Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keceplosan
"Apaan sih, Kar? Heboh banget!" Amelia ikut penasaran. Ia mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Sekar, ikut menonton video berdurasi panjang yang baru saja didapat sahabatnya itu sampai selesai.
"Wah... Gak bisa dibiarin nih, Kar! Kamu harus gerak!" seru Amelia gemas. Sebagai sahabat, jiwa Amelia ikut mendidih tahu Ferdiansyah, suami Sekar ternyata diam-diam berencana mau menikah lagi.
Sekar membuang napas gusar. Meskipun dia sudah mengira hal ini akan terjadi, tetap saja hatinya terasa panas seperti disiram cuka. Sakitnya nyata.
"Menurut kamu, aku harus gimana, Mel? Sumpah, otakku buntu banget." ucap Sekar lirih. Tubuhnya seketika lemas. Baru dia sadari, dikhianati sampai suami mau nikah lagi itu rasanya sesak bukan main.
"Hmm... Apa ya? Gagalin aja acaranya? Labrak pas hari-H?" celetuk Amelia yang ikut bingung.
Sekar terdiam lama. Setelah merenungi semua penderitaannya selama ini, tiba-tiba sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Amelia yang melihat itu malah merasa ngeri.
"Ngapain kamu senyum-senyum begitu? Udah mulai stres ya gara-gara rencana nikah siri si Ferdi?"
"Enak aja! Aku masih waras!" sahut Sekar kesal.
Amelia terkikik. "Serius nih... punya rencana licik apa? Cerita dong. Biasanya kan ide kamu suka di luar nurul."
"Mau tahu banget, atau mau tahu aja?" Sekar sengaja menggoda sahabatnya.
Plak!
Amelia yang gemas menggeplak lengan Sekar. "Aduh, sakit Mel! Bisa patah nih tangan aku!" ringis Sekar sambil mengusap lengannya.
"Ya habisnya kamu bikin penasaran! Cepat cerita!"
Sekar mendengus, lalu berbisik pelan. "Jadi gini... rencananya... aku nggak akan lakuin apa-apa."
"Ealah! Kirain mau apa!" Amelia hampir saja melempar tasnya. "Sekar, pilih mana? Tangan kanan masuk kuburan atau tangan kiri masuk rumah sakit?" Amelia menggulung lengan bajunya, mengepalkan tinju di depan wajah Sekar.
Sekar nyengir. "Sabar, dengerin dulu! Aku bakal biarin mereka nikah. Biarin aja rencana itu terlaksana."
"Kok gitu?" Amelia mengernyit bingung.
"Ck, dengerin dulu! Jangan dipotong!" ketus Sekar. "Aku rencananya mau datang, foto-foto, terus videoin acara nikahan mereka. Habis itu, aku sebarin di media sosial. Biar viral! Biar satu kantor tahu, biar dunia tahu kelakuan mereka. Biar sanksi sosial yang menghancurkan mereka. Syukur-syukur si Ferdi dipecat karena bikin malu nama pabrik."
"Brilian, Kar! Itu baru namanya balas dendam cantik!" Amelia berseru semangat.
"Bukan licik kan?" tanya Sekar memastikan. "Aku kan wanita baik-baik. Yang licik itu cocoknya buat si pelakor, Manda."
"Iya, setuju banget! Tapi, apa mungkin nikahannya bakal lancar?" tanya Amelia lagi.
Sekar tersenyum penuh arti. "Mungkin bakal diundur sedikit. Kamu lupa kalau tabungan Mas Ferdi udah aku amankan sampai ludes? Tadi mertuaku minta lima juta ke dia. Dari mana duitnya? Tabungannya kan udah habis aku pindahin."
Amelia melongo, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Sumpah, aku pengen liat muka si Ferdi pas tahu saldonya nol rupiah. Pasti mati berdiri."
Keduanya pun tertawa bersama. Di dekat Amelia, Sekar merasa menjadi dirinya yang dulu, ceria dan penuh semangat. Menikah dengan Ferdi malah membuatnya nelangsa. Dulu saat bekerja, dia pegang uang sendiri. Sekarang? Jadi istri Ferdi, beli cilok dua ribu rupiah saja dia harus mikir seribu kali karena suaminya sangat pelit.
"Ternyata ada hikmahnya juga Mas Ferdi selingkuh..." gumam Sekar. Dulu dia sedih, tapi sekarang dia sadar, ini adalah jalan untuk lepas dari penderitaan. Biarlah si Manda yang menggantikan tugasnya menjadi babu di rumah Bu Nimas.
