:
mereka mulai dekat.
Dan itu— cukup untuk membuat api kecilnya membesar.