Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Waktu Sendiri
Meski Ardi sangat ingin tidak mengikuti meeting esok hari, tapi dia tidak bisa. Profesionalismenya sedang diuji. Dia benar-benar ingin menghindari Farida sebisa mungkin. Sudah dua kali dia melakukan kesalahan dan dia tak ingin mengulanginya lagi.
"Gue harus minta Dira nemenin gue," gumam Ardi saat sedang mempersiapkan materi meeting.
Ponsel Ardi bergetar. Ardi melirik ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Arumi. Ardi meraih ponselnya dan membaca isi pesan singkat Arumi.
Maaf, Mas, baru bales. Tadi baru ngurus kerjaan rumah. Nggak usah kamu ingetin aku tiap siang selalu nggak lupa makan kok, Mas. Makasih.
Ardi menatap ponselnya lama. Sejak kepergian ibunya, Ardi merasa Arumi sangat dingin padanya. Meskipun Arumi masih sering melakukan hal-hal kecil —menyiapkan segala keperluannya sebelum berangkat bekerja, mencium tangan saat Ardi akan pergi, dan tersenyum setiap kali Ardi mengecup kepalanya—, tapi rasanya, tak ada kehangatan disana. Semua yang Arumi lakukan terasa hanya sebatas memenuhi kewajibannya saja.
Satu pesan lagi mendarat ke ponsel Ardi.
Pulangnya ati-ati.
Sebelum kematian ibunya, Arumi selalu berusaha mengajak Ardi bicara. Meski begitu, hal itu selalu saja berujung perdebatan. Ardi tahu, dia terlalu takut menghadapi isterinya. Dia terlalu membentengi diri agar kesalahannya tak diketahui isterinya. Sikapnya yang terlalu melindungi dirinya sendirilah yang membuatnya justru melukai perasaan Arumi.
Namun, sejak kepergian ibunya, Arumi seakan berubah. Arumi tak lagi mengajak Ardi bicara. Arumi lebih banyak diam. Ardi berpikir hal itu karena kepergian ibunya yang mendadak.
"Bengong aja lo!" sapa Dira yang sudah bersiap akan pulang.
"Eh?"
"Kenapa?" tanya Dira penasaran.
"Ng... Itu... Besok bisa nemenin gue meeting sama Sanjaya Abadi?" tanya Ardi pada Dira.
"Eh? Tumben minta temenin? Biasa juga sendiri berani. Serem ya?" tanya Dira merasa aneh dengan sikap Ardi.
"Iya. Serem. Kliennya," jawab Ardi sambil tersenyum.
"Serius sih!"
"Udaaah. Bisa apa nggak nemenin gue? Kalo nggak bisa gue ngajak Dito aja," kata Ardi. Dira mengerutkan alis. Berpikir.
"Okelah. Besok nggak banyak kerjaan gue," kata Dira.
"Sip! Thanks,"
"Ya udah. Gue balik dulu," pamit Dira yang dibalas acungan jempol oleh Ardi.
Ardi kembali menatap layar ponselnya yang berisi pesan singkat dari Arumi. Dia mengusap layarnya ke bawah, menampilkan chat-chat Arumi sebelumnya. Bahkan dari pesan singkat pun, aura dingin Arumi terasa. Entah bagaimana Ardi menjelaskannya. Chat Arumi yang dulu dan yang akhir-akhir ini sangat berbeda. Ibu jari Ardi berhenti di sebuah pesan singkat yang Arumi kirim di hari kematian ibunya.
Aku takut, Mas.
***
Arumi duduk di ruang keluarga, menemani Kayla yang sibuk menggambar. Pikirannya melayang menembus ruang waktu menuju masa lalu dimana pertama kali dia bertemu Ardi.
Arumi masih mengingatnya. Lima belas tahun yang lalu, saat dirinya tingkat pertama di kampus, Ardi mencoba mendekatinya. Arumi tak serta merta luluh. Bisa dibilang Arumi tidak mudah takluk begitu saja pada Ardi. Pasalnya, dia sudah berjanji pada ayahnya akan serius kuliah dan tak memikirkan tentang pacaran.
Kesan pertama Arumi tentang Ardi tak buruk. Menurut Arumi, Ardi sosok pria baik dan humoris. Setelah dua tahun mengenal dekat pribadi Ardi, Arumi memutuskan untuk menerima Ardi sebagai kekasihnya. Kisah percintaan keduanya cukup mulus. Jarang terjadi pertengkaran. Pengertian dari Arumi dan kejujuran dari Ardi membawa mereka menuju pelaminan setelah enam tahun mereka menjalin kasih.
Semua berjalan baik. Arumi kira, setelah menikah tak akan jauh berbeda dengan saat berpacaran. Namun, ternyata dugaannya salah. Semua berbeda. Jauh berbeda. Arumi tak menyangka akan seberat ini.
