Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bau Amis di Balik Jendela
Udara di ruangan kamar itu terasa tebal dan dingin, dipenuhi aroma lembap khas bangunan tua yang jarang tersentuh. Aura melangkah perlahan di atas lantai kayu yang sesekali berderit, matanya bergerak cepat, menyapu setiap sudut dengan seksama. Ia tidak terlalu memusingkan kekacauan yang ditinggalkan oleh tentara yang sudah lebih dulu masuk, fokusnya kini tertuju pada satu hal, jalan rahasia.
Sinar matahari sore yang menembus jendela tinggi jatuh tepat pada lukisan potret besar Raja Asaarmata yang tergantung di dinding batu, tepat di samping ranjang tidur megah yang seolah menyedot semua cahaya. Potret itu menampilkan Asaarmata muda dengan sorot mata yang tajam namun tampak menyimpan beban, kontras dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Tidak ada jalan lain. Pikiran Aura berputar cepat. Kerangka pikirnya mengatakan kamar seorang raja yang paranoid pasti memiliki lebih dari satu jalur keluar.
"Pasti ada ruang rahasia di sini," gumamnya pelan, tangannya mulai menyentuh dinding berpanel kayu di sekitar potret itu. Sentuhannya ringan, namun penuh perhitungan. Ia merasakan perbedaan tekstur dan resonansi suara saat mengetuk.
Di luar ruangan, langkah-langkah berat dan derap sepatu bot terdengar mendekat. Para tentara yang ditugaskan mencari tahu keberadaan terowongan rahasia di sayap istana ini kini mulai menyisir kamar ini juga. Mereka mulai membongkar rak buku dan memindahkan perabotan berat.
"Jelajahi setiap jengkal! Jangan sampai ada batu pun yang terlewat!" perintah seorang kapten dengan suara serak yang memecah keheningan.
Aura mengabaikan keramaian itu. Ia bergerak ke meja kerja besar yang terbuat dari kayu ek gelap. Di sana, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian rak kecil yang tersembunyi di balik tumpukan gulungan peta. Aura memiringkan kepala, mendekat.
Di sudut lain istana, jauh dari hiruk pikuk pencarian, Kieran, Falix, dan Jack duduk mengelilingi sebuah meja kayu reyot di ruang baca yang remang-remang. Di hadapan mereka tergeletak buku bersampul kulit yang sudah usang, Diary Raja Asaarmata. Cahaya dari lampu minyak menari di atas lembaran-lembaran kertas perkamen yang menguning.
Falix membacakan isinya dengan nada penasaran yang tercampur rasa tidak percaya.
“20 Hari ke-4, Tahun Pemerintahan Ayahku: Lembaran pertama ini mengisahkan tentang Ayahku, Raja Armaan Ash. Ayah adalah sosok yang bertanggung jawab, pemimpin yang dicintai, dan yang paling penting, ia mencintai Ibuku lebih dari segalanya. Mereka adalah pasangan ideal. Aku ingat senyum Ibuku yang selalu merekah saat Ayah membawakan bunga Edelweiss dari puncak gunung. Aku yakin, cintanya adalah mata air yang takkan pernah kering.”
Falix mendongak, matanya berkilat, "Raja Armaan terdengar seperti pahlawan, bukan monster."
Jack yang duduk santai di sebelahnya menyahut, "Tunggu dulu, itu baru awal. Semua kisah tragis punya awal yang indah, 'kan?"
Kieran tidak berkomentar. Matanya yang gelap memandang jauh ke luar jendela, seolah ia sedang mendengarkan lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan. Ada ketegangan yang merayap di pundaknya.
