Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Orang yang Mengawasi
Tak ada yang tidur malam itu.
Bagaimana bisa?
Setelah tahu ada seseorang berdiri di depan apartemen mereka selama sepuluh menit seperti karakter film horor murah.
Dan lebih parahnya—
orang itu tahu lokasi mereka.
“Ini mungkin cuma kebetulan.”
Nayra berkata itu sambil duduk memeluk bantal.
Namun bahkan dirinya sendiri tidak percaya.
Arsen langsung menunjuk layar laptop.
“Orang normal nggak berdiri depan apartemen tengah malam pakai hoodie hitam sambil diem kayak arwah penasaran.”
“Oke valid.”
Zavian berdiri dekat jendela sejak tadi.
Diam.
Tapi suasana di sekitarnya terasa tajam sekarang.
Tatapannya terus mengawasi luar gedung.
Seolah berharap orang itu muncul lagi.
Dan jujur—
itu membuat Nayra makin tegang.
Karena kalau Zavian sampai terlihat sekhawatir ini…
berarti situasinya memang buruk.
“Kita pindah aja.”
Nayra langsung bicara cepat.
“Aku nggak masalah tidur di warnet kalau perlu.”
“Tidak.”
Jawaban Zavian terlalu cepat.
Nayra langsung menoleh.
“Hah?”
“Kita nggak lari terus.”
Tatapannya dingin ke luar jendela.
“Kalau mereka nemuin kita sekali…”
Tangannya mengepal pelan.
“…mereka bakal terus nyari.”
Sunyi.
Dan Nayra tahu cowok itu benar.
Namun tetap saja—
ia capek hidup dikejar-kejar.
Arsen mendesah panjang.
“Oke. Mari kita pikir logis.”
“Itu jarang keluar dari mulutmu,” komentar Nayra.
“Diam dulu.”
Arsen mulai mengetik sesuatu di laptop.
“Ada dua kemungkinan.”
Tatapannya serius.
“Pertama, itu cuma reporter.”
“Dan kedua?”
“Itu sisa anggota Lazarus.”
Deg.
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
“Tapi kalau mereka…”
Nayra menelan ludah.
“…kenapa nggak langsung nyerang?”
“Nggak tahu.”
Arsen mengusap tengkuknya.
“Mungkin mereka masih mastiin itu benar kamu.”
Atau mungkin…
mereka sedang menunggu waktu yang tepat.
Dan pikiran itu jauh lebih mengerikan.
Zavian akhirnya menjauh dari jendela.
Lalu mengambil jaketnya.
“Aku keluar sebentar.”
“Hah?!”
Nayra langsung berdiri.
“Mau ke mana?”
“Keliling sekitar.”
“KAMU MAU NYARI ORANG ITU SENDIRIAN?!”
“Aku cuma cek.”
“Itu ide buruk!”
“Aku udah sering bikin ide buruk.”
“Itu bukan prestasi!”
Namun Zavian tetap berjalan ke pintu.
Dan Nayra langsung refleks menarik lengan cowok itu.
“Jangan pergi sendiri.”
Deg.
Suasana mendadak sunyi.
Karena Nayra baru sadar…
ia menggenggam tangannya terlalu erat.
Zavian menatap jemari Nayra beberapa detik.
Lalu perlahan menatap wajah gadis itu.
Dan Nayra langsung ingin menghilang.
“Aku cuma—”
“Aku tahu.”
Suara Zavian jauh lebih lembut sekarang.
“Aku bakal hati-hati.”
“Itu yang selalu dikatakan orang sebelum masalah muncul.”
Arsen langsung angkat tangan.
“Fakta.”
Akhirnya mereka tetap keluar bertiga.
Karena Nayra menolak tinggal sendiri di apartemen.
Dan Arsen menolak membiarkan “pasangan emosional itu mati dramatis”.
Udara malam dingin.
Jalanan masih basah habis hujan.
Dan suasana kota jauh lebih sepi dibanding biasanya.
Lampu jalan memantul di aspal.
Membuat semuanya terlihat suram.
“Kita keliatan kayak geng kriminal gagal.”