**
Sekar sampai di rumah menjelang maghrib. Di ruang tamu, Ferdiansyah sudah duduk santai di depan televisi.
"Baru pulang kamu, Kar? Kenapa akhir-akhir ini sering keluyuran nggak jelas?" tanya Ferdiansyah ketus, tampak kesal.
Sekar duduk di kursi, wajahnya datar. "Keluyuran gimana? Aku main sama Amelia."
"Main terus! Inget, kamu itu punya suami!" bentak Ferdiansyah.
Sekar menoleh tajam. "Iya, aku tahu aku punya suami. Tapi punya suami ternyata pelitnya minta ampun. Nafkah lahir batin nggak jelas, jajanin cilok dua ribu aja kamu nggak mau. Jadi jangan salahin aku kalau main sama temen, setidaknya dia mau traktir aku bakso!" balas Sekar telak.
Ferdiansyah terbungkam. Kata-kata Sekar terasa menyengat egonya.
"Kenapa diam? Kalau merasa nggak pernah bahagiain istri, mending diem deh, Mas. Aku bukan mau ngelawan, tapi kamu udah keterlaluan! Aku di sini itu ISTRI, bukan BABU! Bahkan babu aja digaji, lah aku? Udah nggak dikasih uang, malemnya masih harus melayani. Mas ngaji lagi deh sama Pak Ustad, apa yang kamu lakuin ke aku itu dzalim! Awas, nanti masuk neraka. Doa ibumu pun nggak akan bisa nyelametin kamu kalau kamu jahat sama aku yang yatim piatu ini!" sarkas Sekar.
Ferdiansyah mematung. Dia tidak menyangka Sekar yang biasanya diam bisa bicara setajam itu.
"Heh! Ribut apa sih kalian? Ganggu orang tidur aja!" Bu Nimas tiba-tiba muncul dari kamar dengan wajah bantal.
Sekar memutar bola matanya malas. "Ibu tuh jangan tidur sore-sore, ati-ati nanti kebablasan mati!" ketus Sekar sambil melenggang pergi ke kamar, malas berdebat lebih panjang.
Bu Nimas yang nyawanya belum terkumpul sempurna pun melongo. Sesaat kemudian, wajahnya memerah padam. "Heh, mantu kurang ajar! Kamu doain Ibu mati???" pekik Bu Nimas menggelegar.
"Aduh, Bu! Sakit kuping Ferdi!" keluh Ferdiansyah sambil menutup telinganya.
"Makanya, didik itu istrimu! Punya satu istri aja udah bikin kepala Ibu mau pecah! Kamu malah sok-sokan mau kawin lagi sama si Manda. Awas aja ya kalau Manda nanti berani kurang ajar kayak si Sekar, bakal Ibu bejek-bejek kalian berdua terus Ibu buang ke sungai!" hardik Bu Nimas tanpa sadar suaranya terlalu kencang.
Ferdiansyah langsung gelagapan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik, takut ada tetangga atau lebih parah lagi Sekar yang mendengar.
"Duh, Bu! Jangan bongkar rahasia Ferdi dong! Bisa mampus Ferdi di tangan Sekar kalau dia tahu." bisik Ferdiansyah sambil buru-buru membekap mulut ibunya.
Bu Nimas langsung menghempas tangan Ferdi dari mulutnya. “ dasar anak kurang ajar. Durhaka kamu sama ibu. Berani-beraninya tutup mulut ibu pake tangan bau kamu itu.” Bu Nimas tampak kesal melihat putranya.
“ Abisnya mulut ibu itu nggak bisa di rem. Rencana ini hanya aku, Riska dan Ibu yang tau. Jangan sampai ketahuan sama yang lain. Apalagi Sekar, bisa ngamuk dia bu. Burung aku bisa di potong.” kata Ferdi setengah berbisik.
“ Alah ….ngapain sih di rahasiain segala. Sekar tau juga nggak apa-apa. Mau nggak mau, dia harus bisa terima kalau kamu nikah lagi. Mana berani dia ngelawan. Kalau ngelawan usir aja dia.” kata Bu Nimas lagi.
“ Sstttttttt bu…Diam buuu…!!!” kata Ferdi greget kembali membekap mulut ibunya.
Ia tidak tahu, bahwa di balik pintu kamar, Sekar sedang tersenyum sinis. Rahasia? Maaf ya, Mas, aku udah tahu semuanya.
kapoooooooook