Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Angin laut yang sepoi-sepoi menyambut mereka saat keluar dari kamar villa menuju area dek kayu yang terletak tepat di bibir tebing Uluwatu.
Suasana sore itu begitu magis, dengan langit yang mulai berubah warna dari biru menjadi gradasi oranye dan ungu yang memukau.
Zaidan menggandeng tangan istrinya melihat matahari terbenam, jemari mereka bertautan erat, seolah tak ingin ada lagi jarak yang memisahkan.
Mereka berdiri di sana, di titik tertinggi yang menghadap langsung ke samudera luas, mendengarkan simfoni deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana.
"Lihat itu, Sayang," bisik Zaidan sambil menunjuk ke arah cakrawala di mana sang surya perlahan mulai tenggelam ke dalam pelukan laut.
"Matahari selalu terbenam, tapi dia selalu berjanji untuk terbit lagi besok pagi. Sama seperti cinta kita, sejauh apa pun ia meredup karena badai, ia akan selalu kembali bersinar lebih terang."
Sulfi menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Zaidan, menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur dengan wangi air laut.
Rasa syukur yang amat besar membuncah di dadanya. Ia teringat saat-saat ia berada di antara hidup dan mati di ruang operasi, dan kini ia berdiri di sini, menyaksikan keindahan Tuhan bersama pria yang telah memberikan napas dan darahnya untuknya.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Mas. Terima kasih sudah tidak menyerah padaku," jawab Sulfi lirih, matanya berkaca-kaca menatap pantulan cahaya keemasan di permukaan air.
Zaidan memutar tubuh Sulfi agar menghadapnya, lalu merangkup wajah bidadarinya itu dengan kedua telapak tangannya.
Di bawah langit yang perlahan menggelap namun dipenuhi warna-warna indah, ia mengecup kening Sulfi dengan penuh takzim.
"Mulai hari ini, hanya akan ada senja yang indah untuk kita nikmati bersama. Tidak akan ada lagi peluru, tidak ada lagi ketakutan. Aku berjanji akan menjagamu sampai matahari benar-benar
berhenti terbit," ucap Zaidan dengan suara yang bergetar karena emosi yang dalam.
Mereka kembali menatap ke arah laut, terdiam dalam keheningan yang penuh makna.
Saat matahari akhirnya menghilang sepenuhnya dan digantikan oleh kerlip bintang pertama, Zaidan dan Sulfi tahu bahwa babak baru kehidupan mereka yang penuh kedamaian baru saja dimulai di pulau suci ini.
Malam di Bali semakin larut, berganti dengan suasana yang lebih intim.
Zaidan telah menyiapkan makan malam romantis di area terbuka villa, tepat di bawah taburan bintang.
Lilin-lilin kecil tertata rapi di atas meja, mengelilingi hidangan laut segar yang aromanya menggoda selera.
Di sela-sela denting sendok dan garpu, suasana yang semula syahdu tiba-tiba pecah oleh suara tawa yang tak tertahankan.
Sulfi tertawa kecil saat mengingat kejadian konyol yang menjadi awal dari segalanya. Ia meletakkan gelas jusnya, matanya berbinar jenaka menatap suaminya.
"Mas, tiba-tiba aku ingat waktu itu. Saat kamu panik karena menginjak ekor anjing sampai menjebol pintu kamar mandinya," ucap Sulfi diiringi tawa yang semakin keras.
Zaidan langsung tersedak pelan, wajahnya memerah menahan malu sekaligus ingin tertawa.
Kejadian itu memang tak terlupakan. Saat itu, Zaidan yang sedang bertugas melakukan pengintaian secara tidak sengaja menginjak ekor seekor anjing penjaga.
Karena panik dikejar anjing yang mengamuk, ia lari tunggang langgang dan menabrak pintu kamar mandi tempat Sulfi berada hingga jebol.
"Jangan diingat lagi, Sayang. Itu adalah momen paling memalukan sepanjang karier kepolisianku," keluh Zaidan sambil menggelengkan kepala, meski senyum tetap tersungging di bibirnya.
"Tapi gara-gara pintu jebol itu, suasana jadi gaduh dan salah paham, kan?" lanjut Sulfi, masih sulit berhenti tertawa.
"Sampai warga menikahkan mereka berdua karena mengira kita sedang melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana."
Zaidan terkekeh, ia meraih tangan Sulfi dan mengecupnya.
"Warga saat itu memang terlalu bersemangat. Tapi kalau dipikir-pikir, aku harus berterima kasih pada anjing itu dan pintu kamar mandi yang rapuh itu. Tanpa kejadian konyol itu, mungkin bidadari di depanku ini tidak akan pernah menjadi istriku sekarang."
Sulfi meredakan tawanya, menatap Zaidan dengan tatapan yang sangat dalam.
"Iya, Mas. Siapa sangka penggerebekan yang gagal dan pintu yang hancur itu malah membawa kita ke pelaminan."
