Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Drrtt.....
Drrtt ..
Mama is Calling....
Getaran ponsel itu datang di saat yang paling tidak tepat.
Haikal yang sejak tadi tengah bertukar Saliva dengan Laura pun terhenti dan melirik ke arah ponselnya yang berada di atas nakas. Nafasnya belum sepenuhnya teratur. Udara di kamar terasa berat bukan karena Ac mati, tapi gelora yang selama ini tidak muncul tiba-tiba bangkit dengan sendirinya, karena jarak yang terlalu dekat dan emosi yang keluar begitu saja.
Layar ponsel menyala.
Mama Anggun
Nama itu membuat Haikal refleks menegakkan punggung. Seolah satu kata saja cukup untuk menariknya kembali ke dunia nyata.
Laura yang berdiri tepat di hadapan nya dengan penampilan yang sudah berantakan menghentikan aksinya. Ia melirik sekilas ke layar ponsel, lalu mengangkat alis tipis tanpa bicara, tanpa reaksi berlebihan.
“Angkat aja pak,” katanya pelan. “Nanti Mama bapak khawatir.”
Haikal menghela napas panjang. Ia mengangguk, lalu mengangkat panggilan.
“Halo, Ma.”
“Haikal?” Suara Anggun terdengar langsung penuh perhatian. “Kamu dari tadi kenapa lama sekali mengangkat telepon?”
“Maaf, Ma. Aku… baru selesai beberes.”
“Sudah makan nak?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi membuat Haikal terdiam sesaat.
“Sudah ma,” jawabnya akhirnya.
"Kenapa kamu ngos-ngosan gitu, habis beberes apa?."
"Cum merapikan beberapa dokumen saja ma." Ucap Haikal berusaha mengatur nafasnya.
“Siapa yang mengurus kamu di rumah?” tanya Anggun lagi. “Mama dengar Gita ada pemotretan di Bali sampai seminggu.”
Haikal melirik Laura. Gadis itu kini duduk di kursi dekat jendela, menyilangkan kaki dengan santai, seolah tidak ada apa-apa yang sedang dipertaruhkan.
“Ada pembantu, Ma,” jawab Haikal. “Semua baik-baik saja.”
“Pembantu? Sejak kapan kamu pakai pembantu. Dulu aja istri kamu terang-terangan gak mau mbok Jum bekerja disana.” Anggun terdengar tidak sepenuhnya yakin.
"Udah hampir sebulan ma."
"Trus apa kata Gita, dia setuju?."
"Setuju kok ma."
"Kok mama jadi curiga sama istri kamu itu. Katanya bisa mengurus kamu tanpa bantuan pembantu. Makanya mama selama ini diam aja. Tapi sekarang malah pakai pembantu. Apa pembantu yang kamu maksud Mbok Asih yang membersihkan rumah kamu setiap Minggu itu?, apa dia udah menetap tinggal sama kamu?."
"Ngak ma, Bi Asih pulang kampung suaminya sakit, jadi belum balik sampai sekarang."
"Trus pembantu yang mana?."
"Aku rekrut pembantu baru ma, khusus buat layani keperluan aku aja."
"Oh gitu.."
"Iya ma."
"Kalau kamu merasa kesepian, pulang saja ke rumah utama. Mama masih ada.”
Kesepian.
Kata itu seperti jarum kecil yang menusuk tepat di tempat yang paling ia hindari.
“Aku baik-baik saja, Ma,” kata Haikal lebih pelan.
“Haikal,” suara Anggun berubah lembut namun berat makna, “kalian sudah empat tahun menikah.”
Haikal menutup mata.
“Kapan Mama bisa menggendong cucu?”
Pertanyaan itu selalu datang. Cepat atau lambat. Dan selalu dengan nada yang sama campuran harap dan kecewa.
“Gita terlalu sibuk bekerja,” lanjut Anggun. “Kamu juga jarang di rumah. Bagaimana mau punya anak kalau seperti itu terus?”
Haikal membuka mata. Tatapannya kembali jatuh pada Laura.
Laura berdiri perlahan. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mendekat, cukup dekat, kemudian dengan perlahan dia membuka baju kaos nya dan meletakan nya dengan SE nsual hingga bongkahan nya terpampang nyata di hadapan Haikal membuat pria itu meneguk ludah kasar. Keringat dingin kembali membasahi dahinya.
“Ma…” Haikal menarik napas, berusaha menenangkan diri. Jangan sampai ibu negara nya curiga. “Doakan saja.”