Nayra memasukkan tangan ke kantong hoodie.
“Karena kalian pakai baju gelap semua,” jawab Arsen.
Zavian tetap diam sambil berjalan sedikit di depan mereka.
Waspada.
Tatapannya terus bergerak mengawasi sekitar.
Dan Nayra mulai sadar—
cowok ini sebenarnya hidup dalam mode siaga terus-menerus.
Capek nggak sih?
Mereka memeriksa sekitar apartemen selama hampir tiga puluh menit.
Tak ada siapa-siapa.
Tak ada orang mencurigakan.
Cuma suara motor jauh dan angin malam.
Sampai akhirnya—
Zavian berhenti mendadak.
“Napa?”
Cowok itu menunjuk gang kecil di seberang jalan.
“Ada kamera CCTV.”
Arsen langsung mendekat.
“Bisa diakses?”
“Mungkin.”
Sepuluh menit kemudian—
mereka berhasil masuk ke ruang keamanan minimarket kecil dekat apartemen.
Penjaga malamnya bahkan tidak terlalu peduli karena Arsen somehow bisa bicara meyakinkan ke siapa pun.
Nayra curiga cowok itu dulu penipu profesional.
Rekaman CCTV diputar cepat.
Jam demi jam.
Sampai akhirnya—
“Nah.”
Arsen menghentikan video.
Dan mereka semua langsung fokus ke layar.
Seseorang bertudung hitam muncul di depan apartemen.
Tepat seperti tadi.
Tinggi.
Tubuh ramping.
Diam.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Orang itu tidak melihat ke gedung.
Ia melihat langsung ke kamera.
Deg.
Bulu kuduk Nayra langsung berdiri.
“Dia sadar ada CCTV,” gumam Zavian.
Orang itu perlahan mengangkat tangan ke arah kamera.
Lalu—
membuat simbol kecil dengan jarinya.
Tiga garis.
Simbol aneh.
Dan setelah itu…
ia pergi begitu saja.
Sunyi.
“Ada yang ngerti itu?” tanya Nayra pelan.
Arsen langsung terlihat lebih tegang.
Dan itu buruk.
Sangat buruk.
Karena Arsen biasanya santai dalam situasi apa pun.
“Aku pernah lihat simbol itu.”
Deg.
Nayra langsung menoleh cepat.
“Di mana?”
“Divisi luar negeri Lazarus.”
Tatapannya turun ke layar.
“Itu kode mereka.”
Dada Nayra langsung terasa kosong.
Jadi benar.
Mereka ditemukan.
“Mereka sengaja nunjukin diri,” kata Zavian dingin.
“Kenapa?”
“Peringatan.”
Hening.
Dan Nayra benar-benar membenci jawaban itu.
Dalam perjalanan pulang—
tak ada yang banyak bicara.
Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sampai akhirnya Nayra pelan berkata—
“Aku capek.”
Zavian langsung menoleh.
“Hm?”
“Kenapa mereka nggak bisa ninggalin kita aja?”
Suara gadis itu kecil sekarang.
Lelah.
“Semuanya udah selesai…”
Tatapannya turun.
“…kenapa mereka masih ngejar?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Karena tak ada jawaban bagus untuk itu.
Begitu kembali ke apartemen—
Arsen langsung mulai memasang pengaman tambahan di pintu dan jendela.
Entah dari mana ia dapat alat-alat itu.
Dan Nayra memilih tidak bertanya demi kesehatan mentalnya.
“Kita harus pindah besok,” kata Arsen serius.
“Kamu tadi bilang jangan lari.”
“Aku berubah pikiran karena aku suka hidup.”
Zavian menyender di dekat meja dapur sambil berpikir.
Dan Nayra bisa melihat otaknya bekerja keras sekarang.
Berbahaya.
Karena biasanya setelah ekspresi itu muncul—
kekacauan datang.
“Kita nggak punya banyak tempat aman.”
Suara Zavian rendah.
“Kalau pemerintah tahu lokasi kita bocor…”
Tatapannya mengeras.
“…berarti ada kebocoran data.”
Deg.
“Itu artinya?” tanya Nayra pelan.
“Ada orang dalam.”