Dia pikir dengan kehadiran Kayla, kebahagiaan keluarga kecilnya tak akan terusik. Dia tak pernah sedikitpun memiliki kecurigaan bahwa Ardi selingkuh. Semua dia tumpahkan pada dirinya. Apa ada kesalahan yang dia lakukan? Apa dia berubah? Apa dia perlu lebih merawat diri? Ya. Semua kehampaan dalam rumah tangganya adalah kesalahannya. Dia pikir begitu sebelumnya.
Namun kini, dia tahu. Semua bukan sepenuhnya salahnya. Bayangan adegan panas yang Ardi lakukan bersama wanita lain kembali terlintas. Bagaimana Ardi bisa melakukan hal seperti itu tanpa memikirkan perasaan isterinya? Sedangkan Arumi, merasa sangat bersalah hanya karena mendapat perhatian lebih dari pria lain.
Arumi menatap Kayla yang masih menggambar sambil bersenandung. Lagu kesukaan Kayla yang selalu Arumi nyanyikan sebelum Kayla tidur. Rock a Bye Baby. Arumi memejamkan matanya. Berusaha menenangkan pikirannya seperti yang Dimas sarankan.
"Aku tahu ini berat. Ini menyakitkan. Tapi aku mohon, jangan buat keputusan saat kamu marah. Tenangkan pikiran kamu dulu. Kalo perlu, kamu pergi ke tempat yang lebih tenang. Sendirian. Kayla bisa sama papanya. Atau aku bisa jagain buat kamu. Yang terpenting, jangan sampai kamu mengambil keputusan yang bakal kamu sesali nanti,"
"Assalamu'alaikum," Ardi memasuki rumah.
Arumi segera tersadar dari lamunannya. Ardi melihat Arumi duduk bergeming di sofa ruang keluarga. Dia mendekat ke arah Arumi lalu mengecup pucuk kepalanya. Arumi diam.
"Kenapa, Rum?" tanya Ardi perlahan.
Hening.
Kayla berhenti menggambar, menatap papa dan mamanya penuh tanya.
"Rum," panggil Ardi pelan. Arumi menoleh, menatap Ardi dalam-dalam. Entah mengapa jantung Ardi seperti dihujam sembilu saat Arumi menatapnya. Perih.
"Aku mau ke rumah ibu, Mas," kata Arumi.
"Eh? Ada acara apa? Peringatan empat puluh hariannya masih lama kan?" tanya Ardi bingung.
"Aku mau nenangin diri," kata Arumi. Ardi mengerutkan alisnya.
"Kayla sama kamu. Kalo kamu nggak sanggup aku bisa minta tolong temen ku jagain Kay," kata Arumi dingin.
"Rum, kamu kenapa? Ada masalah apa? Kita bisa bica..."
"Terlambat, Mas. Udah terlambat. Kamu dimana pas aku pengen kita bicara? Kamu disini, tapi nggak tau jiwa kamu dimana," nada suara Arumi meninggi membuat Kayla takut. Ardi melirik ke arah Kayla.
"Oke. Tenang, Rum. Kita..."
"Aku udah cukup tenang sekarang, Mas. Jadi, aku mohon. Aku butuh waktu dan ruang untuk sendiri. Tanpa kamu... Tanpa Kayla..." kata Arumi. Ardi melihat mata Arumi mulai berkaca-kaca.
"Aku udah packing tadi. Aku cuma nunggu kamu pulang buat pamit. Daftar kebutuhan Kayla udah aku catet. Kalo kamu kewalahan, kamu telepon aku aja, biar aku telepon temen ku buat jagain Kayla," kata Arumi lalu beranjak mendekat ke arah Kayla.
"Mama mau kemana?" tanya Kayla dengan mata berkaca-kaca. Airmata Arumi menetes.
"Kayla, tunggu Mama ya. Mama butuh waktu buat sendirian dulu. Kalau Mama udah nggak sedih lagi, Mama janji, Mama bakal jemput Kayla," kata Arumi sambil mencoba tersenyum di tengah tangisnya.
Kayla menatap kedua mata Arumi. Seolah memahami perasaan Arumi, Kayla mengangguk perlahan.
"Kayla janji akan jadi anak baik. Mama janji segera jemput Kayla ya?" kata Kayla sambil menyodorkan jari kelingkingnya yang mungil. Arumi tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Kayla. Ardi hanya sanggup menatap puteri dan isterinya dalam diam.
Arumi memeluk Kayla cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya dan beranjak menuju kamar untuk mengambil barang-barangnya.
"Aku anter," kata Ardi saat Arumi keluar kamar.
"Nggak perlu, Mas. Aku udah pesen taxi online," kata Arumi lalu keluar dari rumah.
Ardi menatap pintu yang baru saja ditutup Arumi. Ada perasaan sepi yang tiba-tiba menjalar dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, Arumi meminta waktu untuk sendiri. Tanpa dirinya... Tanpa Kayla...
'Kenapa jadi seperti ini?'
***