Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.Pertemuan Diantara Hidup & Mati
Matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang kental menembus celah-celah koridor Akademi Kuoh. Di kelas 2-B, suasana pengap setelah jam pelajaran terakhir perlahan berganti dengan keheningan yang janggal. Issei Hyodo duduk mematung di kursinya, jemarinya meremas pinggiran meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, bukan karena cuaca, melainkan karena getaran aneh yang terus merambat dari punggung tangannya menuju jantungnya.
Ren berdiri perlahan, merapikan kerah seragamnya yang tidak sedikit pun kusut. Ia melirik Bibi Dong yang sedang menyampirkan tas sekolahnya dengan gerakan yang penuh keanggunan seorang permaisuri. Di balik kacamata hitamnya, Six Eyes milik Ren menangkap sesosok bayangan kecil yang sedang mengintip dari balik pintu kelas—Koneko Toujou.
"Tamu kecil kita sudah menunggu, Dong'er," ucap Ren, suaranya rendah dan tenang, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca.
Bibi Dong melirik ke arah pintu dengan tatapan dingin yang mampu membekukan aliran darah manusia biasa. "Iblis kecil itu lagi. Mereka benar-benar tidak tahu cara memberikan ruang bagi orang lain untuk bernapas."
Koneko melangkah masuk ke dalam kelas. Wajahnya yang datar dan tanpa ekspresi tetap terjaga, namun ada sedikit ketegangan di bahunya saat matanya bertemu dengan aura Bibi Dong. Ia tidak menatap Issei terlebih dahulu, melainkan langsung menuju meja Ren.
"Buchou memanggil," ucap Koneko singkat, suaranya yang kecil namun tajam membelah keheningan kelas. "Issei-senpai, dan... kalian berdua."
Issei tersentak kaget, hampir terjatuh dari kursinya. "A-aku? Dan Saiba-kun juga?"
Ren terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang mengisi ruangan dengan wibawa yang tak kasat mata. Ia melangkah mendekati Issei, menepuk bahu pemuda itu dengan lembut. Sentuhan Ren seketika meredam getaran panas dari Boosted Gear yang sedang mengamuk di dalam tubuh Issei, memberikan ketenangan sesaat yang semu.
"Jangan tegang, Issei-kun. Rias hanya ingin merayakan 'kelahiran kembali' dirimu. Sangat tidak sopan jika kita menolak undangan dari seorang wanita cantik, bukan?"
Bibi Dong berjalan mendekat, berdiri di samping Ren. Kehadirannya membuat Koneko secara refleks mundur satu langkah. "Mari kita lihat drama apa lagi yang ingin dimainkan oleh Iblis berambut merah itu. Aku mulai bosan dengan permainan sembunyi-sembunyi ini."
Koneko tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan keluar kelas, memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Mereka berempat berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi, melewati jembatan kayu yang menghubungkan gedung sekolah baru dengan gedung tua yang tampak angker dan tertutup oleh tanaman merambat.
Selama perjalanan, Issei terus menatap punggung Ren dan Bibi Dong dengan perasaan yang berkecamuk. Ia ingat kilasan cahaya ungu semalam, ia ingat bagaimana rasa sakit di perutnya mendadak hilang sesaat sebelum ia jatuh pingsan, digantikan oleh sensasi dingin yang sangat murni. Ia ingin bertanya, namun setiap kali ia mencoba membuka mulut, aura dari Bibi Dong seolah-olah mengunci suaranya.
[SISTEM: Deteksi medan sihir 'Territory' di sekitar Gedung Klub Ilmu Gaib. Rias Gremory telah mengaktifkan segel isolasi.]
[SISTEM: Analisis selesai. Target ingin menunjukkan 'Keluarga' barunya kepada Anda sebagai bentuk unjuk kekuatan diplomatis.]
[REN: Kekuatan? Dia hanya ingin memastikan bahwa aku tidak akan memakan bidak barunya. Sangat menggemaskan.]
Begitu mereka sampai di depan pintu ganda kayu yang besar di lantai atas gedung tua, Koneko berhenti dan mendorong pintu itu terbuka. Aroma teh hitam dan mawar langsung menyerbu indera penciuman mereka. Di dalam ruangan yang luas dengan perabotan antik itu, Rias Gremory duduk di sofa kebesarannya, menyilangkan kaki dengan anggun sementara rambut merahnya menyebar di sandaran sofa seperti kobaran api.
Akeno Himejima berdiri di sampingnya dengan senyum manis yang tertutup kabut misteri, dan Kiba Yuuto berdiri tegak di sudut ruangan dengan pedang sihir yang disembunyikan dalam aura tenangnya.
"Kalian datang," ucap Rias, matanya langsung tertuju pada Ren, mengabaikan Issei sejenak. "Terima kasih sudah memenuhi undanganku, Saiba Ren. Dan... Bibi Dong-san."
Bibi Dong tidak menunggu dipersilakan. Ia melangkah maju dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Rias, sebuah tindakan yang sangat berani dan menantang hirarki di ruangan itu. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Rias dengan pandangan seorang penguasa yang sedang melihat bawahannya.
"Tehmu berbau terlalu menyengat, Iblis Gremory," ucap Bibi Dong dingin. "Katakan apa maumu. Aku punya waktu yang jauh lebih berharga daripada hanya duduk di ruangan pengap ini."
Suasana di ruangan itu seketika menjadi sangat berat. Akeno menyipitkan matanya, sementara Kiba sedikit memindahkan tumpuan kakinya, bersiap untuk segala kemungkinan. Namun, Ren hanya berjalan santai menuju jendela, membelakangi mereka semua sambil menatap matahari yang mulai tenggelam.
"Jangan terlalu kaku, Dong'er," Ren berbicara tanpa menoleh. "Rias hanya merasa sedikit tidak aman. Ia baru saja mendapatkan seorang 'Ksatria' yang memiliki potensi naga, namun ia sadar bahwa naga itu pernah disentuh oleh tangan yang jauh lebih kuat darinya. Benar begitu, Rias?"
Rias memegang cangkir tehnya hingga sedikit bergetar. "Kau tahu apa yang terjadi semalam, Ren. Issei sekarang adalah bagian dari keluargaku. Apa pun yang kau lakukan padanya di taman itu... aku ingin tahu tujuanmu."
Ren berbalik perlahan, kacamata hitamnya berkilat terkena cahaya lampu gantung. Senyumnya tipis, penuh rahasia yang tak terjangkau. "Tujuanku? Aku hanya sedang memastikan investasiku tidak mati konyol sebelum sempat berbunga. Issei punya masa depan, Rias. Dan aku ingin melihat sejauh mana kau bisa membawanya... sebelum aku memutuskan untuk mengambilnya kembali."
Issei ternganga, menatap Ren dengan rasa tidak percaya. Di ruangan itu, di antara para iblis tingkat tinggi, ia menyadari bahwa dirinya hanyalah sebuah bidak di atas papan catur yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.