Itu jawaban aman yang selalu ia pakai.
Anggun terdiam sejenak di seberang. “Mama hanya ingin kamu bahagia.”
“Iya, Ma.”
“Jaga diri. Jangan terlalu memendam semuanya sendiri.”
Telepon ditutup.
Haikal menurunkan ponsel perlahan. Tangannya sedikit gemetar bukan karena lelah, tapi karena tekanan yang menumpuk dari segala arah.
Laura kini sudah berjongkok di depannya.
“Keluarga selalu tahu cara menekan ya pak,” katanya lembut.
Haikal tersenyum pahit. “Mama tidak salah.”
Laura menggeleng. “Tidak ada yang salah. Tapi ada yang tidak didengar.”
Ia menatap Haikal dalam-dalam. “Dan Bapak terlalu lama tidak didengar.”
Kalimat itu membuat Haikal terdiam.
"Entahlah Laura, kepala saya rasanya mau pecah." Ucap Haikal memijit pelipisnya.
"Saya tau cara mengobatinya " ucap Laura sembari menurunkan celana Haikal hingga tombak pusaka yang bernama Jojo itu tegak menantang tepat di hadapan Laura.
"So big ya pak."
"K-kamu mau apa?."
"Saya mau hilangin stres bapak." Ucap nya kemudian mulai memegang Jojo dan dengan gerakan perlahan memainkan nya naik turun membuat Haikal menegang.
Kemudian Laura men gulum kepala Jojo dan menjilati batang jojo membuat Haikal merem melek. Ini pertama kali ia merasakan sensasi itu. Sementara Laura seperti sudah pro.
"Oh...Laura..enak sekali. Terus....saya suka." Racaunya kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang menikmati setiap sensasi yang ia rasakan saat ini. Sementara Laura sibuk men jil ati kepala Jojo yang seperti bakso urat itu dengan lahapnya. Ia men gulum, men jil ati dan meng hisapp Tombak Jojo milik Haikal dengan lihai hingga...
"Aaaahhh........" Lenguh Haikal menarik Jojo dari mulut Laura dan seketika keju mozarela nya sudah memenuhi wajah cantik Laura.
“Saya seharusnya tidak lama-lama di sini,” katanya ringan. “Bapak pasti lelah.”
Ia berbalik hendak pergi dan memakai pakaian nya kembali. Ia mengambil tisu dan menghapus keju Mozarella di wajahnya.
“Laura,” panggil Haikal tanpa sadar.
Laura menoleh. “Iya, Pak?”
Haikal ingin mengatakan banyak hal. Tapi yang keluar hanya satu kalimat jujur.
“Terima kasih… sudah ada untuk saya.”
Laura tersenyum. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum menang. Tapi senyum seseorang yang tahu benih telah ditanam dengan sempurna.
“Sama-sama, Pak. Mulut saya jadi kebas karena Jojo bapak yang jumbo. Lain kali kunjungi Memey ya pak.” ucap Laura ambigu membuat Haikal bingung.
"Memey?, siapa dia?." Tanya Haikal tapi Laura tak menjawab apa-apa, ia hanya mengedipkan sebelah mata nya.
Laura melangkah keluar, menutup pintu perlahan.
Haikal kembali duduk di tepi ranjang. Melihat ke arah jojonya yang sudah terkulai lemas. Masih jelas rasanya sensasi yang di berikan Laura dan sepertinya Membuat Haikal ingin lagi...dan lagi...
Panggilan dari Mama Anggun masih terngiang. Tekanan tentang pernikahan, tentang anak, tentang peran yang tak pernah berhasil ia jalani dengan utuh.
Dan di tengah semua itu,
ada Laura. Bukan sebagai godaan semata. Melainkan sebagai tempat aman yang tidak menuntut, tidak menilai, tidak bertanya kapan. Tapi bisa membuatnya menjadi laki-laki seutuh nya, dan rasanya sungguh Luar biasa.
"Laura..kamu berhasil membuat saya kembali percaya diri. Awalnya saya pikir, saya yang bermasalah. Tapi ternyata saya hanya menikahi orang yang tidak tepat." Gumam Haikal.
Di luar kamar, Laura berjalan menuju kamarnya sendiri dengan langkah tenang.
Ia tahu malam ini ia tidak perlu melakukan apa pun lagi. Cukup servise pakai mulut saja dulu. Dan ia yakin Haikal pasti akan semakin ketergantungan dengan nya.