Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ehem!
Mawar mematung, tenggorokannya tercekat seolah oksigen di ruangan itu benar-benar habis. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan nyaris berlari keluar dari restoran, bunyi sepatunya yang beradu cepat dengan lantai terdengar seperti simfoni kekalahan.
Keheningan sesaat pecah oleh suara tepuk tangan meriah dari Aldi. "Bravo! Standing ovation untuk Nyonya Lucas!" seru Aldi sambil berdiri dan benar-benar bertepuk tangan.
Widia langsung menghambur ke arah Keysa dan merangkulnya erat, "Keysa! Aku hampir saja melempar gelasku ke wajahnya, aku nggak tahu apa yang kamu katakan ke dia, tapi ihat wajahnya tadi! Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu!" ucap Widia.
Marco terkekeh dan menggelengkan kepala sambil menatap Lucas, "Sepertinya kau benar-benar telah menemukan lawan yang sepadan, Luc. Dia tidak butuh perlindunganmu, dia justru yang melindungimu dari lalat-lalat itu," ucap Marco.
Lucas tidak menjawab, matanya tetap terkunci pada Keysa. Ia melangkah mendekat, mengabaikan sorakan teman-temannya lalu melingkarkan lengannya di pinggang Keysa dan menariknya masuk ke dalam dekapan posesifnya.
"Apa yang kamu bisikkan padanya?" tanya Lucas dengan suara bariton yang berat, ada nada bangga sekaligus rasa penasaran yang nakal di sana.
Keysa mendongak dan wajahnya yang tadi sangar kini kembali merona merah saat menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Hanya... sedikit kebenaran," jawab Keysa pelan sambil menyembunyikan wajah di dada bidang Lucas.
Lucas mengecup puncak kepala istrinya lama dan menghirup aroma sabun mawar yang menurut Aldi kini menempel di jas mahalnya, "Apapun itu, aku menyukainya. Sangat menyukainya," balas Lucas.
"Ehem!" Evan berdehem keras dan mencoba memecah suasana yang mendadak berubah menjadi sangat romantis itu.
"Bisakah kita kembali makan?" tanya Evan.
"Ganggu banget lo," ucap Aldi.
Suasana restoran yang tadinya mencekam perlahan kembali mencair, meski sisa-sisa ketegangan masih terasa di udara. Pelayan yang tadi tampak ketakutan kini bergegas mengganti alat makan yang sempat tersenggol saat insiden tadi, sementara Lucas masih belum melepaskan pelukannya dari pinggang Keysa.
"Duduklah, sebelum makanan ini benar-benar sedingin es seperti tatapan Lucas," goda Marco sambil menarik kursi untuk Widia.
Keysa kembali duduk di samping Lucas, namun kali ini ia merasa ada yang berbeda. Jika sebelumnya ia merasa kecil di tengah lingkaran persahabatan ini, kini ia merasakan dirinya berada di tempat yang semestinya sebagai istri Lucas.
"Jadi, Lucas. Soal ancaman tadi... itu serius atau cuma gertakan supaya wanita tadi takut?" tanya Aldi.
Lucas menyesap wine-nya dengan tenang, matanya melirik ke arah ponselnya yang kini dipenuhi notifikasi dari Johan. "Gue nggak pernah menggertak, Bara udah keterlaluan dengan mengirim wanita itu ke sini. Dia pikir dia bisa menekan A2 Group hanya dengan menyabotase dua truk baja? Dia lupa siapa yang memegang kendali atas jalur logistik pusat," balas Lucas.
"Bara memang licik, tapi kali ini dia melakukan kesalahan fatal dengan melibatkan Keysa," ucap Evan datar, ia kemudian menatap Keysa dengan tatapan hormat yang jarang ia berikan pada siapapun.
"Nyonya Keysa, keberanianmu tadi... itu adalah tindakan terbaik yang pernah kulihat," lanjut Evan.
Keysa tersenyum tipis, meski jemarinya masih sedikit gemetar di bawah meja. Lucas yang menyadari hal itu, segera meraih tangan Keysa dan menggenggamnya erat di atas pangkuannya.
"Aku hanya tidak suka dia merendahkanku apalagi sampai mengatakan hal kotor seperti tadi," ucap Keysa pada Lucas.