Oke.
Sekarang situasinya resmi lebih buruk.
Nayra menjatuhkan diri ke sofa sambil mengusap wajah.
“Aku pengen hidup biasa.”
“Hidup biasa overrated,” jawab Arsen.
“Aku rela hidup boring sekarang.”
“Fair.”
Tiba-tiba—
suara kecil muncul lagi di kepala Nayra.
“Kamu takut.”
Nayra menatap lantai pelan.
“Iya.”
“Karena kamu punya sesuatu yang ingin dijaga sekarang.”
Deg.
Dadanya langsung hangat sekaligus sakit.
Karena itu benar.
Dulu Nayra cuma takut mati.
Sekarang…
ia takut kehilangan.
Dan ternyata rasa itu jauh lebih menyeramkan.
“Nayra.”
Ia menoleh.
Zavian berdiri di depannya sekarang.
Tatapannya jauh lebih lembut dibanding beberapa menit lalu.
“Kita bakal baik-baik aja.”
Kalimat sederhana.
Mungkin bahkan terdengar klise.
Tapi cara cowok itu mengatakannya—
membuat Nayra ingin percaya.
“Kalau nggak baik-baik aja gimana?”
Sunyi sebentar.
Lalu—
“Aku tetap nggak bakal ninggalin kamu.”
Deg.
Jantung Nayra langsung kacau lagi.
Dalam situasi seseram ini pun—
cowok itu masih bisa bikin dirinya salah napas.
Hebat banget memang.
Arsen langsung muntir mata.
“Aku benci jadi obat nyamuk di rumah ini.”
“Keluar sana,” jawab Zavian datar.
“Dengan senang hati kalau nggak ada organisasi psikopat di luar.”
Valid.
Sangat valid.
Malam makin larut.
Dan akhirnya mereka memutuskan tidur bergantian untuk berjaga.
Arsen kebagian shift pertama.
Zavian kedua.
Dan Nayra dipaksa tidur duluan walau ia protes.
Namun sekitar pukul tiga pagi—
Nayra terbangun karena haus.
Apartemen gelap.
Sunyi.
Ia berjalan pelan ke dapur.
Dan saat melewati ruang tengah—
langkahnya langsung berhenti.
Karena Zavian ternyata belum tidur.
Cowok itu duduk sendirian dekat jendela.
Pistol tergeletak di meja.
Tatapannya kosong ke luar malam.
Dan untuk pertama kalinya—
ia terlihat benar-benar lelah.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah hidup.
Nayra mendekat pelan.
“Kamu nggak tidur?”
Zavian menoleh sedikit.
“Nggak ngantuk.”
Bohong.
Jelas bohong.
Mata cowok itu bahkan merah karena kurang tidur.
Nayra duduk di sebelahnya tanpa bicara dulu.
Beberapa detik mereka cuma diam mendengar suara hujan kecil di luar.
Lalu Nayra berkata pelan—
“Kamu nggak harus kuat terus.”
Deg.
Zavian membeku sedikit.
Dan Nayra sadar—
mungkin tidak banyak orang pernah mengatakan itu padanya.
“Aku takut kalau aku lengah…”
Tatapan cowok itu turun ke pistol di meja.
“…aku bakal kehilangan kalian.”
Suara rendahnya hampir terdengar seperti bisikan.
Dan hati Nayra langsung nyeri.
Karena ia akhirnya mengerti.
Zavian bukan tidak takut.
Ia justru terlalu takut.
Makanya terus berjaga.
Makanya terus siaga.
Makanya tidak pernah benar-benar istirahat.
Tanpa sadar—
Nayra menyandarkan kepalanya pelan ke bahu cowok itu.
Dan Zavian langsung diam total.
“Kamu nggak sendirian.”
Suara Nayra lembut.
“Kita jagain satu sama lain sekarang.”
Sunyi.
Lalu perlahan—
Zavian menyandarkan kepalanya sedikit ke atas kepala Nayra.
Dan untuk beberapa menit…
di tengah hujan, ancaman, dan dunia yang belum berhenti mengejar mereka—
mereka akhirnya merasa tenang sedikit.