Di bawah cahaya lilin yang menari ditiup angin laut, mereka berdua mengenang kembali perjalanan cinta mereka yang unik.
Dari kejadian memalukan di kampung padat penduduk, hingga pertaruhan nyawa di ruang sidang, semuanya terasa seperti kepingan takdir yang sengaja disusun Tuhan untuk menyatukan mereka dalam kebahagiaan yang abadi malam ini.
Setelah makan malam yang penuh tawa dan kenangan konyol itu berakhir, Zaidan mengajak Sulfi berdiri di tepi balkon yang menghadap langsung ke arah deburan ombak.
Suasana seketika berubah menjadi sunyi dan sakral.
Angin malam yang dingin membuat Zaidan merapatkan pelukannya pada sang istri dari belakang.
"Sayang, aku punya sesuatu untukmu," bisik Zaidan lembut.
Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam.
Saat dibuka, tampak sebuah hadiah dari Zaidan sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk setetes air yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Tidak ada berlian yang mencolok, namun keanggunannya memancarkan ketulusan yang luar biasa.
Zaidan perlahan memakaikan kalung itu ke leher jenjang Sulfi.
Jemari kasarnya bersentuhan lembut dengan kulit Sulfi, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Mas, terima kasih..." ucap Sulfi lirih.
Ia meraba liontin dingin itu dengan ujung jarinya, hatinya terasa bergetar hebat.
Bagi Sulfi, kalung ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah simbol bahwa setelah semua darah yang tumpah dan air mata yang mengalir di ruang sidang, ia akhirnya memiliki kehidupan yang tenang dan indah.
Rasa syukur yang menyesakkan dada membuat pertahanannya runtuh.
Sulfi memeluk tubuh suaminya dan ia menangis tersedu-sedu di dada bidang Zaidan.
Isakannya pecah, melepaskan sisa-sisa trauma dan ketegangan yang selama ini ia pendam rapat.
Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena merasa sangat dicintai dan berharga di mata pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuknya.
Zaidan tidak berkata apa-apa. Ia hanya membalas pelukan itu dengan sangat erat, membiarkan kemejanya basah oleh air mata bidadarinya.
Ia mengusap punggung Sulfi dengan gerakan menenangkan, seolah sedang membisikkan janji tanpa suara bahwa mulai malam ini, tidak akan ada lagi air mata kesedihan—yang ada hanyalah tangisan bahagia dalam dekapan cintanya yang abadi.
Malam yang tenang di balkon villa itu tiba-tiba berubah menjadi serius.
Sulfi masih bersandar di dada Zaidan, namun sorot matanya yang tadi penuh haru kini tampak tajam dan penuh keteguhan.
Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu mendongak menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Mas, aku mau membuka kasus lama," ucap Sulfi dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.
"Di mana mereka menerorku sampai mendiang suamiku meninggal dunia."
Zaidan tertegun. Ia tahu bahwa masa lalu Sulfi sebelum bertemu dengannya adalah sebuah luka yang sangat dalam, sebuah tragedi yang selama ini hanya tersimpan rapat di sudut hati bidadarinya.
Ia tahu ada bayang-bayang gelap yang membuat Sulfi sering terbangun di tengah malam sebelum mereka menikah.
"Selama ini aku takut, Mas. Aku merasa sendirian dan tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Tapi setelah melihat bagaimana kamu berjuang untukku di pengadilan kemarin, aku sadar jika aku tidak boleh membiarkan mereka tenang di atas penderitaan mendiang suamiku," lanjut Sulfi dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Ia memegang tangan Zaidan, seolah meminta sandaran untuk beban yang sangat berat itu.
"Boleh?"
Zaidan terdiam sejenak, menatap lekat mata
istrinya.
Ia tahu bahwa membuka luka lama berarti akan ada badai baru yang harus mereka hadapi.
Ia tahu bahwa ketenangan bulan madu ini mungkin akan terusik oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam. Namun, sebagai seorang polisi dan seorang suami, ia tidak bisa membiarkan keadilan terhenti begitu saja.
Zaidan menggenggam erat tangan Sulfi, lalu mengecup keningnya dengan lama.
"Tentu saja boleh, Sayang," jawab Zaidan dengan suara yang berat namun menenangkan.
"Dulu kamu sendirian, tapi sekarang ada aku. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuhmu lagi. Kita akan cari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian suamimu dan teror yang kamu alami. Aku akan menjadi perisaimu sampai semuanya tuntas."
Sulfi menghembuskan napas lega yang sangat panjang.
Beban yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian seolah terbagi dua.
Di bawah langit Bali yang mulai gelap, rencana besar untuk menuntut keadilan bagi masa lalunya pun mulai tersusun.
Bulan madu ini bukan lagi sekadar pelarian, melainkan persiapan kekuatan untuk membongkar kebenaran yang selama ini terkubur rapat.