"Dan aku menyukai apa yang kamu lakukan tadi," balas Lucas dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Keysa dan membuat wajah wanita itu kembali memanas.
Setelah makan bersama tersebut, Lucas dan Keysa pun pulang. Setibanya di mansion, suasana terasa sedikit berbeda. Johan sudah berdiri tegak di depan pintu utama dengan wajah serius, tablet di tangannya menampilkan grafik saham yang mulai berfluktuasi. Namun, saat melihat Lucas turun bersama Keysa, Johan segera menundukkan kepala dengan hormat.
"Tuan, semua sudah siap di ruang kerja. Pihak otoritas pelabuhan dan logistik pusat sedang menunggu instruksi anda," lapor Johan singkat.
Lucas mengangguk, namun ia tidak langsung menuju ruang kerja. "Tunggu sepuluh menit di sana, Johan. Aku harus memastikan istriku beristirahat," ucap Lucas.
"Baik, Tuan," jawab Johan.
Lucas mengantar Keysa menuju kamar utama mereka di lantai atas, ia membantu Keysa melepaskan kalung safirnya yang berat dan menyuruhnya untuk membersihkan diri. Meski pikirannya sedang dipenuhi strategi untuk menghancurkan Sein Group, Lucas tetap telaten menyiapkan air hangat untuk Keysa.
"Lucas, pergilah. Johan sudah menunggumu," ucap Keysa lembut saat ia sudah berbaring di tempat tidur dan mengenakan piyama sutra yang nyaman.
"Aku akan pergi setelah kamu tidur," jawab Lucas tegas, ia duduk di tepi ranjang dan mengusap dahi Keysa dengan jemarinya penuh kasih sayang.
Keysa yang secara emosional terkuras setelah apa yang ia lakukan tadi, tidak butuh waktu lama untuk merasakan kantuknya. Kehadiran Lucas yang mendominasi namun menenangkan menjadi nina bobo terbaiknya dan perlahan, napasnya mulai teratur dan matanya terpejam sempurna.
Setelah memastikan Keysa benar-benar terlelap, aura hangat Lucas menghilang dalam sekejap, ia berdiri dan memperbaiki letak jasnya lalu melangkah keluar kamar dengan langkah kaki yang sunyi namun berat.
Begitu pintu ruang kerja terbuka, suasana berubah menjadi medan perang dingin dan Johan segera berdiri.
"Update, Johan," perintah Lucas sambil duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan cerutunya. Namun, tidak menghisapnya, hanya membiarkan asapnya menari di udara.
"Tuan, Bara benar-benar menggunakan media lokal untuk menyebarkan berita tentang truk baja tersebut. Saham A2 Group turun 0,5% dalam satu jam terakhir, namun itu adalah umpan yang bagus, karena sesuai instruksi anda, kita sudah mulai melakukan short sell pada saham Sein Group melalui akun-akun anonim di luar negeri," lapor Johan.
Lucas menyunggingkan senyum miring yang kejam, "Bara pikir dia bisa menggunakan wanita murahan untuk mengalihkan perhatianku sementara dia menyerang konstruksi? Bodoh," gumam Lucas.
"Apa langkah selanjutnya, Tuan?" tanya Johan.
Lucas menatap layar monitor yang menampilkan data keuangan Sein Group, "Hubungi vendor utama mereka di Singapura. Katakan pada mereka, jika mereka masih ingin berbisnis dengan A2 Group di masa depan, mereka harus memutus kontrak dengan Sein Group malam ini juga. Kirimkan bukti sabotase yang mereka lakukan sendiri pada truk kita ke pihak kepolisian pusat. Aku ingin besok pagi, bukan berita kegagalan konstruksiku yang muncul di koran...,"
Lucas menjeda kalimatnya dan matanya berkilat dingin.
"...tapi berita tentang kebangkrutan dan surat penangkapan Bara. Dia menyentuh milikku, maka aku akan menghapus namanya dari industri ini selamanya," lanjut Lucas.
Malam itu, di saat Keysa bermimpi dalam kedamaian, suaminya sedang menari di atas reruntuhan kerajaan musuhnya dan memastikan bahwa saat istrinya bangun esok pagi, dunia sudah menjadi tempat yang lebih aman baginya.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...