Falix melanjutkan, membaca lembaran berikutnya yang ditandai dengan perubahan tulisan tangan yang lebih tertekan:
“12 Hari ke-9, Tahun Kehilangan Ibuku: Setelah Ibu tiada, ada perubahan. Perubahan yang mengerikan. Ayahku, Raja Armaan Ash, yang kukenal... ia menghilang. Perubahan pertama yang kurasakan adalah saat Ayah mulai sering pergi, membawa beberapa wanita gadis pelayan, bahkan bangsawan rendahan dari wilayah luar. Mereka semua terlihat cantik, wajah mereka penuh harapan saat memasuki gerbang istana. Tapi, setelah Ayah kembali, mereka tidak pernah kulihat lagi. Tidak pernah ada kabar. Semua orang di istana hanya menggelengkan kepala dan menutup mulut rapat-rapat. Apakah mereka tidak peduli, ataukah mereka... takut?”
Napas Falix tercekat. Ia menelan ludah, lalu melanjutkan, suaranya kini berbisik penuh kengerian:
“5 Hari ke-2, Tahun Penemuan: Aku tidak bisa tidur. Rasa penasaran ini membakar habis logikaku. Malam itu, aku menyelinap ke sayap terlarang, ke ruang bawah tanah pribadi Ayah. Pintu itu terkunci, tapi aku punya kunci duplikat. Saat aku membukanya, bau itu langsung menyerang hidungku. Bau amis yang memuakkan dan bau tidak sedap yang tidak bisa kudefinisikan. Aku mendengar suara. Suara jeritan wanita, teredam, seperti mereka dicekik dalam air. Aku memberanikan diri. Melangkah ke ruangan gelap. Saat mataku beradaptasi, pemandangan itu membuat perutku bergejolak. Tidak hanya darah yang menempel di dinding, tapi ada... banyak tulang. Tulang-tulang manusia. Ayahku. Raja Armaan Ash. Dia adalah monster. Aku melihatnya, sangat terkejut. Aku hampir menjerit, tapi aku mencoba tenang. Aku menutup pintu itu perlahan, kembali ke kamarku, dan mencuci wajahku berkali-kali. Aku menulis semua ini untuk melepaskan emosiku, dan aku bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Aku harus bertahan hidup.”
Falix menjatuhkan buku itu ke atas meja. Matanya membelalak, wajahnya pucat pasi.
"Ya Tuhan..." bisiknya, menggenggam dadanya. "Ayah Asaarmata... dia pemakan manusia?"
Jack yang tadinya bersikap santai kini terlihat tegang. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, menghela napas panjang.
"Di balik diary ini, ada kisah yang sangat aneh," kata Falix, menunjuk buku itu dengan jari gemetar. "Kenapa Ayah Asaarmata melakukan itu, ya?"
Jack mencoba menenangkan diri, tapi nadanya tetap dingin. "Mungkin untuk istrinya. Mungkin dia ingin menghidupkan kembali Ibu Asaarmata dengan cara yang mengerikan. Gila, tapi masuk akal untuk seorang raja yang kehilangan akal."
"Menghidupkan kembali dengan memakan orang? Itu... itu pemujaan iblis," ujar Falix, menggelengkan kepala.
Sementara kedua temannya terlibat dalam spekulasi penuh horor, pandangan Kieran sudah tidak lagi tertuju pada mereka. Ia bangkit dari tempat duduknya, tatapannya menyapu sekeliling, penuh kewaspadaan. Pandangannya akhirnya terhenti pada sebuah sosok yang berdiri sendirian di ruangan yang kini mulai dipenuhi tentara.
Itu adalah Aura. Ia sedang berdiri di dekat rak meja yang tersembunyi dekat meja kerja. Ia tampak benar-benar tidak terganggu oleh suara dentuman dan perintah di sekitarnya.
Kieran mendekat ke arah Aura, langkahnya senyap. Aura, meskipun melihat tentara, tampak hanya fokus pada ukiran rumit di rak meja itu.
"Aura," panggil Kieran, suaranya rendah, nyaris berbisik. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aura melirik cepat ke sumber suara, senyum tipis terukir di bibirnya, namun matanya memancarkan keseriusan yang dingin.
