NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Piyama Biru Muda dan Misi Melabrak Duda

Aiswa berdiri mematung di ambang pintu antara ruang tamu dan dapur. Tangannya sudah mengepal erat, jempolnya sudah siap menekan tombol panggil ke nomor Devan Argian untuk memuntahkan semua kekesalannya. Namun, pemandangan di depannya benar-benar membuat dunia terasa tidak berpihak padanya.

Di ruang tamu yang tidak seberapa luas itu, sembilan sahabatnya beserta sang bunda sudah duduk lesehan dengan sangat santai.

Di rumah Aiswa memang tidak ada sofa di ruang tamu, hanya ada kursi tamu kayu di teras dan satu kursi kecil estetik di pojok ruangan untuk tamu formal. Sisanya? Budaya lesehan adalah kearifan lokal keluarga mereka.

"Aduh, Ais... enak banget ini makanannya! Restoran bintang berapa sih ini?" ujar Bunda Ayunda sambil membuka kotak demi kotak makanan mewah kiriman Devan.

"Bunda sisihkan sedikit ya buat Ayah nanti."

"Iya, Bunda. Perhatian banget kan yang kirimin? Tahu aja kita lagi kelaparan," sahut Lalita sambil mengunyah potongan daging wagyu yang sangat lembut.

"Iya, tumben banget Aditya seromantis ini, Ai. Biasanya kan cuma bawa martabak manis depan kompleks," ujar Bunda yang masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu, belum tahu bahwa status hubungan putrinya sudah berganti.

Seketika, kesembilan sahabat Aiswa saling lirik. Suasana mendadak hening, hanya suara kunyahan Lalita yang terdengar.

"Lho, Bunda nggak tahu? Aiswa sudah putus sama Mas Adit, Bun," ujar Bela dengan sangat enteng, seperti keran bocor yang mengalir tanpa beban.

Uhuk!

Bunda Ayunda tersedak seketika. Elena yang duduk di sebelah Bunda langsung dengan sigap menyodorkan segelas air.

"Minum dulu, Bun! Pelan-pelan!"

"Serius, Kak?" tanya Bunda setelah napasnya kembali normal, matanya menatap Aiswa dengan pandangan heboh.

Aiswa hanya bisa menghela napas panjang, lalu mengangguk lemah.

"Iya, Bunda..."

"Kamu nggak lagi salah minum obat kan, Ais? Ini beneran? Kamu nggak lagi bercanda kan?" Bunda masih belum yakin.

"Beneran, Bunda. Ais sudah putus," jelas Aiswa singkat.

Toh, rahasia ini memang tidak mungkin disimpan selamanya, apalagi di depan para "intel" berseragam guru TK ini.

"Tapi kok kamu kelihatannya biasa aja? Enggak kayak orang habis putus yang galau, nangis-nangis di pojokan sambil dengerin lagu sedih?"

Bunda mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan ekspresi datar putrinya.

Galaunya sudah hilang karena diganti rasa kesal setengah mati sama duda sinting itu, Bun! batin Aiswa berteriak.

"Ngapain galau-galau, Bunda... orang Ais sudah dapat ganti yang jauh di atas Mas Adit kok," ujar Elena dengan senyuman jahil yang sangat mematikan.

Aiswa menatap tajam Elena.

Nih sahabat satu mulutnya sama kayak Bela, malah lebih parah!

"Maksudnya gantinya?" Bunda semakin penasaran.

"Ya yang kirim makanan ini, Bunda," sahut Nala.

"Sama bunga lili cantik ini juga," tambah Nita sambil membelai kelopak bunga kiriman Devan.

"Romantis banget kan, Bun? Jadi Aiswa nggak punya waktu buat galau karena jadwalnya dipenuhi oleh cinta baru yang lebih agresif!" Ilana menyambar dengan nada provokatif.

"Tapi Bunda... dia duda, Bun. Masak iya Aiswa kita sama duda?" sela Shena, mencoba sedikit membela Aiswa sambil merangkul pundak sahabatnya itu.

"Nggak apa-apa duda, Bun! Masih ganteng banget kok, segar, glow up-nya maksimal!" Elena menyahut lagi, tidak mau kalah.

"Kaya raya lagi, Bun! Tujuh turunan nggak bakal habis hartanya!" Mikha ikut-ikutan mengompori.

Aiswa merasa otaknya mulai mendidih. Ia tidak bisa lagi menahan ini.

"STOP!" teriaknya sambil berdiri dari duduknya dengan gerakan dramatis.

Para sahabatnya hanya menoleh sekilas, lalu kembali asyik mengunyah tanpa dosa. Dengan penuh emosi, Aiswa yang masih mengenakan piyama biru muda motif beruang itu menyambar ponselnya.

"Ais, mau ke mana?" tanya Bunda heran melihat putrinya sudah berjalan menuju pintu depan.

"Mau ngelabrak orang!" teriak Aiswa tanpa menoleh.

"Pakai piyama?!" tanya mereka serempak, menghentikan aktivitas makan sejenak.

Aiswa mendadak berhenti. Ia melirik pakaiannya sendiri. Benar juga. Mana ada orang mau perang pakai piyama beruang? Ia segera berbalik, lari ke kamar, berganti pakaian dengan kecepatan kilat, hanya butuh waktu tiga menit, lalu keluar lagi dengan napas memburu.

Teman-temannya tetap tenang, seolah sedang menonton pertunjukan komedi di televisi.

"Masih mau lanjut ngelabrak?" tanya Shena santai.

"Iya dong! Harus!" sahut Aiswa sambil menyalami tangan bundanya cepat, lalu berlalu begitu saja tanpa mempedulikan teriakan para sahabatnya.

"Butuh bantuan personil nggak, Ai?" teriak Elena dari dalam.

"Nggak perlu!!" sahut Aiswa ketus dari kejauhan.

Delapan gadis itu beserta bunda Ayunda hanya bisa menghela napas bersamaan.

"Berdoa saja semoga bapak duda ganteng itu wajahnya tetap utuh," ucap Nala prihatin.

"Ya, semoga pas ngelabrak, khodam preman Aiswa nggak beneran keluar," tambah Mikha.

Shena, yang paling merasa bertanggung jawab, akhirnya bangkit berdiri.

"Gue ikutin deh. Takut khodamnya beneran bangkit," ujarnya sambil menyambar tas.

Bunda Ayunda yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya bersuara, "Aiswa... mau ngelabrak bapaknya Zianna?"

Semuanya mengangguk kompak.

Bunda menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas panjang.

"Kasihan Tuan Muda itu... kenapa harus berhadapan dengan Aiswa pas lagi tantrum?"

Bukannya khawatir pada putrinya, Bunda justru merasa kasihan pada Devan. Ia tahu betul, kalau Aiswa sudah tantrum di luar nalar, bahkan macan pun bisa disuruh tobat.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!