Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK MISTERIUS
DUAARRR!!!
Gelombang benturan menyapu pepohonan.
Daun-daun beterbangan.
Tanah bergetar.
Bima dan sosok misterius itu saling dorong tenaga melawan tenaga.
Tak ada yang mundur.
Namun
di tengah tekanan itu…
suara lain mulai terdengar.
Dari kejauhan.
Langkah kaki.
Banyak.
Semakin dekat.
Andi menoleh cepat.
“Itu… suara apa lagi?”
Bayu menyipitkan mata ke arah gelap.
“Orang…?”
Dimas langsung siaga.
“Bukan cuma satu…”
Dari balik pepohonan
cahaya obor mulai terlihat.
Satu.
Dua.
Puluhan.
Dan tak lama
muncul sekelompok warga kampung.
Dipimpin oleh dua orang di depan.
Randy.
Dan Wahyu.
Napas mereka berat.
Wajah tegang.
Namun mata mereka penuh tekad.
“BANG BIMA!!” teriak Randy keras.
Suara itu menggema di tengah hutan.
Bima sempat menoleh sekilas.
“Kenapa kalian ke sini…?” gumamnya pelan.
Wahyu maju satu langkah.
“Kami mengikuti perintah mu tadi dan Segera bergegas kesini setelah mendengar suara ledakan besar!”
bima mulai lupa dia perlahan seperti tidak bisa mengingat sebagian dari dirinya.
Sebelum berangkat bima menyuruh Wahyu dan Randy untuk mengumpulkan semua warga untuk menangkap basah para preman dan pak kades.
Randy menggenggam kayu di tangannya.
“Kami tidak akan diam saja!”
Sosok misterius itu melirik ke arah mereka.
Lalu
tersenyum.
“Wah…” katanya pelan.
“Tambahan penonton.”
Langkahnya mundur satu langkah dari Bima.
Santai.
Seolah situasi ini… tidak berarti apa-apa baginya.
Namun
mata Bima berubah.
“Tinggal di belakang!” bentaknya.
Randy terdiam.
Namun menggeleng.
“Tidak!” jawabnya tegas.
“Kali ini kami tidak akan lari!”
Wahyu ikut maju.
“Kami mungkin tidak sekuat kalian…”
“Tapi ini kampung kami!”
Beberapa warga lain ikut bersuara.
“Benar!”
“Kami tidak akan mundur lagi!”
“Kami sudah terlalu lama takut!”
Suasana berubah.
Bukan lagi hanya pertarungan dua orang.
Tapi perlawanan.
Sosok misterius itu menunduk sedikit.
Tertawa pelan.
“Heh…”
“Manusia… selalu seperti ini.”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Aura gelap mulai menyebar.
Lebih luas.
Lebih berat.
Beberapa warga langsung mundur setengah langkah.
Tubuh mereka gemetar.
“Berisik…” ucapnya dingin.
Namun
TAP.
Bima melangkah ke depan.
Menghalangi.
Di antara mereka.
Angin berputar di sekitarnya.
Menahan tekanan itu.
“Aku sudah bilang…” ucapnya pelan.
“Jangan ikut campur.”
Randy menatap punggung Bima.
Rahangnya mengeras.
“Kami bukan ikut campur…”
“Kami membantu.”
Sunyi sesaat.
Bima tidak menoleh.
Namun
sudut bibirnya sedikit terangkat.
Tipis.
Hampir tak terlihat.
Di belakang Pak Kades yang terbaring lemah…
membuka mata sedikit.
Melihat ke arah warga.
“Bodoh…” gumamnya pelan.
“Tapi… berani…”
Sosok misterius itu menghela napas panjang.
Seolah bosan.
“Kalau begitu…” katanya.
“Tidak masalah.”
Ia mengangkat tangannya lebih tinggi.
Dan dari balik bayangan pepohonan, muncul beberapa sosok lain.
Berpakaian hitam.
Jumlahnya… tidak sedikit.
Mereka berjalan keluar perlahan.
Mengelilingi.
Wahyu langsung kaget.
“Itu… mereka lagi…”
Randy menggenggam lebih kuat.
“Jadi ini… belum selesai…”
Andi melangkah maju.
Berdiri di samping warga.
Bayu dan Dimas ikut.
“Kali ini…” ucap Andi pelan,
“kita lawan bareng.”
Bima tetap di depan.
Matanya hanya tertuju pada satu orang.
Sosok misterius itu.
“Sepertinya…” kata sosok itu sambil tersenyum,
“malam ini akan lebih menyenangkan dari yang ku kira.”
Angin kembali berhembus.
Api obor bergoyang.
Puluhan pasang mata saling menatap.
Dan di tengah semua itu Bima berdiri.
Sebagai garis pemisah.
Antara kegelapan…
dan mereka yang memilih untuk melawan.
Bima mengangkat tangannya sedikit.
Tanpa menoleh.
“Wahyu, Andi, Bayu, Dimas, Randy ingat apa yang ku ajarkan,"
"buat formasi pelindung,"
"kalian lindungi wargan kampung,"
"mereka,"
Suaranya tenang.
Tapi tegas.
“Serahkan padaku.”
Dimas mengerutkan dahi.
“Bima,!"
Namun
WUSH!!!
Aura Bima tiba-tiba meledak.
Lebih besar dari sebelumnya.
Lebih liar.
Tanah di sekitarnya retak lebih luas.
Semua orang… terdiam.
Bima melangkah maju.
Perlahan.
Mengarah ke sosok misterius itu.
“Kalau kau mau perang…”
Matanya menyala.
“…kau akan dapat.”
Sosok misterius itu tersenyum lebar.
Akhirnya.
Benar-benar lebar.
Dan malam itu bukan hanya pertarungan…
yang akan terjadi.
Tapi perang.
Bima mengalihkan pandangannya orang misterius itu dengan jurus ilusinya.
Dan menyerang beberapa orang yang berpakaian serba hitam,
DUARR....
dengan satu jurus dari bima mereka semua terlempar jauh hingga tak bisa bangkit lagi.
Aahhkk.... "Dia kuat sekali,"
Sosok misterius itu tiba-tiba tersadar langsung menghampiri bima.
Pertarungan di antara mereka kembali berlanjut, tidak ada lagi penghalang.