"Tidak ada," jawabnya santai dan apa adanya, tangannya menelusuri ukiran di rak itu. "Hanya mencari jalan rahasia saja. Karena jalan buntu di sini, dan raja seperti Asaarmata atau ayahnya tidak akan pernah merasa aman tanpa jalan keluar cadangan."
"Tapi para tentara ini"
"Mereka mencari di tempat yang salah," potong Aura tajam. "Mereka mencari lubang besar, padahal kuncinya ada pada detail kecil."
Kieran memperhatikan gerakan tangan Aura. Ia melihat Aura menekan ukiran berbentuk daun yang tampak lebih longgar dari yang lain. Ia merasakan Aura tegang, fokusnya terpusat pada rak tersebut.
Falix dan Jack, yang menyadari Kieran menghilang, bergegas menyusul. Mereka melihat Aura dan Kieran berdekatan, dikelilingi oleh tentara yang mulai frustrasi.
"Apa yang terjadi, Aura?" tanya Falix cemas.
Aura tidak menjawab. Tiba-tiba, ia menekan ukiran itu lebih kuat. Terdengar bunyi klik yang halus, hampir tidak terdengar di antara kebisingan para tentara.
"Ketemu," kata Aura, seringai kemenangan muncul di wajahnya.
Seketika, lukisan potret besar Raja Asaarmata di samping ranjang mulai bergeser. Panel dinding di belakangnya bergerak ke samping, memperlihatkan sebuah celah gelap. Udara dingin dan bau apek langsung menerpa wajah mereka.
Kapten tentara yang melihat gerakan itu langsung berteriak, "Sana! Itu dia jalannya! Tangkap mereka!"
Kieran dengan cepat menarik pedangnya. "Kita harus masuk sekarang!"
"Tunggu!" Aura menahan Kieran. Ia menoleh ke Falix dan Jack, matanya memancarkan tekad yang kuat. "Diari itu, apa isinya?"
"Horor," jawab Jack singkat. "Ayah Asaarmata memakan orang. Untuk keabadian, sepertinya."
Aura mengangguk, sorot matanya kini penuh pengertian, tetapi juga kepedihan. "Maka itu, Asaarmata juga mencari rahasia yang sama."
Ia menunjuk ke lembaran terakhir yang baru dibaca Falix:
“...Aku mencari buku kuno yang menceritakan tentang keabadian dan awet muda dengan memakan dan menggunakan bayi yang baru lahir. Karena itu, aku mencoba dengan diam-diam saat beranjak dewasa. Tapi lambat laun, aku merasa apa yang kucari tidak ditemukan, sehingga Ayahku, Raja Armaan, mengirim aku ke wilayah lain untuk menikah dengan wanita cantik dari wilayah itu. Dia ingin aku jauh dari penemuanku. Dia tahu aku telah melihat kebenaran.”
"Asaarmata tidak benar-benar mencari keabadian," bisik Aura, matanya tertuju pada potret yang bergeser. "Dia mencari cara untuk menghentikan apa yang Ayahnya lakukan. Tapi akhirnya, ia terseret ke dalam kegelapan yang sama."
"Dia mencari penawar," gumam Kieran, mulai mengerti.
"Masuk! Kita tidak punya waktu untuk berfilosofi!" bentak Falix, suaranya dipenuhi ketakutan saat melihat tentara mulai mengepung.
Aura adalah yang pertama melompat ke dalam kegelapan. Kieran, Falix, dan Jack mengikutinya. Tepat sebelum panel itu menutup, Kieran menoleh ke belakang, menatap lukisan potret Raja Asaarmata. Kini, senyum tipis Asaarmata seolah mengejek, menyembunyikan penderitaan dan rahasia kelam sebuah keluarga kerajaan yang telah lama tenggelam dalam darah.
Mereka berada di kegelapan, di dalam jantung istana yang paling busuk.